Kalimat Efektif

Standar

A.    PENDAHULUAN
Setiap gagasan, pikiran, konsep, perasaan seseorang pada dasarnya akan disampaikan kepada orang lain dalam bentuk kalimat-kalimat. Demikian pula pikiran dan konsep dalam laporan yang disampaikan atau disodorkan kepada pembaca (pimpinan atau yang menugasi). Segala sesuatu yang disampaikan oleh penulis akan dapat dipahami oleh pembacanya dengan mudah, lengkap, dan jelas atau tepat jika dituangkan di dalam kalimat-kalimat yang benar, baik, dan tepat.
Kalimat yang benar adalah kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal (ketatabahasaan), yaitu harus disusun berdasarkan kaidah yang berlaku.  Kalimat yang baik adalah kalimat yang sesuai dengan konteks dan situasi yang berlaku, sedangkan kalimat yang tepat adalah kalimat yang dibangun dari pilihan kata yang tepat, disusun menurut kaidah yang benar, dan digunakan di dalam situasi yang tepat pula.


Sebuah kalimat haruslah memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pembaca atau pendengar seperti yang apa terdapat pada pikiran penulis atau pembicaranya. Berarti, kalimat haruslah disusun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang diinginkan penulis atau pembicara kepada pembaca atau pendengarnya.
Agar kalimat-kalimat dapat memberi informasi kepada pembaca atau pendengar secara tepat seperti yang diharapkan oleh penulis atau pembacanya, dalam penyusunannya perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu: (1) kalimat harus benar, (2) kalimat harus baik, (3) kalimat harus tepat, (4) kalimat harus efektif.

B.    Pengertian Kalimat Efektif
Seseorang yang menyampaikan maksud dengan menggunakan bahasa yang baik akan mempangaruhi situasi komunikasi. Bahasa berkaitan erat dengan rangkaian kata yang dapat mengungkapkan gagasan, perasaan atau pikiran yang jelas dan lengkap.
Menurut Keraf (1997:39), aspek penguasaan bahasa antara lain meliputi tingkat penalaran atau logika yang dimiliki, tingkat penguasaan kaidah-kaidah sintaksis, tingkat penguasaan secara aktif perbendaharaan kata atau kosakata, dan kemampuan menemukan gaya yang paling cocok untuk menyampaikan gagasan. Aspek penguasaan bahasa tersebut merupakan syarat untuk dapat menyusun kalimat efektif dan berkaitan dengan ragam bahasa tulis yang resmi. Tingkat penalaran atau logika penulis yang berbeda akan mempengaruhi pemahaman pembaca juga. Kaidah-kaidah sintaksis dapat dikuasai oleh manusia dengan cara menambah kegiatan membaca dan menulis, karena penguasaan kaidah-kaidah tersebut sangat penting dalam ragam bahasa tulis resmi. Penguasaan perbendaharaan kata atau kosakata secara aktif dapat dilakukan melalui kegiatan menyimak, berbicara, membaca dan menulis yang dilakukan oleh siswa baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Kemampuan seorang menemukan gaya untuk menarik pembaca memang berbeda antara satu dengan yang lain, tergantung pada pengetahuan dan pengalamannya dalam menulis.
Menurut Mustakim (1994:66), sebuah kalimat memiliki beberapa ciri yaitu:
1.    Minimal kalimat harus mengandung subjek dan predikat dan mengungkapkan informasi yang jelas.
2.    Posisi subjek predikat dapat saling dipertukarkan sehingga menjadi predikat subjek.
3.    Subjek atau pokok kalimat dapat diketahui dari jawaban atas pertanyaan “apa” dan “siapa” dan predikat dapat diketahui dari jawaban atas pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”.
Sebuah kalimat memang harus mengandung informasi yang lengkap agar pembaca  dapat memahami gagasan yang dimaksud oleh penulis. Informasi yang lengkap dalam suatu kalimat yang paling cocok yaitu harus mengandung unsur subyek dan predikat.
Menurut Badudu (1995:88) kalimat efektif adalah kalimat yang baik karena sesuatu yang dipikirkan dan dirasakan oleh si pembaca secara benar. Sebuah tulisan disebut efektif jika penulisannya sudah dirakit dengan baik dan teliti sehingga pembaca (1) mengerti dengan baik dan tepat mengenai pesan yang disampaikan oleh penulis, (2) tergerak oleh pesan, berita, dan amanat tersebut, dan (3) mengetahui secara tergerak berdasarkan pesan, berita, dan amanat tersebut (Parera, 1991:41). Selanjutnya dia juga mengemukakan bahwa kalimat efektif yaitu kalimat atau bentuk kalimat yang dengan sadar dan sengaja disusun untuk mencapai daya informasi yang tepat dan baik.
Sabarti (1998:41) mengatakan bahwa kalimat yang benar harus memenuhi persyaratan gramatikal dan harus disusun berdasarkan kaidah yang berlaku. Kaidah-kaidah tersebut meliputi (1) unsur-unsur penting yang harus dimiliki setiap kalimat (ketatabahasaan), (2) sesuai dengan EYD, (3) cara memilih kata dalam kalimat. Ketiga hal tersebut yang menyebabkan suatu kalimat menjadi jelas maknanya.
Menurut Razak (1985:2), kalimat dikatakan efektif bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan informasi dapat berlangsung secara sempurna. Selanjutnya, ia juga menyatakan bahwa kalimat yang efektif akan mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan penulis tergambar lengkap dalam pikiran pembaca seperti yang dimaksudkan oleh penulis.
Kalimat yang benar, jelas dan mudah dipahami oleh orang lain disebut kalimat efektif. Sebuah kalimat efektif harus memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang terdapat pada pikiran pembicara atau penulis. Menurut Keraf (Widyamarta, 1990:18), kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi syarat sebagai berikut:
1.    secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis.
2.    sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.
Sebuah kalimat yang benar terutama dalam ragam bahasa tulis resmi, harus mengandung kelengkapan dari segi unsur-unsurnya, mengandung keutuhan dari segi makna atau informasinya dan dapat diterima oleh masyarakat pemakaianya. Kelengkapan dan keeksplisitan unsur-unsur kalimat dimaksudkan agar bahasa yang digunakan dapat mengungkapkan gagasan secara tepat dan dapat dipahami oleh pembaca sesuai dengan maksud yang dikehendaki oleh penulis.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas yang dapat dengan mudah dipahami pembaca, sesuai dengan maksud pembicara atau penulis.

C.    Ciri Kalimat Efektif
1.    Kesepadanan dan Kesatuan
Setiap kalimat yang baik, jelas harus memperhatikan kesatuan gagasan yang mengandung satu gagasan pokok. Dalam satu kalimat tidak boleh diadakan perubahan dari satu kesatuan gagasan kepada kesatuan gagasan lain yang tidak ada hubungannya atau menggabungkan dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan sama sekali. Kesatuan gagasan yang tidak mempunyai hubungan akan merusak kesatuan pikiran tersebut.
Kesatuan gagasan biasanya menjadi kabur karena kedudukan subyek dan predikat yang tidak jelas. Oleh karena itu, kalimat yang disusun harus menunjukkan kedudukan subyek dan predikat yang jelas dan mengandung satu ide pokok atau lebih yang utuh (Keraf, 1997:42). Penuangan gagasan secara cermat ke dalam satu pernyataan akan memperjelas informasi yang diungkapkan. Sebaliknya, penumpukkan gagasan ke dalam sebuah kalimat akan menyebabkan pembaca mengalami kesulitan dalam memahaminya. Oleh karena itu, agar efektif kalimat yang seperti itu harus dikemblaikan pada gagasan semula dan diungkapkan dalam beberapa kalimat. Kesatuan gagasan dapat disampaikan dengan tepat kepada pembaca sesuai dengan maksud penulis jika disampaikan dengan kalimat yang unsur-unsur kalimat yang harus ada tidak boleh dihilangkan dan unsur-unsur yang seharusnya tidak ada tidak perlu dimunculkan (Mustakim, 1994:102). Dari pendapat tersebut diperoleh kesimpulan bahwa kesatuan gagasan berkaitan erat dengan kelengkapan dan keeksplisitan unsur-unsur dalam kalimat dan kecermatan penuangan gagasan dalam satuan kalimat.
Sementara itu, Ramlan (1997:12) berpendapat bahwa kelengkapan kedua fungsi kalimat yaitu subyek dan predikat berkaitan dengan utuh tidaknya pikiran yang hendak disampaikan. Dengan kata lain, kesatuan berkaitan erat dengan kejelasan fungsi unsur-unsur (subyek, predikat, obyek, keterangan) di dalam kalimat sehingga melahirkan keterpaduan arti. Kesepadanan kalimat diperlihatkan oleh kemampuan struktur bahasa dalam mendukung gagasan atau konsep yang merupakan kepaduan pikiran.

2.    Kesejajaran (Pararelisme)
Kalimat efektif juga harus mengandung kesejajaran antara gagasan yang diungkapkan dan bentuk bahasa sebagai sarana pengungkapkannya. Jika dilihat dari segi bentuknya, kesejajaran itu dapat menyebabkan keserasian. Jika dilihat dari segi makna atau gagasan yang diungkapkan, kesejajaran itu dapat menyebabkan informasi yang diungkapkan menjadi sistematis sehingga mudah dipahami. Kesejajaran itu sendiri dapat dibedakan atas kesejajaran bentuk, kesejajaran makna, dan kesejajaran bentuk berikut maknanya.
Widyamartaya (1990:30) menyebut kesejajaran sebagai pararelisme. Pararelisme. (kesejajaran) ialah penggunaan bentuk gramatikal yang sama bentuk untuk unsur-unsur kalimat yang sama fungsinya. Jika sebuah unsur dinyatakan juga dengan frasa, pikiran-pikiran lain harus dinyatakan juga dengan frasa. Apabila satu gagasan dinyatakan dengan kata kerja bentuk         /me-kan/, /di-kan/, dan sebagainya, gagasan yang sejajar juga harus dinyatakan dalam bentuk /me-kan/, /di-kan/. Apabila suatu gagasan dinyatakan dengan kata benda bentuk /pe-an/, /ke-an/, gagasan lain yang sejajar juga harus dinyatakan dengan kata benda pula.

3.    Penekanan Kalimat
Gagasan utama dalam kalimat tetap didukung oleh subyek dan predikat, sedangkan unsur yang dipentingkan dapat bergeser dari satu ke kata yang lain. Kata yang dipentingkan harus mendapat tekanan atau harus lebih ditonjolkan dari unsur-unsur yang lain. Dua cara yang dapat dipergunakan untuk memberi penekanan yaitu repetisi dan partikel penekan. Repetisi adalah pengulangan sebuah kata yang dianggap penting dalam sebuah kalimat, sedangkan partikel penekan berfungsi untuk menonjolkan sebuah kata atau ide dalam sebuah kalimat, yaitu –lah, -kah,  -tah, dan –pun.
Widyarmartaya (1990:28) menyebut penekanan kalimat sebagai kalimat yang merupakan merupakan komunikasi yang berharkat, artinya kalimat tersebut mempunyai kekuatan, membangkitkan sugesti, emosi, tenaga atau pikiran pembaca atau pendengar. Bila penulis menginginkan komunikasinya sampai dan mengesankan, kalimat yang ditulisnya harus berharkat, bertenaga dengan cara yaitu :
a.    bagian yang hendak dipentingkan atau diutamakan diletakkan pada awal kalimat.
b.    bila menyebut serangkaian hal atau peristiwa hendaknya diperhatikan dan diusahakan agar urutan peristiwa tersebut logis, kronologis, atau berklimaks.
c.    kata kunci diulang.
d.    kata atau frase yang hendaknya dapat ditambah partikel pemeting –lah,            -kah, -tah, atau –pun.
e.    serangkaian hal yang disebutkan dapat menjadi lebih kuat dengan pararelisme.

4.    Kehematan (Pengulangan Subjek Kalimat, Pemakaian, Kata Depan, Hiponimi)
Dalam penyusunan kalimat, kehematan ini dapat diperoleh dengan menghilangkan bagian-bagian tertentu yang tidak diperlukan atau mubazir. Widyamarta (1990:31) mengemukakan bahwa yang sering menjadi masalah dalam kalimat efektif adalah pemborosan kata. Meskipun demikian, tidaklah tiap pemakaian bentuk yang luas itu pemborosan kata. Kerap kali pemakaian bentuk luas disengaja untuk mempertinggi efek atau memperbesar harkat penurunannya.
Selanjutnya, Mustakim (1994:105) mengemukakan upaya-upaya untuk menghindari pemborosan kata, yaitu dengan penghilangan subyek ganda, bentuk bersinonim dan makna jamak ganda. Dengan kata lain, kalimat tersebut harus dituturkan secara ringkas dan jelas.

5.    Kevariasian
Variasi merupakan suatu yang bertolak belakang dengan repetisi. Repetisi sebuah kata bertujuan untuk memperoleh efek penekanan dan lebih banyak menekankan kesamaan bentuk. Pemakaian bentuk sama secara berlebihan akan menggambarkan selera pendengar atau pembaca. Oleh karena itu, ada upaya lain yang berlawanan dengan repetisi yaitu kevariasian. Variasi adalah menganekaragamkan bentuk-bentuk bahasa agar tetap terpelihara minat dan perhatian orang (Keraf, 1997:49).
Menurut widyamartaya (1990:33), variasi ialah variasi kalimat yang membangun paragraf atau alinea. Sebuah alinea akan terasa hidup dan menarik apabila kalimat-kalimatnya bervariasi dalam hal panjang pendeknya, jenisnya, aktif pasifnya, polanya atau gayanya,
Sementara itu, Musatakim (1994:107) mengemukakan bahwa kalimat yang efektif juga maengutamakan variasi bentuk pengungkapan atau gaya kalimatnya. Variasi juga dapat dicapai dengan menggunakan variasi bentuk sinonim kata, variasi bentuk biasa dan inverse, dan variasi aktif-pasif,

D.    Pembahasan
1.    Ketidakefektifan Dalam Kesepadanan dan Kestuan Kalimat
Kesepadanan kalimat diperlihatkan oleh kemampuan struktur bahasa dalam mendukung gagasan atau konsep yang merupakan kepaduan pikiran. Kesatuan diperlihatkan oleh kejelasan unsur subjek, unsur predikat beserta pelengkapnya.
Berikut ini berbagai contoh kesalahan dalam hal kesepadanan kalimat:
1)    Agar tidak kotor, maka dari itu kita harus menjaga kebersihan.
Kesatuan gagasan biasanya menjadi kabur karena kedudukan subyek atau predikat tidak jelas. Kalimat (1) merupakan kalimat yang tidak efektif karena salah menggunakan dua konjungsi subordinatif secara serentak. Agar kalimat (1) menjadi efektif, sebaiknya salah satu konjungsi dihilangkan saja agar subjek menjadi jelas dan keseluruhan kalimat menjadi padu.
Pembetulannya menjadi :
Kita harus menjaga kebersihan agar tidak kotor.
2)    Maka dari itu TPSA harus berada jauh dari pemukiman penduduk.
Kejelasan unsur sebuah kalimat sangat menentukan kejelasan sebuah kalimat. Oleh karena itu sebuah  kalimat harus memiliki minimal subyek dan predikat. Tetapi dalam kalimat (2) subyek dan predikat tidak menempati fungsinya sebagaimana mestinya. Jadi kalimat (2) di atas merupakan kalimat tidak efektif karena tidak menunjukkan kejelasan subyek dan predikatnya. Agar lebih efektif, konjungsi maka dari itu dihilangkan saja.

2.    Ketidakefektifan dalam Kesejajaran/Pararelisme Kalimat
Kesejajaran atau pararelisme dalam kalimat adalah penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sama atau konstruksi bahasa yang sama dipakai dalam susunan serial. Kalimat di bawha ini menunjukkan kalimat yang tidak sejajar.
3)    Gunungan sampah yang tertimbun mengeluarkan bau tidak sedap sehingga mencemari udara.
4)    Kita sebaiknya menimbun sampah atau dibakar.
Berikut ini pembahasan dalam hal kesejajaran/pararelisme :
3) Gunungan sampah yang tertimbun mengeluarkan bau tidak sedap sehingga udara tercemar.
4)    Kita sebaiknya menimbun atau membakar sampah.
Kalimat (3) merupakan kalimat tidak efektif karena ada kata-kata yang tidak sejajar antara kata yang satu dan yang lainnya. Kata-kata tersebut yaitu tertimbun dan mencemari. Kata tertimbun mendapat awalan ter- sedangkan kata mencemari mendapat awalan me-. Agar kalimat (3) menjadi kalimat yang efektif, kata tertimbun dan mencemari harus disejajarkan terlebih dahulu. Jadi kata mencemari harus mendapat awalan ter-.
Kalimat (4) juga merupakan kalimat yang tidak sejajar antara kata yang satu dengan kata yang lainnya. Kata tersebut yaitu menimbun dan dibakar. Kata menimbun mendapat awalan men- sedangkanb kata dibakar mendapat awalan di-. Agar kalimat tersebut menjadi kalimat yang efektif maka kalimat tersebut harus disejajarkan dahulu. Jadi kata bakar harus mendapat awalan me-. Penulisannya menjadi menimbun dan membakar.

3.    Ketidakefektifan dalam Penekanan Kalimat
Penekanan kalimat dimaksudkan untuk menonjolkan bagian yang menjadi inti pikiran. Bagian yang menonjol tersebut mempunyai kekuatan untuk memancing emosi pembaca. Contoh di bawah ini adalah kalimat yang mengandung kesalahan dalam hal penekanan kalimat.
5)    Kita harus rajin mengepel lantai, menyapu lantai agar bila dilihat akan terasa bersih.
6)    Jika tidak pernah dipel dan disapu, lantai akan terlihat kusam.
7)    Masyarakat selalu bergotong royong sehingga lingkungan menjadi rapi, bersih dan indah.
8)    Warga Jakarta yang setiap harinya membuang sampah di sungai dan juga banyak di jalan.
9)    Oleh karena itu, kita harus membiasakan pola hidup sehat dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.
Berikut ini contoh kalimat hasil analisis dalam hal penekanan kalimat.
5)    Kita harus rajin menyapu dan mengepel lantai agar terlihat bersih.
6)    Jika tidak pernah disapu dan dipel, lantai akan terlihat kusam.
7)    Masyarakat selalu bergotong royong sehingga lingkungan menjadi bersih, rapi, dan indah.
8)    Setiap hari warga Jakarta membuang sampah di sungai dan di jalan.
9)    Oleh karena itu, kita harus membiasakan pola hidup sehat dengan membiasakan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.
Kalimat (5) dan (6) kurang tepat karena ada kata mengepel, menyapu, dalam kalimat (5) kata dipel, disapu dalam kalimat (6) menyatakan urutan hal atau keadaan yang tidak logis. Agar kalimat (5) dan kalimat (6) di atas menjadi urutan peristiwa yang logis harus diurutkan terlebih dahulu.
Kalimat (7) merupakan kalimat yang tidak efektif karena kata rapi, bersih, dan indah menyatakan serangkaian hal yang tidak kronologis. Agar kalimat (7) menjadi kalimat yang efektif, harus diurutkan secara kronologis terlebih dahulu.
Penekanan kalimat dapat dilakukan dengan salah satu cara yaitu menempatkan gagasan pokok pada awal kalimat. Begitu juga halnya dengan kalimat (8) yang menyatakan kata setiap hari sebagai gagasan pokok atau inti pokoknya yang bisa diletakkan di awal kalimat. Sehingga gagasan pokok pada kalimat (8) menyatakan keterangan waktu.
Pengulangan kata dalam sebuah kalimat kadang-kadang diperlukan dengan maksud memberi penegasan pada bagian ujaran yang dianggap penting. Pengulangan kata yang demikian dianggap tidak membuat maksud kalimat menjadi lebih jelas. Begitu juga halnya dengan kalimat (9) yang mengulang kata membiasakan.

4.    Ketidakefektifan dalam Kehematan Kalimat
Unsur penting lain yang harus diperhatikan dalam pembentukan kalimat efektif adalah kehematan. Kehematan dalam kalimat efektif merupakan kehematan dalam pemakaian kata, frase, atau bentuk lainnya dianggap tidak diperlukan. Di bawah ini beberapa contoh kalimat yang tidak hemat:
10)    Gunungan sampah yang menumpuk dan dikelilingi oleh para nyamuk-nyamuk.
11)    Sampah yang menumpuk harus dibakar agar supaya tidak terjadi gunungan sampah yang berbau tidak sedap.
Berikut ini pembahasan dalam hal kehematan kalimat :
10)    Gunungan sampah yang menumpuk dan dikelilingi oleh nyamuk-nyamuk.
11)    Sampah yang menumpuk harus dibakar agar tidak terjadi gunungan sampah yang berbau tidak sedap.
Kalimat (10) merupakan kalimat yang tidak efektif. Kata para sudah menyatakan makna lebih dari satu, sehingga tidak perlu diikuti bentuk ulang nyamuk. Agar lebih efektif, kata para dalam kalimat (10) harus dihilangkan.
Kalimat (10) dan (11) merupakan kalimat yang tidak hemat karena penambahan kata yang sebenarnya bukan  merupakan hal baru. Kata agar sama artinya dengan kata supaya, sehingga penggunaannya cukup salah satu saja.

5.    Ketidakefektifan dalam Kevariasian Kalimat
Tulisan yang baik merupakan komposisi yang memikat dan menghindarkan pembaca dari keletihan dan kebosanan. Oleh  karena itu, kalimat yang bervariasi sangatlah diperlukan.
Berikut ini beberapa contoh kalimat yang tidak bervariasi :
12)    Jika kita membuang sampah sembarangan semakin lama akan menjadi gunungan sampah. Gunungan sampah yang berbau tidak sedap dapat menimbulkan polusi udara. Supaya tidak terjadi gunungan sampah yang menumpuk, kita harus menyiasatinya. Kita mendaur ulang sampah yang masih bisa kita pakai. Tentu saja sampah yang tidak membahayakan diri sendiri.
Berikut ini pembahasan kevariasian kalimat.
12)        Jika kita membuang sampah sembarangan semakin lama akan menjadi gunungan sampah. Polusi udara ditimbulkan oleh gunungan sampah yang berbau tidak sedap. Supaya tidak terjadi gunungan sampah yang menumpuk, kita harus menyiasatinya. Sampah yang masih bisa dipakai dapat didaur ulang. Tentu saja sampah yang tidak membahayakan diri sendiri.

Pola kalimat aktif dan pasif pun dapat membuat tulisan menjadi bervariasi. Kalimat 2 dan 4 pada paragraf (12) akan lebih bervariasi, apabila kata kerja dipasifkan. Paragraf (12) di atas terdiri dari kalimat aktif dan kalimat pasif. Masing-masing kalimat ditandai dengan awalan me- dan awalan di-. Terasa bahwa beberapa kalimat aktif dan pasif pada paragraf (12) di atas bekerja sama dengan baik sehingga menghasilkan paragraf yang padu dan lancar.

E.    KESIMPULAN
Setelah dilakukan kajian kalimat efektif dalam bahasa Indonesia dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai keefektifan kalimat harus memenuhi syarat-syarat keefektifan yang meliputi (1) kesepadanan dan kesatuan, (2) kesejajaran, (3) penekanan dalam kalimat, (4) kehematan, dan (5) kevariasian.

DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabari. 1999. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.          Jakarta : Erlangga.

Badudu, J.S. 1995. Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar. Jakarta: PN Gramedia Pustaka Utama.

Depdikbud. 1992. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Keraf, Gorys. 1997. Komposisi. Jakarta: Ikrara Mandiri Abadi Nusa Indah.

Mustakim. 1994. Membina Kemampuan Berbahasa Panduan Kearah Kemahiran Berbahasa. Jakarta: Gramedia.

Parera, Jos Daniel. 1991. Belajar Mengemukakan Pendapat. Yogyakarta: Erlangga.

Pateda, Mansoer. 1989. Analisis Kesalahan. Flores: Nusa Indah.

Ramlan, M. dkk. 1997. Bahasa Indonesia yang Salah dan yang Benar. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.

Razak, A. 1985. Kalimat Efektif : Struktur, Gaya dan Variasi. Jakarta: PT. Gramedia.

Widyarmartaya, A. 1990. Seni Menggayakan Bahasa. Yogyakarta: Kanisius.

_______________. 1990. Seni Menuangkan Gagasan. Yogyakarta: Kanisius.

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s