Ragam iLmiah

Standar

BAB I
BAHASA INDONESIA RAGAM ILMIAH

A.    Pengertian Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah
Bahasa Indonesia yang digunakan oleh masyarakat Indonesia sehari-hari memiliki ragam yang cukup banyak. Sekian ragam yang ada, sesungguhnya dapat dipilah menjadi dua, yaitu ragam bahasa tulis dan ragam bahasa lisan. Kedua ragam itu pada dasarnya juga dapat dipilah menjadi dua, yaitu (i) ragam baku (atau ragam formal, resmi, standar), dan (ii) ragam tidak baku (atau ragam tidak resmi, nonformal, atau nonstandard). Ragam bahasa Indonesia baku adalah ragam yang digunakan pada semua kegiatan yang bersifat resmi, misalnya: (i) urusan kenegaraan dan pemerintahan, (ii) urusan pendidikan dan pengajaran, (iii) surat-menyurat resmi, dan (iv) penulisan semua jenis tulisan ilmiah. Ragam bahasa Indonesia tidak baku adalah ragam yang digunakan dalam kegiatan yang bersifat tidak resmi, misalnya: (i) pembicaraan dalam keluarga, (ii) pembicaraan yang bersifat santai, (iii) surat pribadi, dan (iv) semua jenis karangan kesastraan.
Bahasa Indonesia ragam keilmuan adalah bahasa Indonesia yang digunakan oleh sekelompok orang yang tengah menggeluti ilmu atau memiliki profesi dalam bidang keilmuan. Dengan kata lain, bahasa itu biasa digunakan oleh golongan cendekiawan (Ramlan, 1977: 6), walaupun kita tahu bahwa tidak setiap saat dan di sembarang tempat para cendekiawan senantiasa menggunakan bahasa Indonesia ragam ilmu. Tentu saja, yang dimaksud ialah bahasa yang digunakan oleh para cerdik pandai atau cendekiawan dalam rangka berkomunikasi keilmuan. Karena dalam rangka berkomunikasi keilmuan itu para cendekiawan bisa menggunakan bahasa lisan atau tulis, bahasa Indonesia ragam keilmuan pun bisa tampil baik dalam bentuk lisan maupun tertulis.
Bahasa Indonesia ragam keilmuan tentu saja tidak termasuk ke dalam bahasa Indonesia dialek tertentu. Artinya, tidak termasuk bahasa Indonesia dialek Manado, dialek Jakarta, atau dialek Jawa. Dengan kata lain bahasa Indonesia ragam keilmuan harus bersifat lintas-dialek, yaitu bahasa Indonesia yang tidak diwarnai oleh sifat dan atau aspek kedaerahan tertentu. Baik dalam ragam lisan maupun tulis, pemakaian kosakata kedaerahan tidak dibenarkan. Pemakaian kosakata dialek Jakarta seperti ngliatin ‘melihat’, ngebeliin ‘membeli’, ape ‘apa, gue ‘saya’, dong ‘kata afektif’, emang ‘memang’ (Mujahir, 1981: 32-34) dan sejenisnya harus dihindarkan. Demikian pula pemakaian kosakata kedaerahan lain misalnya kosakata dialek Manado seperti pohong ‘pohon’, makang ‘ makan’, jalang ‘jalan’, tante ‘bibi’, gigi ‘gigit’, ciong ‘cium’, dan sejenisnya (Watupangoh, 1976: 12-23). Dalam bahasa lisan, bahasa Indonesia ragam keilmuan tidak diwarnai oleh logat atau lafal kedaerahan. Para cendekiawan cenderung berupaya untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan lafal kedaerahannya manakala tengah berkomunikasi keilmuan dengan cendekiawan lain daerah.
Sesuai dengan ketentuan di atas, dalam penulisan semua karya ilmiah harus digunakan bahasa Indonesia ragam keilmuan, yaitu bahasa Indonesia yang biasa digunakan oleh para cendekiawan, bersifat baku atau standar dan tidak bersifat kedaerahan. Bahasa Indonesia ragam keilmuan ialah ragam yang lazim pula disebut bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik berarti dipakai dalam situasi atau suasana resmi dan benar berarti sesuai dengan kaidah atau tata bahasa yang berlaku. Karena karya ilmiah disampaikan dalam bentuk tulisan, tentu saja yang semestinya digunakan ialah bahasa Indonesia tulis yang baik dan benar.
Konsep ragam bahasa Indonesia tulis baku mengacu pada bentuk bahasa tulis baku, yang unsur-unsurnya adalah (i) ejaan dan peristilahan, (ii) bentuk dan pilihan kata, (iii) pengalimatan, dan (iv) pengalineaan yang baik dan benar. Pandangan bahwa berbahasa tulis sama dengan berbahasa lisan adalah pandangan yang sama sekali tidak benar. Perhatikan bagan berikut ini.

Walaupun dalam berbahasa lisan dan berbahasa tulis kita sama-sama memanfaatkan struktur kalimat yang sama, bentuk yang sama, dan pilihan kata yang sama, berdasarkan bagan di atas, perlu disadari bahwa dalam berbahasa lisan kita diatur oleh sistem pelafalan dan dalam berbahasa tulis kita diatur oleh sistem ejaan yang berlaku. Oleh karena itu, dalam penulisan karya ilmiah kita harus senantiasa memperhatikan sistem ejaannya.

B.    Ciri-ciri Bahasa Indonesia Ragam Keilmuan
Telah disinggung di muka bahwa ciri bahasa Indonesia ragam keilmuan ialah (i) digunakan oleh para cendekiawan dalam komunikasi keilmuan, (ii) tidak bersifat dan atau diwarnai oleh aspek kedaerahan, (iii) bersifat baku atau standar, dan (iv) bersifat resmi. Secara lebih rinci, sifat atau ciri bahasa Indonesia ragam keilmuan itu dapat dikemukakan berikut ini.
1.    Bahasa Indonesia ragam keilmuan digunakan dalam komunikasi keilmuan. Dalam komunikasi keilmuan biasanya banyak diwarnai oleh kosakata dan peristilahan keilmuan. Karena ilmu memiliki banyak disiplin, maka kosakata dan peristilahan yang digunakan itu sesuai dengan disiplin ilmu yang bersangkutan. Jadi, bahasa Indonesia ragam keilmuan yang digunakan dalam disiplin ilmu kedokteran akan banyak diwarnai oleh kosakata dan istilah kedokteran. Bahasa Indonesia ragam keilmuan yang digunakan dalam disiplin ilmu ekonomi akan banyak diwarnai oleh kosakata dan istilah ekonomi. Demikian pula dalam disiplin ilmu yang lain.
2.    Bahasa Indonesia ragam keilmuan tidak diwarnai oleh kosakata, istilah, struktur, dan lafal kedaerahan.
3.    Bahasa Indonesia ragam keilmuan termasuk bahasa Indonesia baku atau standar. Oleh karena itu, struktur, kosakata, peristilahan yang digunakan dalam bahasa Indonesia ragam keilmuan juga bersifat baku atau standar. Penggunaan struktur dan kosakata baku telah diatur dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dan penggunaan ejaannya diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Untuk bahasa lisan, bahasa Indonesia ragam keilmuan tidak boleh diwarnai oleh lafal kedaerahan atau menggunakan ucapan baku.
4.    Bahasa Indonesia ragam keilmuan menggunakan bahasa dalam makna denotative. Artinya tidak dibenarkan menggunakan kata-kata atau istilah dengan makna konotatif atau figurative. Tidak dibenarkan pula menggunakan kosakata atau struktur yang ambigu (bermakna ganda).
5.    Bahasa Indonesia ragam keilmuan tidak diwarnai oleh emosi atau tidak bersifat emosional. Kata-kata dan ungkapan afektif harus dihindarkan pemakaiannya.
6.    Bahasa Indonesia ragam keilmuan memiliki konsistensi atau keajegan dalam penggunaan berbagai aspeknya.
7.    Bahasa Indonesia ragam keilmuan tidak menggunakan kalimat-kalimat yang menonjolkan aspek pembicara atau penulis. Dengan kata lain, lebih menonjolkan aspek peristiwanya.
8.    Dalam bahasa Indonesia ragam keilmuan kesatuan makna dan kepaduan hubungan antar unsur sangat diutamakan.

Berdasarkan uraian tentang pengertian dan sifat bahasa Indonesia ragam keilmuan di atas, pembicaraan selanjutnya akan difokuskan pada (i) bentuk dan pilihan kata, (ii) tata istilah, (iii) pengalimatan, (iv) pengalineaan, dan (v) ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan.

KATA PENGANTAR

Salah satu kendala dalam pengajaran menulis, baik di tingkat pendidikan dasar, menengah, maupun tinggi, ialah kurangnya referensi atau buku ajar. Buku-buku asing yang beredar di Indonesia dan yang tersedia di berbagai perpustakaan sangat terbatas jenis dan jumlahnya. Buku-buku ajar berbahasa Indonesia pun juga dalam kondisi yang sama. Di sisi lain, kebanyakan siswa dan mahasiswa tidak memiliki kemampuan yang memadai dalam memahami buku-buku berbahasa asing. Oleh karena itu, pengadaan buku-buku ajar berbahasa Indonesia dipandang sangat mendesak dan penting.
Penulisan buku Penulisan Karya Ilmiah dan Penggunaan Bahasa Indonesia Ragam Baku ini merupakan salah satu upaya dalam memenuhi kebutuhan buku ajar di atas. Di samping itu, juga untuk menyediakan bahan rujukan bagi para guru dan masyarakat luas.
Di dalam buku ini dikemukakan beberapa permasalahan yang terkait dengan karya ilmiah dan penulisannya, serta beberapa permasalahan yang berkenaan dengan penggunaan bahasa Indonesia ragam keilmuwan dalam penulisan karya ilmiah.
Disadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, dengan rendah hati diharapkan sidang pembaca sudi menyampaikan kritik dan saran demi kesempurnaannya. Walaupun demikian, penulis tetap berharap, buku ini bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I    Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah
Bab II    Bentuk dan Pilihan Kata
Bab III    Tata Istilah
Bab IV    Kalimat Efektif
Bab V    Pengembangan Paragraf
Bab VI    Jenis-Jenis Wacana
Bab VII    Tata Persuratan
Bab VIII    Format dan Tata Tulis
Bab IX    Penulisan Karya Tulis Ilmiah
Bab X    Menulis dengan Pendekatan Proses
Bab XI    Organisasi Karangan
Daftar Pustaka

PENULISAN KARYA ILMIAH
DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA
RAGAM BAKU

Makalah ini disajikan untuk memenuhi tugas
mata kuliah Kurikulum dan Materi Ajar
yang diampu oleh Dr. Sarwidi Suwandi, M.Pd.
pada semester I tahun ajaran 2009/2010

Disusun Oleh :

Titiek Suyatmi

Program Studi : Pendidikan Bahasa Indonesia

PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
MEI 2009

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s