Peer Counseling

Standar

 

TUGAS MAKALAH TEKNIK BIMBINGAN

 

“ PEER COUNSELING “

 

 

 

 

Di susun oleh  :

 

1.Nova Irawan                                      (09001005)

2.Muh Rosyid Ridho A                         (09001006)

Kelas : BK (A)

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA

2010

KATA PENGANTAR

 

Bismillahiirohmanirrohim

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT,yang telah melimpahkan berkat dan rahmat nya serta petunjuk nya sehingga dapat terselesaikanya tugas makalah Teknik bimbingan dengan judul “ peer counseling “ (bimbingan antar teman sebaya/rekan)

 

Penyusunan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas kelompok teknik bimbingan yang di ampu oleh

Dody Hartanto  selaku dosen pembimbing , jurusan bimbingan & konseling fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Ahmad Dahlan

 

Semoga amal baik yang telah di berikan kepada kami mendapat imbalan karunia yang sepadan dari Allah SWT . segalanya yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna,begitu juga makalah ini,oleh karena itu saran dan tegur sapa dari pembaca sangat kami harapkan.

 

Akhirnya semoga karya kecil ini ada manfaat nya bagi pecinta ilmu pengetahuan. Amin

 

Yogyakata, Maret 2010

 

 

 

Penyusun

                   Daftar isi

Pendahuluan

  1. Latar belakang masalah……………………………………………………..1
  2. Rumusan masalah……………………………………………………………..4
  3. Tujuan penulisan………………………………………………………………4

 

Pembahasan

  1. Kajian teoritis

1.       Pengertian dari Peer Counseling ………………………………5

  1.                                                 2.       Mengapa Harus Pembimbing Sebaya………………………..6

3.         Peran dan fungsi dari Peer Counseling………………………7

4.       Kriteria untuk dapat memenuhi sebagai pembimbing sebaya ………………………………………………………8  

5.         Cara Menjadi Pembimbing Sebaya…………………………………8

6.       Hasil temuan…………………………………………………………..9

`                  A.       Dasar-dasar Keterampilan Komunikasi

yang Perlu dilatihkan pada ”Peer Counselor”…………….9

B.        Hasil-hasil Riset tentang efektivitas

Peer Counseling…………………………………………………….10

 

Penutup

                        Kesimpulan…………………………………………………………………….11

                        Daftar pustaka…………………………………………………………………12

                   “peer counseling”

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah

 

Penyelenggaraan Bimbingan Konseling di sekolah bertujuan agar siswa dapat menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan :
1. Menemukan pribadi, maksudnya adalah agar siswa mengenal kekuatan dan kelemahan diri sendiri serta menerima secara positif dan dinamis sebagai modal pengembangan lebihlanjut
2. Mengenal lingkungan, maksudnya adalah agar siswa mengenal secara obyektif lingkungan sosial dan ekonomi lingkungan budaya dengan nilai-nilai dan norma, maupun lingkungan fisik dan menerima semua kondisi lingkungan itu (lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat) secara positif dan dinamis pula.
3. Merencanakan masa depan, maksudnya adalah agar siswa mampu mempertimbangkan dan mengambil keputusan tentang masa depannya sendiri, baik yang menyangkut pendidikan, karir dan keluarga.

di samping itu terkadang siswa  kurang terbuka dalam mengungkapkan masalahnya kepada Guru Bimbingan dan Konseling, karena ada perasaan sungkan, malu dan takut, jangan-jangan bila permasalahannya diuangkapkan nilai pelajarannya akan jelek atau bahkan tidak naik kelas, ini sebenarnya merupakan anggapan yang keliru dan perlu diluruskan, untuk meluruskan anggapan bahwa Guru BK adalah polisi sekolah, tukang hukum, dan tukang mencari-cari kesalahan siswa diperlukan sinergi yang dinamis di antara stakeholder yang ada di sekolah.

 

            1

Guru lain yang ada di sekolah juga mempunyai kewajiban yang sama dalam menegakkan disiplin dan mengatasi masalah yang dihadapi oleh siswa, sehingga tidak selalu melemparkan siswa-siswa yang melanggar perauran sekolah, siswa-siswa yang berperilaku menyimpang kepada Guru BK.
Satu-satunya tempat atau orang yang bisa diajak bicara, menyampaikan segala permasalahan adalah teman sebayanya di sekolah. Teman sebaya dianggap sebagai orang yang mau mengerti dan paling peduli terhadap permasalahan yang sedang dihadapi tanpa harus menggurui atau memarahi, dan memberi penilaian baik buruk atau positif negatif. Teman sebaya juga dianggap sebagai sahabat curhat yang paling aman mereka punya bahasa yang sama dalam berkomunikasi sehingga siswa dengan mudah dapat menyampaikan masalahnya dan tidak harus belajar bagaimana berbicara yang sopan, resmi, serta halus seperti kalau hendak berbicara dengan guru.

 

untuk itulah maka guru Bimbingan dan Konseling harus mampu menangkap potensi yang ada yang harus diberdayakan, yaitu teman sebayanya atau teman sekelasnya untuk dijadikan tempat sebayanya menyampaikan permasalahan, ia dituntut dia harus mempunyai ketrampilan mendengarkan dan memberi solusi yang tepat dan bertanggung jawab, agar mereka dapat dijadikan mitra Guru Bimbingan dan Konseling, dan menjadi alternatif bagi siswa dalam menyelesaikan masalahnya, Pembimbing Sebaya ini juga dapat membantu tugas Guru Bimbingan dan Konseling sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya sebagai siswa.
 

 

 

 

 

 

 

2

Guru Bimbingan dan Konseling berkewajiban memberikan bekal pengetahuan kepada siswa agar siswa-siswa tersebut dapat berperan aktif dalam tugasnya

sebagai Pembimbing Sebaya sesuai tujuan yang diharapkan.
Apabila Pembimbing Sebaya yang ada di sekolah dapat diberdayakan, tidak mustahil Layanan Bimbingan Konseling akan dapat berjalan dengan maksimal dan siswa dapat memperoleh akses yang proporsi sesuai dengan kebutuhannya. Informasi dan data yang mendukung untuk memberikan Layanan Bimbingan Konseling juga akan semakin lengkap dan akurat.
Siswa yang ditunjuk sebagai Pembimbing Sebaya juga dapat mengambil manfaat yang berguna bagi perkembangan dirinya di masa sekarang dan yang akan datang, karena dengan menjadi Pembimbing Sebaya secara langsung maupun tidak langsung mereka akan memperoleh tambahan ilmu dan pengalaman serta belajar bertanggung jawab baik kepada dirinya sendiri maupun kepada guru dan sekolah di tempat di mana dia belajar dan menuntut ilmu. Orang tua siswa juga akan merasa bangga karena anaknya di sekolah punya peran dan andil dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh sekolah.

Hasil riset juga menunjukkan masih kurangnya kuantitas dan kualitas layanan konseling bagi siswa, karena kemampuan guru BK masih rendah dalam menguasai pendekatan konseling, dan sisi lain siswapun cenderung lebih banyak berkonsultasi dengan sebayanya. Berbagai hasil riset membuktikan konseling sebaya efektif dalam meningkatkan perkembangan kepribadian dan mengatasi berbagai masalah anak, remaja, bahkan orang tua. Terapi realitas yang berorientasi masa sekarang, mengajak berpikir realistis, di pandang cocok bagi remaja sehingga dapat menjadi salah satu inovasi dalam melaksanakan layanan konseling sebaya bagi para siswa

 

 

 

 

 

3

B.      Rumusan masalah

Apa tujuan dari penyelenggaraan Bimbingan Konseling di sekolah ?

Kriteria apa yang harus di penuhi untuk menjadi pembimbing sebaya?

Apa yang dapat di peroleh dari penyelenggaraan peer counseling,dan apa manfaat bagi para siswa yang melakukan nya?

Apa peran dan fungsi Peer Counseling tersebut?

Bagaimana cara menjadi pembimbing sebaya?

 

C.      Tujuan Penulisan
Dari rumusan di atas, maka tujuan dari penulisan ini adalah :
1. Meningkatkan keberhasilan Layanan Bimbingan dan Konseling sebaya

2. Meningkatkan peran Pembimbing sebaya sebagai aset yang perlu    diberdayakan.
3. Menanamkan rasa tanggung jawab kepada siswa yang diberi tugas sebagai Pembimbing sebaya dalam membantu tugas guru Bimbingan Konseling.

4. Agar  mampu mengajak siswa untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang positif di lingkungannya

5. Secara tidak langsung proses bimbingan sebaya atau peer counseling dapat menjaga perilaku , kontrol terhadap perilaku dirinya dan teman sebayanya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

BAB II

Pembahasan

  1. A.              Kajian Teorirtis

1.       Pengertian dari Peer Counseling :

 

 

 

-peer counseling adalah suatu proses yang mana remaja memiliki motivasi dan terlatih dengan baik melakukan aktivitas terorganisasi bersama-sama teman sebayanya (mereka yang memiliki kesamaan umur, latar belakang atau minat) dalam waktu tertentu yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, keyakinan dan ketrampilan serta menjadikan mereka bertanggung jawab

-Dengan sederhana dapat didefinisikan bahwa konseling sebaya adalah layanan bantuan konseling yang diberikan oleh teman sebayanya (biasanya seusia/tingkatan pendidikannya hampir sama) yang telah terlebih dahulu diberikan pelatihan-pelatihan untuk menjadi konselor sebaya sehingga diharapkan dapat memberikan bantuan baik secara individual maupun kelompok kepada teman-temannya yang bermasalah ataupun mengalami berbagai hambatan dalam perkembangan kepribadiannya

 

 

 

 

 

 

 

 

5

 

 

  1.             2.       Mengapa Harus Pembimbing Sebaya :

Seorang remaja dalam kelompok sebayanya memiliki pengaruh yang besar dalam bagaimana ia berperilaku, baik perilaku yang positif maupun perilaku yang negatif. Kepercayaan pada Pembimbing Sebaya di mata kelompoknya benar-benar merupakan dasar yang penting dalam menciptakan Pembimbing Sebaya tersebut.
Dalam berkomunikasi dengan sebayanya Pembimbing Sebaya biasanya menggunakan bahasa yang sama sehingga informasi akan lebih mudah dipahami.
Pembimbing Sebaya juga merupakan suatu cara untuk memberdayakan remaja, dalam hal ini menawarkan mereka kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang berdampak positif bagi mereka serta mengakses pelayanan yang mereka butuhkan.

Pembimbing Sebaya juga muncul dari keyakinan bahwa remaja memiliki hak untuk berpartisipasi dalam mengembangkan program yang melayani mereka dan hak bersuara dalam bentuk kebijakan yang akan berdampak pada mereka.

Oleh karena itu dengan menciptakan kemitraan yang efektif antara Guru Bimbingan dan Konseling dengan Pembimbing Sebaya merupakan sesuatu yang kritis bagi kesuksesan program Bimbingan dan Konseling di sekolah

 

 

 

 

 

 

 

 

6

 

 

3.         Peran dan fungsi dari Peer Counseling :

 

Pembimbing Sebaya diharapkan mampu berperan menjadi fasilitator, motivator, dan educator untuk sebayanya, oleh karena itu Pembimbing Sebaya diharapkan dapat :

a. Menjadi model positif yang dapat dicontoh oleh teman sebayanya.
b. Menjadi pemimpin bagi teman sebayanya untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang positif di lingkungannya.
c. Dapat menjadi sumber informasi bagi teman sebayanya akan program yang ada.
d. Selain menjadi teman, seorang Pembimbing Sebaya juga dapat menjadi tempat curhat (dalam batas kemampuannya) bagi teman sebayanya dan memberi solusi yang sesuai dengan kebutuhan remaja yang bermasalah.

e. Pembimbing Sebaya dapat menjadi teman/mitra dalam berkarya di lingkungannya.
f. Pembimbing Sebaya mampu melakukan penjangkauan atau pendekatan pada teman-teman yang bermasalah dan memberikan informasi agar terhindar dan keluar dari permasalahan yang dihadapinya.
g. Secara tidak langsung Pembimbing Sebaya dapat menjaga pelaku kontrol terhadap perilaku dirinya dan teman sebayanya.

 

 

 

 

 

 

 

7

4.       Kriteria untuk dapat memenuhi sebagai pembimbing sebaya :

 

Untuk dapat memenuhi peranannya sebagai Pembimbing Sebaya mereka harus memenuhi beberapa kriteria seperti :

1. Aktif dalam kegiatan sosial dan populer di lingkungannya.
2. Berminat secara pribadi terhadap program Bimbingan dan Konseling
3. Lancar berkomunikasi

4. Memiliki ciri-ciri kepribadian yang terpuji seperti: ramah, luwes dalam

pergaulan, berinisiatif, kreatif, tidak mudah tersinggung, terbuka untuk hal-hal baru, mau belajar dan suka menolong.

 
5.       Cara Menjadi Pembimbing Sebaya :

 

Ketika remaja atau siswa akan menjasi Pembimbing Sebaya maka remaja tersebut harus mengikuti serangkaian pembekalan dan pelatihan agar mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik dan tidak menjerumuskan teman sebayanya dalam poses pembimbingan.
Serangkaian proses menjadi seorang Pembimbing Sebaya adalah :
1. Mengikuti pelatihan Pembimbing Sebaya secara penuh yang diselenggarakan oleh lembaga (Guru BK).
2. Mengerjakan tugas-tugas dan melaksanakan rencana yang telah disusun.
3. Memberikan laporan kemajuan diri sebagai Pembimbing Sebaya dalam upaya melakukan evaluasi diri dan pengembangan diri.
4. Terus memperkaya diri dengan informasi terkini.
5. Memberikan masukan kepada lembaga untuk mengembangkan program.
6. Mendidik teman sebayanya agar dapat termotivasi.

 

8

6.       Hasil Temuan  :

 

A.        Dasar-dasar Keterampilan Komunikasi yang Perlu Dilatihkan pada ”Peer Counselor

Judy A. Tindall & H. Dean Gray (1985), dari format training konseling dari Carkhuff (1969), Ivey (1973), Gordon (1970), Jakubowski-Spector (1973a, 1973b), dan yang lain telah memodifikasi keterampilan konseling untuk diajarkan kepada tenaga non profesional. Dasar-dasar keterampilan tersebut meliputi:

(1) Attending yaitu perilaku yang secara langsung berhubungan dengan respek, yang ditunjukan ketika helper memberikan perhatian penuh pada helpee, melalui komunikasi verbal maupun non verbal, sebagai komitmen untuk fokus pada helpee. Helper menjadi pendengar aktif yang akan berpengaruh pada efektivitas bantuan. Termasuk pada komunikasi verbal dan non verbal.

(2) Summarizing yaitu dapat menyimpulkan berbagai pernyataan helpee menjadi satu pernyataan. Ini berpengaruh pada kesadaran untuk mencari solusi masalah, (3) Questioning yaitu: proses mencari apa yang ada di balik diskusi, dan seringkali berkaitan dengan kenyataan yang dihadapi helpee. Pertanyaan yang efektif dari helper adalah yang tepat, bersifat mendalam untuk mengidentifikasi, untuk memperjelas masalah, dan untuk mempertimbangkan alternatif,

(4) Genuineness/kesejatian adalah mengkomunikasikan secara jujur perasaan sebagai cara meningkatkan hubungan dengan dua atau lebih individu,

(5) Assertiveness/ketegasan, termasuk kemampuan untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaan secara jujur, yang ditunjukkan dengan cara berterus terang, dan respek pada orang lain,

(6) Confrontation adalah komunikasi yang ditandai dengan ketidak sesuaian/ketidakcocokan perilaku seseorang dengan yang lain,

(7) Problem Solving adalah proses perubahan sesorang dari fase mengeksplorasi satu masalah, memahami sebab-sebab masalah, dan mengevaluasi tingkah laku yang mempengaruhi penyelesaian masalah itu.

9

 

B.    Hasil-hasil Riset tentang efektivitas Peer Counseling.

(1) Carr (1981) menyatakan bahwa tanpa bantuan aktif dari para siswa (teman sebaya) dalam memecahkan krisis perkembangan dan problem-problem psikologis mereka sendiri, program-program layanan dan program konseling tidak akan berhasil secara efektif.

 

(2) Menurut Carr (1981) konselor harus melibatkan para siswa (teman sebaya) sebagai cooperative allies dan upaya-upaya membantu siswa melalui berbagai tindakan yang rasional dan logis.

 

(3) Judy A. Tindall & Dean Gray (1985) telah menunjukkan  bahwa sebagian besar layanan yang diberikan melalui peer counseling itu sukses.

 

(4) Emmert (1977) menemukan bahwa kelompok siswa yang telah mendapatkan pelatihan menjadi peer-helper secara statistik berbeda dan lebih tinggi skor empatinya dibanding kelompok siswa yang tidak menerima pelatihan. Dalam studi yang lain,

 

(5) Bell (1977) menggunakan metoda perbandingan antar kelompok untuk menemukan efek dari partisipasi pada program peer counseling siswa SMP. Ia menguji apakah terjadi peningkatan konsep diri dan prestasi akademik pada peer-conselor. Dia menemukan meskipun peer-conselor yang dilatih tidak memperlihatkan peningkatan dalam self consept, mereka menunjukkan prestasi akademik yang lebih tinggi dibanding kelompok siswa peer conselor yang tidak bekerja dengan siswa-siswa lain. (Judy A. Tindall & Dean Gray,1985)

 

 

 

10

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

-Peer konseling adalah konsep pengembangan yang tidak boleh dipandang sebagai obat mujarab untuk meringankan masalah pribadi pada orang lain. Namun, bukti-bukti tentang manfaat konseling rekan dapat dilihat di banyak program dan harus dievaluasi sebagai daerah potensi besar.
-Setelah kegiatan-demi kegiatan dalam metode Pembimbing Sebaya ini dilakukan, maka dapat dirasakan manfaat dan hasil yang signifikan dalam upaya optimalisasi Layanan Bimbingan dan Konseling sebaya

antara lain:
1. Layanan Bimbingan Konseling di sekolah menjadi lebih optimal.
2. Layanan Bimbingan Konseling di sekolah menjadi lebih efisien dan efektif.
3. Tugas-tugas Guru Bimbingan dan Konseling di sekolah menjadi ringan dengan adanya siswa yang membantu.
4. Dapat membantu mengatasi masalah siswa dengan data yang lebih lengkap.
5. Siswa (Pembimbing Sebaya) menjadi lebih percaya diri karena diberi tanggungjawab oleh guru untuk menjadi bagian dari kegiatan sekolah.
6. Siswa yang bukan Pembimbing Sebaya merasa lebih nyaman curhat kepada temannya sendiri, tanpa ada perasaan takut, malu dan sungkan.
7. Masalah-masalah yang sebelumnya tidak terungkap menjadi terungkap, atas informasi dari Pembimbing Sebaya.
8. Peran Pembimbing Sebaya dalam layanan bimbingan dan konseling sangat strategis.

- Layanan peer counseling memiliki peluang cukup besar untuk diterapkan di sekolah, jika digerakan oleh konselor profesional dan didukung berbagai pihak, khususnya kepala sekolah, dan guru.

11

DAFTAR PUSTAKA

 

http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=149&Itemid=85

 

 

 

http://exkuwin.wordpress.com/2009/06/01/perbedaan-peer-edukasion-peer-informasi-dan-peer-konseling/

 

http://tutorials-search-engine.com/teknik-bimbingan-dan-konseling-kelompok.html

 

http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/BK-Psikologi/article/view/5614

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12

Tentang solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s