Kepedulian

Standar

 PENDAHULUAN

Banyak persoalan yang mendera masyarakat dewasa ini, baik itu yang bersifat regional maupun internasional. Semua persoalan itu muncul sebagai hasil tingkah tangan manusia. Banjir yang sempat mengharu biru kampung kita hingga warga ibu kota tidak bisa lepas pula dari olah tingkah kita semua. Perang yang berkecamuk di Palestina yang merenggut sekian ribu jiwa baik anak-anak, wanita, maupun orang dewasa juga karena olah tingkah manusia. Semuanya itu menyisakan penderitaan yang panjang, terlebih bila tidak ada kepedulian terhadap sesama

.

ظهـر الفسـاد في الـبر والبـحر بمـا كسبت أيدي النـاس ليـذيقـهم بعـض الذي عمـلوا لعــــــلهم يرجـعون

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [Ar-Ruum : 41]

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

Membangun kepedulian bisa diawali dengan menghilangkan perasaan superioritas dalam diri kita. Klaim bahwa kita mempunyai sesuatu yang berlebih dibanding orang lain -apakah itu berbentuk kepandaian, kekuatan, maupun harta- dan karena itu ia bisa berbuat semena-mena terhadap orang lain maupun lingkungan sekitar, adalah akar dari ketidakpedulian. Terkadang karunia dan kelebihan yang telah Allah anugerahkan kepada kita tidak membuat hati dan perasaan kita semakin menyadari akan peranan sekeliling kita. Sadar bahwa kita tidak akan menjadi apa-apa dan siapa-siapa kalau tidak ada orang lain. Kita menjadi kuat karena ada orang yang lebih lemah. Kita disebut kaya karena ada orang yang lebih miskin, pun kita disebut ustad/ustadzah karena ada murid. Karena itu kebaradaan orang lain diperlukan untuk meneguhkan eksistensi kita dan sebaliknya, ketiadaannya akan menghilangkan status kita. Kita pun sadar bahwa kelestarian lingkungan sekitar akan berdampak bagi kelestarian kita juga. Jika persepsi dan pola berpikir semacam ini telah terbentuk pada setiap individu maka kepedulian akan muncul.

Namun kepedulian tidak cukup hanya sebatas cita-cita dan harapan yang membongkah di dada. tapi lebih dari itu perlu aksi nyata. Kepedulian terhadap kebersihan lingkungan pesantren yang menjadi tanggungjawab kita tidak akan terwujud hanya dengan cita-cita tanpa ada aksi nyata dari kita. Demikian pula kefasihan santri dalam berbahasa juga tidak akan nyata tanpa kepedulian kita. Jangan pernah berpikir ‘ah hanya secarik kertas tercecer di halaman kelas, cuek aja lah’. Jangan pernah berucap ‘bahasa resmi ? ‘ah biar bagiannya saja yang ngurus’, akan tetapi hendaknya kita berperan secara aktif sedapat yang bisa dilakukan, sekecil apapun. Cukup indah pepatah Arab mengungkapkan : ‘Jangan sekali-kali engkau menganggap enteng sesuatu yang remeh, bisa jadi engkau akan dibikin berdarah-darah hanya karena jarum kecil yang menancap di telapak kakimu’. Ya, jangan sumpah serapah mengutuk gelapnya malam, lebih baik mengambil lilin dan menyalakannya. Dan jangan pernah menganggap enteng aksi dan kepedulian sekecil apapun, sebab bila hal itu diberikan secara tulus dan bersama-sama maka akan berdampak luar biasa besar. Sebaliknya, diam dan tidak melakukan apapun itu berarti bahwa kita memang TIDAK PEDULI dengan semua itu.

Nah mari kita menginstrospeksi akan kuantitas dan kualitas kepedulian kita terhadap lingkungan pesantren; pedulikah kita dengan sampah yang berceceran di ruang kelas ?, Pedulikah kita dengan coretan-coretan yang ada di meja dan dinding kelas ?, Pedulikah kita dengan lampu yang terus menyala di siang hari ?, Pedulikah kita dengan kran yang terus mengalir ?, Pedulikah dengan santri yang belum bisa baca Al Quran ?, Pedulikah kita dengan belajar malam santri ? Pedulikah…….? Dan nun jauh di sana, pedulikah kita dengan Palestina !

Akhirnya, kepedulian itu ajaran agama kita, nabi bersabda: “Bukan dari golonganku orang yang tidak memperhatikan urusan kaum mukmin”. Semoga Allah segera menyadarkan kita dari kebebalan selama ini. Ya, sebelum kejahatan itu menimpa, baik kepada yang tholeh maupun yang sholeh.

Allahumma innii dholamtu nafsii dhulman katsiiran faghfirlii maghfiratan min ‘indika wa rhamnii fainnahu laa yaghfiru l-dzunuuba illa anta

Banyak orang lupa menanyakan kepada hati nuraninya sendiri, atas niat apa dia menaruh kepedulian pada sebuah urusan. Sementara mulut berbusa mengatakan bahwa semua demi ibadah kepadaNYA, demi kebersamaan, demi kejuangan, demi nasionalisme, dan demi rakyat. Intinya ada banyak alasan yang bersifat hiperbolisme (baca: melebih-lebihkan).

 

Terkadang kita harus tersenyum kecut, melihat seseorang baru mengatakan ‘peduli untuk berjuang’ manakala jabatan telah ada di pundaknya. Kemarin kemana…? Banyak pula yang saat menjabat terlihat sangat peduli plus garang, tapi setelah pensiun, kepedulian yang selama ini dikobarkan serasa hilang terkubur bersama  status pensiun itu. Sekarang sibuk apa ya…..?

Tidak sedikit propaganda atas nama rakyat, kemiskinan dan pengangguran menjadi

jurus ampuh dalam ‘tebar pesona’. Tapi lihatlah ketika ambisi jabatan tidak  diraih. Kemana nich pidato dan iklannya di media massa? Begitu juga yang sudah mendapatkan jabatan yang diidamkan, kata-kata yang terlontar hanyalah sebuah

pembelaan diri, seperti “nanti kita usulkan”, “sedang kami pelajari”, dst-nya.

 

Kepedulian memang banyak yang mengucapkan, tetapi banyak pula yang sebenarnya  hanya metamorfosa ambisi pribadi pada ke-ter-jebakan materi (gaji, honor, tunjangan) dan jabatan (kehormatan).  Sehingga jangan salahkan anak buah yang berlomba menjilat atasannya, karena  sang atasan diyakini mampu merubah nasib anak buahnya. Jangan pula menyalahkan orang bermanis muka demi mendapatkan jabatan, karena  memang uang tunjangan jabatan umumnya sangat menggiurkan.

 

Kepedulian yang ‘saling lempar’ kadang hanya bermuara pada kawulo alit yang  sesungguhnya. Ibarat Raja ingin taman sari indah dan asri, maka Raja memerintah  Patih. Patih memerintah Panglima. Terus….. terjun bebas… sampai perintah  datang ke pundak Juru Taman. Si Juru Taman-lah yang berkeringat sak  jagung-jagung demi target keindahan dan keasrian. Namun, boleh jadi yang mendapat pujian raja hanya berhenti pada Sang Patih dan Panglima saja. Fenomena ini mungkin perlu gebrakan ‘gila’ agar si Raja mau menyamar sebagai  Juru Taman. Atau minimal menyamar agar bisa berdialog langsung dengan Juru Taman. Sehingga sang Raja tahu persis, kemana hadiah tertuju. Membangun kepedulian memang mudah, karena ‘kepedulian’ bisa bermuara kemana  saja. Namun kepedulian yang ‘atas nama hati nurani’ sangat sulit diperankan  dalam panggung dunia yang banyak pemain sandiwara ini. Bagaimana pak RT atau mantan RT, tetap semangat menggerakkan masyarakat untuk  kerjabakti pada kebersihan lingkungannya. Bagaimana pak Dosen atau mantan dosen, tetap tergerak untuk mendidik mahasiswa, dimanapun, tanpa harus bertanya itu mahasiswanya atau bukan.. Bagaimana pak Pejabat atau mantan pejabat, tetap bersemangat membangun  institusinya. Bukan sekedar hoby membuat sprint atau skep, kemudian dengan  pasang wibawa, diam-diam sembunyi tangan. Bagaimana negarawan yang menjabat atau sudah turun dari panggung politik, tetap peduli pada nasib orang kecil. Tanpa harus diliput media atau disaksikan sejuta  ummat. Dan seterusnya….

 

Kepedulian hati sering dicirikan pada mental diri yang tidak mau terpublikasi.  Ada juga yang mengatakan “sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Kepedulian hati bersumber pada kontrak dagang dengan Sang Pencipta, sehingga apapun respon ummat, Siapakah orang yang beruntung? Merekalah yang sudah menemukan hati nurani dalam membangun kepedulian pada  semesta. Sudahkah melihat jatidiri saat kita bercermin?

 

Contoh kasus di dalam negeri, kita diingatkan oleh Freeport dengan perusakan lingkungan. Masyarakat dengan mata kepala sendiri menyaksikan tanah airnya dikeruk habis. Sehingga dampak dari hadirnya Freeport mendekatkan masyarakat dari keterbelakangan. Kalaupun masyarakat menerima ganti rugi, itu hanyalah peredam sesaat, karena yang terjadi justru masyarakat tidak banyak belajar dari usahanya sendiri.

Masyarakat terlena dengan ganti rugi tiap tahunnya, padahal dampak jangka panjangnya sungguh luar biasa. Masyarakat akan semakin terpuruk dari segi mental dan kebudayaannya akan terkikis. Juga dalam beberapa tahun ini, tentunya kita masih disegarkan oleh kasus lumpur Lapindo. Kita tahu berapa hektar tanah yang terendam lumpur, sehingga membuat masyarakat harus meninggalkan rumahnya. Mungkin bisa jadi ada unsur kesengajaan di dalamnya. Demi peningkatan profit yang tinggi, ada hal yang perlu dikorbankan, tentunya tidak lain masyarakat itu sendiri. Kita juga masih ingat akan kasus Teluk Buyat yang menyebabkan tercemarnya lingkungan tersebut.

Yang cukup menghebohkan mungkin kasus Marsinah, seorang buruh yang memperjuangkan hak-haknya, tetapi mengalami peristiwa tragis yang membuat nyawanya melayang. Semua itu terjadi karena tidak diterapkannya etika dalam berbisnis. Di dalam etika itu sendiri terkandung penghargaan, penghormatan, tanggungjawab moral dan sosial terhadap manusia dan alam. Kalau kita melihat lebih jauh tentunya ada dua kepentingan, baik dari perusahaan dan masyarakat yang perlu diselaraskan. Di dalamnya terkandung juga hak dan kewajiban yang harus terpenuhi.

Coba mari kita renungkan bersama, bukankah tidak diterapkannya etika dalam berbisnis justru akan menjadi bumerang bagi perusahaan tersebut? Mungkin akan banyak biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan kasus serta citra perusahaan di masyarakat luas semakin miring. Hal ini justru akan sangat merugikan perusahaan itu sendiri.

Belum lagi kasus yang terjadi di luar negeri. Sebagai contoh adalah kasus asuransi Prudential di Amerika. Belum lagi skandal Enron ,Tycon, Worldcom dsb. Banyaknya kasus yang terjadi membuat masyarakat berpikir dan mulai menerapkan etika dalam berbisnis. Apalagi sekarang masyarakat mulai membicarakan CSR (Corporate Social Responsibility). Apa itu? Dalam artikel yang ditulis oleh Chairil Siregar disebutkan CSR merupakan program yang harus dilaksanakan oleh perusahaan sesuai dengan undang-undang pasal 74 Perseroan Terbatas. Tentunya dengan adanya undang-undang ini, industri maupun korporasi wajib melaksanakannya, tetapi kewajiban ini bukan merupakan beban yang memberatkan. Salah satu contoh yaitu komitmen Goodyear dalam membangun masyarakat madani, ekonomi, pendidikan, kesehatan jasmani, juga kesehatan sosial. Kepedulian ini sebagai wujud nyata peran serta perusahaan di tengah masyarakat. Perlu diingat pembangunan suatu negara bukan hanya tanggungjawab pemerintah dan industri saja tetapi setiap insan manusia berperan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan kualitas hidup masyarakat.

 

 

 

 

Kesimpulan

Yang mana kita sebagai manusia harus menumbuhkan sifat peduli, kepada sesama, lingkungan sekitar, alam dan banyak hal lainnya lagi. Karena dengan adanya sifat peduli itu kita akan merasa bertanggung jawab dan memperoleh manfaat yang sangat baik dari apa yang kita lakukan.

Apa bila kita tidak mempunyai sifat peduli kepada sesama. Lingkungan sekitar dan alam maka kita akan menjadi rugi karena semuanya akan membawa dampak yang buruk dari apa yang kita lakukan, maka dari itu marilah kita bersama-sama menumbuhkan sifat peduli dari dalam diri kita, kita mulai peduli dengan diri kita dahulu, karena sifat peduli sangat penting kita tumbuhkan.

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s