Kesantunan Berbahasa

Standar

KESANTUNAN BERBAHASA DALAM BERKOMUNIKASI
MENURUT PANDANGAN BROWN DAN LEVINSON

Oleh :
Titiek Suyatmi
Th. Sri Susetyo N.
Tri Yudowibowo

1.    Pendahuluan
Bahasa merupakan salah satu gejala sosial. Sebagai gejala sosial, bahasa dan pemakaian bahasa ditentukan oleh faktor linguistik dan nonlinguistik. Di antara faktor nonlinguistik itu adalah factor sosial, yang berupa status sosial, pendidikan, umur dan jenis kelamin. Oleh karena itu dalam kegiatan berbahasa, manusia atau seseorang tidak bisa terlepas dari nilai-nilai sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat sehingga dalam berkomunikasi dengan anggota masyarakat juga harus memperhatikan nilai-nilai itu.
Manusia dan nilai – termasuk di dalamnya etika dan agama merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia membutuhkan akan nilai sebagai landasan dalam melakukan kegiatan apa pun, tak terkecuali dalam berbahasa. Kegiatan berbahasa yang sesuai dengan tata nilai itulah yang disebut dengan berbahasa santun. Dalam hal ini pemilihan kata, bentuk kalimat, ragam bahasa, dan lain-lain menjadi suatu hal yang cukup penting (Suyono, 1990:59).


Secara teoritis, semua orang harus berbahasa secara santun. Setiap orang wajib menjaga etika dalam berkomunikasi agar tujuan komunikasi dapat tercapai. Bahasa dan hakekatnya digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi dengan anggota masyarakat. Ketika bahasa digunakan dalam berkomunikasi dengan anggota masyarakat perlu diperhatikan kaidah-kaidah berbahasa yang meliputi kaidah linguistik dan kaidah kesantunan agar tujuan berkomunikasi tercapai dengan baik.
Kaidah berbahasa secara linguistik yang dimaksud adalah antara lain digunakannya kaidah bunyiu, bentuk kata, struktur kalimat, tata makna secara benar agar komunikasi berjalan lancar. Paling tidak, jika kita tertib menggunakan kaidah linguistik dalam berkomunikasi, dijamin mitra tutur akan mudah  memahami apa yang dikomunikasikan oleh penutur. Di samping itu, perlu diperhatikan kaidah kesantunan berbahasa yaitu aturan-aturan yang harus ditaati untuk menjaga hubungan baik antara penutur dan  mitra tutur.
Namun, berdasarkan fakta, sekarang ini banyak ditemukan generasi muda termasuk di dalamnya para mahasiswa ketika berkomunikasi menggunakan bahasa (Indonesia) kurang memperhatikan prinsip kesantunan (politeness principle) atau etika dalam berbahasa. Akibatnya, komunikasi menjadi terganggu, karena salah satu pihak yang terlibat dalam komunikasi merasa tersinggung, direndahkan, diremehkan dan sebagainya. Misalnya, dalam kegiatan diskusi atau seminar sering kita temukan mahasiswa ketika mengajukan pertanyaan, memberi saran, memberi informasi, menyampaikan kritik menggunakan bahasa yang kurang santun.
Contoh :
(1)    Menurut aku, makalah ini amburadul, baik penulisannya, maupun isinya. Oleh karena itu, Saudara harus membaca Pedoman EYD dan membaca buku-buku acuan yang sesuai dengan topik makalah.

Tuturan (1) terasa kurang sopan, apabila diajukan kepada pemakalah yang memiliki usia, status sosial yang berbeda. Dalam tuturan itu penutur tidak memperhatikan siapa yang diajak bicara sehingga dengan seenaknya penutur memilih kata-kata yang termasuk kurang sopan atau  kasar seperti penggunaan kata aku, amburadul yang semestinya hanya digunakan dalam situasi nonformal dengan mitra tutur yang memiliki hubungan akrab dan tidak memperhatikan teknik penyampaian sehingga permintaan diungkapkan secara langsung dengan bentuk kaidah atau instruksi yang memberi kesan arogan. Tuturan ini akan lebih terasa santun dan akan menciptakan hubungan yang baik antara penutur dan mitra tutur apabila disampaikan seperti pada tuturan di bawah ini.
(1b) Menurut saya, makalah ini masih terdapat beberapa kesalahan mengenai penulisan dan isi yang tidak sesuai dengan topik. Oleh karena itu, Saudara/Bapak/Ibu dapat membaca Pedoman EYD dan membaca buku-buku acuan yang sesuai dengan topik makalah.
Contoh :
(2)    Ke kampus enggak hari ini? Saya dan teman-teman sudah nunggu mau minta bimbingan.

Tuturan di atas merupakan sms seorang mahasiswa kepada dosen pembimbingnya. Tuturan itu terasa kurang sopan seperti halnya tuturan (1) di atas. Si pengirim sms tidak memperhatikan siapa yang dikirimi sms itu sehingga bentuk kalimat, pilihan kata yang digunakan cenderung tidak formal/baku, seperti bentuk kalimat “Ke kampus enggak hari ini? Bentuk pertanyaan ini merupakan bentuk pertanyaan yang tidak lengkap unsurnya sehingga menimbulkan ketidakjelasan terhadap apa yang ditanyakan. Kalimat tanya itu akan lebih jelas dan lebih sopan apabila diungkapkan secara lengkap “Ibu hari ini ke kampus atau tidak? Pilihan kata enggak, nunggu, mau merupakan kata-kata gaul yang layak digunakan dalam situasi tidak formal.
Kedua contoh di atas, memberi sedikit gambaran kepada kita bahwa generasi sekarang kurang cermat dalam memilih kata, bentuk kalimat, dan kurang memperhatikan kesantunan berbahasa serta konteks yang selalu menyertai peristiwa bahasa. Masih banyak contoh-contoh penggunaan bahasa generasi muda yang menggunakan kata-kata kasar ketika mengumpat, mengkritik, menyindir, mengejek dan sebagainya. Fakta ini, yang mendorong kami untuk mengkaji masalah kesantunan berbahasa dalam komunikasi.

2.    Kesantunan Berbahasa Menurut Para Linguis
Kesantunan berbahasa dalam komunikasi, secara umum telah dikemukakan oleh Grice (1975:45-47) dalam prinsip kerja sama (cooperative principle). Grice mengidentifikasi bahwa komunikasi secara santun harus memenuhi prinsip kerja sama yang meliputi 4 aturan atau maksim. Maksim-maksim itu adalah (1) maksim kualitas (maxim of quality) yaitu maksim yang mewajibkan setiap orang yang terlibat dalam komunikasi ketika menyampaikan informasi harus mengatakan hal yang sebenarnya yang didukung oleh bukti-bukti, data yang konkret; (2) maksim kuantitas (maxim of quantity) yaitu maksim yang menghendaki setiap peserta pertuturan ketika berkomunikasi dengan orang lain harus memberikan kontribusi yang secukupnya sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh mitra tutur; (3) maksim relevansi (maxim of relevance) yaitu maksim yang menghendaki setiap peserta komunikasi harus memberi kontribusi yang relevan dengan masalah yang dibicarakan; (4) maksim pelaksanaan atau cara (maxim of manner) yaitu maksim yang mengharuskan setiap peserta komunikasi ketika berkomunikasi dengan orang lain di samping harus ada masalah yang dibicarakan juga harus memperhatikan cara penyampaian. Kadang-kadang ketika seseorang berkomunikasi, pokok masalah yang dibicarakan sebenarnya sangat bagus dan menarik, namun jika cara penyampaiannya berbelit-belit, menyinggung perasaan, terkesan menggurui, kata-kata yang digunakan terasa kasar atau cenderung melecehkan maka tujuan komunikasi dapat tidak tercapai. Dengan kata lain, ketika kita berkomunikasi harus secara langsung, jelasa, tidak kabur, tidak ambigu, tidak berlebihan dan disampaikan secara runtut.
Kesantunan dalam berkomunikasi ada hubungannya dengan tindak tutur yang dikemukakan oleh Austin (1978). Austin melihat bahwa setiap ujaran dalam tindak komunikasi selalu mengandung tiga unsur yaitu tindak lokusi (locutionary act), illokusi (illocutionary act), dan perlokusi (perlocutionary act). Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu berupa ujaran yang dihasilkan oleh seorang penutur. Tindak tutur illokusi adalah tindak tutur yang digunakan untuk  melakukan sesuatu, berupa maksud yang terkandung dalam ujaran, sedangkan tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang dapat memberi efek bagi mitra tutur untuk melakukan sesuatu atau berupa efek yang ditimbulkan oleh ujaran. Contoh: “Anda merokok? Tindak lokusinya adalah “kalimat tanya”, tindak illokusinya dapat berupa permintaan, larangan, tawaran, sedangkan perlokusinya tindakan pemberian, penghentian, sekedar jawaban dan penerimaan atau penolakan sesuai dengan situasinya.
Leech (1983) dalam bukunya Principle of Pragmatics mencoba melengkapi teori Grice tentang prinsip kerja sama. Leech menyatakan bahwa dalam berkomunikasi tidaklah cukup jika hanya memperhatikan prinsip kerja sama tetapi harus juga memperhatikan prinsip kesopanan/kesantunan (politeness principle) yang meliputi 6 maksim : (1) maksim kebijaksanaan / timbang rasa (tact maxim), yaitu aturan atau maksim yang menggariskan setiap peserta komunikasi harus berusaha meminimalkan keraguan orang lain, atau memaksimalkan keuntungan orang lain; (2) maksim penerimaan/ kedermawanan (generosity maksim), yaitu maksim yang mewajibkan setiap peserta komunikasi memaksimalkan keraguan pada diri sendiri dan meminimalkan keuntungan pada diri sendiri; (3) maksim kemurahan/pujian/ penghargaan (praise maxim) yaitu yang menuntut setiap peserta komunikasi untuk memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain; (4) maksim kerendahan hati (modesty maxim) yaitu maksim yang menuntut setiap peserta komunikasi untuk memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri dan meminimalkan hormat pada diri sendiri; (5) maksim kecocokan/kesetujuan (agreement maxim) yaitu maksim yang menuntut setiap peserta komunikasi memaksimalkan kecocokan/kesetujuan terhadap orang lain dan meminimalkan ketidakcocokan/ketidaksetujuan pada orang lain; (6) maksim kesimpatisan (sympathy maxim) yaitu maksim yang menuntut setiap peserta komunikasi untuk memaksimalkan rasa simpati dan meminimalkan rasa antipati.
Prinsip kesantunan Leech ini oleh bebrapa ahli pragmatik dipandang sebagai usaha “menyelamatkan muka Grice karena prinsip kesantunan Grice sering tidak dipatuhi daripada diikuti dalam praktek penggunaan bahasa yang sebenarnya”. (Thomas, 1995:15). Pernyataan itu senada dengan apa yang diungkapkan oleh Asim (1992:184) bahwa prinsip kerja sama Grice di dalam komunikasi yang sebenarnya sering dilanggar orang karena di dalam berkomunikasi kebutuhan dan tugas penutur bukanlah untuk menyampaikan informasi saja tetapi lebih dari itu. Jika tujuan berkomunikasi itu hanya untuk menyampaikan informasi semata, maka strategi yang paling baik diambil adalah yang menjamin “kejelasan pragmatik” yang paling tinggi yaitu dengan cara mematuhi maksim-maksim Grice sepenuhnya. Akan tetapi tidak seperti itulah kenyataan dalam komunikasi. Di samping menyampaikan amanat, kebutuhan dan tugas penutur adalah menjaga dan memelihara hubungan social antara penutur-mitra tutur.
Secara singkat Leech (1983:81) menyatakan bahwa suatu tuturan dikatakan santun bila dapat meminimalkan pengungkapkan pendapat yang tidak santun. Grice (2000:362) merumuskan kembali anggapan tersebut menjadi pilihlah ungkapkan yang tidak meremehkan status mitra tutur. Maksudnya, dalam bertutur atau berkomunikasi kita perlu demi kesantunan memilih ungkapan yang paling kecil kemungkinannya menyebabkan mitra tutur kehilangan muka. Oleh karena itu, demi kesantunan, menurut (Grice dalam Pranowo, 2008:6) penutur harus dapat memperlakukan mitra tutur sebagai berikut.
a.    Jangan memperlakukan mitra tutur sebagai orang yang tunduk kepada penutur. Jangan sampai mitra tutur mengeluarkan “biaya” (biaya sosial, fisik, psikologis, dan sebagainya) atau agar kebebasannya menjadi terbatas.
b.    Jangan mengatakan hal-hal yang kurang baik mengenai diri mitra tutur atau orang atau barang yang ada kaitannya dengan  mitra tutur.
c.    Jangan mengungkapkan rasa senang atas kemalangan mitra tutur.

3.    Kesantunan Berbahasa Menurut Pandangan Brown dan Levinson
Dalam model kesantunan Brown and Levinson (1987:60) terdapat tiga parameter atau skala penentu tinggi rendahnya peringkat kesantunan sebuah tuturan. Ketiga skala tersebut ditentukan secara konstektual, sosial, dan kultural yang selengkapnya mencakup skala-skala berikut:
a.    Skala peringkat jarak sosial antara penutur dan mitra tutur (social distance between speaker and hearer) banyak ditentukan oleh parameter perbedaan umur, jenis kelamin, dan latar belakang sosialkultural.
b.    Skala peringkat status sosial antara penutur dan mitra tutur (the speaker and hearer relative power) atau seringkali disebut dengan peringkat kekuasaan (power rating) didasarkan pada kedudukan asimetrik antara penutur dan mitra tutur.
c.    Skala peringkat tindak tutur atau sering pula disebut dengan rank rating atau lengkapnya adalah the degree of imposition associated with the required expenditure of goods or services didasarkan atas kedudukan relative tindak tutur yang satu dengan tindak tutur lainnya.
Baik kesantunan yang mendasarkan pada maksim percakapan maupun pandangan kesantunan yang mendasarkan pada konsep penyelamatan muka, keduanya dapat dikatakan memiliki kesejajaran. Kesejajaran itu tampak dalam hal penentuan tindakan yang sifatnya tidak santun atau tindakan yang mengancam muka dan tindakan santun atau tindakan yang tidak mengancam muka.
Brown dan Levinson (1987:61) membuktikan bahwa kesantunan berkaitan dengan nosi “wajah negative” dan “wajah positif”. Wajah negative terjadi manakala pendengar merasa “kehilangan muka” ketika mendengar tuturan, pembicara dapat merasa “terhina” dan “kehilangan harga diri”. Sementara itu wajah positif merupakan dambaan setiap orang yang terlibat dalam komunikasi. Brown dan Levinson mengemukakan bahwa setiap orang ingin agar apa yang dilakukan, apa yang dimiliki, nilai-nilai yang diyakini dihargai oleh orang lain sebagai suatu yang baik, menyenangkan, patut dihargai, menguntungkan dan sebagainya. Dengan demikian, kesantunan selalu berkaitan dengan kepentingan pokok pendengar dalam tuturan.
Dengan demikian, ada dua tipe muka yaitu muka negative dan muka positif. Muka negative adalah keinginan individu agar setiap keinginannya tidak dihalangi oleh pihak lain, sedangkan wajah positif adalah keinginan setiap penutur agar dia dapat diterima atau disenangi oleh pihak lain. Dikatakan oleh Brwon dan Levinson (1987:65067) bahwa konsep tentang muka ini bersifat universal, dan secara ilmiah terdapat berbagai tuturan yang cenderung merupakan tindakan yang tidak menyenangkan yang disebut Face Threatening Acts ‘Tindakan yang mengancam muka’ dan disingkat menjadi FTA. ‘
Tindakan yang mengancam muka dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu tindakan yang mengancam muka positif lawan tutur, dan tindakan yang menganam muka negative lawan tutur. Berikut ini rangkuman contoh-contoh tindakan yang pada tingkat tertentu melanggar muka  negative dan muka positif lawan tutur dari Brown dan Levinson (1987:62).
Tindakan yang melanggar muka negative meliputi tindakan yang terkandung dalam:
a.    Ungkapan mengenai: perintah dan permintaan, saran, nasihat, peringatan, ancaman, peringatan, tantangan.
b.    Ungkapan mengenai: tawaran janji.
c.    Ungkapan mengenai: pujian, ungkapan perasaan negative yang kuat seperti kebencian dan kemarahan terhadap lawan tutur.
Tindakan yang mengancam muka positif lawan tutur meliputi:
a.    Ungkapan mengenai: kritik, tindakan merendahkan atau yang mempermalukan, keluhan, kemarahan, dakwaan, penghinaan.
b.    Ungkapan mengenai: pertentangan, ketidaksetujuan atau tantangan.
c.    Ungkapan mengenai: emosi yang tidak terkontrol yang membuat lawan tutur merasa dibuat takut atau dipermalukan.
d.    Ungkapan mengenai: ungkapan yang tidak sopan, penyebutan hal-hal yang bersifat tabu ataupun yang tidak selayaknya dalam suatu situasi, yaitu penutur menunjukkan bahwa penutur tidak menghargai nilai-nilai lawan tutur dan juga tidak mau mengindahkan hal-hal yang ditakuti oleh lawan tutur.
e.    Ungkapan mengenai: ungkapan kabar buruk mengenai lawan tutur, atau menyombongkan berita baik, yaitu yang menunjukkan bahwa penutur tidak segan-segan menunjukkan hal-hal yang kurang menyenangkan lawan tutur, dan tidak begitu memperdulikan perasaan lawan tutur.
f.    Ungkapan mengenai: ungkapan tentang hal-hal yang membahayakan serta topic yang bersifat memecah belah pendapat, seperti masalah politik, ras, agama, pembebasan wanita. Dalam hal ini penutur menciptakan suatu suasana yang dapat atau mempunyai potensi untuk mengancam muka lawan tutur yaitu penutur membuat suatu atmosfir yang berbahaya terhadap muka lawan tutur.
g.    Ungkapan mengenai: ungkapan yang tidak kooperatif dari penutur terhadap lawan tutur, yaitu penutur menyela pembicaraan lawan tutur, menyatakan hal-hal yang tidak gayut serta tidak menunjukkan kepedulian (penutur menunjukkan bahwa dia tidak mempedulikan keinginan muka negative maupun muka positif lawan tuturnya).
h.    Ungkapan  mengenai: ungkapan-ungkapan mengenai sebutan ataupun hal-hal yang menunjukkan status lawan tutur pada perjumpaan pertama. Dalam situai ini mungkin penutur membuat identifikasi yang keliru mengenai lawan tutur.
Setiap penutur pasti akan berusaha untuk berbicara dengan sopan. Brown dan Levinson (1987:42) mengatakan bahwa setiap penutur sebelum membuat suatu tuturan harus membuat keputusan apakah tuturannya akan melukai perasaan lawan tuturnya atau tidak. Seandainya tidak, maka penutur tersebut akan terus menyampaikan tuturannya tanpa keraguan. Namun, apabila tuturannya bersifat melanggar muka lawan tutur atau face threatening acts maka penutur harus berusaha untuk bertutur secara sopan. Seandainya penutur melanggar muka positif lawan tutur yaitu melanggar keinginan lawan tutur untuk diterima dan diakui segala citra baik dirinya, maka strategi kesopanan positif yang harus digunakan oleh penutur. Seadainya penutur akan melanggar muka negative lawan tutur, yaitu  melanggar keinginan lawan tutur untuk tidak digangugng atau dikurangi hak-hak dirinya, maka penutur harus menggunakan strategi kesopanan negative.
Untuk mengurangi kekecewaan lawan tutur, Brown dan Levinson (1987:103) menawarkan strategi-strategi berikut untuk tindakan yang melanggar wajah positif lawan tutur:
Strategy 1: memperhatikan minat, keinginan, kelakuan, barang-barang lawan tutur.
Penggunaan strategi ini misalnya penutur memperhatikan  kondisi lawan tutur yang meliputi perubahan-perubahan secara fisik, kepemilikan barang-barang tertentu dan lain-lain. Beberapa contoh tuturan yang merupakan realisasi strategi ini adalah:

a.    Strategy 1: memberikan perhatian khusus kepada lawan tutur. Misalnya:
“Wah, baru saja potong rambut ya….. Omong-omong saya datang untuk meminjam sedikit tepung terigu”.
b.    Strategy 2: melebihkan rasa ketertarikan, persetujuan, simpati terhadap lawan tutur. Tuturan yang melebih-lebihkan perasaan tertarik penutur pada lawan tutur, misalnya terdapat pada tuturan berikut:
“Kebun Anda betul-betul luar biasa bagusnya”.
c.    Strategy 3: meningkatkan rasa tertarik terhadap lawan tutur
Misalnya pada suatu interaksi, penutur suka menyelipkan sisipan ungkapan dan juga pertanyaan-pertanyaan yang tujuannya hanya membuat lawan tutur lebih terlibat pada interaksi tersebut, misalnya.
“Anda tahu kan”
“Tahu maksud saya kan?”
“Betul kan?’
d.    Strategy 4: menggunakan penanda yang menunjukkan kesaman jati diri atau  kelompok, misalnya pada tuturan:
“Bantu saya membawa tas ini ya nak?”
penggunaan sebutan nak dan lain-lainnya berfungsi untuk memperlunak daya imperative tuturan penutur kepada lawan tutur, dan sekaligus membuat kedekatan hubungan antara penutur dengan lawan tutur.
e.    Strategy 5: mencari dan mengusahakan persetujuan dengan lawan tutur
Contoh penggunaan strategi ini adalah penutur mengulang sebagian tuturan lawan tutur untuk menunjukkan bahwa penutur menyetujui dan mengikuti informasi apa saja yang dituturkan oleh lawan tutur seperti dalam dialog berikut:
A    :    “Dalam perjalanan pulang ban saya kemps”.
B    :    “Masya Allah, bannya kemps!”
f.    Strategy 6: menghindari pertentangan dengan lawan tutur
Dalam penggunaan strategi ini, penutur berusaha menghindari ketidaksetujuannya dengan tututran lawan tutur, seperti dalam percakapan berikut:
A    :    “Bagaimanakah dia, badannya kecil?”
B    :    “Ya, memang kecil, tapi sebenarnya tidak terlalu kecil dan tidak juga terlalu besar”
g.    Strategy 7:  mempresuposisikan atau menimbulkan persepsi sejumlah persamaan penutur dan lawan tutur, seperti dalam percakapan berikut:
A    :    “Oh luka ini sakit sekali, ma”
B    :    “Ya sayang, memang sakit sekali, saya tahu”
h.    Strategy 8: membuat lelucon, misalnya pada ungkapan:
“Tidak masalah kan, kalau kue itu saya habisi saja?”
i.    Strategy 9: mempresuposisikan atau membuat persepsi bahwa penutur memahami keinginan lawan tuturnya.
Contoh realisasi dari strategi ini adalah pada tuturan:
“Ya, saya tahu kamu tidak suka pesta, tetapi pesta ini betul-betul baik. Datanglah!”
j.    Strategy 10: membuat penawaran dan janji
Strategi ini cukup sering dipakai dalam interaksi, misalnya pada contoh berikut:
“Saya akan singgah kapan-kapan minggu depan”.
k.    Strategy 11: menunjukkan rasa optimisme, seperti pada tuturan berikut:
“Anda pasti dapat meminjamkan mesin pemotong rumput akhir pekan ini”.
l.    Strategy 12: berusaha melibatkan lawan tutur dan penutur dalam suatu  kegiatan tertentu. Bisa kan?
Contoh penggunaan strategi ini adalah tuturan yang melibatkan baik penutur maupun lawan tutur, dengan memakai “mau”, misalnya:
“Kalau begitu, mari makan kue”
“Mari berhenti untuk makan”
“Kami perlu istirahat”
m.    Strategy 13: memberikan dan meminta alasan, contohnya:
“Bagaimana kalau kau pinjami aku vila akhir pekan ini?”
“Bagaimana kalau kita pergi ke pantai saja?”
“Bagaimana kalau saya bantu membawa koper Anda?”
n.    Strategy 14: menawarkan suatu tindakan timbale balik, yaitu kalau lawan tutur melakukan X maka penutur akan melakukan Y, contoh:
“Saya akan meminjamkan buku novel saya kalau Anda meminjami saya artikel Anda”.
o.    Strategy 15: memberi rasa simpati kepada lawan tutur, seperti pada tuturan:
“Kalau ada yang dapat saya lakukan untuk Anda, mohon saya diberitahu”

Sebagaimana disebut di atas, kesopanan diklasifikasikan menjadi kesopanan positif yang melanggar muka positif lawan tutur, dan kesopanan negative yang  melanggar muka negative lawan tutur. Terkait dengan itu, di samping positive politeness strategy, strategi kesopanan positif” di atas Brown dan Levinson (1987) juga mengajukan sejumlah strategi kesopnan negative “negative politeness strategies” untuk mengurangi pelanggaran terhadap muka negative lawa tutur sebagai berikut:
a.    Strategy 1: ungkapan secara tidak langsung sesuai konvensi, seperti membuat perintah dengan:
“Tolong pintunya ditutup”
“Tolong ambilkan garamnya”
b.    Strategy 2: gunakan bentuk pertanyaan dengan partikel tertentu, seperti pada tuturan:
“Menakjubkan, bukan?”
“Saya minta tolong, bisa kan?”
“Apabila kita sudah siap, saya nyatakan rapat secara resmi dibuka”
c.    Strategy 3: lakukan secara hati-hati dan jangan terlalu optimistic”, misalnya:
“Mungkin Anda dapat membantu saya”
“Apakah Anda kebetulan mempunyai amplop dari kertas manila?”
“Apakah Anda dapat melompati pagar setinggi lima kaki itu?’
d.    Strategy 4: kurangi kekuatan atau daya ancaman terhadap muka lawan tutur, contohnya:
“Saya hanya ingin meminjam kertas selembar saja”
“Bolehkah saya mencicipi kue itu sedikit saja?’
e.    Strategy 5: beri penghormatan, contohnya:
“Maaf, pak, apakah Bapak keberatan kalau saya menutup jendela?’
“Bapak Presiden, kalau saja saya tahu Bapak sedang mencoba melindungi seseorang, saya pasti akan meninggalkan ruangan ini”
Atau pada dialog di bawah ini:
A    :    “Mau sepotong sandwich?”
B    :    “Ya, pak”
f.    Strategy 6: gunakan permohonan maaf, contohnya:
“Saya yakin Anda sedang sibuk tetapi….”
“Saya berharap hal ini tidak terlalu mengganggu Anda, tetapi….”
“Maafkan saya, tetapi…..”
“Saya malu harus mengakuinya tetapi…..”
“Saya minta maaf, tetapi…..”
“Maaf mengganggu Anda, tetapi…..”
g.    Strategy 7: jangan menyebutkan penutur dan lawan tutur, contohnya:
“Hal ini memang…..”
“Mohon kerjakan ini untuk saya”
“Tolong keluarkan barang itu”
“Sangat disesalkan bahwa …..”
“Sangat diharapkan bahwa …..”
“Akan sangat dihargai seandainya …..”
“Maaf mengganggu Anda tetapi Bapak Rektor berkata kepada saya, “Pak Jones kalau saya jadi Anda saya akan menemui Pak Dekan”
h.    Strategy 8: nyatakan tindakan mengancam wajah sebagai suatu ketentuan sosial yang umum berlaku, contohnya :
“Para penumpang dimohon tindak menyiram toilet dalam kereta ini”
“Peraturan internasional mengharuskan rangka pesawat disemprot dengan DDT”
“Komisi meminta presiden…..”
“Johny, kita tidak duduk di meja, kita duduk di kursi”
“Maaf, mereka yang terlambat tidak dapat kami layani sampai periode berikutnya”
i.    Strategy 9: nominalkan pernyataan, contohnya:
“Prestasi Anda dalam ujian sangat mengesankan kami”
j.    Strategy 10: nyatakan secara jelas bahwa penutur telah memberikan kebaikan (hutang) atau tidak kepada lawan tutur, contohnya:
“Saya selamanya akan berterima kasih seandainya Anda…..”
“Saya tidak akan pernah dapat membayar kebaikan Anda seandainya Anda….”
“Saya dapat mengerjakan hal ini dengan mudah untuk Anda…..”
(Nadar, 2009: 45-50).

4.    Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesantunan berbahasa dalam berkomunikasi menurut pandangan Brown dan Levinson adalah: (1) kesantunan penutur tergantung pada seberapa besar pengaruh penutur terhadap mitra tuturnya; (2) kesantunan penutur tergantung pada jarak sosial antara penutur dan mitra tuturnya; (3) kesantunan penutur tergantung pada seberapa besar keharusan melaksanakan permintaan mitra tutur.

DAFTAR PUSTAKA

Brown P dan Levinson, SC. 1987. Politeness some Universals in Language Usage. Cambridge: Cambridge University Press.

Imam Baehaqie. 2008. “Pembelajaran Kesantunan Konstruktif: Upaya Merekonstruksi Akhlak Bangsa Melalui Pendidikan Bangsa” dalam Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Grice, HP. 1975. “Logic and Conversation” dalam Cole: P & jl Morgan. 1975. Syntax Anda Semantic Vol. 3: Speech Acts. New York: Academic Press.

Leech, G. 1983. Principle of Pragmatic. London: Longman.

Levinson, Stephen, C. 1983. Pragmatic. Cambridge: Cambridge University Press.

Nadar, FX. 2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Pranowo. 2008. “Kesantunan Berbahasa Indonesia sebagai Pembentuk Kepribadian Bangsa”. Makalah Kongres IX Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa & Depdiknas.

Suyono. 1990. Pragmatik Dasar-Dasar dan Pengajarannya. Malang: YA3 Malang.

Thomas, Jenny. 1995. Meaning in Interection: An Introduction to Pragmatics. London: Longman.

KESANTUNAN BERBAHASA DALAM BERKOMUNIKASI
MENURUT PANDANGAN BROWN DAN LEVINSON

Sebagai Syarat Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Pragmatik dan Keterampilan Berbahasa
Dosen Pengampu :  Dr. Nugraheni Eko Wardani, M.Hum.

Oleh :

Titiek Suyatmi
Th. Sri Susetyo N.
Tri Yudowibowo

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s