Akhlaq Seorang Majikan Kepada Karyawan

Standar

SERTIKFIKASI 1

“ AKHLAQ SEORANG MAJIKAN TERHADAP KARYAWAN ”

Dosen Pengampu : Fadhlun Amin

 

 

 

 

 

Nama Anggota :

                                                         1.  Achmad Gozali (09001061)

                                                         2.  Andi Irfhana Ardhi (09001037)

                                                         3.  Agung Gunawan (09001060)

                      4.  Fajar Miftahurrahman (09001002)

                                                         5.   Imam Zaki Sugiharto (09001066)

 

 

 

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

PORGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA

2010

 

  1. A.    Filsafat Akhlak

Akhlak adalah keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dimana perbuatan itu lehir secara spontan tanpa sempat menghitung untung rugi. Batin manusia adalah jiwanya, atau nafsu nya. Berbeda dengan Psikologi yang membahas perbuatan sebagai gejala dari jiwa, nafsu dibahas dalam sejarah keilmuan Islam dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan, sehingga kualitas jiwa nampak tingkatannya pada istilah nafs zakiyyah, nafs lawwamah, nafs musawwilah dan nafs muthma’innah. Tasauf yang sangat kental bahasannya tentang hubungan jiwa dengan Tuhan sebenarnya merupakan filsafat akhlak Islam. Sebagaimana kajian filsafat itu sangat luas “tak berbatas” demikian juga agama Islam bisa dikaji dengan pendekatan filsafat. Yang membedakannya ialah, jika failasuf berfikir tanpa batasan selain batasan akal, sedangkan bagi seorang muslim, semua perspektip dipagari oleh frame wahyu, yakni Al Qur’an.

Kiat Ketika Sedang Bekerja (etika bisnis)

Di antara hal-hal yang melekat pada manusia sebagai khalifah Allah adalah kewajiban menegakkan kebenaran (hukum-hukum Allah) di muka bumi dan hak mengelola/memanfaatkan alam semesta sebagai fasilitas hidup. Dari kewajiban dan hak itu lahir hukum kehidupan (sunnatullah) yaitu bahwa;

(a) Untuk memperoleh sesuatu yang dibutuhkan, manusia harus melalui prosedur yang dipertanggung jawabkan, yaitu bekerja,

(b) bahwa manusia berhak atas apa yang dikerjakannya secara benar,

(c) bahwa manusia harus menanggung resiko dari apa yang dikerjakannya secara salah. Jika hewan hanya menikmati fasilitas alam yang disediakan Tuhan, maka manusia dituntut untuk dapat memelihara lingkungan dari kerusakan, dan melakukan rekayasa agar fasilitas alam itu terdayaguna secara optimal. Pada hakekatnya bekerja adalah paduan antara memelihara lingkungan dan melakukan rekayasa.

Secara teologis, alam semesta adalah wujud dari rahmat Allah kepada manusia, dan dalam perspektif ini bekerja atau berbisnis bukanlah usaha mencari harta, tetapi merupakan usaha memancing rahmat. Nilai suatu harta (sebagai hasil bekerja) bergantung seberapa besar ia membawa rahmat bagi kehidupan pemiliknya, disebut sebagai berkah atau barakah. Kebalikan dari rahmat, harta dapat berubah fungsinya menjadi beban dan azab yang tak tertanggungkan bagi pemiliknya. Dari itulah maka agama mengajarkan adanya etika bekerja atau etika bisnis. Diantara adab orang bekerja atau berbisnis adalah sebagai berikut:

1. Meluruskan niat, bahwa bekerja atau berbisnis itu untuk mencari ridla Allah. Jika anda berdagang, berniatlah untuk membantu konsumen memperoleh kebutuhannya. Jika anda berbisnis dalam skala besar, berniatlah untuk memperluas kesejahteraan masyarakat/rakyat, jika anda profesional, pegangteguhlah prinsip-prinsip profesional.

2. Menyeimbangkan porsi perhatian, antara kepentingan duniawi dan kepentingan ukhrawi.

3. Mengorientasikan semua urusan pekerjaan pada fikiran jangka panjang, (hari tua, anak cucu, generasi mendatang, dan investasi akhirat/ibadah).

4. Jika berhadapan dengan pilihan sulit dalam mengambil keputusan menyangkut pekerjaan atau menyangkut proyek yang berdampak luas, sebelum mengambil keputusan hendaknya melakukan salat istikharah, yaitu mohon agar Tuhan memberi petunjuk dalam memilih hal yang terbaik baginya.

5. Jika anda seorang karyawan, hendaknya disiplin dan jujur dalam bekerja, karena keduanya akan mengantar pada ridlo Allah.

6. Jika anda seorang majikan hendaknya anda tidak mengekploitasi tenaga kerja, sebaliknya berilah upah yang memadai dan bayarkan segera. Rasulullah menyuruh kita agar mem-bayar upah buruh sebelum keringatnya kering, dan melarang mempekerjakan buruh sebelum ada kepastian tentang seberapa besar upahnya.

7. Jika anda pekerja lepas, maka giatlah anda dalam bekerja. Rasulullah mengatakan bahwa giat bekerja itu akan mendatangkan berkah hidup (al harakatu barakah).

8. Berbisnis dalam bidang yang diharamkan Tuhan, meski boleh jadi mendatangkan keuntungan yang besar dan cepat, tetapi pada akhirnya akan menyengsarakan (sekurang-kurangnya sengsara batin) karena kehilangan keberkahan. Demikian juga praktek-praktek yang diharamkan – seperti suap, korupsi, manipulasi, konspirasi jahat, meski boleh jadi melicinkan jalan, tetapi pada akhirnya akan menghilangkan makna berkah dan rahmat Allah. Praktek-praktek tersebut bukan hanya berdosa tetapi merusak sistem usaha.

9. Tunaikan kewajiban anda sebagai pengusaha kepada yang berhak, baik menyangkut hak buruh (upah), hak negara (pajak), hak Tuhan (zakat), hak masyarakat (lingkungan hidup).
10. Usaha yang berkah adalah usaha yang memberi manfaat kepada orang banyak dan memberi keuntungan yang halal

11. Ketika anda memulai usaha atau proyek bacalah doa dibawah ini :
Allohumma ij`al awwala hadza al amro solaha wausatohu falaha wa akhirohu najaha
Artinya: Ya Allah, jadikanlah awal dari urusan ini sebagai kepatutan, dan prosesnya merupakan proses yang menyenangkan, dan berakhir sebagai keberhasilan.

 

 

Artinya: Ya Tuhan, tolonglah aku supaya aku bisa mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada orang tuaku, dan tolonglah aku agar aku dapat mengerjakan perbuatan baik yang Engkau ridoi, dan dengan rahmat Mu, kumpulkanlah aku bersama dengan hamba-hamba Mu yang salih. (Q/s.an Naml: 19)

12. Konsekwensi berusaha atau bisnis dengan nyebut nama Allah (Bismillahir rahman nirrahim) adalah harus selalu ingat kepada Allah dalam setiap proses bisnis atau bekerja, sehingga tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya.

  1. B.     Melihat Pada Zaman Rasulullah SAW

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, pemimpin adalah pelayan umatnya. Itulah sikap pemimpin dalam Islam. Bukan minta dilayani. Setelah diumumkan pengangkatannya menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz menyendiri di rumahnya. Tak ada orang yang menemui, beliau pun tak mau keluar menemui seorang.  Dalam kesendirian itu, beliau menghabiskan waktu dengan bertafakkur, berdzikir, dan berdoa. Pengangkatannya sebagai khalifah tidak disambutnya dengan pesta, tetapi justru dengan cucuran air mata. Tiga hari kemudian beliau keluar. Para pengawal menyambutnya, hendak memberi hormat. Umar malah mencegahnya. “Kalian jangan memulai salam kepadaku, bahkan salam itu kewajiban saya kepada kalian.” Itulah perintah pertama Khalifah kepada pengawal-pengawalnya.

Umar menuju ke sebuah ruangan. Para pembesar dan tokoh telah menunggunya. Hadirin terdiam dan serentak bangkit berdiri memberi hormat. Apa kata beliau?, “Wahai sekalian manusia, jika kalian berdiri, saya pun berdiri. Jika kalian duduk, saya pun duduk. Manusia itu sebenarnya hanya berhak berdiri di hadapan Rabbul-‘Alamin.” Itulah yang dikatakan pertama kali kepada rakyatnya.

Buka Hati

Sikap pemimpin dalam Islam, sejatinya memang harus demikian. Sebagaimana kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pemimpin adalah pelayan umatnya. Sabda Nabi itu sungguh istimewa, sebab seorang pemimpin biasanya seperti seorang raja. Dan sebagai Khalifah, Umar bin Abdul Aziz mewarisi budaya yang demikian itu; hidup dalam gelimang kemewahan dan kekuasaan. Ternyata Umar tidak serta merta meneruskan budaya yang sebenarnya menguntungkannya secara pribadi itu. Beliau tak mau dihormati berlebihan dan hidup dalam kemewahan. Ia memilih sikap rendah hati dan sederhana.

Sebagai pemimpin besar, bersikap rendah hati, sederhana, dan melayani tentu tidak mudah. Apalagi bila kesempatan bermewah-mewah itu memang terbuka di depan mata, siapa tak tergiur? Di negeri kita ini, kedudukan dan jabatan malah jadi rebutan. Bahkan banyak yang mati-matian berkorban apa saja, dengan segala cara, untuk mendapatkannya. Setelah berhasil meraihnya, pertama kali yang dilakukan adalah pesta kemenangan. Kemudian segeralah digunakan aji mumpung. Sim salabim, jadilah OKB (Orang Kaya Baru). Gaya hidup dan pergaulannya berbeda dengan sebelumnya. Seolah menikmati kemewahan itulah memang impiannya. Mari kita membuka hati ini. Dengan berbagai upaya dan gaya hidup mewah itu, apa sih sesungguhnya dicari? Dengan mobil mewah, rumah megah, pakaian serba mahal, apa sebenarnya yang dirindukan lubuk hati? Mungkin terdetak dorongan hidup terhormat dan dimuliakan. Tentu mencapai hidup seperti itu suatu yang normal saja. Malah aneh kalau ada orang bercita-cita hidup hina dan direndahkan. Tetapi benarkah kemuliaan dan kehormatan dapat dicapai dengan hidup berbungkus kemewahan? Coba sebutkan nama-nama orang yang menggetarkan hati karena kemuliaan dan kehormatannya. Cermati satu per satu. Benarkah hati Anda terkesan karena kemewahan mereka?

Mari kita bercermin kepada Umar. Kita tenangkan hati dan jernihkan pikiran sejenak. Andai beliau memilih cara hidup mewah dan bermain kekuasaan sebagaimana raja-raja yang lain, akankah memiliki nama harum seperti saat ini? Mungkin saja kemewahan singgasana bisa menjadi topeng kemuliaan di muka rakyat. Tetapi berapa lama kemuliaan seperti itu bisa bertahan?. Lihatlah para pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kesombongan dan kemewahan. Bagaimana akhir kehidupan mereka? Masa tua tidak hidup damai, malah gundah gulana karena dijerat hukum. Terbukti bahwa kemuliaan yang dibungkus materi hanyalah semu dan tipuan belaka.

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai orang-orang sombong. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlasuaramu.“[QS: Luqman: 18-19]

Misi Mulia

Ya, memang tidak mudah untuk selalu rendah hati dan memilih hidup melayani. Apalagi kalau terjebak pada dorongan biologis dan egoisme semata. Maunya justru dilayani. Ketika sedang memegang kekuasaan, yang dipikirkan adalah apa yang dapat diambil dengan posisi ini, bukan kebaikan apa yang dapat diberikan pada orang lain. Melayani dirasakan sebagai suatu kehinaan, seolah yang harus melakukan adalah orang-orang rendahan. Padahal melayani inilah misi mulia yang sebenarnya diamanahkan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih; Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti jejaknya.

Sebagaimana dalam Al-qur’an menegaskan :”Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiyaa’: 107). Dengan berbagi rahmat, tersebarlah belas kasih dan kedamaian dalam kehidupan. Dalam bekerja, seorang pemimpin akan senantiasa berpikir bagaimana karyawannya sejahtera. Karyawan pun berpikir bagaimana bisa memberikan layanan terbaik melalui pekerjaannya. Sebagai pemimpin keluarga, seorang ayah yang mengasihi keluarganya akan mengantar pada suasana sakinah. Anak-anaknya pun termotivasi untuk meneladani dan berbakti kepada kedua orangtuanya.
Setiap orang yang melayani dengan ikhlas berarti telah berpartisipasi menebar rahmat ke seluruh alam. Itulah tugas terhormat seorang pemimpin. Dan setiap kita pada hakikatnya adalah pemimpin, begitu sabda Rasulullah. Bila setiap orang berpikir minta dilayani, yang terjadi justru krisis. Pemimpin minta dilayani stafnya. Majikan memeras para karyawan. Petugas mempersulit rakyat. Orientasinya bukan rahmatan lil alamin, tetapi keuntungan pribadi. Kekayaan alam yang mestinya untuk kesejahteraan rakyat, malah dikuras untuk bermewah-mewah diri dan kroninya. Hutan digunduli sehingga banjir dan longsor di sana-sini. Rakyatlah yang jadi korban, Melihat perilaku pemimpin yang seperti itu, rakyat pun ikut-ikutan mencari keuntungan sendiri. Sudah kaya dan berkecukupan, namun belum bersyukur dan malah berebut bantuan yang mestinya untuk fakir miskin. Sungguh cara hidup yang tidak akan berujung kepada kemuliaan, tetapi justru kehinaan. Dan inilah yang banyak disaksikan di sekeliling kita sekarang. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” [QS: Al-Israa’: 16]
Agar mampu rahmatan lil ‘alamin, kita perlu mentransformasi diri. Pusat diri yang sebelumnya egoisme dan hawa nafsu, harus diganti dengan kebeningan nurani.

 

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s