Konsep Dasar Emosi

Standar

0
MAKALAH PSIKOLOGI
KONSEP DASAR EMOSI
Makalah ini dibuat untuk melengkapi tugas mata kuliah
Ilmu Budaya Dasar
Dosen : ACHIRUDDIN AKIEL S.Pd.
Disusun oleh :
AMAL JAMALUDIN 200846500087 (Kelas O)
PROGRAM STUDI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS INDRAPRASTA (UNINDRA) PGRI
JAKARTA
2009
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pertumbuhan dan perkembangan emosi, seperti juga pada tingkah
laku lainnya, ditentukan oleh proses pematangan dan proses belajar.
Seorang bayi yang baru lahir sudah dapat menangis, tetapi ia hampir
mencapai tingkat kematangan tertentu sebelum ia dapat tertawa. Kalau anak
itu sudah lebih besar, maka ia akan belajar bahwa menangis dan tertawa
dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu pada situasi-situasi tertentu.
Pada bayi yang baru lahir, satu-satunya emosi yang nyata adalah kegelisahan
yang nampak sebagai ketidaksenangan dalam baru menangis dan meronta.
Pada umumnya perbuatan kita sehari-hari disertai oleh perasaanperasaan
tertentu, yaitu perasaan senang atau perasaan tidak senang.
Perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai/perbuatan-perbuatan
kita sehari-hari itu disebut Warna Efektif. Warna efektif ini kadang-kadang
kuat, kadang-kadang lemah atau samar-samar saja.


Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan
tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kualitatif yang tidak
jelas batasnya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan
sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi. Jadi, sukar sekali
kita mendefinisikan emosi. Oleh karena itu, yang dimaksudkan dengan emosi
di sini bukan terbatas pada emosi atau perasaan saja, tetapi meliputi setiap
keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna efektif, baik pada
tingkat yang lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang (mendalam).
Dengan begitu diperlukan pembahasan mengenai teori-teori emosi
yang dapat mendukung dalam pengkajian tentang konsep emosi itu sendiri
dari berbagai sudut pandang para tokoh dan ilmuwan, salah satunya teori
emosi yang di kemukakan oleh James-Lange pada makalah ini.
2
B. SASARAN DAN TUJUAN MASALAH
Penyusunan makalah ini memiliki beberapa tujuan dan sasaran.
Sasaran dari penyusunan makalah ini adalah praktisi pendidikan khususnya
bagi praktisi pendidikan luar biasa.
Sedangkan tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain :
1. Mengetahui teori emosi yang dikemukakan oleh James-Lange.
2. Berusaha mengupas dan membuka wawasan mengenai konsep emosi yang
berkaitan dengan pendidikan.
3. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah hambatan Emosi.
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR EMOSI
1. Definisi emosi
Pada umumnya perbuatan kita sehari-hari disertai oleh perasaanperasaan
tertentu, yaitu perasaan senang atau perasaan tidak senang.
Perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatanperbuatan
kita sehari-hari itu disebut warna efektif. Warna efektif ini
kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah atau samar-samar saja.
Emosi adalah sebagai sesuatu suasana yang kompleks (a complex feeling
state) dan getaran jiwa ( a strid up state ) yang menyertai atau munculnya
sebelum dan sesudah terjadinya perilaku. (Syamsudin, 2005:114).
Sedangkan menurut Crow & crow (1958) (dalam Sunarto, 2002:149)
emosi adalah “An emotion, is an affective experience that accompanies
generalized inner adjustment and mental physiological stirred up states in
the individual, and that shows it self in his overt behavior.”
Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan
dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kualitatif
yang tidak jelas batasnya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif
dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai
emosi. Jadi, sukar sekali kita mendefinisikan emosi. Oleh karena itu, yang
dimaksudkan dengan emosi di sini bukan terbatas pada emosi atau
perasaan saja, tetapi meliputi setiap keadaan pada diri seseorang yang
disertai dengan warna efektif, baik pada tingkat yang lemah (dangkal)
maupun pada tingkat yang (mendalam).
Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian
dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud
suatu tingkah laku yang tampak. Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis
mengandung ciri–ciri sebagai berikut :
4
a. Lebih bersifat subyektif daripada peristiwa psikologis lainnya, seperti
pengamatan dan berpikir.
b. Bersifat fluktuatif ( tidak tetap ).
c. Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera.
Mengenai ciri – ciri emosi ini dapat dibedakan antara emosi anak dan
emosi pada orang dewasa sebagai berikut :
EMOSI ANAK EMOSI ORANG DEWASA
1. Berlangsung singkat dan
berakhir tiba-tiba
1. Berlangsung lebih lama dan berakhir
dengan lambat
2. Terlihat lebih hebat dan kuat 2. Tidak terlihat hebat/kuat
3. Bersifat sementara/dangkal 3. Lebih
4. Lebih sering terjadi 4. Jarang terjadi
5. Dapat diketahui dengan jelas
dari tingkah lakunya
5. Sulit diketahui karena lebih pandai
menyembunyikannya
2. Penggolongan Emosi
Membedakan satu emosi dari emosi lainnya dan menggolongkan
emosi-emosi yang sejenis ke dalam satu golongan atau satu tipe adalah
sangat sukar dilakukan karena hal-hal yang berikut ini:
a. Emosi yang sangat mendalam (misalnya sangat marah atau sangat
takut) menyebabkan aktivitas badan yang sangat tinggi, sehingga
seluruh tubuh diaktifkan, dan dalam keadaan seperti ini sukar untuk
menentukan apakah seseorang sedang takut atau sedang marah.
b. Satu orang dapat menghayati satu macam emosi dengan berbagai cara.
Misalnya, kalau marah ia mungkin gemetar di tempat, tetapi lain kali
mungkin ia memaki-maki, dan lain kali lagi ia mungkin lari.
c. Nama yang umumnya diberikan kepada berbagai jenis emosi biasanya
didasarkan pada sifat rangsangnya bukan pada keadaan emosinya
sendiri. Jadi, “takut” adalah emosi yang timbul terhadap suatu
5
bahaya, “marah” dalah emosi yang timbul terhadap sesuatu yang
menjengkelkan.
d. Pengenalan emosi secara subyektif dan introspektif, juga sukar
dilakukan karena selalu saja akan ada pengaruh dari lingkungan.
3. Pertumbuhan Emosi
Pertumbuhan dan perkembangan emosi, seperti juga pada
tingkah laku lainnya, ditentukan oleh proses pematangan dan proses
belajar. Seorang bayi yang baru lahir sudah dapat menangis, tetapi ia
hampir mencapai tingkat kematangan tertentu sebelum ia dapat tertawa.
Kalau anak itu sudah lebih besar, maka ia akan belajar bahwa menangis
dan tertawa dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu pada situasisituasi
tertentu.
Pada bayi yang baru lahir, satu-satunya emosi yang nyata adalah
kegelisahan yang nampak sebagai ketidaksenangan dalam bentuk
menangis dan meronta.
Pengaruh kebudayaan besar sekali terhadap perkembangan
emosi, karena dalam tiap-tiap kebudayaan diajarkan cara menyatakan
emosi yang konvensional dan khas dalam kebudayaan yang bersangkutan,
sehingga ekspresi emosi tersebut dapat dimengerti oleh orang-orang lain
dalam kebudayaan yang sama. Klineberg pada tahun 1938 menyelidiki
literatur-literatur Cina dan mendapatkan berbagai bentuk ekspresi emosi
yang berbeda dengan cara-cara yang ada di dunia Barat. Ekspresi-ekspresi
itu antara lain :
a. Menjulurkan lidah kalau keheranan.
b. Bertepuk tangan kalau kuatir.
c. Menggaruk kuping dan pipi kalau bahagia.
Yang juga dipelajari dalam perkembangan emosi adalah obyek –
obyek dan situasi-situasi yang menjadi sumber emosi. Seorang anak yang
6
tidak pernah ditakut-takuti di tempat gelap, tidak akan takut pada tempat
gelap.
Warna efektif pada seseorang mempengaruhi pula pandangan
orang tersebut terhadap obyek atau situasi di sekelilingnya. Ia dapat suka
atau tidak menyukai sesuatu, misalnya ia suka kopi, tetapi tidak suka teh.
Ini disebut preferensi dan merupakan bentuk yang paling ringan daripada
pengaruh emosi terhadap pandangan seseorang mengenai situasi atau
obyek di lingkungannya. Dalam bentuknya yang lebih lanjut, preferensi
dapat menjadi sikap, yaitu kecenderungan untuk bereaksi secara tertentu
terhadap hal-hal tertentu.
Sikap pada seseorang, setelah beberapa waktu, dapat menetap
dan sukar untuk diubah lagi, dan menjadi prasangka. Prasangka ini sangat
besar pengaruhnya terhadap tingkah laku, karena ia akan mewarnai tiaptiap
perbuatan yang berhubungan dengan sesuatu hal, sebelum hal itu
sendiri muncul di hadapan orang yang bersangkutan.
Sikap yang disertai dengan emosi yang berlebih-lebihan disebut
kompleks, misalnya kompleks rendah diri, yaitu sikap negatif terhadap
diri sendiri yang disertai perasaan malu, takut, tidak berdaya, segan
bertemu orang lain dan sebagainya.
Ada beberapa contoh pengaruh emosi terhadap perilaku individu
diantaranya :
a. Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas
hasil yang telah dicapai.
b. Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan
dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa
(frustasi).
7
c. Menghambat atau mengganggu konsentrsi belajar, apabila sedang
mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup
(nervou ) dan gagap dalam berbicara.
d. Terganggu penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri
hati.
e. suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa
kecilnya akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari, baik terhadap
dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.
JENIS EMOSI PERUBAHAN FISIK
1 Terpesona 1 Reaksi elektris pada kuit
2 Marah 2 Peredaran darah bertambah cepat
3 Terkejut 3 Denyut janutng bertambah cepat
4 Kecewa 4 Bernafas Panjang
5 Sakit / Marah 5 Pupil mata membesar
6 Takut / Tegang 6 Air liur mengering
7 Takut 7 Bulu roma berdiri
8 Tegang 8 Pencernaan terganggu, otot-otot
menegang atau bergetar (tremor)
Takut
Takut adalah perasaan yang mendorong individu untuk menjauhi sesuatu
dan sedapat mungkin menghindari kontak dengan hal itu. Bentuk ekstrim dari
takut adalah takut yang pathologis yang disebut phobia. Phobia adalah perasaan
takut terhadap hal-hal tertentu yang demikian kuatnya, meskipun tidak ada alasan
yang nyata, misalnya takut terhadap tempat yang sempit dan tertutup
(claustrophobia), takut terhadap ketinggian atau takut berada di tempat – tempat
yang tinggi (acrophobia), takut terhadap kerumunan orang, takut tempat -tempat
ramai (ochlophobia).
8
Rasa takut lain yang merupakan kelainan kejiwaan adalah kecemasan
(anxiety) yaitu rasa takut yang tak jelas sasarannya dan juga tidak jelas alasannya.
Kecemasan yang terus menerus biasanya terdapat pada penderita-penderita
Psikoneurosis.
Khawatir
Kuatir atau was-was adalah rasa takut yang tidak mempunyai obyek yang
jelas atau tidak ada obyeknya sama sekali. Kekuatiran menyebabkan rasa tidak
senang, gelisah, tegang, tidak tenang, tidak aman. Kekuatiran seseorang untuk
melanggar norma masyarakat adalah salah satu bentuk kekuatiran yang umum
terdapat pada tiap-tiap orang dan kekuatiran ini justru positif karena dengan
demikian orang selalu bersikap hati-hati dan berusaha menyesuaikan diri dengan
norma masyarakat.
Cemburu
Kecemburuan adalah bentuk khusus dan kekuatiran yang didasari oleh
kurang adanya keyakinan terhadap diri sendiri dan ketakutan akan kehilangan
kasih sayang dari seseorang. Seorang yang cemburu selalu mempunyai sikap
benci terhadap saingannya.
Gembira
Gembira adalah ekspresi dari kelegaan, yaitu perasaan terbebas dari
ketegangan. Biasanya kegembiraan disebabkan oleh hal-hal yang bersifat tiba-tiba
(surprise) dan kegembiraan biasanya bersifat spesial, yaitu melibatkan orangorang
lain di sekitar orang yang sedang gembira tersebut.
Marah
Sumber utama dari kemarahan adalah hal-hal yang mengganggu aktivitas
untuk sampai pada tujuannya. Dengan demikian, ketegangan yang terjadi dalam
9
aktivitas itu tidak mereda, bahkan bertambah. Untuk menyalurkan keteganganketegangan
itu individu yang bersangkutan menjadi marah.
Motif
Motif, atau dalam bahasa Inggris-nya ‘”motive”, berasal dari kata
”motion”, yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Jadi istilah motif, pun.
erat hubungannya dengan “gerak”, yaitu dalam hal ini gerakan yang dilakukan
oleh manusia atau disebut juga per-buatan atau tingkah laku. Motif dalam
psikologi berarti rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya
suatu tingkah-laku.
Di samping istilah “motif”, dikenal pula dalam psikologi istilah motivasi.
Motivasi merupakan istilah yang lebih umum, yang menunjuk kepada seluruh
proses gerakan itu, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul
dalam diri individu, tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan
atau akhir daripada gerakan atau perbuatan.
Ada beberapa pendapat mengenai apa sebenarnya motif itu. Salah satu
pendapat mengatakan bahwa motif itu merupakan energi dasar yang terdapat
dalam diri seseorang. Sigmund Freud adalah salah seorang sarjana yang
berpendapat demikian. Tiap tingkah laku, menurut Freud didorong oleh suatu
energi dasar yang disebut instink-instink ini oleh Freud dibagi dua :
a. Instink kehidupan atau instink seksual atau libido, yaitu dorongan untuk
mempertahankan hidup dan mengembangkan keturunan.
b. Instink yang mendorong perbuatan-perbuatan agresif atau yang menjurus
kepada kematian.
10
Tokoh-tokoh lain yang juga mengakui motif sebagai energi dasar antara lain
adalah:
a. Bergson dengan teori “elan vital” yang mengakui adanya faktor yang bersifat
non material yang mengatur tingkah laku.
b. McDougail dengan teori “bormic”, yang mengatakan bahwa tingkah laku
ditentukan oleh hasrat, kecenderungan yang bekerjanya analog dengan
kenyataan-kenyataan dalam dunia ilmu. alam dan ilmu kimia.
Pendapat lain mengatakan bahwa motivasi mempunyai fungsi sebagai
perantara pada organisme atau manusia untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Suatu perbuatan dimulai dengan adanya suatu ketidak seimbangan
dalam diri individu, misalnya lapar atau takut. Keadaan tidak seimbang ini tidak
menyenangkan bagi individu yang bersangkutan, sehingga timbul kebutuhan
untuk meniadakan ketidak seimbangan ini, misalnya mencari makanan
atau mencari perlindungan. Kebutuhan inilah yang akan menimbulkan dorongan
atau motif untuk berbuat sesuatu. Setelah perbuatan itu dilakukan maka
tercapailah keadaan seimbang dalam diri individu, dan timbul perasaan puas,
gembira, aman dan sebagainya. Kecenderungan untuk mengusahakan
keseimbangan dari ketidak seimbangan terdapat dalam diri tiap organisme dan
manusia, dan ini disebut prinsip homeostasis.
Pada manusia, lingkaran motivasi bersifat dinamis, ini disebab-kan karena
keseimbangan pada manusia seringkali merangsang ketidak seimbangan lain yang
lebih tinggi tingkatannya.
Hal ini tidak terdapat pada hewan, misalnya, karena pada hewan ketidak
seimbangan-ketidak seimbangan yang timbul selalu sama dan waktu ke waktu
sampai hewan ini mati. Oleh karena itu lingkaran motivasi pada hewan bersifat
statis.
Motif adalah instansi terakhir bagi terjadinya tingkah laku. Meskipun
misalnya ada kebutuhan, tetapi kebutuhan ini tidak ber-hasil menciptakan motif,
11
maka tidak akan terjadi tingkah laku. Hal ini disebabkan karena motif tidak saja
ditentukan oleh faktor-faktor dalam diri individu, seperti faktor-faktor biologis,
tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan kebudayaan.
B. TEORI EMOSI JAMES-LANGE
Ada dua macam pendapat tentang terjadinya emosi. Pendapat yang
nativistik mengatakan bahwa emosi-emosi itu pada dasarnya merupakan
bawaan sejak lahir, sedangkan pendapat yang empiristik mengatakan bahwa
emosi dibentuk oleh pengalaman dan proses belajar.
Salah satu penganut paham nativistik adalah Rene Descartes (1596-
1650). la mengatakan bahwa manusia sejak lahirnya telah mempunyai enam
emosi dasar yaitu : Cinta, Kegembiraan, Keinginan, Benci, Sedih dan Kagum.
Di pihak kaum empiristik dapat kita catat nama-nama William James
(1842-1910, Amerika Serikat) dan Carl Lange (Denmark) Kedua orang ini
menyusun suatu teori tentang emosi yang dinamakan teori James—Lange.
Menurut teori ini, emosi adalah hasil persepsi seseorang terhadap pembahanperubahan
yang terjadi pada tubuh sebagai respons terhadap rangsangrangsang
yang datang dari luar. Jadi, kalau seorang misalnya melihat seekor
harimau, maka reaksinya adalah darah makin cepat beredar karena denyut
jantung makin cepat, paru-paru pun lebih cepat memompa udara dan
sebagainya. Respons-respons tubuh ini kemudian dipersepsikan dan timbullah
rasa takut. Jadi, orang itu bukan berdebar-debar karena takut setelah melihat
harimau melainkan karena ia berdebar-debar maka timbul rasa takut.
Mengapa rasa takut yang timbul, ini disebabkan oleh hasil pengalaman dan
proses belajar. Orang yang bersangkutan dari pengalamannya telah
mengetahui bahwa harimau adalah makhluk yang berbahaya karena itu
debaran jantung dipersepsikan sebagai takut.
Teori ini sering juga disebut teori perifer. Dalam teori ini disebutkan
bahwa emosi timbul setelah terjadinya reaksi psikologik. Emosi merupakan
hasil persepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam
12
tubuh sebagai respon terhadap berbagai rangsangan yang datang dari luar.
Selain itu, gejala kejasmanian bukanlah akibat emosi yang dialami oleh
individu, melainkan emosi merupakan akibat dari gejala kejasmanian.
Seseorang tidak menangis karena susah, tetapi sebaliknya, orang tersebut
susah karena menangis (Sunaryo, 2004).
Menurut James & Langei , bahwa emosi itu timbul karena pengaruh
perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena
sedih, tertawa itu karena gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi
disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama
otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja
sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat
mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi.
Teori yang dikemukakan oleh William James dan Carl Lange kirakira
seabad yang lalu, yang dikenal dengan Teori James Lange,
mengemukakan proses-proses terjadinya emosi dihubungkan dengan faktor
fisik dengan urutan sebagai berikut:
1. Mempersepsikan situasi di lingkungan yang mungkin menimbulkan
emosi.
2. Memberikan reaksi terhadap situasi dengan pola-pola khusus melalui
aktivitas fisik.
3. Mempersepsikan pola aktivitas fisik yang mengakibatkan munculnya
emosi secara khusus.
Uraian ini disingkat menjadi :
Lingkungan – otak – perubahan pada tubuh + emosi
Perubahan emosi karena perasaan yang menekan, mempengaruhi fungsi
pencernaan. Sebagaimana diketahui, pencernaan dilakukan di dalam lambung
melalui asam lambung; biasanya lambung menghasilkan asam lambung dalam
jumlah sesuai dengan yang dibutuhkan dan berhenti kalau tugas mencerna
13
makanan selesai. Pengeluaran asam lambung ini diatur oleh susunan saraf
parasimpatis sebagai bagian dari susunan saraf otonom. Dalam keadaan stres,
asam lambung dihasilkan secara berlebihan dan kalau ini terjadi tanpa
dipergunakan untuk mencerna makanan, menyebabkan peradangan pada
permukaan lambung dan dapat menimbulkan luka.
Stres adalah suatu keadaan pikiran (jiwa) seseorang yang menimbulkan
emosi yang tidak menyenangkan, tidak enak, menekan, yang timbul dari
lingkungan dan tidak dapat atau sulit diatasi. Sires muneul karena keadaan
tersebut menekan terlalu berat dan orang tersebut tidak kuat menahannya.
Tokoh empiris lain yang mengemukakan teori emosi adalah Wilhelm
Wundt (1832 – 1920). Tetapi berbeda dari W. James yang menyelidiki mengapa
timbul emosi, W. Wundt menguraikan jenis-jenis emosi.
Menurut Wundt ada tiga pasang kutub emosi, yaitu :
1. Senang – tak senang
2. Tegang – tak tegang
3. Semangat – tenang
Perubahan-perubahan pada tubuh pada saat terjadi emosi Terutama
pada emosi yang kuat, seringkali terjadi juga perubahan-perubahan pada tubuh
kita antara lain :
1. Reaksi elektris pada kulit : meningkat bila terpesona
2. Peredaran darah : bertambah cepat bila marah
3. Denyut jantung : bertambah cepat bila terkejut.
4. Pernafasan : bernafas panjang kalau kecewa.
5. Pupil mata : membesar bila sakit atau marah.
6. Liur : mengering kalau takut atau tegang.
7. Bulu roma : berdiri kalau takut.
8. Pencernaan : mencret-mencret kalau tegang.
9. Otot : Ketegangan dan ketakutan
menyebabkan otot menegang atau bergetar (tremor).
10. Komposisi darah : Komposisi darah akan ikut berubah
dalam keadaan emosional karena kelenjar-kelenjar lebih aktif.
14
Menurut Wiliams James, faktor penting untuk timbulnya emosi adanya
perubahan-perubahan pada element-element visceral. Sedangkan Carl Lange pada
waktu yang hampir bersamaan mengemukakan bahwa emosi terjadi karena
perubahan-perubahan ruang yang terjadi pada system vasomotor (otot-otot). Jadi
kedua tokoh ini memiliki kesamaan pendapat yang menyatakan bahwa perubahanperubahan
psikologis yang terjadi dalam emosi disebabkan karena adanya
perubahan-perubahan psikologis. Suatu peristiwa dipersepsikan menimbulkan
perubahan-perubahan fisiologis dan perubahan-perubahan fisiologis menyebabkan
perubahan-perubahan fisiologis yang disebut dengan emosi. Dengan kata lain,
menurut James-Lange bukan tertawa senang, melainkan ia senang karena tertawa.
Dari kesamaan dan teori yang dikeluarkan oleh james-Lange, menghasilkan lima
tingkatan dalam proses emosi yang terdiri dari :
1. Situasi.
2. Persepsi tentang situasi.
3. Perubahan-perubahan dalam tubuh.
4. Perbuatan yang terlihat, misalnya melarikan diri dari bahaya.
5. Keadaan sadar dari emosi.
15
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dengan meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lebih
lunak karena mereka telah mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi
yang berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang
menyenangkan lainnya. Selain itu karena anak-anak mengekang sebagian ekspresi
emosi mereka, emosi tersebut cenderung bertahan lebih lama daripada jika emosi
itu diekspresikan secara lebih terbuka. Oleh sebab itu, ekspresi emosional mereka
menjadi berbeda-beda. Emosi adalah pengalaman afektif yang disertai
penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan
berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Jenis emosi yang secara normal
dialami antara lain: cinta, gembira, marah, takut, cemas, sedih dan sebagainya.
Dengan adanya keterangan yang diungkapkan oleh James-Lange mengenai
teori emosi, maka diperoleh suatu wacana bahwa emosi itu sendiri merupakan
suatu proses yang melibatkan dua aspek penting dalam diri sorang individu, yaitu
psikologis dan fisik. Hal ini dapat dilihat dari organ fisik yang bereaksi disertai
perasaan seseorang saat mendapatkan stimulus yang kemudian termanifestasi
dalam bentuk perilaku tertentu yang disebut sebagai emosi (baik negatif ataupun
positif ).
16
DAFTAR PUSTAKA
Chatarina, Wahyurini & Yahya Ma’shum. 2006. Iiih … Emosi Banget Deh.
Jakarta : Pustaka Gramedia
Dirgagunarsa, singgih. 1978. Pengantar Psikologi. Jakarta: Mutiara
Syaodih, Nana dan Moh. Surya. 1978. Pengantar Psikologi. Bandung: IKIP
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0403/26/muda/933870.htm
http://www.library.gunadarma.ac.id/~backup/teorijameslange/
http://www.psikologi_kosong_empat.blogs.friendster.com/my_blog/2007/02/emosi_1de
finisi.html
http://www.portalkalbe/files/cdk/files/47_Faktorpsikogenikpadagangguannyeriperutpad
aanak81.pdf/47
http://www.siaksoft.net/index.php?option=com_content&task=view&id=2361&Itemid=
105
http://www.smartpsikologi.blogspot.com/2007/11/apakah-gangguan-emosi.html
17
DAFTAR ISI
Cover ……………………………………………………………………….. i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………….1
LATAR BELAKANG MASALAH …………………………………… 1
SASARAN & TUJUAN MASALAH ………………………………… 2
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………..…… 3
A. KONSEP DASAR EMOSI………………………………………… 3
1. Definisi Emosi …………………………………………………… 3
2. Penggolongan Emosi ……………………………………………. 4
3. Pertumbuhan Emosi…………………………….……………….. 5
B. TEORI EMOSI JAMES-LANGE …..………………………………. 11
BAB IV PENUTUP…………………………………………………………. 15
KESIMPULAN ………………………………………………………… 15
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………… 16
ii

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s