Purbasangka

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

            Purbasangka adalah saling curiga atau tidak percayanya masing-masing individu atau kelompok yang dilatar belakangi oleh undur budaya yang telah melekat. Kita tahu jika manusia hidup dimuka bumi ini selain sebagai mahluk individu tetapi juga sebagai mahluk sosial. Mahluk sosial disini dimaksutkan dimana berinteraksi dengan lingkungan dan individu lain di masyarakat, dengan manusia sebagai mahluk individu maka kita tahu tidak ada manusia yang sama sehingga berdampak pada interaksi sosial masing-masing individu.

Interaksi individu pada masyarakat sangatlah rentan akan penyampaian informasi yang mengakibatkan dapat memicu konflik antar individu atau bahkan kelompok yang disebabkan oleh salah pemahamannya akan informasi. Landasan lain dari pemicu konflik disini bisa juga disebabkan oleh perbedaannya individu dari segi budaya dan latar belakang. Dimana individu akan saling mempertahankan pemahamannya masing-masing yang telah mereka pahami sejak dulu sehingga apabila terjadi sedikit gesekan akan pemahaman tersebut akan membuat konflik tersendiri.

Sangat diharapkan kita memahami tentang manusia sebagai mahluk individu dan sosial sehingga dalam implementasian kehidupan tidak terjadi penyimpangan akan paham yang telah diyakini selama hidupnya  sebagai warisan dari kebudayaan dari nenek moyang. Pada makalah ini akan sedikit dipapar kan secara umum tentang

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Prasangka merupakan faktor yang potensial menciptakan konflik antar etnik. Prasangka bahkan terbukti telah melahirkan konflik antar etnik yang paling merusak. Atas alasan demikian, prasangka dapat dikategorikan sebagai ancaman besar-berbahaya bagi terbentuknya suatu masyarakat multietnik yang sehat. Dalam rangka membentuk masyarakat plural (multietnik) yang sehat dan damai, rendahnya prasangka adalah prasyarat penting. Oleh karena itu upaya-upaya mengurangi prasangka di masyarakat sangatlah penting dan mendesak.

Upaya mengurangi prasangka bisa dilakukan dalam banyak cara. Beberapa upaya yang bisa dilakukan diantaranya melalui rekayasa dalam hubungan antar kelompok, melalui sosialisasi dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan, melalui rekayasa sosial, maupun melalui penyadaran diri pribadi serta diperlukan pula adanya political will yang kuat dari pemerintah untuk melakukan upaya-upaya mengurangi prasangka. Sebab hanya pemerintah yang memiliki kemampuan melakukan social engineering secara luas dan memaksa, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial.

Prasangka muncul dalam kondisi rendahnya pemahaman lintas budaya di masyarakat. Sementara itu, pemahaman lintas budaya adalah sendi dari sebuah masyarakat multietnik yang sehat, dimana setiap orang sadar akan perbedaan dan menghargai perbedaan itu. Pemahaman lintas budaya merupakan kemampuan seseorang untuk memahami perbedaan dan sadar akan adanya perbedaan budaya, serta mampu menerima adanya perbedaan itu melalui kemampuan melihat fenomena dunia melalui sudut pandang budaya yang lain. Pada hakekatnya mengurangi prasangka sama artinya dengan menumbuhkan pemahaman lintas budaya.

  1. A.    Upaya Mengurangi Prasangka

Berikut adalah upaya-upaya yang bisa dilakukan dalam mengurangi prasangka, yakni melalui hubungan antar kelompok, melalui sosialisasi, melalui rekayasa sosial, maupun melalui penyadaran diri pribadi.

 

 

 

  1. 1.      Melalui Hubungan Antar Kelompok

Menurut salah satu teori hubungan antar kelompok yakni ‘the contact hypothesis’, diasumsikan bahwa anggota kelompok yang berbeda bila melakukan interaksi satu sama lain akan mengurangi banyak prasangka antara mereka, dan menghasilkan sikap antar kelompok dan stereotip yang lebih positif. Semakin banyak dan erat interaksi yang terjadi maka prasangka dan stereotip negatif akan semakin berkurang.

Dalam buku ‘Prejudice: It’s Social Psychology’, Brown (1995) menyebutkan bahwa interaksi yang membuat suatu hubungan bisa mengurangi prasangka setidaknya memenuhi empat prasyarat berikut :

  1. Dukungan sosial dan dukungan institusional.
  2. Ada potensi untuk saling mengenal
  3. Status yang setara antara pihak-pihak yang berinteraksi
  4. Kerjasama

 

  1. 2.      Melalui Sosialisasi

Upaya sosialisasi nilai-nilai egalitarian dan tidak berprasangka bisa dilakukan di rumah atau keluarga, di sekolah maupun dimasyarakat. Keluarga adalah faktor yang sangat penting dalam sosialisasi nilai-nilai yang mendorong anak-anak tidak berprasangka. Hanya memang, keluarga tidak menjadi satu-satunya faktor yang dominan. Bisa jadi keluarga yang telah mendorong sikap berprasangka tetap tidak berhasil membuat anak tidak berprasangka karena sekolah atau teman-teman sebayanya tidak mendukung upaya itu. Demikian juga sebaliknya, upaya sekolah untuk mengurangi prasangka mungkin tidak akan berhasil jika di rumah situasi keluarga tidak mendukung.

  1. 3.      Melalui Penyadaran Diri

Sejauh ini telah dikemukakan beberapa upaya mengurangi prasangka melalui interaksi dengan pihak lain, melalui keluarga, sekolah dan media, maka tiba saatnya kita berupaya mengurangi prasangka yang kita miliki sendiri yang mungkin kurang kita sadari. David W. Johnson (2000) memberikan pada kita beberapa saran untuk mengurangi prasangka yang kita miliki :

  1. Mengakui bahwa kita berprasangka dan bertekad untuk menguranginya.
  2. Mengidentifikasi stereotip yang merefleksikan atau menggambarkan prasangka kita dan mengubahnya.
  3. Mengidentifikasi tindakan-tindakan yang merefleksikan atau menggambarkan prasangka kita dan mengubahnya.
  4. Mencari umpan balik dari teman dan rekan yang berbeda-beda latar belakangnya tentang seberapa baik cara kita berkomunikasi, apakah terlihat cukup respek pada mereka dan menghargai perbedaan yang ada.
  1. Menumbuhkan Pemahaman Lintas Budaya

Upaya pemahaman lintas budaya berupaya lebih dari sekedar mengurangi prasangka. Didalamnya juga terkandung pemahaman akan keberagaman dan penghargaan akan perbedaan, serta bagaimana bersikap dan bertindak dalam situasi multietnik-multikultur. Pemahaman lintas budaya yang tinggi berkorelasi tinggi dengan rendahnya prasangka. David Matsumoto dalam bukunya ‘Culture and Psychology’ memberikan panduan bagaimana meningkatkan pemahaman lintas budaya yang berguna dalam hubungan lintas budaya, yaitu:

  • Mengakui bahwa budaya adalah sebuah konstruksi psikologis semata.
  • Mengakui perbedaan individu dalam sebuah kelompok kultur.
  • Mengerti Filter kultural pola pikir kita dan etnosentrisme kita.
  • Mengerti kemungkinan bahwa konflik bisa terjadi karena budaya. Kita harus mengerti
  • Mengakui bahwa perbedaan budaya (terjadi sebagai apa adanya) adalah sah.
  • Memiliki toleransi, kesabaran dan berpraduga baik.
  • Belajar lebih banyak mengenai dasar-dasar budaya yang mempengaruhi perilaku.

Salah satu bentuk nyata dari terbangunnya pemahaman lintas budaya dalam masyarakat adalah terbangunnya komunikasi antar kelompok yang efektif. Liliweri (1994) menyatakan bahwa dalam masyarakat majemuk, efektivitas komunikasi antar etnik sangat ditentukan oleh mutu efektivitas komunikasi intraetnik. Sedangkan efektivitas komunikasi intraetnik dapat dicapai manakala setiap etnik mempunyai kemampuan untuk memelihara suasana kemajemukan melalui :

  1. Efektivitas komunikasi antara intraetnik dengan antaretnik.
  2. Memandang ciri dan sifat khas yang positif antara intraetnik dengan antaretnik.
  3. Memilih dan memelihara keseimbangan dalam pelbagai bentuk interaksi sosial intraetnik dengan antar etnik.
  4. Bertindak secara adil dalam tindakan diskriminasi anggota intraetnik dengan antaretnik.

Ia juga menambahkan bahwa masalah SARA, yang diasumsikan sebagai bahaya laten dapat dipecahkan melalui peningkatan dan pengembangan pelbagai media komunikasi antar etnik. Media itu harus tidak memihak dan menggambarkan secara objektif jika memberitakan suatu kelompok etnik tertentu. Bila tidak, media hanya akan meneguhkan dan melebarkan jarak antaretnik. Media bisa berperan memberikan pengetahuan akan kelompok lain dan cara hidup dalam masyarakat multikultur. Dalam hal ini agar tercipta suatu komunikasi yang efektif antar etnik, maka perlu ditingkatkan sensitivitas bahasa dan kesadaran akan adanya gaya-gaya dasar yang berbeda dalam berkomunikasi. Halmana itu baru bisa tercapai jika memiliki pengetahuan cukup akan kelompok lain.

  1. C.    Contoh Kasus

Contoh kasus yang akan diangkat seperti yang terjadi pada daerah NTT pada rabu, 13 april 2011 bentrokan antarsuku  yakni Gendang Langke Norang dengan Gendang Hero Koe di Desa Ruang, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bentrok ini terjadi diakibatkan kesalahpahaman antara kedua suku yang masih ada hubungan keluarga dikarenakan suku Gendang Langke Norang yang dikenal dengan nama anak rona (ipar dari garis keturunan laki-laki) sedang menggelar ritual di pekuburan leluhur dengan maksud merenovasi kuburan itu secara permanen. Namun, tindakan itu ternyata tidak diterima suku Gendang Hero Koe atau anak wina (ipar dari garis keturunan perempuan), karena rencana renovasi itu tidak melibatkan mereka. Akibat terjadi bentrokan ini menyebabkan korban jiwa tiga orang tewas dan 11 lainnya mengalami luka-luka.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

  1. A.      Kesimpulan

Prasangka merupakan faktor yang potensial menciptakan konflik antar etnik. Prasangka bahkan terbukti telah melahirkan konflik antar etnik yang paling merusak. Salah satu contoh kasus yang diakibatkan oleh adanya prasangka yaitu kasus yang terjadi pada daerah NTT pada rabu, 13 april 2011 bentrokan antarsuku  yakni Gendang Langke Norang dengan Gendang Hero Koe di Desa Ruang, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Upaya yang bisa dilakukan dalam mengurangi prasangka, yakni melalui hubungan antar kelompok, melalui sosialisasi, melalui rekayasa sosial, maupun melalui penyadaran diri pribadi. Salah satu bentuk nyata dari terbangunnya pemahaman lintas budaya dalam masyarakat adalah terbangunnya komunikasi antar kelompok yang efektif.

 

  1. B.     Saran

Dengan mempelajari tentang hakikat pemahaman lintas budaya dan hakikat prasangka, maka hendaklah kita berupaya mengurangi prasangka yang kita miliki sendiri yang mungkin kurang kita sadari, antara lain dengan cara mengakui perbedaan individu dalam sebuah kelompok kultur, memiliki toleransi, kesabaran dan berpraduga baik, dan belajar lebih banyak mengenai dasar-dasar budaya yang mempengaruhi perilaku. Selain itu hendaklah kita meningkatkan rasa nasionalisme kita, memahami bahwa Negara Republik Indonesia yang berdasarkan pada pancasila yang mempunyai semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Bhineka Tunggal Ika mempunyai arti bahwa Indonesia mempunyai beragam Etnik, Suku, Agama, dan Ras tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

 

 

 

 

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s