Keefektifan layanan Bimbingan Kelompok

Standar

KEEFEKTIFAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK

B. Bimbingan Kelompok

1. Pengertian Bimbingan kelompok

Kegiatan bimbingan kelompok akan terlihat hidup jika di

dalamnya terdapat dinamika kelompok. Dinamika kelompok merupakan

media efektif bagi anggota kelompok dalam mengembangkan aspek-aspek

positif ketika mengadakan komunikasi antarpribadi dengan orang lain.

Prayitno (1995: 178) mengemukakan bahwa Bimbingan

kelompok adalah Suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok

orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Artinya, semua

peserta dalam kegiatan kelompok saling berinteraksi, bebas

mengeluarkan pendapat, menanggapi, memberi saran, dan lain-lain

sebagainya; apa yang dibicarakan itu semuanya bermanfaat untuk

diri peserta yang bersangkutan sendiri dan untuk peserta lainnya.

Sementara Romlah (2001: 3) mendefinisikan bahwa

bimbingan kelompok merupakan salah satu teknik bimbingan yang

berusaha membantu individu agar dapat mencapai

perkembangannya secara optimal sesuai dengan kemampuan,

bakat, minat, serta nilai-nilai yang dianutnya dan dilaksanakan

dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok ditujukan untuk

mencagah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan

potensi siswa.

Sedangkan menurut (Sukardi, 2003: 48) Layanan

bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa

secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara

sumber (terutama guru pembimbing) yang bermanfaat untuk

kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai

pelajar, anggota keluarga dan masyarakat.

Wibowo (2005: 17) menyatakan bahwa bimbingan kelompok

adalah suatu kegiatan kelompok dimana pimpinan kelompok menyediakan

informasi-informasi dan mengarahkan diskusi agar anggota kelompok

menjadi lebih sosial atau untuk membantu anggota-anggota kelompok

untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.

Dari beberapa pengertian bimbingan kelompok di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa bimbingan kelompok adalah Suatu kegiatan kelompok

yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika

kelompok yaitu adanya interaksi saling mengeluarkan pendapat,

memberikan tanggapan, saran, dan sebagainya, dimana pemimpin

kelompok menyediakan informasi-informasi yang bermanfaat agar dapat

membantu individu mencapai perkembangan yang optimal.

2. Tujuan Bimbingan Kelompok

Ada beberapa tujuan bimbingan kelompok yang dikemukakan oleh

beberapa ahli, adalah sebagai berikut:

Menurut amti (1992: 108) bahwa tujuan bimbingan kelompok

terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus.

Secara umum bimbingan kelompok betujuan untuk membantu para

siswa yang mengalami masalah melalui prosedur kelompok. Selain itu

juga menembangkan pribadi masing-masing anggota kelompok melalui

berbagai suasana yang muncul dalam kegiatan itu, baik suasana yang

menyenangkan maupun yang menyedihkan.

Secara khusus bimbingan kelompok bertujuan untuk:

a.) Melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat di hadapan

teman-temannya.

b.) Melatih siswa dapat bersikap terbuka di dalam kelompok

c.) Melatih siswa untuk dapat membina keakraban bersama temanteman

dalam kelompok khususnya dan teman di luar kelompok

pada umumnya.

d.) Melatih siswa untuk dapat mengendalikan diri dalam kegiatan

kelompok.

e.) Melatih siswa untuk dapat bersikap tenggang rasa dengan oran

lain.

f.) Melatih siswa memperoleh keterampilan sosial

g.) Membantu siswa mengenali dan memahami dirinya dalam

hubungannya dengan orang lain.

Tujuan bimbingan kelompok seperti yang dikemukakan oleh

(Prayitno, 1995: 178) adalah:

e. Mampu berbicara di depan orang banyak

f. Mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan dan

lain sebagainya kepada orang banyak.

g. Belajar menghargai pendapat orang lain,

h. Bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukakannya.

i. Mampu mengendalikan diri dan menahan emosi (gejolak kejiwaan

yang bersifat negatif).

j. Dapat bertenggang rasa

k. Menjadi akrab satu sama lainnya,

l. Membahas masalah atau topik-topik umum yang dirasakan atau

menjadi kepentingan bersama

Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk

memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai

bahan dari nara sumber (terutama guru pembimbing) yang bermanfaat

untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai

pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. (Sukardi, 2003: 48).

Layanan bimbingan kelompok merupakan media

pengembangan diri untuk dapat berlatih berbicara, menanggapi,

memberi menerima pendapat orang lain, membina sikap dan perilaku

yang normatif serta aspek-aspek positif lainnya yang pada gilirannya

individu dapat mengembangkan potensi diri serta dapat meningkatkan

perilaku komunikasi antarpribadi yang dimiliki.

3. Asas-asas Bimbingan kelompok

a. Asas kerahasiaan

Para anggota harus menyimpan dan merahasiakan

informasi apa yang dibahas dalam kelompok, terutama hal-hal

yang tidak layak diketahui orang lain

b. Asas keterbukaan

Para anggota bebas dan terbuka mengemukakan pendapat,

ide, saran, tentang apa saja yang yang dirasakan dan dipikirkannya

tanpa adanya rasa malu dan ragu-ragu.

c. Asas kesukarelaan

Semua anggota dapat menampilkan diri secara spontan tanpa

malu atau dipaksa oleh teman lain atu pemimpin kelompok.

d. Asas kenormatifan

Semua yang dibicarakan dalam kelompok tidak boleh

bertentangan dengan norma-norma dan kebiasaan yang berlaku.

4. Peranan Pemimpin Kelompok dan Anggota Kelompok

Dinamika kelompok yang tercipta dalam proses bimbingan

kelompok menggambarkan hidupnya suatu kegiatan kelompok.

Hangatnya suasana atau kakunya komunikasi yang terjadi juga

tergantung pada peranan pemimpin kelompok. Oleh karena itu

pemimpin kelompok memiliki peran penting dalam rangka membawa

para anggotanya menuju suasana yang mendukung tercapainya tujuan

bimbingan kelompok. Sebagaimana yang dikemukakan Prayitno

(1995: 35-36) bahwa peranan pemimpin kelompok ialah:

a. Pemimpin kelompok dapat memberikan bantuan, pengarahan

ataupun campur tangan langsung terhadap kegiatan

kelompok. Campur tang ini meliputi, baik hal-hal yang

bersifat isi dari yang dibicarakanmaupun yang mengenai

proses kegiatan itu sendiri.

b. Pemimpin kelompok memusatkan perhatian pada suasana

yang berkembang dalam kelompok itu, baik perasaan

anggota-anggota tertentu maupun keseluruhan kelompok.

Pemimpin kelompok dapat menanyakan suasanan perasaan

yang dialami itu.

c. Jika kelompok itu tampaknya kurang menjurus kearah yang

dimaksudkan maka pemimpin kelompok perlu memberikan

arah yang dimaksudkan itu.

d. Pemimpin kelompok juga perlu memberikan tanggapan

(umpan balik) tentang berbagai hal yang terjadidalam

kelompok, baik yang bersifat isi maupun proses kegiatan

kelompok.

e. Lebih jauh lagi, pemimpin kelompok juga diharapkan mampu

mengatur “lalu lintas” kegiatan kelompok, pemegang aturan

permainan (menjadi wasit), pendamai dan pendorong kerja

sama serta suasana kebersamaan. Disamping itu pemimpin

kelompok, diharapkan bertindak sebagai penjaga agar apapun

yang terjadi di dalam kelompok itu tidak merusak ataupun

menyakiti satu orang atau lebih anggota kelompok sehingga

ia / mereka itu menderita karenanya.

f. Sifat kerahasiaan dari kegiatan kelompok itu dengan segenap

isi dan kejadian-kejadian yang timbul di dalamnya, juga

menjadi tanggung jawab pemimpin kelompok.

Kegiatan layanan bimbingan kelompok sebagian besar juga

didasarkan atas peranan para anggotanya. Peranan kelompok tidak

akan terwujud tanpa keikutsertaan secara aktif para anggota kelompok

tersebut. Karena dapat dikatakan bahwa anggota kelompok

merupakan badan dan jiwa kelompok tersebut. Agar dinamika

kelompok selalu berkembang, maka peranan yang dimainkan para

anggota kelompok adalah:

a. Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan

antaranggota kelompok.

b. Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam

kegiatan kelompok.

c. Berusaha agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan

bersama

d. Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha

mematuhinya dengan baik.

e. Benar-benar berusaha untuk secara aktif ikut serta dalam seluruh

kegiatan kelompok.

f. Mampu berkomunikasi secara terbuka

g. Berusaha membantu anggota lain.

h. Memberi kesempatan anggota lain untuk juga menjalankan

peranannya.

j. Menyadari pentingnya kegiatan kelompok itu.

5. Cara-cara Pelaksanaan Bimbingan Kelompok

a. Masing-masing anggota kelompok dalam bimbingan kelompok

secara bebas dan sukarela berbicara, bertanya, mengeluarkan

pendapat, ide, sikap, saran, serta perasaan yang dirasakannya pada

saat itu.

b. Mendengarkan dengan baik bila anggota kelompok berbicara, yaitu

setiap salah satu anggota kelompok menyampaikan tanggapan,

maka anggota kelompok lainnya memperhatikannya, karena

dengan memperhatikannya maka akan mudah untuk saling

menanggapi pendapat lain, sehingga akan menumbuhkan dinamika

kelompok di dalam kegiatan bimbingan kelompok tersebut.

c. Mengikuti aturan yang ditetapkan oleh kelompok dalam bimbingan

kelompok, yaitu dalam pelaksanaan bimbingan kelompok dibuat

semacam kesepakatan antara pemimpin kelompok dengan para

anggota kelompok, sehingga diharapkan dalam pelaksanaan

kegiatan tersebut dapat berjalan sesuai yang diharapkan oleh kedua

belah pihak.

d. Mengadakan evaluasi setelah kegiatan bimbingan kelompok

berakhir. Evaluasi dalam hal ini dilakukan pemimpin kelompok

setiap berakhirnya pertemuan dan evaluasi secara keseluruhan

setiap pertemuan kelompok.

6. Tahap-tahap Bimbingan Kelompok

Bimbingan kelompok berlangsung melalui empat tahap.

Menurut (Prayitno, 1995: 44-60) tahap-tahap bimbingan kelompok

adalah sebagai berikut:

a. Tahap Pembentukan

Tahap ini merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan diri

atau tahap memasukkakan diri kedalam kehidupan suatu

kelompok. Pada tahap ini pada umumnya para anggota saling

memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan ataupun

harapan-harapan masing-masing anggota. Pemimpin kelompok

menjelaskan cara-cara dan asas-asas kegiatan bimbingan

kelompok. Selanjutnya pemimpin kelompok mengadakan

permainan untuk mengakrabkan masing-masing anggota sehingga

menunjukkan sikap hangat, tulus dan penuh empati.

b. Tahap Peralihan

Sebelum melangkah lebih lanjut ke tahap kegiatan kelompok

yang sebenarnya, pemimpin kelompok menjelaskan apa yang akan

dilakukan oleh anggota kelompok pada tahap kegiatan lebih lanjut

dalam kegiatan kelompok. Pemimpin kelompok menjelaskan

peranan anggota kelompok dalam kegiatan, kemudian menawarkan

atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani

kegiatan pada tahap selanjutnya. Dalam tahap ini pemimpin

kelompok mampu menerima suasana yang ada secara sabar dan

terbuka. Tahap kedua merupakan “jembatan” antara tahap pertama

dan ketiga. Dalam hal ini pemimpin kelompok membawa para

anggota meniti jembatan tersebut dengan selamat. Bila perlu,

beberapa hal pokok yang telah diuraikan pada tahap pertama

seperti tujuan dan asas-asas kegiatan kelompok ditegaskan dan

dimantapkan kembali, sehingga anggota kelompok telah siap

melaksankan tahap bimbingan kelompok selanjutnya.

c. Tahap kegiatan

Tahap ini merupakan kehidupan yang sebenarnya dari

kelompok. Namun, kelangsungan kegiatan kelompok pada tahap

ini amat tergantung pada hasil dari dua tahap sebelumnya. Jika

dua tahap sebelumnya berhasil dengan baik, maka tahap ketiga itu

akan berhasil dengan lancar. Pemimpin kelompok dapat lebih

santai dan membiarkan para anggota sendiri yang melakukan

kegiatan tanpa banyak campur tangan dari pemimpin kelompok.

Di sini prinsip tut wuri handayani dapat diterapkan.

Tahap kegiatan ini merupakan tahap inti dimana masingmasing

anggota kelompok saling berinteraksi memberikan

tanggapan dan lain sebagainya yang menunjukkan hidupnya

kegiatan bimbingan kelompok yang pada akhirnya membawa

kearah bimbingan kelompok sesuai tujuan yang diharapkan.

d. Tahap Pengakhiran

Pada tahap ini merupakan tahap berhentinya kegiatan. Dalam

pengakhiran ini terdapat kesepakatan kelompok apakah kelompok

akan melanjutkan kegiatan dan bertemu kembali serta berapa kali

kelompok itu bertemu. Dengan kata lain kelompok yang

menetapkan sendiri kapan kelompok itu akan melakukan kegiatan .

Dapat disebutkan kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan pada

tahap ini adalah:

1.) Penyampaian pengakhiran kegiatan oleh pemimpin kelompok

2.) Pengungkapan kesan-kesan dari anggota kelompok

3.) Penyampaian tanggapan-tanggapan dari masing-masing

anggota kelompok

4.) Pembahasan kegiatan lanjutan

5.) Penutup

7. Evaluasi kegiatan layanan bimbingan kelompok

Penilaian atau evaluasi kegiatan layanan bimbingan kelompok

diorientasikan kepada perkembangan pribadi siswa dan hal-hal yang

dirasakan oleh anggota berguna. Penilaian kegiatan bimbingan

kelompok dapat dilakukan secara tertulis, baik melalui essai, daftar

cek, maupun daftar isian sederhana (Prayitno, 1995: 81). Setiap

pertemuan, pada akhir kegiatan pemimpin kelompok meminta anggota

kelompok untuk mengungkapkan perasaannya, pendapatnya, minat,

dan sikapnya tentang sesuatu yang telah dilakukan selama kegiatan

kelompok (yang menyangkut isi maupun proses). Selain itu anggota

kelompok juga diminta mengemukakan tentang hal-hal yang paling

berharga dan sesuatu yang kurang di senangi selama kegiatan

berlangsung.

Penilaian atau evaluasi dan hasil dari kegiatan layanan bimbingan

kelompok ini bertitik tolak bukan pada kriteria “benar atau salah”,

tetapi berorientasi pada perkembangan, yakni mengenali kemajuan

atau perkembangna positif yang terjadi pada diri anggota kelompok.

Prayitno (1995: 81) mengemukakan bahwa penilaian terhadap layanan

bimbingan kelompok lebih bersifat “dalam proses”, hal ini dapat

dilakukan melalui:

a. Mengamati partisipasi dan aktivitas peserta selama kegiatan

berlangsung.

b. Mengungkapkan pemahaman peserta atas materi yang dibahas

c. Mengungkapkan kegunaan layanan bagi anggota kelompok, dan

perolehan anggota sebagai hasil dari keikutsertaan mereka.

d. Mengungkapkan minat dan sikap anggota kelompok tentang

kemungkinan kegiatan lanjutan.

e. Mengungkapkan tentang kelancaran proses dan suasana

penyelenggaraan layanan.

8. Teknik-teknik dalam bimbingan kelompok

Sebagaimana yang dikemukakan Prayitno (1995: 78) bahwa

teknik-teknik dalam bimbingan kelompok adalah sama dengan teknik

yang digunakan dalam konseling perorangan. Hal tersebut memang

demikian karena pada dasarnya tujuan dan proses pengembangan

pribadi melalui layanan bimbingan kelompok dan konseling

perorangan adalah sama. Perbedaannya hanya terletak pada proses

interaksi antarpribadi yang lebih luas dalam dinamika kelompok pada

bimbingan kelompok.

Teknik dalam bimbingan kelompok menggunakan teknik

umum atau disebut juga “tiga M”, yaitu mendengar dengan baik,

memahami secara penuh, dan merespon secara tepat dan positif.

Kemudian pemberian dorongan minimal dan penguatan.

9. Kriteria Bimbingan Kelompok yang Efektif

Bimbingan kelompok merupakan suatu sistem yang terdiri dari

komponen yang saling berkaitan. Dapat terlaksana secara efektif dan

efisien jika semua komponen dalam sistem tersebut mengarah pada

perubahan dan pada sesuatu yang positif. Komponen sistem dalam

bimbingan kelompok menurut Wibowo (2005: 189) adalah:

“Variabel raw input (siswa/anggota kelompok);

instrumental input (konselor, program, tahapan dan

sarana); envimental input (norma, Tujuan dan

lingkungan); proses atau perantara (interaksi, perlakuan

kontrak perilaku yang disepakati akan diubah dan

dinamika kelompok); output yaitu berkenaan dengan

perubahan perilaku atau penguasaan tugas-tugas”.

Komponen-komponen system dalam bimbingan kelompok

tersebut adalah:

a. Raw Input

Keanggotaan merupakan salah satu unsur pokok dalam bimbingan

kelompok. Raw Input dalam bimbingan kelompok adalah siswa.

Karena bimbingan kelompok sifatnya pengembangan dan topik yang

dibahas merupakan topik-topik umum, maka siapapun dapat menjadi

anggota kelompok. Berikut ini beberapa pertimbangan dalam

membentuk suatu kelompok bimbingan kelompok adalah (Prayitno,

1995: 30):

1) Jenis kelompok, untuk Tujuan-tujuan tertentu mungkin

diperlukan pembentukan kelompok dengan jumlah anggota

yang seimbang antara laki-laki dan perempuan, atau

mungkin juga semua jenis kelamin anggota sama.

2) Umur, pada umumnya dinamika kelompok lebih baik

dikembangkan dalam kelompok-kelompok dengan anggota

seumur

3) Kepribadian, keragaman atau keseragaman dalam

kepribadian anggota dpat membawa keuntungan atau

kerugian tertentu. Jika perbedaan diantara para anggota itu

amat besar, maka komunikasi akan terganggu dan dinamika

kelompok juga kurang hangat.

4) Hubungan awal, keakraban dapat mewarnai hubungan

dalam anggota kelompok yang sudah saling bergaul

sebelumnya, dan sebaliknya suasana keasingan akan

dilaksanakan oleh para anggota yang belum saling kenal.

Untuk kelompok tugas mungkin anggota yang seragam

akan menyelesaikan tugas lebih baik. Sebaliknya, bagi

kelompok bebas, khususnya dengan Tujuan kemampuan

hubungan sosial dengan orang-orang baru, anggota

kelompok yang beragam akan lebih tepat sasaran.

b. Intrumental Input

Konselor (pemimpin kelompok), program, dan tahapan, dan sarana

merupakan instrumental input bimbingan kelompok. Konselor atau

pemimpin kelompok harus menguasai keterampilan dan sikap yang

memadai untuk terselenggaranya proses bimbingan kelompok yang

efektif. Diantaranya pemimpin kelompok mampu melaksanakan teknik

umum dengan istilah “3M” Mendengar dengan baik, memahami

secara penuh, dan merespon secara tepat dan positif. Program

kegiatan selayaknya dikembangkan sesuai kebutuhan siswa, kondisi

objektif sekolah, perkembangan yang terjadi di masyarakat, serta

keterampilan dankemampuan konselor di sekolah yang bersangkutan

(Wibowo, 2005: 252).

c. Enviromental Input

Kegiatan layanan bimbingan kelompok dapat berjalan dengan

lancar dan terarah, apabila terdapat norma kelompok. Norma

kelompok merupakan aturan yang dibuat, dan disepakati serta

digunakan dalam kegiatan bimbingan kelompok. Selain itu

lingkungan kondusif dalam kelompok juga perlu diciptakan demi

tercapainya bimbingan kelompok yang efektif. Lingkungan kondusif

yang dimaksud adalah adanya suasana akrab dan hangat yang

mewarnai dinamika kelompok. Dinamika kelompok merupakan

interaksi dinamis antar anggota kelompok dan pemimpin kelompok

dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok.

d. Proses

Kegiatan layanan bimbingan kelompok terlihat hidup apabila

tercipta dinamika kelompok di dalamnya. Dinamika kelompok dapat

dimanfaatkan dalam proses interaksi antar anggota dalam membahas

topik yang disajikan, sehingga antar anggota dapat terjalin rasa empati,

keterbukaan, rasa positif, saling mendukung dan merasa setara dengan

anggota lain dalam kelompok tersebut. Oleh karena itu perlu

diperhatikan pula peranan yang hendaknya dimainkan oleh anggota

maupun pemimpin kelompok. Peran anggota dan pemimpin kelompok

dapat dilihat pada uraian dimuka.

Agar proses bimbingan kelompok dapat mencapai keberhasilan,

perlu disediakan sarana pendukung yaitu merupakan seperangkat alat

bantu untuk memperlancar proses bimbingan kelompok. Alat bantu

tersebut anta lain ruangan, tempat duduk dan perlengkapan

administrasi lainnya (Wibowo, 2005: 154).

e. Output

Setelah mengikuti kegiatan layanan bimbingan kelompok siswa

diharapkan memiliki sikap dan keterampilan yang lebih baik. Dalam

hal ini siswa diharapkan memiliki kemampuan verbal dan non verbal

yang lebih baik. Selain itu siswa diharapkan memiliki keterbukaan,

rasa positif, empati, sikap saling mendukung, dan memiliki rasa setara

dan kebersamaan yang tinggi.

Menurut Amti dan Marjohan (1992: 150) mengemukakan bahwa

setelah mengikuti kegiatan bimbingan kelompok diharapkan anggota

mampu mengembangkan sikap dan keterampilan sebagai berikut:

1) Sikap, meliputi tidak mau menang sendiri, tidak gegabah

dalam berbicara, ingin membantu orang lain, lebih melihat

aspek positif dalam menanggapi pendapat teman-temannya,

sopan dan bertanggung jawab, menahan dan

mengendalikan diri, mau mendengar pendapat orang lain,

dan tidak memaksakan pendapanya.

2) Keterampilan, meliputi mengemukakan pendapat kepada

orang lain, menerima pendapat orang lain dan memberikan

tanggapan secara tepat dan positif.

B. Keefektifan Layanan Bimbingan Kelompok Dalam Meningkatkan

keterampilan komunikasi antarpribadi

Komunikasi antarpribadi merupakan proses kegiatan manusia yang

terdiri dari dua orang atau lebih yang saling bertukar informasi, pengetahuan,

pikiran, agar dapat menggugah partisipasi satu sama lain. Ciri-ciri siswa yang

memiliki perilaku komunikasi antar pribadi yang efektif adalah memiliki

keterbukaan (Openess), yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati

informasi yang diterima di dalam menghadapi hubungan antar pribadi, dapat

berempati (Empathy), yaitu merasakan apa yang dirasakan orang lain,

dukungan (Supportiveness), yaitu situasi yang terbuka untuk mendukung

komunikasi berlangsung efektif, memiliki rasa positif (positivenes), seseorang

harus memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong orang lain lebih

aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi kondusif untuk

interaksi yang efektif, merasa setara dengan orang lain (Equality), yaitu

pengakuan secara diam-diam bahwa kedua belah pihak menghargai, berguna,

dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.

Komunikasi antarpribadi merupakan hal penting dalam hidup siswa,

baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat.

Lingkungan sekolah adalah tempat yang paling banyak digunakan siswa

berinteraksi, sehingga banyak pula komunikasi antarpribadi dilakukan siswa

di sekolah. Dengan komunikasi antarpribadi, siswa akan dengan mudah

memperoleh pemahaman dari guru pada saat pembelajaran. Melalui

komunikasi antarpribadi pula siswa dapat mengembangkan pengetahuannya,

yaitu belajar dari pengalamannya, maupun informasi yang mereka terima dari

guru dan dari lingkungan sekitarnya.

Siswa dikatakan memiliki perilaku komunikasi antarpribadi yang efektif

apabila ia mampu menanggapi informasi yang diterima dengan senang hati

dalam menghadapi hubungan antar pribadi, dapat berempati, artinya mampu

merasakan apa yang dirasakan orang lain, mendukung komunikasi

berlangsung efektif, memiliki rasa positif, yaitu memandang diri dan orang

lian secara positif serta menghargai orang lain. Siswa menganggap bahwa

pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi siswa, bila

berkumpul dengan satu kelompok merasa setara, gembira dan terbuka.

Bimbingan kelompok adalah bimbingan yang diberikan kepada

sekelompok individu yang mengalami masalah yang sama dengan

memanfaatkan dinamika kelompok yaitu interaksi masing-masing anggota

yang menghidupkan proses kegiatan bimbingan kelompok. Melalui dinamika

kelompok tersebut diharapkan masing-masing anggota memperoleh informasi

atau topik-topik yang dibahas bersama, serta pengetahuan dan pengalaman

yang nantinya dapat dikembangkan secara optimal sesuai dengan tugas

perkembangan yang seharusnya dilaksanakan.

Tujuan bimbingan kelompok diantaranya adalah setiap anggota

kelompok mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan,

dan lain sebagainya, mampu berbicara di depan orang banyak, belajar

menghargai pendapat orang lain, menjadi akrab satu sama lainnya, mampu

mengendalikan diri dan dapat bertenggang rasa. Dengan mampu

mengeluarkan pendapat, berbicara, menghargai orang lain dan bertenggang

rasa, berarti siswa akan dapat dengan mudah bersosialisasi, mudah

memperoleh pemahaman dalam pembelajaran di sekolah, dapat

mengembangkan pengetahuannya, yakni belajar dari pengalamannya, maupun

melalui informasi yang mereka terima dari lingkungannya. Secara otomatis

siswa telah memiliki komunikasi antarpribadi yang baik.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Wahidah fribasari tentang

“Efektifitas layanan bimbingan kelompok dalam bimbingan sosial untuk

meningkatkan hubungan interpersonal remaja di Panti Asuhan Kumuda Putri

Magelang tahun 2005” diketahui layanan bimbingan kelompok tersebut

efektif meningkatkan hubungan interpersonal remaja panti asuhan itu.

Mengacu pada penelitian tersebut, bahwa hubungan interpersonal akan

meningkat jika didalamnya terdapat perilaku komunikasi antarpribadi yang

baik. Selain itu pula Tri Astutik Nurmawati melaksanakan penelitian dengan

judul “Efektifitas bimbingan kelompok dalam meningkatkan keterbukaan diri

siswa kelas VII SMP Negeri 11 Semarang tahun pelajaran 2005/2006”.

Berdasarkan penelitian tersebut bimbingan kelompok dinyatakan efektif

dalam meningkatkan keterbukaan diri siswa. Tumbuhnya keterbukaan diri

merupakan dampak dari perilaku komunikasi antarpribadi yang efektif .

Komunikasi antar pribadi efektif jika pertemuan komunikasi merupakan hal

yang menyenangkan bagi siswa. Jika siswa berkumpul dalam satu kelompok,

siswa merasa senang , gembira dan terbuka. Untuk menunjukkan keefektifan

tersebut dilaksanakan melalui kegiatan layanan bimbingan kelompok pada

siswa.

Dengan demikian layanan bimbingan kelompok dalam penelitian ini

diperkirakan efektif dalam meningkatkan perilaku komunikasi antarpribadi

siswa.

Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa layanan bimbingan

kelompok dapat meningkatkan perilaku komunikasi antarpribadi siswa.

Kegiatan bimbingan kelompok ini membahas topik-topik umum atau topiktopik

remaja yang menunjang dalam meningkatkan perilaku komunikasi

antarpribadi siswa.

 

 

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s