Orientasi Bahasa

Standar

A.    Pendahuluan
Mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia berorientasi pada pengajaran bahasa dan pengejaran sastra. Pengajaran bahasa ditujukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam ketrampilan bahasa, yaitu ketrampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Sedangkan pengajaran sastra ditujukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam apresiasi karya sastra, yaitu menikmati, menghayati, dan memahami terhadap karya sastra. Pengajaran bahasa dan sastra pada hakikatnya memiliki hubungan yang timbal balik, artinya pengajaran sastra menunjang pelaksanaan pengajaran bahasa dan sebaliknya pengajaran bahasa pun membantu pembinaan pengajaran sastra.


Pengajaran bahasa dan sastra pada hakikatnya memiliki porsi yang seimbang dalam pengajarannya. Akan tetapi, kenyataannya porsi tersebut tidak berjalan seimbang. Pengajaran sastra dewasa ini banyak mengalami keluhan yang muncul di tengah masyarakat, baik dari kalangan sastrawan, para ahli pendidik dan pengajaran, serta para guru sastra sendiri. Pengajaran sastra diajarkan sebagai sambilan dalam pengajaran bahasa Indonesia. Sesuatu pekerjaan yang dilakuakan secara sambilan biasanya kurang memberikan hasil yang diharapkan.
Permasalahan di atas disebabkan oleh beberapa hal yaitu: setiap guru yang mengajarkn bahasa Indonesia, tidak semuanya mampu mengajarkan sastra, pengajaran sastra pun memerlukan strategi dan metode yang khusus yang tidak selalu dimiliki oleh guru yang mengajarkan bahasa. Selain hal tersebut, alokasi waktu yang sangat terbatas pun menjadi bahasa dalam pengajaran sastra. Waktu yang sangat terbatas itu  pun tidak dimanfaatkan oleh guru secara tepat, apabila kebetulan guru yang mengajarkan kurang berminat terhadap pengajaran sastra. Padahal pengajaran sastra dalam rangka pembinaan apresiasi sastra membutuhkan waktu yang cukup.
Guru sastra juga ditargetkan untuk melaksanakan kurikulum yang ada. Kondisi tersebut diperparah dengan permasalahan evaluasi yang khusus dengan pengajaran sastra tidak diadakan. Evaluasi hasil pengajaran sastra hanya merupakan sebagian kecil dari evaluasi pengajaran bahasa secara keseluruhan. Akibatnya siswa berpandangan yang penting bisa menjawab soal ujian dari pada bersusah-susah berapresiasi puisi.
Pengajaran sastra yang ideal harus diajarkan oleh seorang guru yang memahami sastra, sehingga seluruh perhatiannya dapat dicurahkan pada tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Namun, kenyataannya pengajaran sastra yang ada di lapangan dipegang oleh seorang guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Beban guru tersebut sangat berat, sebab di samping mengajarkan kesastraan harus juga mengajarkan kebahasaan.
Guru sastra bertanggung jawab mengarahkan siswa-siswanya untuk menyerap berbagai pengetahuan sehingga memiliki wawasan yang luas untuk memahami berbagai macam peristiwa kehidupan (Rahmanto, 1988: 32). Oleh karena itu, seorang guru sastra hendaknya memiliki pengalaman yang luas dan mau mengembangkan wawasannya untuk memilih dan menentukan metode dan strategi dalam pembelajaran, menguasai materi pembelajaran memiliki keterampilan dan kemampuan dalam mengapresiasikan karya sastra sehingga dapat menyajikan pengajaran sastra yang mencakup dunia luas.
Kegiatan pengajaran sastra melibatkan berbagai komponen. Karena pengajaran sastra merupakan sebuah sistem yang meliputi kurikulum sastra, sarana dan prasarana seperti buku dan perpustakaan, guru, siswa, tujuan pengajaran, metode, bahan atau materi pengajaran dan sistem evaluasi. Pengajaran sastra yang diberikan secara tepat, baik dari segi bahasa, metode, tujuan dan sarana serta lingkungannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai kecakapan yang berhubungan dengan cipta, rasa, dan karsa. Pada hakikatnya tujuan pembelajaran sastra di sekolah secara umum adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan daya apresiasi siswa, agar siswa memiliki kesanggupan untuk menikmati, memahami dan menghargai karya sastra.
Kita telah mengetahui bahwa pengajaran puisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengajaran sastra. Berarti pengajaran puisi memiliki corak dan keragaman bentuk yang berbeda yang tidak selalu dapat diselesaikan semata-mata oleh pengajaran bahasa. Dalam pembelajaran puisi memerlukan persiapan yang matang, rapi dan sungguh-sungguh agar seorang guru sastra berhasil memberi bimbingan untuk sampai ke apresiasi anak didik, karena menikmati puisi memang lebih sukar dibandingkan dengan karya sastra yang lain. Oleh karena pengajaran puisi memiliki corak dan keragaman bentuk yang berbeda, maka pengajaran puisi memiliki metode dan strategi pembelajaran yang berbeda pula.
Dalam proses kegiatan mengajar metode pengajaran mempunyai peranan penting. Penggunaan metode yang tepat akan banyak berpengaruh terhadap berhasilnya pengajaran. Akan tetapi harus disadari pula, bahwa factor gurulah yang pada akhirnya banyak menentukan berhasilnya pengajaran itu. Oleh karena itu guru tidak boleh terbelenggu oleh salah satu metode yang dipilihnya (Suhariyanto, 1994: 70).
Endraswara (2003: 15) menemukan salah satu ketimpangan pengajaran sastra di SD sampai dengan SMU saat ini. Salah satu ketimpangan itu adalah pengajaran sastra ternyata tidak menghiraukan soal kreativitas peserta didik. Karena pengajaran lebih kea rah teoritis informative, bukan apresiasi sampai ke tingkat produktif (menghasilkan). Tentu yang terjadi tidak akan pernah lahir embrio sastrawan di sekolah. Siswa menjadi buta menyusun kata, pobi terhadap sastra dan proses kreasi, dan hanya ingin ‘didulang’ saja.
Berdasarkan permasalahan di atas penulis tertarik membahas penggunaan strategi ‘Gembira’ dalam pembelajaran penulisan puisi pada siswa SMA dengan alasan sebagai berikut. Pertama, strategi ‘Gembira’ adalah strategi pembelajaran puisi melalui tahapan menggemari, membidik, dan berkarya. Kedua, strategi pembelajaran ini diterapkan sebagai variasi dan alternative apabila strategi yang digunakan guru selama ini kurang berhasil atau gagal. Ketiga, pembelajaran penulisan puisi dengan strategi ‘Gembira’ sebagai strategi alternative, diharapkan dapat membantu guru bahasa dan sastra Indonesia untuk mengurangi permasalahan pengajaran sastra selama ini.
Sedangkan tujuan dari pembahasan ini adalah mengetahui proses dan hasil dari penggunaan strategi ‘Gembira’ dalam pembelajaran penulisan puisi pada siswa SMA.

B.    Kajian Teori
1.    Strategi ‘Gembira’
Strategi pembelajaran itu di dalamnya meliputi pendekatan, metode, dan teknik. Pendekatan adalah suatu cara untuk mendekati sasaran tertentu. Metode merupakan suatu jabaran dari pendekatan. Suatu pendekatan dapat dijabarkan dalam beberapa metode. Metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan untuk pencapaian tujuan. Dari metode, teknik pembelajaran diturunkan secara aplikatif. Suatu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran, jadi sebenarnya teknik itu cara konkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung (Suyatno, 2004: 15).
Guru dapat berganti-ganti teknik meski masih dalam metode yang sama. Dengan demikian, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi yang didalamnya terdapat pendekatan, metode dan teknik secara spesifik.

2.    Pengajaran Penulisan Puisi
Pembelajaran menulis puisi merupakan bagian dari kompetensi dasar menulis berbagai karya sastra. Berdasarkan standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Kompetensi tersebut termasuk dalam aspek kemampuan bersastra sub aspek menulis (Depdiknas, 2003: 30).
Penggunaan strategi ‘Gembira’ dalam pembelajaran penulisan puisi dikembangkan dengan tujuan (1) meningkatkan kegairahan siswa dalam pembelajaran puisi khususnya penulisan puisi, (2) meningkatkan kualitas proses dan hasil dalam pembelajaran penulisan puisi, (3) memberikan alternative strategi pembelajaran penulisan puisi bagi guru.
Kemampuan mencipta, atau menulis karya sastra sangat berguna. Kemampuan itu kita dapat menyampaikan sikap, pendapat, atau pengalaman dalam wujud cipta karsa (Effendi, 2002: 11). Kegiatan mencipta karsa adalah kegiatan yang kompleks, melibatkan emosi, imajinasi, dan kreativitas siswa secara individu. Oleh karena itu, proses pembelajaran yang dilakukan harus melalui tahapan-tahapan yang diawali dengan kegiatan yang sederhana menuju yang rumit. Hal itu sesuai dengan teori konstruktivisme, bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong (Depdiknas, 2003: 11).
Selain proses pembelajaran yang bertahap, beberapa pakar pendidikan berpendapat bahwa belajar akan sangat efektif jika dilakukan dengan suasana yang menyenangkan. Salah satunya pendapat Bobbi De Porter dan Mike Hernacki (1999: 24) tentang teori suggestology. Prinsipnya bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar. Berbagai teknik dapat digunakan untuk memberikan sugesti positif seperti mendudukkan siswa secara nyaman, pemberian penghargaan, atau memunculkan suasana kegembiraan.
Endraswara (2003: 60) menekankan pembelajaran sastra sekurang-kurangnya harus memperhatikan tiga hal. Pertama, konteks pembelajaran sastra selalu memberdayakan lingkungan. Yakni, mampu memanfaatkan lingkungan peserta didik seoptimal mungkin. Kedua, pembelajaran sastra semestinya berlangsung dalam suasana yang menyenangkan (fun). Yakni suatu bentuk pengajaran sastra yang boleh melawan arus (teaching as subversive activite), antara lain tidak harus semata-mata mengikuti buku teks. Ketiga, belajar sastra harus sejalan dengan dunia peserta didik dan bersifat fungsional.
Endraswara (2003: 220) menawarkan proses pembelajaran puisi yang diawali dengan tahap, (1) pengindraan, pada tahap tersebut kita diajak dan haus bisa belajar mengindra melalui ‘rasa’, baik rasa lahiriah maupun batiniah (rasa njobo-njero). (2) perenungan dan pengendapan, tahap ini akan menjadi kaya dengan asosiasi, artinya memunculkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. (3) bermain kata, pada dasarnya mencipta puisi adalah ‘menumpuk-numpuk kata’. Kata yang digunakan dalam puisi adalah yang bernilai rasa.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa guru perlu menyiapkan metode dan strategi pembelajaran yang tepat agar siswa dapat belajar sastra dengan tahapan-tahapan yang menyenangkan dan berguna bagi siswa. Berkaitan dengan hal tersebut, penulis menawarkan sebuah strategi alternative dalam pembelajaran penulisan puisi dengan strategi ‘Gembira’.
Penggunaan strategi ‘Gembira’ diharapkan dapat meningkatkan daya kreasi siswa sebagai modal awal menciptakan puisi dapat terbangun sedikit demi sedikit. Strategi ini memiliki beberapa tahapan, yaitu (1) Gemar, siswa diajak ke dalam suasana yang membuat senang (enjoyable), baik senang dengan mata pelajaran, guru, dan suasana pembelajaran yang dibuat sekreatif mungkin oleh guru. (2) Bidik, pada tahapan ini siswa diajak mencari suasana baru, bisa diajak keluar dari kelas untuk mengamati alam sekitar, lingkungan kelas, dapat juga di pinggir jalan. Siswa diberikan kebebasan untuk membidik obyek yang akan dijadikan ide dasar penulisan puisinya. Pada tahapan ini siswa belum menyusun kata-kata dalam bentuk puisi tetapi hanya membuat data yang menjadi sorotan pengamatan atau bidikannya. (3) Karya, pada tahapan ini siswa diberikan kesempatan untuk mengolah atau mengembangkan data yang diperoleh sampai menjadi puisi. Hasil penulisan puisi siswa dikumpulkan untuk dihiasi lukisan-lukisan atau gambar yang sesuai dengan suasana puisinya untuk hiasan dinding. Puisi siswa dapat juga dikumpulkan untuk membuat antologi puisi karya siswa dan dapat didokumentasikan di perpustakaan sekolah.

C.    Pembahasan
1.    Proses Penggunaan Strategi ‘Gembira’ dalam Pembelajaran Penulisan Puisi Pada Siswa SMA
Berdasarkan hasil observasi, untuk melihat kondisi awal kompetensi, siswa diberi tugas untuk membuat puisi bebas, tanpa diberi permainan dan petunjuk lebih lanjut. Selanjutnya baru diterapkan strategi ‘Gembira’ yang berlangsung selama 2x pertemuan, masing-masing 40 menit. Tahap-tahap dalam pertemuan itu dirancang sebagai berikut.

a.    Pertemuan I : Tahap Menggemari dan Membidik
1)    Gemar
Tahap ini adalah tahapan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap puisi dan menumbuhkan minat siswa untuk menciptakan karya puisi. Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut.
a)    Siswa diajak dalam situasi yang menyenangkan, yaitu siswa dikondisikan di dalam kelas dengan mendengarkan alunan musik atau lagu-lagu yang dinyanyikan oleh band-band kesukaan mereka. Suasana ini diciptakan untuk memperkaya perbendaharaan kata dan menumbuhkan minat untuk menulis puisi yang sesuai suasana hatinya.
b)    Guru kemudian membacakan puisi hasil karyanya sendiri dengan diiringi alunan musik.
c)    Guru menerangkan latar belakang ia menciptakan sebuah puisi kepada siswa. Suasana ini diciptakan agar siswa merasa tertarik dan percaya diri untuk menciptakan puisi.
d)    Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati lirik lagu yang diputarkan.
e)    Guru  memberi kesempatan kepada siswa untuk menuliskan kata-kata yang paling menyentuh perasaan atau indah dari lirik lagu tersebut, kemudian siswa diminta untuk mengelompokkan kata-kata yang biasa dan kata-kata yang menyentuh perasaan.
Contoh :

Tabel 1.
Pengelompokkan Kata
Kata yang indah    Kata yang biasa
Ku sadari jalan ini tak mengarah kepadamu    Lupakan aku
Bintang jatuh
Biarkan aku pergi
Kukira dirimu kekasih hatiku
Tak bisa memiliki
Ku akhiri namun tak berakhir
Hampiri aku
Ujudkan mimpi seperti dulu
Mimpi
Jalan dan jalin tanpa restu
Lupakan aku
Aku bukan pujangga
Kenangan

f)    Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba mengingat-ingat kenangan yang paling berkesan dalam hidupnya.

2)    Bidik
Pada tahap ini siswa diajak keluar dari ruang kelas untuk berpindah tempat ke taman sekolah, pinggir jalan, dan masjid. Siswa diajak mengamati lingkungan di luar kelas untuk membidik. Objek yang akan menjadi bahan penulisan puisi. Langkah-langkah dalam tahapan ini sebagai berikut.
a)    Guru mempersilahkan siswa mencari posisi yang nyaman dan santai untuk merenung objek yang akan dijadikan bahan pembuatan puisi.
b)    Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menulis apa saja dari objek yang diamati.

b.    Pertemuan II : Tahap Berkarya
1)    Karya
Pada tahap ini, inti pembelajaran yang dilaksanakan yaitu membuat puisi deskriptif dari hasil pengamatan objek lingkungan sekitar sekolah. Kegiatan ini dilakukan di tempat yang nyaman di luar kelas. Langkah-langkah dalam tahap ini sebagai berikut.
a)    Siswa diminta menyusun kalimat yang indah berdasarkan hasil pengamatan objek. Kalimat-kalimat itu harus disusun sesuai dengan apa yang ingin diungkapkan. Pada kesempatan ini guru dapat berkeliling memberi bimbingan kepada siswa mengenai kesesuaian kalimat yang digunakan dengan apa yang ingin diungkapkan dalam sebuah karya puisi.
b)    Siswa diberi kesempatan untuk mendiskusikan kalimat-kalimat yang digunakan dengan teman sebangkunya. Guru dapat meminta beberapa siswa untuk membacakan puisi hasil karyanya untuk dikomentari oleh temannya.
c)    Setelah kalimat-kalimat itu mendapat komentar dari temannya, kemudian kalimat-kalimat tersebut dapat disusun menjadi puisi yang utuh. Saat siswa membuat puisi, dapat diputarkan kembali lagu-lagu yang lembut untuk membangkitkan imajinasi.
d)    Siswa diminta memberi judul sesuai isi puisi yang dibuatnya.
e)    Puisi yang telah selesai ditukarkan dengan teman lain untuk saling memberi masukan. Siswa bersama-sama memilih lima puisi terbaik untuk dibaca di depan kelas.
f)    Siswa diminta untuk menyalin puisinya, yang semula tulisan tangan untuk diketik. Karya-karya tersebut dikumpulkan untuk dijadikan antologi puisi karya siswa.

2)    Refleksi
Siswa diminta untuk menyampaikan tanggapan tentang apa yang diperoleh dengan pembelajaran menulis puisi yang baru saja berlangsun. Siswa diminta sumbang saran dan tanggapan pembelajaran untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Terakhir siswa diminta mengungkapkan perasaannya dengan memberi tepuk tangan yang semeriah-meriahnya bila senang, diam saja untuk menunjukkan perasaan biasa, dan menirukan orang batuk untuk menyatakan kurang senang.

c.    Hasil penggunaan strategi ‘Gembira’ dalam pembelajaran penulisan puisi
Tabel 2.
Peningkatan Hasil Belajar Siswa

Aspek    Sebelum    Sesudah    Catatan
Psikomotorik    Siswa tidak mau membacakan puisinya    Siswa mau tampil membacakan puisinya dengan baik
Afektif    Siswa kurang percaya diri dan tidak dapat bekerja kelompok serta tidak dapat menghargai orang lain    Siswa mulai percaya diri dan mau bekerja sama serta mau menghargai pendapat orang lain
Kongnitif    Pemahaman siswa kurang    Siswa memperoleh banyak pengetahuan dalam proses pembelajaran

d.    Proses dan hasil penggunaan strategi ‘Gembira’ dalam pembelajaran penulisan puisi
Dalam strategi ‘Gembira’ diharapkan daya kreasi siswa sebagai modal awal membuat puisi dapat terbangun sedikit demi sedikit. Strategi ‘Gembira’ diterapkan untuk menerangi permasalahan pengajaran penulisan puisi yang dihadapi oleh guru maupun siswa. Strategi ‘Gembira’ dalam pembelajarannya memiliki tiga tahapan, yaitu tahap menggemari, tahap membidik, dan tahap berkarya.

D.    Simpulan
1.    Pembelajaran penulisan puisi dengan menggunakan strategi “Gembira’ memiliki tiga tahap dalam pembelajaran yaitu tahap menggemari, tahap membidik, dan tahap berkarya.
2.    Strategi ‘Gembira’ dapat menjadi strategi alternatif dalam pengajaran penulisan puisi.
3.    Strategi ‘Gembira’ dalam pembelajaran penulisan puisi dapat meningkatkan minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran penulisan puisi.

DAFTAR PUSTAKA

A. Sihana, Bitok dan Ruwiyanto. 1986. Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka Jakarta.

Al Mubary, Dasri. 1994. Pengajaran Sastra di Sekolah (Sebuah Pertimbangan Ajar). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki. 1999. Quantum Learning. Terjemahan Alawiyah Abdurrohman. Bandung: Kaifah.

Effendi, S. 2002. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Pustaka Jaya.

Endraswara, Suwardi. 2003. Membaca, Menulis, Mengajarkan Sastra. Yogyakarta: Kota Kembang Gani, Rizanur. 1981. Pengajaran Apresiasi Puisi. Jakarta: Penataran Lokakarya Tahap II Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G).

Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Penelitian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: PBFE.

Rahmanto. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Sarwadi. 1994. Pengantar Pengajaran Sastra, dalam Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sayuti, Suminto A.1994. Penelitian Pengajaran Sastra Beberapa Catatan Ringkas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

_______________. 1985. Puisi dan Pengajarannya (Sebuah Pengantar). Semarang: IKIP Semarang Press.

Semi, M. Atar. 1990. Rancangan Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.

Suyatno. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: SIC.

Zuchdi, Darmayati. 1994. Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

STRATEGI GEMBIRA SEBAGAI ALTERNATIF
DALAM PEMBELAJARAN PENULISAN PUISI
PADA SISWA SMA YOGYAKARTA

Makalah ini disajikan untuk memenuhi tugas
mata kuliah Kajian Sastra yang diampu oleh Dr. Retna Winarni
pada semester I tahun ajaran 2009/2010

Disusun Oleh :

Titiek Suyatmi

Program Studi : Pendidikan Bahasa Indonesia

PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
APRIL 2009

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s