Syiah Bukan Islam

Standar

Gerakan Syiah di Indonesia

Gerakan syiah di Indonesia luar biasa aktifnya. Mereka sangat pintar menempatkan orang-orangnya di posisi penting serta sangat lihai melobi para pejabat pemerintah dan mendapatkan dukungan yang terang-terangan dari kedutaan Besar Iran di Jakarta.

Posisi yang mereka atur yaitu:

  1. Dr. Jalaluddin Rachmat untuk menggarap keluarga mantan wakil Presiden Soedarmono serta kelompok elit Kebayoran Baru dengan menggunakan Yayasan (pengajian sehati).
  2. Ir. Haidar Bagir (Pemimpin di Harian Umum Republika) menggarap orang-orang dekat Habibie dan kelompok intelektual lainnya.
  3. Prof. Dr.Quraisy Shihab yang menggarap tokoh agama termasuk Majlis Ulama Indonesia yaitu untuk mementahkan keputusan-keputusan MUI , kalau ada keputusan MUI yang mau keras terhadap aliran –aliran sempalan. Dan dengan pendekatan yang intensif dengan keluarga cendana akhirnya dia terpilih menjadi menteri agama pada kabinet pembangunan VII sehingga LPPI mengeluarkan brosur kecil yhang berjudul: Syiah dan Quraisy Shihab. Seandainya dia terpilih kembali menjadi menteri agama pada kepemimpinan Habibie maka LPPI akan menerbitkan buku yang lengkap tentang keterlibatannya dengan Syiah terutama mengenai buku-buku tulisannya.

Gerakan Syiah di Indonesia mempunyai beberapa percetakan/penerbitan besar serta modern untuk menerbitkan buku-buku syiah, percetakannya adalah:

  • Penerbit Mizan Bandung
  • Penerbit Pustaka Hidayah Bandung
  • Penerbit Lentera Hati Jakarta
  • Penerbit Al-Huda

Menurut penelitian LPPI tahun 1996 yang lalu, penerbit-penerbit syiah di Indonesia telah menyebarkan 82 jilid buku  yang menyebarkan ajaran syiah (itu dari dua penerbit saja yaitu Mizan dan Pustaka Hidayah) belum di teliti penerbit syiah yang lainnya.

Gerakan Syiah juga sudah mempunyai yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan pesantren:

  1. Yayasan Muthahari Bandung-SMA Muthahari

Pimpinan :DR. Jalaludin Rachmat

Alamat: Jl.Kampus Kiaracondong Bandung Jabar.

  1. Yayasan Mulla Sadra Bogor, sekarang bernama IPANI (Ikatan Pemuda Ahlul Bait)

Alamat: Villa merdeka  Jl. Pesantren kav.14 Cimanggu, Bogor Jabar

  1. Yayasan Pesantren Yapi Bangil Jatim.

Pemimpim :Ust. Zahir Yahya dan Ust. Alwi bin Syech Abu Bakar

Pesantren Puteri: Jl. Kiincir Mas Bangil

Pesantren Putera: Kenep Bangil

  1. Pesantren Al-Hadi Pekalongan Jateng

Pemimpin: Ust. Ahmad Baragbah

Alamat                : Jl. HA Salim Gg. VI/2 Pekalongan

  1. Yayasan Al-Huda

Alamat: Jl. Tebet Barat II No 8 Jakarta

Kegiatan: Menerbitkan buku-buku Syiah, pameran buku Syiah, khaul Khomeini dan acara-acara Syiah. Yayasan ini menerbitkan buletin bulanan “Babul Ilmi” yang disebarkan kepada masyarakat.

Kesesatan dan penyimpangan Syiah

  1. Syiah memandang imam itu ma’shum (orang suci).
  2. Syiah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan(imamah) adalah rukun agama.
  3. Syiah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait.
  4. Syiah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu bakar,Umar, dan ustman.
  5. Syiah menghalalkan nikah mut’ah (kawin kontrak) yang sudah di haramkan oleh nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
  6. Para imam di anggap ma’shum, itu bertentangan dengan Islam, karena yang ma’shum hanyalah Nabi. Bahkan Syi’ah sendiri sampai kemudian membatasi kewenangan imam setelah kasus imam khomeini yang  cenderung menuruti kehendak hawa nafsunya hingga akan mengakibatkan hancurnya rakyat iran karena tetap di haruskan berperang dengan irak, maka kemudian di batasilah wewenang imam.
  7. Syi’ah menggunakan senjata taqiyyah yaitu berbohong dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya, untuk mengelabui. (Al-Kafi fil Ushul, Juz II hal 217).

Syiah percaya kepada Ar-Raj’ah yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum kiamat di kala imam ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.

Syiah Memporak-porandakan Umat Islam

Syi’ah telah terang-terangan memporak-porandakan ajaran Islam dan umat Islam sejak adanya anggapan bahwa yang berhak menjadi khalifah sepeninggal nabi Muhammad adalah Ali bin Abi Thalib. Anggapan itu bukan sekedar tak mengakui kekhalifahan selain Ali bin abi Thalib tetapi sampai mengkafirkan para sahabat yang termasuk dijamin masuk surga oleh nabi Muhammad. Bahkan lebih dari itu, Syi’ah menganggap yang berhak menjadi khalifah adalah Ali bin Abi Thalib serta keturunannya sampai 12 orang yang disebut imam dan di anggap ma’shum terpelihara dari kesalahan-kesalahan.

Kecuali Syi’ah Zaidiyah, rata-rata Syi’ah yang sektenya bercabang banyak sekali itu mengingkari kekhalifahan Abu Bakar hingga Utsman. Sekiranya di teliti dan dipelajari apa yang ditulis dan dibicarakan oleh kaum Syi’ah tentang para sahabat Rosululloh, ternyata mereka menganggap bahwa para sahabat itu menyerupai komplotan pencuri dan perampok.

Mereka (Sahabat Nabi) dipandang tidak beragama dan tidak mempunyai kata hati untuk mencegah kebohongan, kebinasaan dan kerusakan duniawiah. Padahal menurut riwayat  yang sebenarnya, ternyata para sahabat itu dalam sejarah, dari generasi ke generasi dari dahulu hingga sekarang tercatat sebagai orang-orang yang sangat taqwa kepada ALLOH dan terhormat jalan hidupnya. Lagi pula ajaran islam tidak akan tersebar keseloroh alam tanpa usaha para sahabat yang dengan gagah berani senggup meninggalkan keluarga dan kampung halaman.dalam membela kebenaran yang diyakininya dalam rangka menaati jalan ALLOH.

Penghujatan terhadap para sahabat dan umat Islam(Sunni) secara keseluruhan memang sejak dulu dilakukan oleh Syi’ah. Hingga istilah taqrib(pendekatan) antara Sunni dan Syi’ah sengaja diciptakan sebagai kedok untuk menikam atau menjelek-jelekkan, mencaci maki para sahabat dan muslimin (Sunni) pada umumnya, sebagaiman dikemukakan Dr. Musthafa As-Siba’i. Malahan masih terdapat buku lainnya yang lebih keji dari itu yang di terbitkan di irak dan iran yang mendiskripsikan Aisyah-Ummul Mu’minin- serta sejumlah sahabat lainnya dengan kata-kata yang menusuk setiap orang yang masih mempunyai perasaan dan kata hati.(As-Siba’i, ibid hal 24). 

Tak Mengaku Syi’ah Sambil Mengkafirkan Sahabat

Model menyakiti hati bahkan mengkafirkan para sahabat ternyata bukan hanya di lakukan oleh orang yang terang-terangan mengaku Syi’ah. Bahkan di Indonesia, orang yang mengaku Sunni  padahal di rumahnya dipasangi gambar Khomeini besar(konon kini dicopot, menurut sumber Media Dakwah) pun menulis makalah yang sangat lancang mengkafirkan para sahabat. Dialah Dr.Said Agil Siraj, wakil katib Syuriah PBNU yang menulis makalah bejudul “Latar kultur dan politik kelahiran ASWAJA(Ahlus Sunnah Wal Jama’ah)”. Tulisan itu pernah menjdai heboh dikalangan umat islam, terutama NU, disamping sebagian orang menjadi keliru, dikira yang menulis makalah itu Dr. Said Aqil Al-Munawar yang memang seorang ulama di NU yang di masa presiden Megawati menjabat sebagai menteri agama.

Betapa beraninya Said Agil Siraj itu dalam mengkafirkan para sahabat, seperti dalam tulisannya yang kami kutip ini:

“Sejarah mencatat, begitu tersirat berita Rasululloh wafat dan digantikan oleh Abu bakar (b kecil dari pemakalah), hampir semua penduduk jazirah arab menyatakan keluar dari Islam. Seluruh suku-suku di tanah arab membelot seketika itu juga. Hanya Madinah, Makkah dan Thaif yang tidak menyatakan pembelotannya. Ini pun, kalau di kaji secara seksama bukan karena agama, bukan di dasari keimanan, tapi karena kabilah. Pikiran yang mendasari sikap orang Makkah untuk tetap memeluk Islam adalah logika bahwa kemenangan islam adalah kemenangan muhammad; sedang muhammad adalah Quraisy, penduduk asli kota makkah; dengan demikian, kemenangan islam adalah kemenangan suku Quraisy; kalau begitu tidak perlu murtad. Artinya tidak murtadnya makkah itu bukan karena agama, tetapi karena slogan yang digunakan oleh abu bakar di bani saqifah; al-aimmatu min quraisy, bahwa pimpinan itu berasal dari Quraisy. Dan itu sangat ampuh bagi orang Quraisy.” (latar kultur dan politik kelahiran ASWAJA, hlm.3-4).

Astaghfirullaah… betapa beraninya doktor asal cirebon yang konon tesisnya tentang tasawwuf Ibnu Arabi dan kini mengajar di perguruan tinggi Islam negeri di Jakarta ini melontarkan tuduhan sangat keji, yaitu murtad kepada para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Secara umum, dan yang masih memeluk islam itu bukan karena keimanan tetapi karena kabilah, alias munafik. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan juga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjelaskan bagaimana keutamaan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk islam) baik muhajirin maupun anshar maupun orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, di dalamnya mereka kekal selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah:100)

Meskipun al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menegaskan kebaikan para sahabat, namun orang-orang syiah, baik yang benar-benar Syiah secara terang-terangan maupun yang tidak mau mengaku, mereka tidak segan-segan menghujat, memurtadkan, mengkafirkan, memojokan para sahabat hatta periwayat hadits yang terkemuka seperti Abu Hurairah.

Abu Rayyah di Mesir menghujat Abu Hurairah di antaranya menurut As-Siba’i merujuk pula pada Syiah. Di Indonesia pun, Husein Al-Attas yang oleh kalangan muda yang kesyiah-syiahan disebut sebagai ustadz mereka di Cililitan Jakarta menghujat Abu Hurairah secara terang-terangan, hingga dibantah oleh Abdul Hakim Abdad, seorang guru hadits. Sebagai sumber islam setelah Al-Quran, memang hadits Nabi Muhammad direkayasa untuk dirobohkan oleh Syiah. Hal itu bukan hanya di wilayah-wilayah syiah, namun di Indonesia pun bermunculan penghujat hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Di antaranya tercatat pula Jalaluddin Rachmat menghujat hadits “antum a’lamu bi umuuri dunyaakum”, Engkau lebih tahu tentang urusan-urusan duniamu. Hujatan itu dituangkan dalam bukunya, Islam Aktual.

Dirinya Sendiri Bingung

Pada tahun 1993, Syaikh Tashkhiri dari Iran pernah bertemu penulis di Brunei, penulis mengaku dari Indonesia, maka Syaikh Tashkhiri langsung menanyakan nama Jalaluddin Rachmat. Ulama yang mengaku dirinya termasuk Ulama Ahli Bait (istilah yang diklaim oleh Syiah) itu ketika penulis tanya, apakah Jalaluddin Rachmat itu Syiah, dia menjawab, jalal itu mencampur antara berbagai madzhab.

Dengan kenyataan bahwa orang-orang yang berani menghujat hadits, bahkan mengkafirkan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun di Indonesia tidak terus terang mengakui dirinya Syiah, sampai Syaikhnya sendiri pun tak menegaskan dirinya ataupun “muridnya” di Indonesia itu Syiah, ditambah lagi diri orang itu sendiri mengaku bingung apakah Syiah atau bukan.

Keanehan demi keanehan yang kadang sampai melebihi jahatnya Fir’aun pun dilakukan orang syiah dalam memporak-porandakan Islam. Berikut ini dikutip ungkapan tokoh Syiah Isma’iliyah di abad 20 ini yaitu Agha Khan yang petualangannya sangat terkenal sekali. Agha khan yang tinggal di Barat sangat erat sekali hubungannya dengan pihak Yahudi Internasional. Agha Khan melarang pengikutnya melaksanakan ibadah haji, sementara itu ia juga menghalalkan minuman keras (khamr), perjudian dan perzinaan. Pada suatu hari ia ditanya oleh seorang wartawan, mengapa ia berpendidikan tinggi itu masih mau dipertuhankan oleh pengikutnya? Sebelum menjawab pertanyaan itu, ia tertawa terbahak-bahak seraya mengatakan,”Bangsa Insia banyak yang menyembah sapi, bukankah aku lebih baik dari sapi?” Bahkan ia juga mengatakan, khamr yang sudah masuk perutnya itu akan berubah menjadi air zam-zam. (Dr.Abdulloh Muh Ghorib dkk, Hakikat Syi’ah,Pustaka Mantiq, Solo cet pertama, Januari 1993, hlm.160)

Ucapan seorang tokoh Syiah Isma’iliya (salah satu sekte Syiah Imamiyah) abad 20-21 itu betapa congkaknya dan memporak-porandakan tatanan Islam. Selain hujatan yang menolak hadits, sahabat, bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, ternyata dilangsungkan pula dengan cara melecehkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedang setan dan iblis saja masih mengakui Allah itu adalah Tuhan, hanya saja mereka membangkang sama sekali. Itulah kenyataan bahayanya Syiah dengan berbagai tokohnya terhadap islam.

Kepalsuan Doktrin Imamah Syi’ah

Pangkal soal adanya perselisihan pendapat tentang Daulah Islam (termasuk di dalamnya tentang imamah/kepemimpinan) adalah perbedaan pendapat dalam memandang mana yang pokok (ushul) dan mana yang cabang (furu’). Kalau yang dimaksud pemerintahan islam itu adalah masalah dasar-dasar legislatif, maka hal itu termasuk pokok (ushul) dalam islam dan akidah, berdasarkan dalil firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

“Barangsiapa tidak menghukumi dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka adalah kafir” (Al-Maidah: 44)

Salim Ali Al-Bahnasawi ulama timur tengah mencontohkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika meminta kepada kaum Anshar untuk memilih utusan yang akan mewakili mereka, Rasul tidak menentukan dengan apa atau bagaimaa caranya, melainkan hanya bersabda, “Keluarkanlah untukku di antara kamu dua belas wakil utusan.” Dari contoh itu, salim berkesimpulan, perselisihan paham di kalangan ulama hanyalah dalam hal istilah, bukan dalam hal pemerintah dengan sistem syariah itu sendiri.

Hadits Ghadir Khum dan Pandangan Syi’ah

Menurut Salim, perbedaan pendapat antara Syiah dan Ahlus Sunnah dalam sistem kekuasaan Islam bersumber dari riwayat Hadits Ghadir yang dipahami bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan Rasulullah memberi wasiat kepada Ali Radhiyallahu Anhu untuk menjadi penerus pemimpin umat islam setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam wafat, tetapi beliau tidak menyampaikan secara terbuka karena khawatir dikatakan bahwa Nabi mengutamakan kerabatnya.

Al-Qazwani mengemukakan bahwa pada waktu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kembali dari  haji Wada’ dalam perjalanan ke Madinah, beliau berhenti ditempat yang di sebut Khum, yaitu daerah titik persimpangan jalan menuju ke Madinah, Irak, Mesir dan Yaman pada tanggal 18 Dzulhijjah. Jumlah anggota kafilah yang menyertai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah 120.000 orang selain orang-orang yang bergabung dengan mereka dalam perjalanan dari Yaman dan Makkah. Lalu Malaikat Jibril turun membawa wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan, apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari ganguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 67)

Jibril menyampaikan kepada Nabi bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepadanya untuk menjadikan Ali bin Abi Thalib pemimpin umat islam dan penerus Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Setelah beliau wafat serta menjadi penerima wasiatnya. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menghentikan perjalanan itu dan memerintahkan orang-orang yang berada di belakang dalam perjalanan itu untuk kembali lalu mereka semuanya berkumpul mengelilingi beliau. Pada saat waktu dhuhur tiba beliau mengimami mereka dalam sholat dan menyampaikan pidato bahwa yang isinya adalah bahwa Alloh memerintahkan tentang imamah Imam Ali Radiyallohu Anhu. Bagi yang hadir diminta untuk menyampaikan hal ini kepada saat itu tidak hadir bersama mereka. Diantara kata-kata beliau dalam pidato tersebutu,”Taatilah dan patuhilah, sesungguhnya Alloh pelindung kalian dan Ali pemimpin kalian, kemudian kepemimpinan ada di tangan anak cucuku dari keturunannya hingga hari kiamat. Sabdaku dari Jibril dari Alloh, maka lihatlah jiwa apa yang dipersiapkan esok.” Kemudian Al-Qazwani mengemukakan bahwa peristiwa bersejarah yang amat populer dikalangan Syiah ini dikenal dengan Ghadir Khum dan menjadi bagian terpenting dari peristiwa dalam kehidupan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di mana hadir di sana 120.000 sahabat sebagai saksi yang di antaranya adalah Abu Bakar, Abu Hurairah, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Samurah bin Jundub, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Abbas bin Abdil Muthalib, Abdullah bin Umar dll.

 

 

Berbagai kontradiksi

Salim berkomentar, jika sumber-sumber yang dipakai oleh Al-Qazwani dikaji, akan ditemukan bahwa di sana tidak ada hal-hal yang berkaitan dengan kema’suman atau kekebalan dari dosa (ishmah) Ali Radhiyallah Anhu dan wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk menjadi pemimpin umat islam setelah beliau wafat. Sebab jika dikaji ditemukan beberapa kontradiksi yang diantaranya:

  1. Pertemuan besar yang terdiri dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang melaksanakan ibadah haji bersamanya tidak seorang pun di antara mereka yang mengatakan tentang wasiat ini kepada Ali dari Allah untuk menjadi penerus kepemimpinan umat: tidak pada masa Nabi, tidak pula pada peristiwa As-Saqifah yang dipegang oleh kaum muhajirin yang berkenaan dengan hak mereka dalam khilafah dan jika yang dipegang oleh kaum Anshar tentang hal itu, dan tidak seorang pun yang menyebutkan wasiat itu pada peristiwa As-Saqifah yaitu tentang peristiwa Ghadir Khum yang menyangkut Ali dan keluarganya.
  2. Anggapan bahwa Ali dipaksa, bertetangan dengan pandangan mengenai ishmahnya (keterpeliharaannya) dan bertentangan dengan kenyataan. Sebab sahabat-sahabat lain yang menginginkan khilafah untuk kaumnya, tidak tinggal diam. Maka bagaimana dengan ornag yang diyakini ma’shum(terpelihara), dan dia diberi amanat dari Alloh untuk urusan ini? Jika riwayat ini boleh didiskusikan, maka tidak adanya permintaan dari Ali apa yang diamanatkan kepadanya berupa wasiat kepemimpinan setelah Nabi wafat, adalah satu bukti tidak adanya riwayat dan keabsahannya. Sebab seandainya memang benar dia telah di beriamanat ini tentu tidak tinggal diam. Sedangkan  yang mengatakan bahwa Ali bersikap diam berarti dengan demikian telah menafikan ishmah.
  3. Keyakinan ini justru melecehkan Ali. Sebab hal itu mengandung  tuduhan bahwa Ali menghianati amanat yang di berikan oleh Alloh kepadanya, Anggapan tentang keterpaksaan Ali terbantah dengan bukti bahwa ia mau mengawinkan anak puterinya dengan Umar bin Khathob.
  4. Riwayat-riwayat yang ada dalam kitab-kitab tafsir,termasuk At-Tibyan karya At-Thusi,seorang ulama syi’ah kenamaan , menunjukan bahwa ayat ini yaitu Al-maidah:67, ayat sebelumnya dan yang sesudahnya di turunkan berkenaan dengan orang-orang yahudi dan nasrani.
  5. Istilah ismah yang terdapat dalam sumber-sumber ini tidak berarti terjaga dari perbuatan dosa, melainkan ishmah yang mempunyai pengertian terjaga dalam pengambilan dari Alloh tanpa sanad yang berantai hingga sampai pada Nabi di mana sumber-sumber ini menetapkan bahwa yang mempunyai ishmah(ma’shum)−yaitu para imam yang dua belas−mempunyai kelebihan menghususkan keumuman Al-Qur’an. Oleh karena itu Imam Muaa Musavi menolak hadis ghadir Khum dan kepercayaan tentang ishmah, dan berkata bahwa riwayat ini muncul setelah menghilangnya  Imam kedua belas.

Masalah Kapan Ali Membai’at Bakar

Dalam Tarikh Ath-Thabari di catat, “sesungguhnya Ali berada di rumahnya ketika sampai kepadanya berita bahwa Abu Bakar duduk-duduk untuk menerima bai’at. Maka keluarlah Ali dalam keadaaan cuma memakai izar dan tanpa selendang Ali cepat-cepat karena khawatir kalau-kalau terlambat, lalu Ali langsung berbai’at kepadanya kemudian Ali duduk dekatnya, dan Ali menyuruh orang mendatangkan pakaiannya dan dipakainya dan baru duduk dengan tenang.”

Ketika Fatimah,istri Ali lagi sakit, Ali tidak pernah ketinggalan shalat berjama’ah di belakang khalifah Abu Bakar. Ali juga ikut bersama abu bakar ke medan perang untuk ber jihad menghadapi kaum murtad.

Dari riwayat-riwayat itu jelas tidak ada bukti yang menyangkut  apa yang di sebut-sebut orang syiah, yakni wasiat Nabi Muhamad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada Ali untuk menjadi khalifah menggantikan Nabi. Seandainya wasiat itu ada, maka setelah jelas bahwa kasus warisan itu sudah bisa dijawab oleh Abu Bakar ( Nahnu ma’aasyiral anbiyaa’ laa nuritsu,maa taraknahu shadaqotun) kami sekalian para nabi tidak mewariskan apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah. Ali mestinya tidak minta maaf kepada Abu Bakar ,justru mengemukakan hak Ali yakni wasiat kekhalifahn itu. Namum kenyataannya Ali sama sekali tak melakukannya. Sedangkan kalau berbai’atnya Ali kepada Abu Bakar itu dianggap hanya lahiriah saja, maka berarti anggapan itu menuduh Ali sebagai munafik.

Batalnya Hujjah Syi’ah

Sumber-sumber syiah menegaskan tentang peristiwa pembicaraan damai antara amirul mu’minin Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Sumber-sumber ini tidak menolak sikap menerima perdamaian atas nama hukum syari’ah yang di tunjukan oleh Ali. Pendukung Ali merupakan mayoritas besar, bukan minoritas kelompok tertindas hingga mau menerima perdamaian ini. Kenyataan ini menunjukkan bahwa Ali bin Abi Thalib  tidak mempunyai wasiat dari Allah dan Rosul-Nya untuk menjadi khalifah atau imam.

Seandainya wasiat itu benar ada maka hukum Allah yang wajib dia pegang sebagai hujjah yang tidak dapat di bantah oleh pihak yang mengajak berdamai. Begitu pula dengan Hasan Radhiyallohu Anhu, posisinya dan dukungan umat kepadanya datang dari mayoritas mereka, akan tetapi secara suka rela mengalah dan menyerahkan khilafah kepada Mu’awiyah demi persatuan umat Islam.

Khilafah Syiah

Khilafah dan imamah menurut akidah syiah ja’fariyah adalah pemimpin umat islam yang tidak di pilih oleh mereka tetapi ditentukan oleh Allah sebelumnya. Pilihan ini terbatas pada 12 imam saja:

  1. Ali bin Abi Tholib yang di beri gelar oleh syi’ah dengan Al-Murtadho, terbunuh oleh Abdurrahman bin Muljam di masjid Kufah pada 17 Ramadhan tahun 40 H.
  2. Hasan bin Ali radhiyalahu anhu digelari Al-Mujtaba.
  3. Hasan bin Ali radhiyalahu anhu digelari Asy Syahid.
  4. Ali Zainal Abidin bin husein digelari As-Sajjad.
  5. Muhamad Baqir bin Ali zainal Abidin digelari  Al-Baqir.
  6. Ja’far Shadiq bin Muhamad Baqir digelari As-Shadiq.
  7. Musa Khazim bin Ja’far Shadiq digelari Al-Khazim.
  8. Ali Ridha bin Musa Khazim digelari Ar-Ridha.
  9. Muhamad Jawwad bin Ali Ridha digelari At-Taqi.
  10. Ali Hadi bin Muhamad Jawwad digelari An-Naqy.
  11. Hasan Askari bin Ali Hadi digelari Az-Zaki
  12. Muhamad Mahdi bin Muhamad Al-Askari digelari  Imam Muntadhar ( imam yang dinantikan)

Syiah Imamiyah menyakini Imam yang kedua belas itu telah masuk kedalam goa dirumah ayahnya di kota Surro Man Ro’a dan tidak kembali. Ketika imam ini menghilang mereka berselisih tentang usianya ada yang mengatakan 4 tahun, ada berpendapat 8 tahun. Tetapi mayoritas peneliti berpendapat bahwa Imam itu sama sekali tidak ada. Itu adalah sesuatu yang di buat-buat oleh orang-orang syiah, kemudian digelari dengan “Imam yang Tiada atau Imam yang Diduga-duga.”

Keyakinan Syiah Mustahil

Keyakinan dan penerapan seperti yang diuraikan tersebut menunjukkan,aliran syi’ah Ja’fariyah sulit di praktikan dalam masalah imamah bahkan tingkat kesulitanya hampir dikatakan mustahil. Sebab menurut ajaran syiah  yang di maksud dengan imam adalah imam bagi seluruh umat islam di dunia  bukan hanya untuk penganut syi’ah Ja’fariyah saja. sehingga seandainya Imam Mahdi benar-benar muncul maka kebanyakan negara Muslim tidak akan menerima karena adanya kepercayaan yang di pandang menyimpang itu. Di antara golongan yang menolak itu adalah:

  1. Ahlus sunnah wal jama’ah dan Syiah Zaidiyah di Yaman.
  2. Golongan Al- Ibadhiyah dan Ahlus sunnah wal jama’ah di Oman.
  3. Ahlus sunah di negara Arab serta negara-negara Muslim lainnya

Teori tentang imamah dalam fiqih syiah telah menjadi masalah sejarah yang berakhir dengan wafatnya Hasan Askari  yaitu imam ke sebelas bagi penganuh syiah. Beberapa masalah telah meliputi syiah, padahal sulit dibuktikan adanya landasan/dalil  yang kuat antaranya masalah:

  1. Bai’tanya Ali terhadap Abu Bakar di kaitkan dengan keengganan Ali mengakui kekhalifahan Abu Bakar. Padahal itu semua tidak terbukti.
  2. Hadits Ghadir Khum tentang wasiat Nabi untuk Ali sebagai pengganti Nabi, sehingga Abu Bakar dianggap merampas hak Ali, itu tidak terbukti baik secara sejarah ataupun dari kajian hadits.
  3. Kepemimpinan atau imamah dianggap langsung diangkat oleh Alloh dan hanya 12 imam mulai dari Ali dan semuanya keturunan Imam Ali. Itu semua tidak ada landasannya dalam Islam.
  4. Imam yang kedua belas dianggap ghaib atau hilang. Kepercayaan ini diada-adakan bahkan nama imam ghaib itu sendiri menurut riwayat seperti tersebut diatas adalah diada-adakan.
  5. Para imam dianggap ma’shum. Itu semua tidak ada dalilnya, karena dalam Islam, selain Nabi tidak ada yang Ma’shum. Bhakna syi’ah sendiri sampai kemudian membatasi kewenangan imam setelah ada kasus Imam khomeini yang cenderung menuruti sekehendak hatinya hingga akan mengakibatkan hancurnya rakyat Iran karena tetap diharuskan berperang dengan Irak.

Batilnya Keyakinan Syiah

Batilnya keyakinan Syiah tentang imamah yang mereka yakini bermula dari adanya wasiat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Ali Bin Abi Thalib. Diriwayatkan, ketika Hasan tiba di Bashrah, setelah berlalu masa yang panjang dan meletupnya fitnah di antara kaum muslimin, ada dua orang yang menanyakan masalah “wasiat” itu kepada Hasan yang dikenal sangat dipercaya kejujuran dan kata-katanya. Hasan menjawab, “Seandainya ada perjanjian di antara kami dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang masalah kekhalifahan ini, tentu saya termasuk orang pertama membenarkan dan tidaklah menjadi orang pertama mendustakannya. Jika benar wasiat itu ada, pasti tidak akan saya biarkan begitu saja saudara dari Bani Taim bin Murrah (yaitu Abu Bakar) dan Umar bin Khatab berdiri di atas mimbar. Dan pasti saya bunuh dengan tanganku sendiri jika ini memang harus terjadi. Tapi persoalannya tidak demikian. Sedangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak meninggal karena terbunuh dan tidak pula secara mendadak” (Dr. Abdul Ghaffar Aziz, Islam Politik  Pro dan Kontra (terjemahan), Pustaka Firdaus, I, 1993, hlm. 44.)

Islam yang risalahnya tauhid, mencakup jasmani dan rohani, dunia dan akherat itu sering disikapi oleh bangsa-bangsa musyrikin menjadi Islam yang lebih menekankan rohani dan mengarah kepada serba Tuhan. Sampai para pemimpin pun dianggap sebagai titisan Tuhan, jelmaan Tuhan, atau bukan hak manusia dalam mengangkat pemimpin, tetapi harus dari Tuhan langsung. Dianggapnya para imam sebagai orang yang diangkat langsung oleh Tuhan, bersifat ma’shum. Itu semua adalah berbau model keyakinan lokal yang diusupkan ke Islam, selain hanya dikaitkan. Padahal Islam itu sendiri sudah sempurna, tidak perlu kepada keprcayaan-kepercayaan lokal ataupun kepercayaan lainnya. Dalam konteks Indonesia, doktrin Imamah Syiah itu cukup mengancam, di samping sangat merusak akidah umat Islam dan tentu saja sangat meresahkan.

Syiah Millah Tersendiri, Meresahkan

Ungkapan mencampurkan berbagai madzhab ataupun pendekatan madzhab ataupun madzhab lima mengandung makna, Syiah itu seakan adalah satu madzhab dalm Islam. Namun dalam pengkajian Abdul Hakim Abdad, dalam seminar di Bogor 1996, dan bahkan dalam seminar di Masjid Istiqlal Jkarta 1997, Syiah itu bukan madzhab dalam Islam, tapi millah tersendiri, maka disebut juga agama Syiah. Selain bukti-bukti mengkafirkan para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Syiah memang banyak sekali penyimpangannya di bidang akidah, dan tidak sedikit sekte Syiah yang menuhankan Ali serta keturunannya-keturunannya. Hampir setiap meninggalnya imam mereka, ada sekte yang menganggap imamnya tidak meninggal (qaim). Sebaliknya, ada juga sekte Syiah yang justru mengkafirkan Ali karena mau berdamai dengan Mu’awiyah ataupun mau membai’at Abu Bakar. Sedang Syiah Istna Asyariyah (imam 12) yang menjadi mayoritas kini dalam persyiahan, mempercayai imamnya yang ke-12 itu ghaib, hilang waktu kecil, dan nantinya akan muncul sebagai Imam Mahdi. Ini dampaknya amat luas bagi akidah Islam, padahal menurut penelitian WAMY, imam ke -12 itu sendiri itu fiktif, namun di Bangil Jawa Timur, Husein Al-Habsyi membuat buku tentang Jum’at menurut Ahli Bait, yang isinya tidak wajib berjum’atan selama sebelum ada imam (maksudnya imam Mahdi itu).

Mendiang tokoh Syiah di Bangil itu meresahkan umat Islam, namun kegiatannya diteruskan oleh anaknya, Hidayat, yang mengajari Syiah kepada orang-orang dari luar Bangil di rumahnya. Karena ajarannya itu meresahkan masyarakat, maka Oktober 1997 lalu Hidayat digerebeg oleh seratusan pemuda Islam ketika sedang mengajari orang-orang tentang Syiah.

 

Pemerintah agar Melarang Nikah Mut’ah

Dewan Pimpinan Pusat Ittihadul Muballighin mengimbau kepada pemerintah agar melarang praktik-praktik nikah mut’ah dari seluruh hukum Indonesia. Karena nikah mut’ah ini kerap meresahkan masyarakat dan membahayakan nilai-nilai moral bangsa yang luhur serta mengancam masa depan bangsa.

Demikian hasil bahtsul masail tentang “Nikah Mut’ah dan Kloning” yang diselenggarakan Dewan Pakar ittihadul Muballighin pada 3-5 Oktober 1997. Tim perumus dari pembahasan masalah itu adalah Dr. H. Ahsin Muhammad (ketua), KH. Masyhuri Baidhowi MA. (sekretaris). Sedangkan anggota masing-masing KH. Syukron Ma’mun, Drs. KH. M. Dawam Anwar, KH. Ali Musthafa Ya’qub MA, Drs. KH. Ghozali Masoeri, KH. Abdul Muhith Fadhil MA, Drs. KH. Musthofa Sonhadji MA, dan Hj. Mahdiyah MA.

Ittihadul Muballighin juga mendesak kepada Majelis Ulama Indonesia untuk segera mengeluarkan dan menyebarluaskan fatwa tentang haramnya nikah mut’ah. Juga kepada pimpinan pusat organisasi-organisasi Islam tingkat nasional agar memberikan penyuluhan kepada anggotanya tentang haramnya nikah mut’ah dan dampak negatif yang ditimbulkannya.

Sedangkan kepada umat Isalam di himbau agar meningkatkan ketaqwaan kapada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, berpegang teguh dengan akidah Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah, mengamalkan ajaran-ajaran yang bersumber dari kitab Alloh dan sunnah Nabi-Nya, serta membentengi diri dari ajaran-ajaran yang menyimpang.

Dalil-dalil haramnya nikah mut’ah

Diantaranya hadist nabi yang diriwyatkan Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim menyatakan bahwa dari Sabrah bin Ma’bab Al-Juhani, ia berkata: ‘Kami bersama nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu sa’at kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan wanita. Jiwa muda kami menagumi selimut yang dipakai saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata : “ada selimut seperti selimut. Akhirnya aku menikahinya dan bersamanya tinggal satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke mesjid Al-Haram, dan tiba-tiba aku melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang berpidato diantara pintu Ka’bah dan Hijir Ismail. Beliau bersabda: wahai kalian umat manusia aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Maka sekarang siapa yang mempunyai istri dengan cara mut’ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya jangan diambil lagi.karena Alloh mengharamkan nikah mut’ah sampai hari kiamat. (HR. Muslim).

Pendapat Para Ulama

Haramnya nikah mut’ah menurut Bahtsul Masail DPP ittihadul Mubalighin berlandaskan dalil-dalil hadist Nabi dan juga pendapat para ulam dari empat madzhab.

Pendapat para ulama

–          Dari Madzhab Hanafi, Imam Syamsuddin As-Sarkhasi (w.490 H) mengatakan “nikah Mut’ah ini batil menurut madzhab kami. Demikian pula Imam Ala’Ad-din Al-kasani mengatakan, “tidak boleh nikah yang bersifat sementara, yaitu nikah mut’ah.

–          Dari Madzhab Maliki Imam ibnu (w.595 H) mengatakan : Hadist-hadist yang mengharamkan nikah mut’ah mencapai peringkat muttawatir. Sementara itu Malik bin abunawas mengatakan, Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil.

–          Dari Madzhab Hambali imam Ibnu Qudamah (w. 620 h) mengatakan, “Nikah Mut’ah ini adalah yang batil. Juga ibnu Qudamah menukil pendapat imam hambali yang menegaskan nikah mut’ah itu haram.

–          Dari Madzhab Syafi’i mengatakan “Nikah mut’ah yang dilarang itu yang dibatasi waktu, baik jangka panjang maupun pendek. Sementara menurut Imam An-namawi mengatakan, “nikah mut’ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu dasarnya adlah suatu akad yang bersifat mutlak.

Keputusan komisi fatwa MUI:

Nikah Mut’ah Haram Tak ada Rukhsah Lagi

Jakarta, Pelita, 27/10 1997M

Nikah Mut’ah (kawin kontrak) hukumnya haram dan tidak ada rukhsah (keringanan) lagi untuk dilaksanakan sampai hari kiamat. Karena telah dilarang Rosulluloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Demikian pula sidang komisi fatwa MUI yang dipimpin ketuanya ( KH. Ibrahim Hosen, LML ). Sidang itu khusus membahas makalah yang disampaikan oleh KH. Ma’ruf Amien wakil ketua komisi ini.

Landasan haramnya nikah mut’ah itu, lanjut KH. Ma’ruf Amien, adalah hadist-hadist shahih yang secara tegas melarangnya. Diantaranya hadist nabi yang diriwyatkan Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim menyatakan bahwa dari Sabrah bin Ma’bab Al-Juhani, ia berkata: ‘Kami bersama nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu sa’at kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan wanita. Jiwa muda kami menagumi selimut yang dipakai saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata : “ada selimut seperti selimut. Akhirnya aku menikahinya dan bersamanya tinggal satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke mesjid Al-Haram, dan tiba-tiba aku melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang berpidato diantara pintu Ka’bah dan Hijir Ismail. Beliau bersabda: wahai kalian umat manusia aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Maka sekarang siapa yang mempunyai istri dengan cara mut’ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya jangan diambil lagi.karena Alloh mengharamkan nikah mut’ah sampai hari kiamat. (HR. Muslim).

Menurut KH. Ali Mustafa Yakub, maslah nikah mut’ah ini sebelumnya telah disidangkan oleh komisi fatwa MUI dua kali, kemudian sidang menugaskan KH. Ma’rif Amin untuk membuat makalah khusus tentang nikah mut’ah. Hari sabtu lalu itulah sidang ketiga (terakhir) dengan membahas makalah yang disampaikan kiai Ma’ruf. Dan hasilnya sepakat bahwa nikah mut’ah itu haram. “bagaimana berani menghalkannya, orang sudah ada hadistnya yang jelas-jelas melarang, dan hadist-hadist itu shahih ujar ketua LePHI (Lembaga pengkajian Hadist Indonesia) alumni universitas Imam Muhammad bin Sa’ud Riyadh saudi arabia.

 

 

Daftar Pustaka

Ahmad Jaiz, Hartono.2010.Aliran dan Paham Sesat di Indonesia.Pustaka Al-Kautsar.Jakarta Timur

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s