Pembelajaran

Standar

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bahasa merupakan wahana yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Menurut pasal 36 UUD 1945, bahasa Indonesia merupakan bahasa Negara. Dengan demikian, bahasa pengantar dalam bidang pendidikan menggunakan bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi melibatkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan itu berupa kejelasan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pesan, kemampuan komunikator di dalam menyampaikan pesan, dan kesanggupan komunikan di dalam menangkap dan memahami pesan seperti yang dikehendaki komunikator (Purnanto, 1996: 1).
Dalam bidang pendidikan, komunikasi yang efektif sangat menentukan keberhasilan untuk memperoleh pemahaman secara tuntas dan komprehensif. Guru bahasa Indonesia sebagai pembawa informasi sangat strategis untuk menjelaskan berbagai permasalahan yang timbul di masyakarat, Negara, maupun dunia internasional.


Pada masa sekarang ini, penguasaan seni berbicara menjadi sangat penting. Kemampuan berkomunikasi dan beragumentasi efektif, padat, singkat, jelas, dan meyakinkan semakin menjadi tuntutan masyarakat. Keterampilan berkomunikasi khususnya keterampilan berbicara harus dikuasai oleh para mahasiswa. Kemampuan berbicara sangat penting untuk mengembangkan karier mahasiswa khususnya mahasiswa pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Untuk membekali keterampilan berbicara perlu dilakukan sosialisasi terhadap kebiasaan berdiskusi dalam pembelajaran Ekspresi Lisan.
Mahasiswa PBSI sebagai contoh pendidik harus mempunyai fungsi sebagai komunikator, inovator, dan emancipator. Sebagai komunikator, pendidikan menyediakan, menyaring, dan mengolah informasi ke dalam suatu bentuk yang cocok bagi kelompok penerima informasi tersebut sehingga kelompok ini memahami isi informasi tersebut. Sebagai innovator, seorang pendidik sebaiknya berusaha berorientasi ke depan dan selalu mengikuti perubahan social. Pendidik sebagai emansopator harus membantu siswa agar dapat mengembangkan kepribadiannya.
Untuk memperoleh data empiric dan sebagai bahan masukan, pada Ujian Akhir Semester II PBSI tahun akademik 2008/2009 untuk mata kuliah “Ekspresi Lisan” dapat diketahui bahwa nilai pada mata kuliah tersebut dari 76 mahasiswa hanya 38% yang mendapatkan nilai A atau B, sedangkan yang lain di bawah itu. Dari data tersebut diketahui 52% mengalami kesulitan dalam mengungkapkan argumentasi, 63% mengalami kesulitan dalam penguasaan materi diskusi, dan 71% mengalami kesulitan dalam keberanian berbicara di depan umum.
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa ada keterkaitan antara penguasaan materi dan pengungkapan argumentasi dengan keberanian berbicara di depan umum. Mahasiswa kurang berani berbicara di depan umum karena kurang menguasai bahan atau materi diskusi.
Metode pembelajaran yang diterapkan sedapat mungkin dapat mengoptimalkan potensi pribadi. Dengan cara maupun media yang menarik dan didukung dengan memaksimalkan kerja sama dan komunikasi dalam kelompok, maka metode diskusi dengan teknik pembelajaran “satu” (bursa kartu) cukup tepat untuk diterapkan dalam penelitian ini.
Menyadari kenyataan bahwa sebagian besar mahasiswa semester II PBSI Universitas Ahmad Dahlan mengalami kesulitan dalam berbicara khususnya berdiskusi, maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan keterampilan berbicara.

B.    Identifikasi Masalah
Berdasar latar belakang masalah permasalahan yang diidentifikasikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.    Rendahnya kemampuan mahasiswa dalam keterampilan berbicara pada mahasiswa semester II PBSI Universitas Ahmad Dahlan.
2.    Kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelajaran keterampilan berbicara.
3.    Peningkatan kemampuan keterampilan berbicara melalui teknik “satu” pada mahasiswa semester II PBSI Universitas Ahmad Dahlan.
4.    Faktor pendukung dan penghambat pembelajaran keterampilan berbicara melalui teknik “satu”.
5.    Upaya mengatasi hambatan dalam keterampilan berbicara menggunakan teknik “satu”.

C.    Pembatasan Masalah
Agar permasalahan lebih terfokus dan berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka peneliti membatasi masalah sebagai berikut.
1.    Peningkatan kemampuan keterampilan berbicara menggunakan teknik “satu” mahasiswa semester II PBSI Universitas Ahmad Dahlan.
2.    Faktor pendukung dan penghambat pembelajaran keterampilan berbicara menggunakan teknik “satu”.
3.    Upaya mengatasi hambatan dalam keterampilan berbicara menggunakan teknik “satu”.

D.    Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.
1.    Apakah teknik pembelajaran satu dapat meningkatkan keterampilan berbicara mahasiswa semester II PBSI Universitas Ahmad Dahlan ?
2.    Apa sajakah factor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran keterampilan berbicara menggunakan teknik “satu” ?
3.    Bagaimanakah upaya mengatasi hambatan dalam pembelajaran keterampilan berbicara menggunakan teknik “satu” ?

E.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan yang akan dicapai adalah sebagai berikut.
1.    Untuk mengetahui pengaruh teknik pembelajaran “satu” terhadap peningkatan keterampilan berbicara mahasiswa semester II PBSI Universitas Ahmad Dahlan.
2.    Untuk mengetahui factor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran keterampilan berbicara menggunakan teknik “satu”.
3.    Mendeskripsikan upaya mengatasi kesulitan yang dialami mahasiswa dalam keterampilan berbicara menggunakan teknik “satu”.

F.    Manfaat Penelitian
Adapun beberapa manfaat yang diperoleh dari penelitian tindakan yang dilakukan ini, diantaranya sebagai berikut.
1.    Penelitian ini untuk memberikan gambaran bahwa penelitian tindakan dapat dipandang sebagai salah satu alternative untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran di perguruan tinggi. Dikatakan demikian, mengingat penelitian tindakan seperti ini masih merupakan bentuk penelitian yang relative baru dibandingkan dengan bentuk penelitian lainnya, terutama di Indonesia.
2.    Penelitian ini juga dapat dipakai untuk menyusun pembelajaran “Ekspresi Lisan” khususnya pembelajaran diskusi dengan teknik pembelajaran “satu”.
3.    Penelitian ini dapat meningkatkan dan mengembangkan profesionalitas tenaga akademik, khususnya dosen dalam upayanya sebagai penyelenggara pendidikan dan pembelajaran sesuai dengan bidang keahliannya.

BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Kajian Teori
Konsep yang dapat dijabarkan dalam perencanaan penelitian tindakan ini dapat diklasifikasikan menjadi beberapa hal, yaitu konsep yang berkaitan dengan keterampilan berbicara dan teknik pembelajaran “satu”.

1.    Keterampilan Berbicara
Pada era informasi seperti sekarang ini, kemampuan berkomunikasi perlu dikuasai oleh para mahasiswa yang ingin berhasil dalam profesinya. Kemampuan berkomunikasi sangat penting untuk mengembangkan karier para mahasiswa di masa datang, khususnya mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Untuk membekali kemampuan berkomunikasi perlu dilakukan sosialisasi terhadap kebiasaan berdiskusi dalam pembelajaran di perguruan tinggi.
Menurut Hendrikus (1991: 212) setiap orang memiliki bakat dasar untuk berbicara. Bakat ini harus dimunculkan, dibina, dan dilatih. Alat yang dibutuhkan dalam ekspresi lisan adalah suara, artikulasi, dan pernafasan.
Di dalam berdiskusi, argumentasi yang baik akan membawa efek dalam menyakinkan pendengar. Menurut Aristoteles, cara pembuktian untuk menyakinkan pendengar dapat ditempuh melalui ethos, logos, dan pathos. Ethos adalah cara pembuktian berdasarkan reputasi dan pengalaman pembicara. Logos adalah cara pembuktian yang dilakukan atas dasar pertimbangan intelektual dan kenyataan, sedangkan pathos dilakukan dengan dengan cara penyentuhan perasaan sebagai manusia. Oleh karena itu, yang harus dilakukan pembicara adalah membeberkan argumentasi yang mantap dan menunjukkan dasar-dasar retorika yang menyakinkan.

2.    Teknik Pembelajaran “Satu”
Keadaan masyarakat Indonesia pada saat ini sedang mengalami perubahan. Perubahan bukan hanya disebabkan oleh globalisasi di seluruh dunia, tetapi juga karena situasi dalam negeri dengan adanya perubahan iklim demokrasi di Indonesia. Kebebasan mengemukakan pendapat sebagai salah satu bagian proses demokrasi semakin mendapat tempat di masyarakat.
Demikian juga dalam dunia pendidikan, paradigm pendidikan mengalami perubahan. Paradigma lama mengenai proses belajar mengajar bersumber pada teori tabula rasa yang dikemukakan John Locke sudah banyak ditinggalkan dosen/guru. Paradigma baru dalam proses belajar mengajar sebagai tuntutan perubahan dalam dunia pendidikan mendasarkan pada pengembangan kompetensi dan kemampuan siswa (Lie, 2002: 2).
Dalam proses pembelajaran, dosen/guru menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan mahasiswa membentuk makna dari bahan pelajaran. Mahasiswa diajak untuk membangun pengetahuan secara aktif. Dosen/guru perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan mahasiswa.
Dari pemikiran pendidikan paradigma baru di atas, secara tidak langsung akan mempengaruhi metode dan teknik pembelajaran yang akan dipakai. Metode diskusi dengan teknik pembelajaran “satu” merupakan salah satu teknik yang dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran khususnya untuk mengajarkan keterampilan berbicara.
Yang mendasari teknik pembelajaran “satu” adalah falsafah homo homoni socius, manusia adalah makhluk sosial. Kerja sama merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup.
Istilah “satu” merupakan singkatan dari “bursa kartu” yang bertujuan agar istilah tersebut mudah diingat. Teknik ini merupakan interaksi antar mahasiswa untuk menganalisis, memecahkan masalah, menggali atau memperdebarkan topik atau permasalahan tertentu dengan jalan permainan kartu pesan. Teknik tersebut digunakan dosen agar mahasiswa dapat memperluas pengetahuan kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan membiasakan mahasiswa untuk berargumentasi serta berpikir rasional. Selain itu, mahasiswa belajar mengidentifikasi, memecahkan masalah dan mengambil keputusan, serta berani mengeluarkan pendapat.
Teknik pembelajaran ini sangat menarik dan mengandung kegembiraan karena dikemas dalam permainan yang mengasyikkan. Hal ini sesuai dengan hakekat manusia sebagai makhluk bermain (homo luden) yakni manusia cenderung untuk memperoleh pengamatan permainan yang ada.
Perlengkapan teknik “satu” ini berupa kertas/karton yang memuat sejumlah gambar dan kolom yang berisi kartu pesan kebahasaan dan kesastraan Indonesia. Pesan-pesan tersebut (sesuai dengan tema) berupa permasalahan yang sering ditemui dalam kebahasaan dan kesastraan Indonesia, misalnya, bagaimanakah penggunaan kata siang, malam, pagi, dan sore dalam sapaan?; samakah arti negeri dan Negara?; puisi di bawah ini karya siapa dan silakan dibaca dengan penuh penghayatan!; dan sebagainya. Selain kartu pesan, alat penentu langkah berupa kubus angka yang tiap kubus bertuliskan angka 1 sampai dengan 6, tanda pemain, dan buku pegangan moderator juga dipakai dalam permainan ini.
Cara menerapkan teknik ini adalah (1) mahasiswa membuat kelompok beranggotakan 5/10 orang dan kemudian memilih moderator serta menyertakan alat permainan; (2) moderator mengucapkan salam dan membicarakan aturan permainan; (3) pelaksanaan bermain, pemain berhenti pada kolom yang ada pesannya, maka pesan itulah yang dibaca dan kemudian didiskusikan. Setelah didiskusikan moderator menyimpulkan dan dapat memberikan penjelasan seperlunya. Demikian seterusnya bagi pemain kedua atau ketiga; (4) setelah semua pemain mendapatkan giliran atau waktu yang telah ditentukan sudah selesai, moderator menutup permainan.

B.    Kerangka Berpikir
Sesuai dengan kajian-kajian teoritik yang dikemukana di atas, maka dengan adanya teknik “satu” dalam pembelajaran keterampilan berbicara, merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan keterampilan berbicara.
C.    Hipotesis
Berdasarkan pendapat Nazir (1982:182) hipotesis diartikan sebagai jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Adapun hipotesis menurut Arikunto (1991:61) diartikan sebagai sesuatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian.
Dari pendapat para ahli di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis sebagai pernyataan sementara tentang permasalahan. Berdasarkan masalah yang telah diuraikan dalam latar belakang, maka hipotesis tindakan dalam PTK ini adalah adanya peningkatan dalam pembelajaran keterampilan berbicara melalui teknik “satu” di PBSI Universitas Ahmad Dahlan.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Setting Penelitian
Penelitian ini direncanakan di Universitas Ahmad Dahlan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester II pada mata kuliah Ekspresi Lisan.

B.    Subjek dan Objek Penelitian
1.    Subjek penelitian adalah sumber utama data penelitian yaitu yang memiliki data mengenai variabel yang diteliti (Azwar, 2004:34). Subjek penelitian ini adalah mahasiswa semester II PBSI Universitas Ahmad Dahlan yang berjumlah 76 mahasiswa.
2.    Objek penelitian adalah sebagian atau wakil dari subjek yang diteliti. Dengan kata lain objek penelitian merupakan anggota-anggota dari subjek penelitian (Arikunto, 2002:109). Objek penelitian ini adalah pembelajaran keterampilan berbicara melalui teknik “satu” di Universitas Ahmad Dahlan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

C.    Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, catatan lapangan, dan review. Keabsahan data diperiksa dengan trianggulasi penyidik, yaitu dengan bantuan pengamat lain (Moleong, 1994:28).
Data yang dikumpulkan melalui catatan observasi dan hasil evaluasi yang dilakukan sejak awal penelitian sampai dengan siklus III bersama mitra kolaborasi. Catatan observasi dipergunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas mahasiswa dan pemunculan keterampilan kooperatif mahasiswa, sedangkan evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan prestasi belajar mahasiswa.
Pada bagian refleksi dilakukan analisis data mengenai proses, masalah dan hambatan yang dijumpai, kemudian dilanjutkan dengan refleksi dampak pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan. Salah satu aspek penting dari kegiatan refleksi adalah evaluasi terhadap keberhasilan dan pencapaian tujuan.

D.    Instrument Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat alat permainan bursa kartu berupa karton bergambar, kartu pesan, kubus bernomor, dan tanda pemain. Di samping itu, alat perekam (video) juga digunakan agar penelitian ini memperoleh keakuratan data.

E.    Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang akan digunakan adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif. Tindakan dilaksanakan dalam tiga siklus dan diamati secara kolaboratif dengan melibatkan tim peneliti. Setiap temuan dicatat untuk dijadikan bahan refleksi yang akan dipergunakan sebagai dasar tindakan siklus berikutnya.
Analisis kuantitatif dilakukan untuk menganalisis data yang berupa skor yaitu hasil penilaian kemampuan keterampilan berbicara melalui teknik “satu”. Setiap siklus diperoleh skor tiap siswa dilihat dari nilai adanya peningkatan dari yang sebelumnya.

F.    Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Data yang telah terkumpul perlu diketahui taraf validitas dan reliabilitasnya. Teknik validitas data yang digunakan penelitian ini adalah validitas demokratik dan validitas dialogis. Validitas demokratik yaitu validitas yang berhubungan dengan semua pihak yang terkait dalam penelitian yaitu guru, dan observer pendukung secara demokrasi dan saling membantu satu sama lain, sehingga dapat digunakan dalam proses identifikasi masalah, penentuan focus masalah, rencana, dan tindakan.
Validitas dialogis yaitu validitas yang digunakan dalam proses mengklasifikasikan, mendiskusikan, dan menganalisis data dengan cara kolaborasi. Validitas ini juga berfungsi untuk membandingkan pendapat dengan kolaborator sehingga memperoleh kesepakatan bentuk tindakan yang akan dilaksanakan. Kriteria ini terkait dengan jangkauan kolaboratif peneliti dan pencakupan berbagai pendapat dan saran (Suwarsih, 2006:45-46). Kolaborasi penelitian ini melibatkan dosen Ekspresi Lisan, sedangkan teknik reliabilitas adalah dengan catatan lapangan dan lembar pengamatan.

G.    Kriteria Keberhasilan
Kriteria keberhasilan tindakan ini dilihat dari keberhasilan proses dan keberhasilan produk. Kriteria keberhasilan proses jika mahasiswa dan dosen memiliki semangat dan minat dalam pembelajaran keterampilan berbicara melalui teknik “satu” sehingga suasana menjadi nyaman dan kondusif.
Ukuran berhasil tidaknya peningkatan pembelajaran keterampilan berbicara melalui teknik “satu” baik sebelum dan sesudah tindakan adalah meningkatnya keterampilan berbicara mahasiswa terhadap mata kuliah yang disampaikan dosen dengan standar nilai rata-rata 7,5.
Kriteria keberhasilan produk adalah tingkat kemampuan mahasiswa dalam keterampilan berbicara melalui teknik “satu” dengan baik. Penilaian keberhasilan itu dilakukan peneliti dan dosen Ekspresi Lisan. Indikator keberhasilan penelitian ini adalah apabila terjadi peningkatan kemampuan dalam keterampilan berbicara melalui penerapan teknik “satu”.

H.    Prosedur Penelitian
Peneliti merencanakan tindakan pembelajaran melalui teknik “satu” ini terdiri dari tiga siklus. Setelah siklus yang pertama, siklus kedua, dan ketiga dilaksanakan berdasarkan kolaborasi dan refleksi dari tindakan sebelumnya. Sebelum pelaksanaan tindakan pertama dilakukan survey dan observasi. Berdasarkan hasil survey dan observasi ini disusun rencana kegiatan untuk setiap siklus seperti desain yang direncanakan dengan prosedur perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Setiap kali terdapat permasalahan pada waktu dilakukannya suatu implementasi tindakan langsung dievaluasi. Masukan-masukan yang disampaikan berdasarkan refleksi-monitoring secara kolaboratif dimaksudkan untuk melakukan perencanaan ulang yang akan digunakan untuk menentukan siklus berikutnya. Penelitian tindakan kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah model John Elliot (1991), yang skemanya ada di bawah ini.
SIKLUS I    SIKLUS II    SIKLUS III

dst

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Saifuddin. 2004. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bahri, Saiful J. 1997. Guru Sebagai Pendidik. Bandung: Janu Putra.

Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Elliot, John. 1991. Action Research for Educational Change. Celtic Court: Open University Press.

Hendrikus, Dori Wuwur. 1991. Retorika: Terampil Berpidato, Berdiskusi, Beragumentasi, Bernegosiasi. Yogyakarta: Kanisius.

Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning, Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: Gramedia.

Madya, Suwarsih. 2006. Teori dan Praktik Penelitian Tindakan (Action Research). Bandung: Alfabeta.

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MAHASISWA
SEMESTER II PBSI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN MELALUI
PENERAPAN TEKNIK “SATU”

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penelitian Kualitatif
Prof. Dr. Herman J. Waluyo

Disusun Oleh :
Titiek Suyatmi

PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MAHASISWA
SEMESTER II PBSI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN MELALUI
PENERAPAN TEKNIK “SATU”

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penelitian Kualitatif
Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd.

Disusun Oleh :
Titiek Suyatmi

PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s