Karya Sastra

Standar

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Karya sastra sebagai suatu hasil kebudayaan manusia tentunya sangat menarik untuk dikaji dan dibicarakan. Karya sastra dapat dipahami secara baik melalui kerja analisis. Dalam hal ini, karya sastra sebagai bangun totalitas dianalisis, diurai menjadi bagian-bagian tertentu. Bagian yang dianalisis biasanya meliputi aspek bentuk maupun isi, menyangkut sejumlah unsur secara sekaligus maupun salah satu unsur tertentu (Ahmad, 1988: 1). Pengkajian karya sastra tersebut dapat dilakukan pada sebuah karya sastra tertentu pada periode tertentu, atau beberapa karya sastra dalam periode tertentu. Pengkajian terhadap dua karya sastra atau lebih tersebut sering disebut dengan pengkajian intertekstual.


Karya sastra dilahirkan karena dipengaruhi oleh karya sastra lain yang telah ada sebelumnya (Pradopo, 2002: 223). Seorang pengarang di dalam menciptakan sebuah karya sastra tidak terlepas dari hasil-hasil karya orang lain. Karya sastra yang ditulis lebih kemudian, biasanya mendasarkan diri pada karya-karya lain yang telah ada sebelumnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dengan cara meneruskan maupun menyimpangi konvensi. Oleh karena itu, karya sastra dapat dipahami setelah dikaitkan dengan teks yang lain.
Pengkajian intertekstual ini pada dasarnya merupakan kerja pembanding antar teks. Pembandingan yang dimaksud dapat berupa usaha penemuan unsur-unsur persamaan, maupun unsur-unsur perbedaan tradisi konvensi karya sastra yang dibandingkan.
Karya sastra dari waktu ke waktu mengalami perkembangan yang pesat. Dalam sejarah sastra Indonesia, dikenal istilah angkatan. Yang dimaksud angkatan adalah suatu usaha pengelompokkan sastra dalam suatu masa tertentu. Pengelompokkan ini berdasarkan ciri-ciri khas karya-karya sastra yang dilahirkan oleh para pengarang pada masa itu, yang berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Menurut Sumardjo (1982: 27) karya sastra lahir pertama kali pada tahun 1920 yaitu dengan terbitnya novel pertama kali Azab dan Sengsara karya Merary Siregar. Pada masa itu disebut angkatan 20-an atau angkatan Balai Pustaka. Disebut sebagai angkatan Balai Pustaka, karena yang paling banyak menerbitkan buku-buku sastra adalah Balai Pustaka. Oleh karena itu, Balai Pustaka berperan besar bagi perkembangan sastra pada masa itu. Adapun pengarang-pengarang Balai Pustaka lainnya adalah Abdul Muis, Amir Hamzah, M. Kasim, Moh. Yamin, Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, dan  masih banyak lagi.
Selanjutnya adalah angkatan Pujangga Baru atau angkatan 30-an karena hidup pada tahun 30-an yaitu tahun 1933-1942. Nama Pujangga Baru diambil dari sebuah nama majalah yang bernama Pujangga Baru. Para pengarang mengirimkan hasil-hasil karyanya ke majalah tersebut. Peran majalah Pujangga Baru sangat besar dalam memperkenalkan para pengarang maupun karya-karya sastra pada masyarakat Indonesia. Berbeda dengan Balai Pustaka karena para pengarang pada masa ini mulai mempunyai pandangan tentang kesenian, kebudayaan serta pandangan tentang sastrawan sudah mulai berubah. Karya sastra mereka mulai memancarkan jiwa yang dinamis, individualistis, dan tidak terikat dengan tradisi. Adapun karya-karya yang terbit pada masa ini antara lain Layar Terkembang (1936) karya Sutan Takdir Alisyahbana, Belenggu (1940) Armijn Pane, Katak Hendak Jadi Lembu (1935) Nur Sutan Iskandar, Di Bawah Lindungan Ka’bah (1983) karya Hamka, dan sebagainya.
Setelah angkatan 30-an muncul angkatan ’45 yang dipelopori oleh Chairil Anwar. Karya-karya angkatan ’45 sangat berbeda dari karya sastra masa sebelumnya, mempunyai ciri-ciri khas bebas, individualistis, universalistis, realistis, dan futuristis. Selain Chairil masih banyak lagi pengarang lainnya yang menjadi pelopor Angkatan ini diantaranya Idrus, Rivai Amin, HB. Jasin, Rosihan Anwar, Usmar Ismail, Mohtar Lubis, dan sebagainya.
Berikutnya adalah angkatan ’66, dikemukakan HB. Jasin lewat bukunya yang berjudul Angkatan ’66. Angkatan ini muncul di tengah-tengah keadaan politik bangsa Indonesia sedang kacau, karena adanya teror PKI yang hendak mengambil alih kekuasaan Negara (Sumardjo, 1982: 30). Pengarang-pengarang yang muncul pada masa ini adalah Taufiq Ismail, WS. Rendra, Toha Mohtar, Arifin C. Noer, Gunawan Muhammad, Sapardi Djoko Darmono, dan sebagainya.
Pada tahun 70-an kesusastraan Indonesia mengalami perkembangan yang pesat. Suburnya kesusastraan sesudah tahun 1970 ini disebabkan oleh makin stabilnya keadaan ekonomi Indonesia, kebebasan mencipta yang relative terselenggara sejak tahun 1967, bantuan pers yakni hampir setiap koran belakangan ini menyediakan lembaran sastra dan budaya, serta berkembangnya konsumen sastra Indonesia terutama di kalangan muda. Pada masa ini banyak novel-novel ringan dengan tema cinta asmara yang banyak dipilih oleh pengarang-pengarang wanita, misalnya                Marga T, Titiek W.S., La Rose, dan sebagainya.
Karya sastra yang berkembang sampai saat ini adalah angkatan 2000. Nama yang diberikan Korrie Layun Rampun pada sejumlah pengarang yang telah melahirkan wawasan estetik baru pada tahun ’90-an. Tokoh-tokoh angkatan ini adalah Afrizal Malna (puisi), Seno Gumiro Ajidarma (cerpen), dan Ayu Utami (novel). Pengarang lain yang digolongkan ke dalam angkatan 2000 antara lain Acep Zamzam Noor, Ahmadun Yosi Herfanda, Dorothea Rosa Herliany, Isbadi Stiawan ZS, Joni Ariadinata, Medyi Loekito, M. Shoim Anwar, Nenden Lilis, dan masih banyak lagi (Pamusuk Eneste, 2001). Dalam perkembangannya Muhammad Muhyidin juga termasuk dalam penulis angkatan ini.
Perkembangan ini menyebabkan pembaca sering menemukan adanya persamaan-persamaan antara karya sastra yang satu dengan yang lain termasuk novel. Persamaan-persamaan yang ditemukan menimbulkan pertanyaan bagi pembaca dan menarik untuk dibahas. Oleh karena itu pembaca mengadakan usaha perbandingan untuk menemukan titik temu dari pertanyaan yang muncul tersebut dengan permasalahan yang ada.
Untuk menentukan suatu karya sastra terpengaruh oleh karya sastra yang lain atau tidak, perlu diadakan pembandingan antara karya sastra yang satu dengan karya sastra yang lain yang diduga memiliki kemiripan. Menurut Riffaterre (1980 dalam Nurgiyantoro, 2002: 51) karya sastra yang dijadikan dasar penulisan bagi karya yang kemudian disebut sebagai hipogram. Wujud hipogram mungkin berupa penerusan konvensi, sesuatu yang telah bereksistensi, penyimpangan dan pemberontakan konvensi, pemutar balikan esensi dan amanat teks sebelumnya (Teeuw, dalam Nurgiyantoro, 2002: 51). Unsur-unsur yang dihipogram atau diacu dari karya sebelumnya adalah unsur-unsur struktural karya  sastra. Untuk itu, sebelum kerja membandingkan dilakukan, terlebih dahulu harus dianalisis unsur-unsur strukturalnya. Dari pembandingan tersebut akan diketahui ada tidaknya hubungan pengaruh karya sastra yang satu terhadap karya sastra yang lain.
Pada dasarnya karya sastra itu merupakan gambaran kisah manusia. Oleh karena itu banyak nilai yang dapat dikaji dalam karya sastra. Sastra sebagai produk kehidupan mengandung nilai-nilai social, filsafat, religi, pendidikan dan sebagainya (Suyitno, 1986: 3). Nilai-nilai yang merupakan amanat dalam karya sastra tercermin dalam tokoh cerita, baik melalui deskripsi, pikiran, maupun perilaku tokoh. Nilai-nilai inilah yang dapat diambil dan dimanfaatkan dalam menghadapi persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengingat sifat mimetis karya sastra dan melalui permasalahan bahasa, alur cerita, latar dan unsur sastra lain. Karya sastra mampu menyuguhkan hiburan yang menarik bagi pembaca, selain itu juga memberi manfaat. Horace (dalam terjemahan Budianta, 1990: 26) mengungkapkan bahwa sastra selain berfungsi menghibur juga mengajarkan sesuatu, atau sastra berfungsi dulce et / utile, sweet and usefull, atau indah dan berguna. Dalam pengertian luas makna berguna sama dengan tidak membuang-buang waktu, bukan sekedar kegiatan iseng. Jadi karya sastra merupakan sesuatu yang perlu mendapat perhatian khusus, sedangkan indah sama dengan tidak membosankan, bukan kewajiban, tetapi memberikan kesenangan.
Menurut Damono (1994: 1) tujuan diciptakannya karya sastra untuk dinikmati juga untuk dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Apa yang diambil dari karya sastra sangat banyak, diantaranya yaitu menggambarkan pola pikir, perubahan tingkah laku masyarakat, tata nilai, bentuk kebutuhan dan lain-lain. Sastra dapat dikatakan sebagai potret dari segala aspek kehidupan masyarakat dengan segala persoalannya. Pengarang menyodorkan karya sastra agar dapat dimanfaatkan sebagai alternative untuk menghadapi permasalahan yang ada, mengingat sastra diciptakan tidak dalam kekosongan budaya (Teeuw, 1989: 20). Jadi, kehadiran karya sastra itu merupakan tanggapan terhadap apa yang terjadi di dalam masyarakat.
Memoirs of A Geisha merupakan memoar dari seorang geisha yang bernama Sayuri. Memoar ini diberikan kepada sejarawan bernama Jakob Haarhuis pada tahun 1985. Baru pada tahun 1997 memoar ini ditulis oleh Arthur Golden. Kemudian memoar ini dialih bahasa oleh Listiana Srisanti dan diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2002.
Novel Kembang Jepun karya Remy Sylado mengisahkan tentang kehidupan seorang geisha asal Manado yang bertempat tinggal di Surabaya. Novel ini sangat menarik untuk dikaji karena di samping mempunyai kemiripan dengan Memoirs of A Geisha tetapi juga menampilkan tiga zaman yaitu zaman kolonial, zaman Jepang, dan masa kemerdekaan.
Alasan peneliti tertarik menulis novel Kembang Jepun karya Remy Sylado dan Memoirs of A Geisha karya Arthur Golden yaitu (1) antara novel Kembang Jepun dengan Memoirs of A Geisha memiliki banyak persamaan dan perbedaan dari segi peristiwa, (2) antara novel Kembang Jepun dengan Memoirs of A Geisha memiliki banyak persamaan dan perbedaan dari segi perwatakan tokohnya, dan (3) antara novel Kembang Jepun dengan Memoirs of A Geisha mengandung nilai pendidikan. Oleh karena itu, peneliti mengkaji kedua karya tersebut dengan pendekatan intertekstual yaitu hubungan intertekstual unsur peristiwa dan perwatakan tokohnya.
Untuk memastikan ada tidaknya pengaruh Memoirs of A Geisha dengan novel Kembang Jepun dan nilai pendidikan perlu dilakukan penelitian terhadap kedua karya tersebut. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini dilakukan pembandingan, dan selanjutnya menentukan sifat pengaruhnya. Penelitian ini difokuskan pada unsur peristiwa dan perwatakan. Alasan pengambilan dua unsur tersebut adalah unsur peristiwa dan perwatakan merupakan unsur-unsur yang dominan dalam kedua karya tersebut.

B.    Identifikasi Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka penulis mengidentifikasi sebagai berikut.
1.    Tema yang terdapat dalam novel Memoirs of A Geisha dan Kembang Jepun.
2.    Persamaan dan perbedaan peristiwa yang terdapat dalam novel Memoirs of A Geisha dan Kembang Jepun.
3.    Persamaan dan perbedaan perwatakan tokoh yang terdapat dalam novel Memoirs of A Geisha dan Kembang Jepun.
4.    Persamaan alur yang terdapat dalam novel Memoirs of A Geisha dan Kembang Jepun.
5.    Persamaan dan perbedaan latar yang terdapat dalam novel Memoirs of A Geisha dan Kembang Jepun.
6.    Pengaruh novel Memoirs of A Geisha terhadap novel Kembang Jepun dilihat dari segi peristiwa dan perwatakan.
7.    Hipogram dan teks transformasi.
8.    Nilai pendidikan moral yang terkandung dalam novel Memoirs of A Geisha dan Kembang Jepun.
9.    Nilai pendidikan budaya yang terkandung dalam novel Memoirs of A Geisha dan Kembang Jepun.
10.    Nilai pendidikan ketuhanan yang terkandung dalam novel Memoirs of A Geisha dan Kembang Jepun.

C.    Pembatasan Masalah
1.    Persamaan dan perbedaan peristiwa yang terdapat dalam Memoirs of A Geisha dengan Kembang Jepun.
2.    Persamaan dan perbedaan perwatakan tokoh yang terdapat dalam Memoirs of A Geisha dengan Kembang Jepun.
3.    Pengaruh Memoirs of A Geisha terhadap Kembang Jepun dilihat dari segi peristiwa dan perwatakan tokoh, serta karya manakah karya hipogram dan yang merupakan teks transformasi.
4.    Adanya nilai pendidikan moral dalam novel Memoirs of A Geisha dan novel Kembang Jepun.
5.    Adanya nilai pendidikan budaya dalam novel Memoirs of A Geisha dan novel Kembang Jepun.

D.    Perumusan Masalah
1.    Apakah persamaan dan perbedaan peristiwa yang terdapat dalam Memoirs of Geisha dengan Kembang Jepun?
2.    Apakah persamaan dan perbedaan perwatakan tokoh yang terdapat dalam Memoirs of A Geisha dengan Kembang Jepun?
3.    Bagaimana pengaruh Memoirs of A Geisha terhadap Kembang Jepun dilihat dari segi peristiwa dan perwatakan tokoh, serta karya manakah yang menjadi  hipogram dan yang merupakan teks transformasi?
4.    Bagaimanakah deskripsi nilai-nilai moral di dalam novel Memoirs of A Geisha dan novel Kembang Jepun ?
5.    Bagaimanakah deskripsi nilai-nilai budaya di dalam novel Memoirs of A Geisha dan novel Kembang Jepun ?

E.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.    Mendeskripsikan persamaan dan perbedaan peristwa yang terdapat dalam Memoirs of A Geisha dengan novel Kembang Jepun.
2.    Mendeskripsikan persamaan dan perbedan perwatakan tokoh yang terdapat dalam Memoirs of A Geisha dengan novel Kembang Jepun.
3.    Pengaruh Memoirs of A Geisha terhadap novel Kembang Jepun dilihat dari segi peristiwa dan perwatakan, serta penemuan novel yang menjadi hipogram dan novel yang merupakan transformasi.
4.    Mendeskripsikan nilai pendidikan moral yang terdapat dalam novel Memoirs of A Geisha dan novel Kembang Jepun.
5.    Mendeskripsikan nilai pendidikan budaya yang terdapat dalam novel Memoirs of A Geisha dan novel Kembang Jepun.

F.    Manfaat Penelitian
1.    Manfaat Teoritis
a.    Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan teori sastra.
b.    Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya model-model penelitian yang sudah ada.

2.    Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat membantu guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam memilih bahan-bahan alternative pengajaran sastra di sekolah.
BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Kajian Intertekstual
Nurgiyantoro (2002: 50) mengatakan bahwa kajian intertekstual merupakan kajian terhadap sejumlah teks sastra yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu. Mengacu pendapat Nurgiyantoro, dapat dikatakan bahwa kajian intertekstual mencakup sastra bandingan, yaitu studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih (Wellek dan Warren, terjemahan Melani, 1990: 49). Sastra bandingan mempelajari hubungan dua kesusastraan atau lebih, apakah hubungan itu bersifat persamaan atau perbedaan, sedangkan intertekstual selain mempelajari persamaan dan perbedaan dua karya sastra atau lebih juga menentukan karya sastra mana yang menjadi hipogramnya. Untuk menentukan hipogramnya berarti ada penilaian terhadap karya sastra yang dibandingkan.
Teeuw (dalam Pradopo, 2002: 223) menyatakan bahwa seorang pengarang tidak mencipta karya sastra dalam situasi kekosongan budaya, artinya bahwa karya sastra itu sebenarnya tidak begitu saja ada melainkan sebelumnya telah ada. Karya sastra lain yang tercipta berdasarkan konvensi budaya yang telah ada di masyarakat yang ditulis oleh orang lain. Dengan adanya karya sastra lain yang telah ada sebelumnya tersebut, bukan tidak mungkin pengarang telah membaca karya sastra tersebut, dan secara langsung maupun tidak langsung memasukkannya dalam karya sastra yang diciptakannya.
Karya sastra yang baru tersebut dipandang sebagai tulisan sisipan atau cangkokan pada kerangka karya sastra pendahulunya (Hartoko dan Rahmanto, 1986: 67). Riffaterre mengemukakan bahwa karya sastra yang dijadikan kerangka bagi penulisan karya yang berikutnya disebut hipogram (1980: 23). Istilah tersebut sering diterjemahkan menjadi latar, yaitu dasar bagi penciptaan karya lain walaupun mugnkin tidak secara eksplisit. Karya pendahulu yang melatari atau menjadi hipogram karya berikutnya inilah yang menjadi focus penelitian intertekstual. Melalui penjajaran karya sastra yang satu dengan karya sastra lain yang menghipogrami, maka karya sastra yang bersangkutan dapat dipahami secara penu.
Adanya hubungan antara karya sastra yang satu dengan karya sastra yang lain mungkin disadari oleh pengarangnya, tetapi mungkin juga tidak disadarinya (Ahmad, 1988: 12). Kesadaran pengarang terhadap karya sastra lain yang menjadi hipogramnya mungkin berupa sikap pengukuhan tradisi, atau penolakan tradisi sebelumnya.
Dalam hubungannya dengan hipogram tersebut, perlu diperhatikan keterangan Kristeva berikut ini:
“Setiap teks itu merupakan  mosaic kutipan-kutipan dan merupakan peresapan serta transformasi dari teks-teks lain. Tidak mustahil apabila pengarang dalam menulis teks itu mengambil unsur-unsur tertentu yang dipandang baik dari teks lain berdasarkan tanggapannya dan diolah dalam karyanya sendiri. Dengan demikian, meskipun sebuah karya sastra memuat unsur-unsur resapan dari berbagai teks lain, tetapi karya sastra tersebut tetap merupakan karyanya sendiri yang menyimpan dan mencerminkan kepribadiannya. Hal itu berkaitan dengan cara kerja yang dilakukannya. Unsur-unsur resapan tersebut diolah dengan wawasan dan daya kreativitias, konsep estetis, dan pikirannya sendiri. Meskipun demikian, konvensi-konvensi atau unsur-unsur yang diserap masih tetap dapat dikenali dalam teks yang terbit kemudian, dengan cara membandingkan teks yang menjadi hipogram dengan teks baru tersebut”. (Culler, 1981: 104).

Adanya teks lain dalam suatu teks dapat diketahui dengan adanya petunjuk yang menunjukkan hubungan persambungan dan pemisahan antara teks yang satu dengan teks yang lain yang diduga memiliki hubungan pengaruh. Dengan demikian, bukan tidak mungkin pengarangnya telah membaca suatu teks yang terbit lebih dahulu dan memasukkannya dalam teks yang ditulisnya. Dalam hal ini, kehadiran suatu teks lain bukanlah suatu yang polos, yang tidak melibatkan suatu proses pemahaman dan pemaknaan, tetapi di sini selalu ikut unsur pemaknaan dan bagaimana seseorang menerima teks tersebut (Junus, 1985: 88).
Prinsip intertekstual tersebut merupakan salah satu sarana pemberian makna kepada teks yang ditulis lebih dahulu. Hal itu, mengingat bahwa sastrawan dalam menanggapi teks yang terlebih dahulu itu menggunakan pikiran, gagasan konsep estetika, dan pengetahuan tentang sastra yang dimilikinya. Dengan begitu, karya sastra yang diciptanya merupakan karya sastra asli. Di sini terlihat prinsip intertekstual bercampur dengan teori tanggapan sastra. Dalam teori tanggapan sastra setiap teks yang merupakan transformasi teks lain itu adalah ciptaan asli, bahkan juga turunan yang dibuat itu adalah teks aslinya (Pradopo, 1987: 229). Hal ini disebabkan adnaya gagasan yang menyatakan bahwa dalam menurun teks lain, seorang pengarang selalu mengikutkan gagasan dan horizon harapannya.
Yang terpenting dalam prinsip intertekstual adalah prinsip pemahaman dan pemberian makna teks sendiri tanpa mempersoalkan saduran atau tuturan, melainkan setiap teks merupakan peresapan, penyerapan, dan transformasi teks lain. Oleh karena itu, berlaku prinsip bahwa untuk memperoleh makan sebuah teks dengan lebih baik, harus dibicarakan dalam kaitannya dengan teks yang menjadi hipogramnya. Teeuw (1983: 69) menguraikan prinsip intertekstual dengan lebih luas. Esensi intertekstual menurut Teeuw ini adalah interpretasi sebuah teks sastra baru secara tuntas dan sempurna, karena teks sastra baru mendapat makna penuh sebagai sistem tanda dalam kontrasnya dengan hipogramnya.
Walaupun dalam menciptakan karya sastra seorang pengarang mungkin dipengaruhi karya sastra lain yang lebih dahulu terbit, tetapi pengarang tetap terikat dengan sistem sastra yang berlaku pada zaman itu, sehingga pengaruh karya sastra yang lain tetap disaring dan disesuaikan dengan konvensi pada saat karya sastra tersebut dibuat. Penyesuaian dengan konvensi pada saat itu membuat karya sastra yang dihasilkan menjadi sesuatu yang berbeda dengan karya sastra yang dipengaruhinya.

1.    Hakikat Novel
Sebutan novel dalam bahasa Inggris yang kemudian masuk ke Indonesia berasal dari bahasa Italia novella (yang dalam bahasa Jerman: novella). Secara harfiah novella berarti sebuah barang baru yang kecil, dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa (Abrams, 1981: 119). Menurut Zaidan (1996: 136) novel adalah jenis prosa yang mengandung unsur tokoh, alur, latar rekaan yang mengeluarkan kehidupan manusia berdasar sudut pandang pengarang, dan mengandung nilai hidup, yang diolah dengan teknik kisahan dan ragaan.
Senada dengan pendapat tersebut adalah pendapat Sudjiman (1984: 29) yang menyatakan bahwa novel adalah prosa rekaan yang panjang, yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun. Sementara itu Sumardjo (1994: 29) mendefinisikan novel dengan cerita berbentuk prosa dengan plot, karakter, tema, suasana cerita, dan latar yang kompleks. Meskipun demikian, kekomplekan unsur pembangun karya sastra tersebut tidak mutlak.
Dari beberapa pendapat tentang pengertian novel tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan novel adalah cerita prosa dengan panjang tertentu yang menceriakan kehidupan tokoh dengan tokoh lainnya, bersifat imajinatif dalam suatu alur dan terdiri atas beberapa unsur pembangun seperti tema, karakter, latar, dan suasana cerita.

2.    Unsur Peristiwa dalam Karya Sastra
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993: 673), yang dimaksud dengan peristiwa adalah kejadian yang luar biasa atau yang menarik perhatian yang benar-benar terjadi. Dalam hal ini, kejadian yang dimaksud adalah kejadian yang terdapat dalam karya sastra. Pendapat lain tentang peristiwa adalah peralihan dari keadaan yang satu kepada keadaan yang lain. Senada dengan pendapat tersebut, yang dimaksud dengan peristiwa adalah kejadian penting, khususnya yang berhubungan dengan atau merupakan akibat kejadian yang mendahuluinya (Sudjiman, 1984: 59). Nurgiyantoro (2002: 117) menyatakan bahwa peristiwa mencakup dua hal, yaitu tindakan dan kejadian, misalnya memukul, memarahi, dan mencintai. Kejadian mempunyai arti sesuatu yang dilakukan dan atau dialami tokoh dan sesuatu yang di luar kehendak dirinya seperti bencana alam.
Peristiwa dalam kaitannya dengan pengembangan plot, atau perannya dalam penyajian cerita, dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu peristiwa fungsional, kaitan, dan acuan (Luxemburg dalam Nurgiyantoro, 2002: 118). Dalam penelitian ini tidak akan dianalisis berdasar ketiga jenis peristiwa tersebut, maka tidak dideskripsikan. Dalam penelitian ini, analisis peristiwa secara umum, yaitu peristiwa dengan pengertian kejadian yang menarik perhatian, baik yang berupa tindakan maupun kejadian.
3.    Unsur Perwatakan Tokoh
Tokoh-tokoh dalam karya sastra yang sebagian besar berupa manusia. Manusia tersebut mempunyai watak atau temperamen sendiri-sendiri. Tokoh dalam karya sastra mempunyai gambaran rupa atau pribadi atau watak pelakon. Pelukisan rupa, watak atau pribadi tokoh dalam karya sastra disebut perwatakan. Sudjiman (1991: 23) menyatakan bahwa perwatakan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh dalam cerita.
Berangkat dari pengertian perwatakan di atas maka pengertian watak itu sendiri adalah sifat dan ciri yang terdapat pada tokoh, kualitas nalar dan jiwanya, yang membedakan dari tokoh lain (Sudjiman, 1984: 80). Sementar itu Pradopo (1975: 31) berpendapat bahwa tokoh pameran dalam cerita fiksi mempunyai sifat yang mempribadi, artinya seorang tokoh pemeran berdiri sebagai pribadi dengan watak yang berbeda dengan pemeran lainnya. Adanya perbedaan watak dalam sebuah cerita mengakibatkan konflik dalam diri tokoh-tokohnya, dan akibatnya timbul peristiwa-peristiwa. Perbuatan tokoh itu terjadi bukan hanya kebetulan saja, tetapi akibat watak yang dimilikinya oleh para pelaku cerita. Dalam cerita, peristiwa-peristiwa atau perbuatan-perbuatan itu berjalan sesuai dengan perkembangan watak atau jiwa pelakunya.
Telah disebutkan di atas, bahwa tokoh dalam cerita seperti halnya manusia dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita, selalu memiliki watak-watak tertentu. Dalam upaya memahami watak tokoh, pembaca dapat mengetahuinya dengan:
a.    tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya
b.    gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupan ataupun caranya berpakaian
c.    perilaku sang tokoh
d.    pembicaraan tokoh tentang dirinya
e.    jalan pikiran tokoh
f.    pembicaraan tokoh lain tentang sang tokoh
g.    reaksi tokoh lain terhadap sang tokoh
h.    reaksi sang tokoh terhadap tokoh lainnya
(Aminuddin, 2002: 80-81)
Dari pendapat di atas sebenarnya dapat disebutkan adanya dua macam cara memperkenalkan tokoh dan perwatakannya, yaitu teknik ekspositoris dan dramatik. Teknik ekspositoris yang sering disebut juga sebagai teknik analitik adalah pelukisan tokoh cerita yang dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Sedangkan, teknik dramatic artinya mirip dengan yang ditampilkan pada drama, dilakukan secara tak langsung (Nurgiyantoro, 2002: 194).

4.    Pengertian Nilai
Kattsoff (2004: 325) menyatakan bahwa nilai adalah sesuatu yang berguna, sedangkan menurut Madiatmadja (1986: 105), nilai berkaitan dengan kebaikan yang ada dalam sesuatu hal. Namun, kebaikan itu berbeda dengan nilai. Sesuatu yang baik belum tentu bernilai. Contohnya, seseorang yang mempunyai banyak ilmu itu baik, tetapi ilmu itu tidak bernilai jika seseorang itu hampir meninggal. Perbedaan antara kebaikan dan nilai adalah kebaikan lebih melekat pada halnya, sedangkan nilai lebih menunjukkan pada sikap seseorang terhadap sesuatu hal yang baik.
Proses nilai-nilai kehidupan manusia disadari, diidentifikasi, dan diserap menjadi milik yang lebih disadari untuk kemudian dikembangkan, sehingga yang terjadi dalam proses pendidikan, pendidikan bukan menciptakan dan memberikan atau mengajarkan nilai-nilai pada peserta didik, tetapi membantu peserta didik agar dapat menyadari adanya nilai-nilai itu, mengakui, mendalami, dan memahami hakikat dan kaitannya antara yang satu dengan yang lainnya serta peranan dan kegunaannya bagi kehidupan.
Mardiatmadja (1986: 21) menyatakan bahwa proses pendidikan mendorong seseorang untuk secara nyata menjunjung tinggi nilai-nilai dasar manusiawi, menjabarkan dan mengembangkannya. Dengan demikian, proses pendidikan adalah proses penyadaran akan  nilai-nilai dasar manusiawi.
Nilai merupakan kadar relasi positif antara sesuatu hal dengan orang tertentu. Dengan demikian, dapat disimpulkan nilai adalah sesuatu atau hal-hal yang berguna bagi kemanusiaan. Nilai berkaitan erat dengan kebaikan yang ada pada sesuatu hal. Namun, kebaikan itu berbeda dengan sesuatu yang baik belum tentu bernilai.

5.    Pengertian Pendidikan dan Tujuan Pendidikan
a.    Pengertian Pendidikan
Pendidikan merupakan proses terpadu dan terarah untuk membantu manusia menyiapkan, mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya sehingga dapat menempatkan diri dalam kehidupan di masyarakat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 232) “pendidikan dapat diartikan sebagai protes pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”.
Purwanto (1995: 12) berpendapat bahwa “pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan”, sedangkan menurut Mardiatmadja (1986: 19) pendidikan adalah “suatu usaha bersama dalam proses terpadu dan terorganisasi untuk membantu manusia mengembangkan diri dan menyiapkan diri guna mengambil tempat semestinya dalam pengembangan masyarakat dan dunianya di dihadapan Tuhan”.
UU RI No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa :
“pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mewakili kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”.

Berdasarkan beberapa pengertian di muka, pengertian pendidikan adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri anak, baik jasmani maupun rohani ke arah kedewasaan sehingga anak mencapai kebahagiaan dan keselamatan.
Pendidikan berfungsi mengembangkan manusia, masyarakat, dan alam sekitar. Fungsi ini dipakai dalam suatu proses yang berkesinambungan dari suatu generasi ke generasi. Selanjutnya, proses pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah atau lembaga pendidikan. Akan tetapi, di keluarga dan masyarakat dan dengan kata lain, pendidikan berlaku di mana saja dan kapan saja.

b.    Tujuan Pendidikan
Pendidikan yang dilaksanakan baik di sekolah maupun di luar sekolah harus mempunyai tujuan agar prosesnya mempunyai arah yang jelas. Tujuan pendidikan merupakan suatu system nilai yang disepakati kebenaran dan kepentingan dan ingin dicapai melalui berbagai kegiatan baik di jalur pendidikan, maupun di  jalur pendidikan luar sekolah.
UU RI. No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa,
“tujuan pendidikan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Untuk mencapai tujuan pendidikan diperlukan alat pendidikan. Salah satu kekayaan bangsa yang dapat digunakan sebagai alat pendidikan adalah karya sastra. Hal itu sesuai dengan pendapat Horatius (lewat Teeuw, 1984: 51) bahwa:
“karya sastra dapat berfungsi sebagai dorcere yang artinya memberi ajaran, delectare yang berarti karya sastra memberikan kenikmatan serta Movere yang artinya karya sastra dapat menggerakkan pembaca pada kegiatan yang bertanggung jawab sehingga dipengaruhi dan digerakkan untuk bertindak”.

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat diambil salah satu fungsi karya sastra yaitu fungsi dorcere yang dapat memperkuat pendapat bahwa salah satu alat pendidikan adalah sastra.

6.    Pengertian Nilai Pendidikan
Nilai pendidikan adalah nilai-nilai yang dapat menyiapkan peserta didik dalam peranannya dari masa yang akan datang melalui bimbingan, pengajaran, dan latihan (Ali, 1979: 215), sedangkan menurut Tarigan (1984: 194), nilai pendidikan adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan segi-segi kehidupan yang dapat memperkaya batin dan wawasan pembaca sehingga dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Hadi Susanto, dkk (1995: 11) nilai pendidikan dapat dirinci sebagai berikut: (a) Pendidikan ketuhanan meliputi keimanan, ketakwaan, dan peribadatan menurut agama, (b) pendidikan kekeluargaan, berkaitan dengan tata pergaulan antara individu dan keluarga, (c) pendidikan kemasyarakatan, berkaitan dengan tata cara kehidupan manusia dalam pergaulan dengan manusia lain, dan (d) pendidikan kerohanian, berkaitan dengan sifat dan keadaan jiwa manusia. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa nilai pendidikan adalah ajaran-ajaran yang bernilai luhur yang meliputi segi-segi kehidupan menurut ukuran pendidikan yang merupakan jembatan ke arah tercapainya tujuan pendidikan.

7.    Nilai Pendidikan dalam Karya Sastra
Karya sastra sebenarnya ditulis dengan maksud menunjukkan nilai-nilai kehidupan atau setidak-tidaknya mempersoalkan nilai-nilai yang dipandang kurang sesuai dengan kebutuhan zaman atau kebutuhan manusia umumnya. Menurut Sumardjo (1993: 14), karya sastra diciptakan oleh pengarang bersumber dari nilai-nilai yang ada dalam kehidupan.
Dengan karyanya, seorang pengarang bermaksud menyampaikan gagasan-gagasannya, pandangan hidupnya dan tanggapannya atas kehidupan sekitar dengan cara yang diusahakan. Dengan kata lain, dengan menghibur seorang pengarang bermaksud pula menyampaikan nilai-nilai menurut keyakinannya yang bermanfaat bagi para penikmat karyanya (Suyitno, 1986: 4).
Pada dasarnya karya sastra merupakan reaksi pencipta terhadap reaksi social budaya yang dihasilkan melalui interpretasi dan pemahaman terhadap realitas. Reaksi-reaksi tersebut dapat berbentuk pesan-pesan tertentu dalam bentuk penampilan nilai-nilai budaya, keagamaan, moral, social dan sebagainya, baik yang bertolak dari pengungkapan kembali maupun yang merupakan penyaduran konsep baru (Suyitno, 1986: 3). Dengan reaksi tersebut, pencipta menyampaikan pesan-pesan tersebut sehingga pendengar (pembaca) dapat mengambil sikap terhadap realitas di sekitarnya.
Menurut Poerwanto (1985: 187) nilai pendidikan terbagi menjadi lima macam yaitu (a) nilai pendidikan ketuhanan, (b) nilai pendidikan kesusilaan, (c) nilai pendidikan kecakapan (intelektual), (d) nilai pendidikan keindahan, dan (e) nilai pendidikan kemasyarakatan. Dengan demikian, nilai-nilai pendidikan yang terdapat di dalam karya sastra adalah nilai pendidikan estetis, nilai pendidikan moral, nilai pendidikan keagamaan (ketuhanan), nilai pendidikan social, nilai pendidikan budaya, dan nilai pendidikan intelektual.
a.    Nilai Pendidikan Moral
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 311), moral berasal dari kata mores yang artinya aturan kesusilaan. Pengertian moral secara umum mengacu pada ajaran tentang baik buruk yang diterima oleh umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, susila, dan sebagainya.
Moral adal aturan kesusilaan yang meliputi semua norma untuk kelakuan, perbuatan dan tingkah laku yang baik (Ali, 1979: 217). Nilai pendidikan moral yang terdapat di dalam karya sastra dapat memberikan sumbangan yang besar terhadap pembentukan akhlak (pembaca). Pendidikan moral merupakan sarana untuk membentuk kata hati anak agar anak memiliki kepekaan terhadap baik buruknya, serta membentuk kemauan yang kuat untuk dapat menolak hal-hal yang tidak baik dan hanya berbuat sesuai dengan yang baik.
Perbuatan dan tingkah laku dapat dikatakan baik jika perbuatan dan tingkah laku tersebut tidak melanggar segala aturan atau norma yang berlaku di masyarakat, sebaliknya perbuatan dan tingkah laku dikatakan buruk jika melanggar atau menyimpang dari aturan atau norma yang hidup di masyarakat. Baik buruk suatu tingkah laku tidak dapat diputuskan oleh perseorangan dan kelompok orang saja, tetapi harus berdasarkan pendapat umum.
Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pencipta karya sastra yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai dan kebenaran dan hal itu ingin disampaikan kepada pendengar (pembaca). Menurut Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2005: 321), moral dalam karya sastra biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis yang dapat diambil (dan ditafsirkan) lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca. Hal itu merupakan petunjuk yang sengaja diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan seperti tingkah laku, dan sopan santun pergaulan. Moral bersifat praktis, sebab petunjuk itu ditampilkan atau ditemukan modelnya dalam kehidupan nyata sebagai model tingkah laku tokoh-tokohnya.
Novel sebagai karya sastra menawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia. Sifat luhur kemanusiaan itu tidak bersifat kebangsaan tetapi bersifat universal (Nurgiyantoro, 2005: 321-322). Artinya, sifat-sifat itu dimiliki dan diyakini kebenarannya oleh manusia sejagad.
Moral dalam karya sastra hampir selalu dalam pengertian yang baik. Dengan demikian, jika dalam sebuah karya ditampilkan sikap dan tingkah laku tokoh-tokoh yang terpuji baik mereka berlaku sebagai tokoh antagonis maupun pratoganis (Nurgiyantoro, 2005: 322).

b.    Nilai Pendidikan Budaya
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 170), kata budaya berarti pikiran atau akal budi, sedangkan kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian, adat-istiadat, dan sebagainya.
Kebudayaan merupakan akar dari segala norma yang dianut oleh masyarakat. Nilai dan norma ini mempengaruhi alam pikiran, cita-cita, perbuatan manusia dan masyarakat dalam kehidupan baik dalam kehidupan sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat. Alam pikiran, cita-cita, perbuatan manusia, dan masyarakat terhadap alam sekitar, terhadap sesama serta terhadap pengelolaan sumber daya yang digunakan untuk menjamin kelangsungan hidupnya.
Berkaitan dengan novel sebagai sebuah karya sastra, novel mencerminkan nilai-nilai kebudayaan yang bersendikan pada budaya masyarakat. Budaya pada suatu masyarakat tidak dapat dipisahkan dari bahasa dan sastra yang ada pada masyarakat, karena ketiga hal itu merupakan satu kesatuan. Budaya suatu masyarakat mencakup bahasa yang ada pada masyarakat tersebut dan juga mencakup sastranya (Teeuw, 1984: 100).
Karya sastra menampilkan nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di masyarakat pada waktu karya sastra tersebut dicipta. Nilai-nilai budaya tersebut dapat terlihat pada adat-istiadat, pikiran, dan kepercayaan yang hidup pada masyarakat yang ditampilkan dalam cerita. Nilai-nilai tersebut disampaikan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui deskripsi pencerita dan melalui dialog antar tokoh (Soelarto, 1980: 65).
Nilai-nilai budaya dalam karya sastra merupakan unsur-unsur dalam suatu karya sastra yang berupa gambaran suatu budaya tertentu yang ditampilkan dalam cerita. Nilai-nilai budaya tersebut dapat menambah wawasan pengetahuan pendengar (pembaca) terutama nilai-nilai budaya yang hidup pada masyarakat lama (Esten, 1993: 8).

B.    Pendekatan Pragmatik
Menurut Abrams (1981: 121) pendekatan pragmatic dalam karya sastra merupakan salah satu jenis kritik sasta yang menekankan pada fungsi sastra. Pendekatan pragmatic menempatkan karya sastra sebagai sebuah produk seni yang bertujuan untuk mencari efek-efek tertentu kepada pembaca, seperti efek kesenangan, estetika, dan pendidikan. Pendekatan pragmatik menganut prinsip bahwa karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dapat memberikan hiburan dan manfaat bagi para pembaca. Pendekatan pragmatik ini berkecenderungan memberi penilaian terhadap suatu karya sastra berdasarkan ukuran keberhasilannya dalam mencapai tujuan tersebut.
Pendekatan pragmatik merupakan suatu bentuk karya sastra yang mengandalkan adanya norma dan nilai. Norma dan nilai adalah prinsip atau konsep mengenai apa yang dianggap baik dan hendak dituju. Nilai sukar dibuktikan kebenarannya, karena merupakan sesuatu yang disetujui atau ditolak, sedangkan norma merupakan ukuran yang mangatur cara untuk mencapai nilai.

C.    Penelitian Relevan
Penelitian menggunakan teori intertekstual pernah dilakukan oleh Pradopo (2003) dengan judul Hubungan Intertekstual antara Novel Siti Nurbaya, Novel Layar Terkembang, dan Novel Belenggu yang terdapat dalam bukunya berjudul Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya (2003) diterbitkan oleh Pustaka Pelajar. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian tersebut, yaitu (1) tema yang terkandung dalam novel Siti Nurbaya, novel Layar Terkembang, dan novel Belenggu, (2) tokoh dan penokohan dalam novel Siti Nurbaya, novel Layar Terkembang, dan novel Belenggu, dan (3) menentukan hipogram dan teks transformasi.
Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Rahmat Djoko Pradopo di atas dengan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.    Penelitian Rahmat Djoko Pradopo jumlah subjek penelitiannya sebanyak 3 buah, sedangkan penelitian ini menggunakan dua buah subjek, yaitu novel Memoirs of A Geisha karya Arthur Golden dan novel Kembang Jepun karya Remy Sylado.
2.    Permasalahan yang muncul pada penelitian Rahmat Djoko Pradopo adalah tema, tokoh dan penokohan, dan penentuan hipogram serta teks transformasi. Sedangkan pada penelitian ini masalah yang dimunculkan selain penentuan hipogram dan teks transformasi juga mengenai perwatakan tokoh, nilai-nilai pendidikan yang terdapat di dalam kedua novel tersebut.

D.    Kerangka Berpikir
Penelitian yang berjudul Kajian Intertekstual dan Nilai Pendidikan antara Novel Memoirs of A Geisha Karya Arthur Golden dengan Kembang Jepun Karya Remy Sylado ini digunakan dua pendekatan. Pertama, pendekatan intertekstual digunakan untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh antara novel Memoirs of A Geisha dengan novel Kembang Jepun. Kedua, pendekatan pragmatik digunakan untuk mencari nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam kedua novel tersebut. Setelah itu diteliti pengaruh antara novel Memoirs of A Geisha dengan Kembang Jepun dan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam kedua novel tersebut, kemudian akan diambil kesimpulan bagi pembaca.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Subjek dan Objek Penelitian
1.    Subjek Penelitian
Sudaryanto (2003: 18) berpendapat bahwa subjek atau populasi dapat diartikan sebagai seluruh komunitas yang dijadikan subjek atau sasaran penelitian. Subjek penelitian ini adalah Memoirs of A Geisha karya Arthur Golden yang dialih bahasa oleh Liliana Srisanti yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2000 dan Kembang Jepun karya Remy Sylado yang juga diterbitkan oleh                         PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2003.

2.    Objek Penelitian
Objek atau sample penelitian adalah bagian dari suatu populasi yang akan diteliti (Sudaryanto, 2003: 18). Objek penelitian ini adalah hubungan intertekstual unsur peristiwa dan unsur perwatakan tokoh yang terdapat dalam Memoirs of A Geisha karya Arthur Golden yang dialih bahasa oleh Liliana Srisanti yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2000 dan Kembang Jepun karya Remy Sylado yang juga diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2003.            Di samping itu masih ada objek penelitian lain yaitu nilai pendidikan moral dan nilai pendidikan budaya yang terkandung dalam kedua novel tersebut.

B.    Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dan baca catat. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1.    Metode baca catat, yaitu peneliti membaca nilai-nilai referensi, kemudian mencatat dalam kartu data yang diberi kode-kode tertentu, agar tidak kesulitan mencarinya.
2.    Membaca dan memahmi kedua novel tersebut yang menjadi bahan penelitian dengan cermat dan teliti.
3.    Mengelompokkan data yang telah diperoleh berdasarkan jenis permasalahannya.
4.    Metode studi kepustakaan, yaitu mencari, merumuskan, dan menelaah buku yang dibaca sebagai sumber tertulis yang berkaitan dengan tema penelitian ini.

C.    Instrument Penelitian
Instrument penelitian adalah seperangkat alat yang digunakan untuk memperoleh data di dalam sebuah penelitian. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat tulis, komputer, dan kartu data. Kartu data yang digunakan untuk mencatat dan mengklasifikasikan hasil observasi yang meliputi tema, persamaan dan perbedaan penokohan, dan persamaan dan perbedaan latar atau setting.

D.    Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif-kualitatif-komparatif-interpretatif. Teknik ini digunakan karena dalam sastra sumber datanya adalah karya, naskah, dan data penelitiannya sebagai data formal adalah kata, kalimat, dan wacana (Ratna, 2004: 47). Data-data tersebut bersifat kualitatif yang akan dijelaskan secara deskriptif. Kemudian, peneliti membandingkan (komparatif) data-data tersebut dengan interpretasi sendiri dengan pendekatan intertekstual.

DAFTAR PUSTAKA

A. Evans, Margery. 1993. Baudelaire and Intertextuality. New York: Cambridge University Press.

Abrams, M.H. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt Rinehart and Winston.

Aminuddin. 1991. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru.

Culler, Jonathan. 1981. The Pursuit of Signs. London: Routledge & Kegan Paul.

Depdikbud. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya.

Eneste, Pamusuk. 2001. Buku Pintar Sastra Indonesia. Jakarta: Kompas.

Golden, Arthur. 2002. Memoirs of A Geisha. Jakarta: PT Gramedia Utama.

Hartoko, Dick dan B. Rahmanto. 1991. Pemandu di Dunia Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Luxemburg, Jan Van, dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.

Moleong, J. Lexy. 1991. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.

Pradopo, Rahmad D. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.

________________. 2003. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Stantan, Robert. 1965. An Introduction Of Picture. New York Hock: Renheme An Winstor.

Sudjiman, Panuti. 1984. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Gramedia.

_____________. 1991. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sunardjo, J dan Saini K.M. 1994. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

Sunardjo, Jakob. 1982. Novel Indonesia Mutakhir: Sebuah Kritik. Yogyakarta: C.V. Nur Cahaya.

Sylado, Remy. 2004. Kembang Jepun. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Teeuw A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra: Kumpulan Karangan. Jakarta: Gramedia.

______________. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan Terjemahan Melani B. Jakarta: Gramedia.

Zaidan, Abdul Rozak, dkk. 1996. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.

KAJIAN INTERTEKSTUAL DAN NILAI PENDIDIKAN ANTARA NOVEL MEMOIRS OF A GEISHA KARYA ARTHUR GOLDEN DENGAN NOVEL KEMBANG JEPUN KARYA REMY SYLADO

USULAN PENELITIAN TESIS
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Mencapai Derajat Magister

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia

Oleh :
Dra. Titiek Suyatmi
S840209128

PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009

KAJIAN INTERTEKSTUAL DAN NILAI PENDIDIKAN ANTARA NOVEL MEMOIRS OF A GEISHA KARYA ARTHUR GOLDEN DENGAN NOVEL KEMBANG JEPUN KARYA REMY SYLADO

Dra. Titiek Suyatmi
S840209128

Telah disetujui oleh Tim Pembimbing
Pada tanggal ………………………..

Pembimbing I

Prof. Dr. St. Y. Slamet, M.Pd.    Pembimbing II

Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd.

Mengetahui
Ketua Program Pendidikan Bahasa Indonesia

Prof. Dr. Herman J. Waluyo, M.Pd.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL         i
PENGESAHAN         ii
DAFTAR ISI         iii
ABSTRAK         v
BAB I     PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah         1
B.    Identifikasi Masalah         6
C.    Pembatasan Masalah         6
D.    Perumusan Masalah         7
E.    Tujuan Penelitian         7
F.    Manfaat Penelitian         8
BAB II    KAJIAN TEORI
A.    Kajian Intertekstual         9
B.    Hakikat Novel         12
C.    Unsur Peristiwa dalam Karya Sastra          13
D.    Unsur Perwatakan         14
BAB III    METODE PENELITIAN
A.    Subjek dan Objek Penelitian         16
B.    Metode Penelitian         17

BAB IV    PEMBAHASAN
A.    Sinopsis Novel Memoirs of A Geisha         18
B.    Sinopsis Novel Kembang Jepun         21
C.    Hasil Penelitian         23
D.    Pembahasan         30
BAB V    PENUTUP
A.    Kesimpulan         39
B.    Saran         39
DAFTAR PUSTAKA         40

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s