Perkembangan Budaya Global

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

Ketika keragaman budaya dari berbagai belahan dunia membentuk budaya global, seharusnya keragaman budaya Nusantara tidak dijadikan pencabik persatuan bangsa. Globalisasi seperti halnya semua fenomena yang menyangkut manusia dapat dipandang dari dua sisi, yakni sisi positif dan sisi negatif. Salah satu orientasi penting adalah timbulnya kutub-kutub budaya. Sebagaimana yang kita lihat di berbagai penjuru dunia, terjadi arus kebangkitan budaya sebagai aspek penting dalam proses globalisasi.

Dalam bidang seni budaya sebagai puncak eksperi budaya terjadi perkembangan yang mengagumkan, yaitu dengan tumbuh dan berkembangnya minat besar terhadap khazanah seni budaya oleh berbagai kalangan. Masyarakat dunia berupaya mengisi relung-relung batin sebagai alternatif untuk menjaga keseimbangan hidup dan memperoleh energi di
tengah-tengah gejolak zaman ini, dengan mengambil khazanah seni budaya dan menjadikannya sarana untuk mengekspresikan keinginan, demi mencapai nilai-nilai kehidupan yang signifikan

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.           Perkembangan Budaya Global

Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian yang merupakan subsistem dari kebudayaan.

Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian W. Pye, 1966 ).Namun, perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antarbangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antarbangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.

Disamping seni budaya, berbagai macam bentuk orientasi berdasarkan etnis, sosial-ekonomi, pendidikan (alumni), tempat asal juga mengalami perubahan dan perkembangan positif. Bentuk-bentuk orientasi itu sangat penting diperhatiakn dan dimanfaatkan, karena globalisasi bukan hanya menciptakan satu budaya global yang homogen, tetapi juga keanekaragaman budaya dan gaya hidup yang harus diakui eksistensinya. Dalam aspek kehidupan sehari-hari, berbagai orientasi ini berpadu menjadi suatu dinamika melalui proses sinkritisme budaya, ketika budaya-budaya yang sudah ada melebur dan membentuk budaya baru tanpa meninggalkan warna budaya-budaya lamanya. Dinamika proses itu menghadirkan konsep “manusia global.”

  1. B.     Teori globalisasi

Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teoritis yang dapat dilihat, yaitu:

  1. Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. Meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.
  • Para globalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.
  • Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).
  1. Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.
  2. Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai “seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung“. Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan.

 

  1. C.           Perubahan Budaya

Perubahan yang begitu cepat melanda segala aspek kehidupan, percepatan transformasi budaya global ke berbagai negara diakibatkan karena :

1. Perkembangan teknologi komunikasi yang dapat mentransfer budaya global melalui tayangan media elektronika maupun media cetak.

2. Perkembangan teknologi transportasi yang dapat membawa barang-barang dari suatu benua ke benua lain, dari suatu negara ke negara lain.

3. Kemauan masyarakat global untuk menyebarluaskan budaya global ke berbagai benua maupun negara.

Ciri berkembangnya kebudayaanglobalisasi

Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional.

a)      Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalism), dan kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya.

b)      Berkembangnya turisme dan pariwisata.

c)      Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain.

d)     Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain lain.

e)      Bertambah banyaknya event-event berskala global, seperti Piala Dunia FIFA.

f)       Persaingan bebas dalam bidang ekonomi

g)      Meningkatnya interaksi budaya antarnegara melalui perkembangan media massa.

Contoh kasus

Kantong Budaya di Titik Nadir

Yogyakarta 27/04/2011 Tiang penyangga budaya adalah kantong-kantong, sanggar, yayasan budaya, sastra dan seni. Tiga tahun terakhir ini, mereka itu rapuh, nyaris diam (mlempem), stagnan dan hampir menyentuh titik nadir, entah apa penyebabnya. Bahkan satu dua kelompok penyangga budaya, ada yang tidak jelas rimba dan persembunyiannya.
Sebut saja, maaf, Sanggar Seni Sastra Kulonprogo (Sangsisaku) yang pernah diskusi hangat dari door to door, village to village, sekarang seperti kehilangan jejak. Organisasi ini, seperti diakhiri dengan workshop sastra di puncak pegunungan Menoreh. Jika PS Bayu, penyangga ketoprak Sleman Yogya, sedikit goyah karena sang maestronya telah tiada, dan juga mas Basuki Supriyatman (KR, 3 April 2011) harus meninggalkan kita selamanya, tentu masih wajar. Toh, di dalamnya masih ada pemegang estafet seni, seperti Bung Rabies, Mas Wond, dan Mas Tono, seharusnya tidak akan tenggelam. Apalagi Mas Tono bersama saya dan UNY, di bulan Mei ini akan menggelar Festival Dalang Cilik dan Dolanan Anak, tentu akan lebih hebat kalau diikuti Festival Ketoprak Cilik, tentu penyangga seni dan budaya Yogya tidak akan lenyap. Tampaknya, memang harus disadari, ketika penyangga budaya itu kehilangan ‘saka guru’, entah meninggal dunia, sakit kronis, pergi tanpa kesan, dan atau mbalela, kantong-kantong budaya itu seperti kehilangan kompas. Begitu pula ketoprak Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro, sepeninggal Rama Ndung (Handung Kus Sudyarsono), kini tidak lagi ada gaungnya. Padahal, di dalamnya masih ada mas (Ki Widayat), Bondan Nusantara, dan belakangan muncul mas Nano Asmorodono, mengapa mereka itu harus gulung tikar, bubrah-bubrah panggung, dan gulung geber? Saya paham mas Widayat masih terdengar riak-riaknya di RRI Nusantara II, yang khas dengan sentuhan ketoprak tradisi (lawas). Mas Bondan Nusantara sesekali merekrut pejabat dan melansir ketoprak sayembara di TVRI Yogyakarta, semi modern, dan Mas Nano Asmorodono mengajak wartawan dan artis bermain ketoprak di Taman Budaya Yogyakarta. Namun demikian, mereka itu, mengapa habis pentas selesai (tamat)? Maksudnya, tanpa ada bangunan ruang apresiasi di media massa, tanpa oto-kritik dan atau membuka ruang-ruang dialog demi masa depan. Tampaknya, masalah geliat seni budaya memang rumit (ting kruwil, meminjam istilah mbah Gito PS Bayu), ketika saya ke sana sudah disambut dengan ungkapan khas: Seka ngendi Suuuu. Ungkapan ini, memang manis, terasa enak, lezat di jagad seniman Yogya. Lebih dari itu, saya semakin tidak habis pikir, ketika penyangga budaya di Yogyakarta ini jelas-jelas dana disuntik oleh pemerintah, mengapa tetap mandul? Sebut saja Masyarakat Tradisi Bantul (MTB), jelas sekali zaman saya (masih) di tubuh organisasi itu, Pemkab mem-back up dana jutaan rupiah, tetapi sekarang tidak ada dongengnya lagi. Tertidur? Padahal, di dalamnya jelas ada Mas Ong Hary Wahyu, Umi Kulsum, Kasidi HP, Dick Suhadi, Agus Radial, Sigit Sugito dan lain-lain, yang notabene jelas orang berbobot, mengapa organisasi itu hilang tanpa kata. Sejak Mas Janis Lingga Barana, Indra Tranggono, Agus Leylor meminggirkan (dipinggirkan) diri, organisasi yang membayang-bayangi Dewan Kebudayaan Bantul (DKB), yang dipelopori mas Sumaryono dan keduanya juga semakin tidak jelas, mungkin mendekati chaos of culture. Penyangga Roboh Sungguh merana. Menurut hemat saya, ada tiga hal yang menyebabkan penyangga kantong budaya itu roboh. Pertama, kita itu gemar eforia membuat organisasi budaya, sebagai kendaraan mencari keuntungan sesaat, hingga tanpa plafon yang jelas. Maka, organisasi yang terbentuk pun sekadar hangat-hangat tai ayam (sepasar bubar), tidak dijaga, kalau sudah memuluskan jalan orang tertentu menduduki jabatan. Kedua, organisasi itu ditinggalkan para dinamisator, hingga sulit bangkit, mati tidak hidup tanpa kehendak. Ketiga, organisasi yang sengaja dirongrong dari dalam, ada intrik-intrik intern (rebutan upa), hingga ada mosi saling tidak percaya, dan ngenes. Kalau sudah demikian, lonceng kematian dan sirene gempa budaya semakin dekat, apakah akan dibiarkan? Sementara, Yogya terkenal gudang seniman dan budayawan, apakah tidak malu? Para pionir budaya telah banyak yang dipanggil Sang Kodrat, Mas Daryadi, Ki Wasistodiningrat, Linus Suryadi AG, Suwariyun, Ki Hadi Sugito, SH Mintardja dan lain-lain sekadar menyebut, sayangnya pemikiran ke arah regenerasi sepertinya kosong. Kalau begitu, bagaimana menyelamatkan kegersangan seni dan budaya Yogya yang semakin paceklik (di titik nadir) ini? Tampaknya, Dinas Kebudayaan, Fakultas Ilmu Budaya UGM, FBS UNY, ISI, Taman Budaya, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Sono Budoyo, Balai Bahasa, memiliki tanggung jawab ke arah itu. Kalau saya renungkan, para penyelamat kantong budaya, di Yogya ini cenderung ke arah pribadi-pribadi (yang bertahan). Yayasan Bebana yang dikemudikan E Suharjendra, bergerak di bidang pembawa acara, masih eksis. Rumah seni yang diorganisir Mbak Yani Sapto Hudoyo, ketika saya diundang bicara di sana jelas masih survive. Yayasan Gula Klapa yang diprakarsai Ki Purwadi, dalam hal penerbitan buku dan diskusi budaya masih ada gemanya. Yayasan Gambir Sawit, yang dimotori Ki Rejomulyo, dalam bidang karawitan masih jalan, biarpun nguler kambang (lamban). Mereka, umumnya menyelamatkan diri dengan modal dedikasi. Maaf, tanpa perjuangan dan gerilyawan, kantong budaya itu akan tercekik. Bayangkan, Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia (HISKI) Komda DIY yang dipimpin mas Jabrohim, Badan Koordinasi Kesenian Indonesia (BKKI) oleh Mas Totok Sudarwoto, Masyarakat Poetika Indonesia, Komunitas Sega Gurih oleh Wage Daksinaga, Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta pimpinan Mas Yohanes Satyoko, sebenarnya cukup bergengsi, namun tetap kembang kempis. Titik nadir sudah di pelupuk mata. Apalagi, saya dengar akan segera muncul Yayasan Sastra Yogya, jangan-jangan kita sekadar seperti ayam, bisa bertelur, tidak mampu menetaskan. Sungguh memalukan dan memilukan.

*) Suwardi Endraswara, doktor mistik, pengajar Sanggar Sastra FBS UNY.

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran.

Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian W. Pye, 1966 ).

Perubahan yang begitu cepat melanda segala aspek kehidupan, percepatan transformasi budaya global ke berbagai negara diakibatkan karena :

1. Perkembangan teknologi komunikasi yang dapat mentransfer budaya global melalui tayangan media elektronika maupun media cetak.

2. Perkembangan teknologi transportasi yang dapat membawa barang-barang dari suatu benua ke benua lain, dari suatu negara ke negara lain.

3. Kemauan masyarakat global untuk menyebarluaskan budaya global ke berbagai benua maupun negara.

 

SARAN

Dalam menghadapi perkembangan budaya global hendaknya kita tidak boleh meninggalkan nila-nilai (values) yang di anut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Tetapi tidak juga untuk menolak perkembangan budaya global karena dalam perkembangannya suatu kebudayaan itu tidaklah bersifat statis (tetap) melainkan bersifat dinamis. Hal ini disebabkan karena berbagai kelompok manusia yang memiliki kebutuhan tertentu saling berinteraksi satu kelompok dengan kelompok lainnya, tentunya melalui interaksi manusia itu terjadi perubahan kebudayaan karena dipengaruhi oleh kebudayaan lainnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://daniahotarublog.blogspot.com/2011/03/perkembangan-budaya-global. Diakses 12 mei 2011.

http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi#Teori_globalisasi. Diakses 12 Mei 2011.

Endraswara, Suwardi.(2011). Kantong Budaya di Titik Nadir. Yogyakarta (www.Kedaulatanrakyat.com dikutip pada 13 Mei 2011 jam 4:50 WIB).

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s