Konseling Individu

Standar

TEKNIK BIMBINGAN

“Konseling Individual”

Dosen Pengampu : Dody Hartanto S.Pdi

                                                                                                            Disusun Oleh Kelompok 13:

  1.                                                                                     Fajar Miftahurrahman ( 09001002)
  2.                                                                                      Beni Wijaya (09001033)

 

 

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA

2010

PENDAHULUAN

 

A.Latar Belakang

Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah (konseli) dan proses pemberdayaan diri bukan proses ketergantungan dengan psikolog yang bertujuan untuk dapat merubah perilaku konseli serta terbebas dari masalah yang sedang dihadapinya (Prayitno dan Amti,1999:106).

Utama bimbingan yang didukung oleh layanan konseling individual ialah fungsi pengentasan. Konseling perorangan merupakan layanan konseling yang diselenggarakan oleh seorang konselor terhadap seorang konseli dalam rangka pengentasan masalah pribadi konseli dalam interakaksi langsung atau tatap muka (Prayitno,2004:1).

Pelayanan konseling individual di Sekolah adalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat dan minat, masalah pribadi, kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir.difasilitasi/dilaksanakan oleh konselor. (Winkel ).

Konseling individual merupakan salah satu dari bentuk sekian banyak “guidance service” (layanan bimbingan). Konseling individual merupakan hubungan professional yang berupa proses pemberian bantuan oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami masalah (konseli) dalam suasana langsung (tatap muka) yang

Tujuan layanan Konseling Individual adalah Menurut Prayitno (2004:4), tujuan layanan konseling individual yaitu Tujuan umum layanan konseling individual adalah pengentasan masalah konseli
Tujuan khusus layanan konseling individual dapat dirinci sebagai berikut: melalui layanan konseling individual konseli dapat memahami seluk beluk masalah yang dialami secara mendalam dan komperhensif, serta positif, dan dinamis.Fungsi pemahaman Dalam Pelaksanan Layanan Konseling Individual ada beberapa tahap, yaitu tahap awal meliputi dimulai sejak konseli menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan konseli menemukan masalah konseli. Tahap berikutnya yaitu tahap inti atau kerja,

Tahap yang ketiga yaitu tahap akhir, akan tetapi Banyak guru bimbingan dan konseling yang belum paham bagaiamana cara pelaksanan layanan koseling individual yang benar.

Situasi demikian diperparah oleh kerancuan peran di setiap sekolah. Peran guru BK dengan lembaga bimbingan konseling (BK) direduksi sekadar sebagai polisi sekolah. Konseling yang sebenarnya paling potensial menggarap pemeliharaan pribadi-pribadi, ditempatkan dalam konteks tindakan-tindakan yang menyangkut disipliner siswa. Memanggil, memarahi, menghukum adalah proses klasik yang menjadi label konseling.

 

B. Rumusan Masalah

 

A. Bagaimana cara membantu siswa dalam menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi dengan cara dan  metode  yang lebih dekat.

B. Kenapa guru bimbingan konseling (BK) mempunyai nama atau julukan jelek di mata siswa.

C. Bagaiman cara meluruskan kerancuan peran guru bimbingan konseling (BK) di setiap sekolah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KONSELING INDIVIDU

 

Konseling adalah sebuah proses pemberdayaan diri, bukan proses ketergantungan pada psikolog. Di dalam proses konseling individu dibimbing untuk memahami persoalan dengan lebih baik, menelusuri berbagai peluang dan potensi hambatan pemecahan masalah, serta mencari jalan keluar terbaik. Dengan wawasan dan pemahaman diri yang diberikan psikolog, proses konseling ditujukan untuk mendorong efektivitas individu menangani tantangan-tantangan yang dihadapi.

 

 

PROSES LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL

Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik, tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling   Dalam prakteknya  strategi layanan bimbingan dan konseling dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan, Oleh karena itu, guru maupun konselor dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling, sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Secara umum, proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu:

A. Tahap Awal

Tahap ini  dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Pada tahap ini ada hal yang perlu dilakukan, diantaranya :
Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling, terutama asas kerahasiaan,

Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri, maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien, dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah.. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien: (1) Kontrak waktu, yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan; (2) Kontrak tugas, yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien; dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling, yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling.

B. Inti (Tahap Kerja)

Pada tahap ini ada beberapa hal yang harus dilakukan : “Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif  baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.

Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur, ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. “Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga, baik oleh pihak konselor maupun klien.

C. Akhir (Tahap Tindakan)

Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, : Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera). Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya

Pada tahap akhir ditandai beberapa hal, yaitu ; (1) menurunnya kecemasan klien; (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat dan dinamis; (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya; dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.

Konseling Individual Dalam Mengembangkan Perilaku Moral

Sekolah sebagai lembaga pendidikan dalam mengembangkan perilaku moral tidak pernah berhenti dari perhatian Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut: Bagaimana pelaksanaan konseling individual, Bagaimana perilaku moral siswa, bagaimana penerapan konseling individual dalam mengembangkan perilaku moral siswaanalisis ini, dengan menggunakan metode pengumpulan data yaitu: observasi, interview dan dokumentasi.

Pelaksanaan konseling mempunyai penerapan norma yang kuat setiap individu, pelaksanaan peraturan yang konsisten, dan menciptakan yang kuat dan teguh. Perilaku moral siswa di sekolah menengah atas dapat mengembangkan perilaku moral peserta didik untuk berubah menjadi lebih baik, , oleh karena itu bimbingan dan konseling disekolah mempunyai tujuan utama yaitu membantu anak agar dapat mencapai kemajuan belajar optimal. Dalam proses pembelajaran dan penyesuaian dalam kehidupan sekolah. Penerapan konseling individual di sekolah berlangsung baik dan lancar. Dampak positif bimbingan dan konseling individual bagi kemajuan dan pengembangan anak didik adalah anak akan cenderung untuk lebih mandiri, baik dalm bersikap, berperilaku, berfikir, dan bertindak. Sedangkan dampak negatif bimbingan dan konseling bagi kemajuan dan pengembangan anak didik, dalam hal ini penulis tidak mendapatkan hasil yang jelas

Kegiatan bimbingan konseling secara menyeluruh serta pengembangannya sehingga kegiatan-kegiatan bimbingan konseling memiliki daya guna yang tinggi. Terselenggaranya secara maksimal semua layanan bimbingan dan konseling di sekolah dengan baik di dukung oleh pengenalan dan pemahaman akan pentingnya bimbingan konseling di sekolah.

 

Kemampuan Individu (Kecerdasan dan Bakat)

Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability). Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan, setelah selesai mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), Sedangkan kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan (herediter).

Kecakapan potensial dapat dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (inteligensi atau kecerdasan) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitudes). C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Selanjutnya, Thurstone (1938) mengemukakan teori “Primary Mental Abilities”, bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu : (1) kemampuan berbahasa (verbal comprehension); (2) kemampuan mengingat (memory); (3) kemampuan nalar atau berfikir (reasoning); (4) kemampuan tilikan ruangan (spatial factor); (5) kemampuan bilangan (numerical ability); (6) kemampuan menggunakan kata-kata (word fluency); dan (7) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat (perceptual speed)  Sementara itu, J.P. Guilford mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar”, yaitu:

a. Operasi Mental (Proses Befikir)

  1. Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang baru).
  2. Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari).
  3. Memory Recording (ingatan yang segera).
  4. Divergent Production (berfikir melebar=banyak kemungkinan jawaban/ alternatif).
  5. Convergent Production (berfikir memusat= hanya satu kemungkinan jawaban/alternatif).
  6. Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat, atau memadai).

b. Content (Isi yang Dipikirkan

  1. Visual (bentuk konkret atau gambaran).
  2. Auditory.
  3. Word Meaning (semantic).
  4. Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi musik).
  5. Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan, ekspresi muka atau suara).

c. Product (Hasil Berfikir)

  1. Unit (item tunggal informasi).
  2. Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama).
  3. Relasi (keterkaitan antar informasi).
  4. Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan).
  5. Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi).
  6. Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain).

, Howard Gardner (1993), mengemukakan teori Multiple Inteligence, dengan aspek-aspeknya sebagai berikut :

  1. Logical – Mathematical; kepekaan dan kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan untuk berfikir rasional.
  2. Linguistic; kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi bahasa.
  3. Musical; kemampuan untuk menghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Nada dan bentuk-bentuk ekspresi musik.
  4. Spatial; Kemampuan mempersepsi dunia ruang-visual secara akurat dan melakukan tranformasi persepsi tersebut.
  5. Bodily Kinesthetic; kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan mengenai objek-objek secara terampil.
  6. Interpersonal; kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati, temperamen, dan motivasi orang lain.
  7. Intrapersonal; kemampuan untuk memahami perasaan, kekuatan dan kelemahan serta inteligensi sendiri.

kecerdasan akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : kecepatan (waktu yang singkat), ketepatan (hasilnya sesuai dengan yang diharapkan) dan kemudahan (tanpa menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Dengan indikator inteligensi tersebut, para ahli mengembangkan alat ukur kecerdasan,kecakapan bakat (Alat ukur inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah Tes Binet Simon – walaupun

Dari hasil pengukuran inteligensi tersebut dapat besar tingkat integensi (biasa disebut IQ = Intelligent Quotient ukuran kecerdasan dikaitkan dengan usia seseorang., seorang guru dapat mendeteksi dan memperkirakan inteligensi peserta didiknya, dengan cara memperhatikan kecenderungan kecepatan ketepatan, dan kemudahan peserta didik dalam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan \

Untuk mengukur bakat seseorang, dapat menggunakan instrumen standar, diantaranya : DAT (Differential Aptitude Test), SRA-PMA (Science Research Action – Primary Mental Ability), FACT (Flanagan Aptitude Calassification Test).Alat tes ini dapat mengungkap tentang : (1) pemahaman kata; (2) kefasihan mengungkapkan kata; (3) pemahaman bilangan; (4) tilikan ruangan; (5) daya ingat; (6) kecepatan pengamatan; (7) berfikir logis; dan (8) kecakapan gerak.

ciri-ciri keberbakatan peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan, kreativitas dan komitmen terhadap tugas, yaitu:

  1. Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya);
  2. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan;
  3. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis
  4. Mampu belajar/bekerja secara mandiri;
  5. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa);
  6. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya
  7. Cermat atau teliti dalam mengamati;
  8. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah;
  9. Mempunyai minat luas;
  10. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi;
  11. Belajar dengan dan cepat;
  12. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat;
  13. Mampu berkonsentrasi;
  14. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar.

Terkait dengan proses pembelajaran, yang perlu menjadi perhatian bahwa antara satu individu dengan individu lainnya pada dasarnya memiliki kecakapan yang berbeda-beda.

Nilai dalam Konseling dan Integrasi Teori Individu

 Konseling adalah profesi yang penjahit pendekatan dengan kebutuhan klien, menyajikan kepribadian individu. pendekatan konselor juga unik berdasarkan sistem kepercayaan dan nilai-nilai pribadi. Konseling adalah kegiatan di mana nilai-nilai pribadi merupakan bagian penting dari perkembangan individu dan masyarakat luas. Konselor berada dalam posisi unik untuk dapat mempengaruhi masyarakat di mana kita hidup, membimbing klien dalam pengambilan  keputusan yang sering kali memiliki dampak yang dramatis mengubah hidup. pada pemikiran ini, perasaan dan perilaku. Menggabungkan proses terapi rasional dengan fokus pada emosi menciptakan pendekatan personalisasi terapi. Fokus ini melengkapi ketiga komponen kepribadian, pemikiran, perasaan, dan perilaku Masing-masing perasaan adalah indikator pertama bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam individu yang Kepercayaan sistem mengarah pada pemikiran, perasaan, dan tindakan

Nilai-nilai dan Perasaan dalam Konseling

Individu adalah perilaku konseling hubungan antara perasaan dan berpikir. Perasaan sedih, ketakutan, dan kegelisahan menciptakan keinginan untuk sebuah respon yang menunjukkan dalam perilaku, baik sosial maupun pribadi,. Konselor perlu dipersiapkan untuk menyarankan atau mengeksplorasi. Penting konselor tetap waspada terhadap emosi dan perilaku yang menghadirkan diri dari individu sebagai potensi wawasan pola pikir dan interpretasi peristiwa. Gejala umumnya merupakan “pintu” ke masalah lain dalam konseling dan tidak fokus, penyebabnya. Ada yang sangat penting, karena itu, tentang peran nilai-nilai dalam konseling. Pemahaman tentang emosi dan perilaku yang tidak lagi berfungsi bagi individu konselor memberikan dasar untuk menilai sistem kepercayaan yang mendasarinya, skema, dan asumsi., kesehatan emosional dapat dipulihkan melalui perubahan maladaptive berpikir, menghilangkan prasangka negatif dan distorsi dalam pikiran, dan individu bergerak ke arah keseimbangan yang lebih besar dalam kepribadian dan fungsi mereka. ini tiga pendekatan: memahami sistem keyakinan, pikiran rasional, dan perilaku tanggapan memberikan makna pada proses perubahan.

Counseling Relationship Konseling Relationship

Ada karakteristik pribadi tertentu yang diperlukan dalam konselor untuk membangun terapi yang sehat dan membantu hubungan dengan klien. Klien yang masuk ke konseling punya masalah yang mungkin tidak mereka ketahui tetapi tidak dapat melihat dengan jelas perspektif. Setiap masalah dapat bermuara pada: 1) Anda tahu apa yang Anda inginkan, tetapi bukan bagaimana mendapatkannya, atau 2) Anda tidak tahu apa yang Anda inginkan.. Konselor harus tetap asli dan kongruen secara konsisten memberikan umpan balik yang tulus dan terbuka kepada klien simpatik satu-satunya alasan untuk kenyamanan atau klien.

 

BAB III

Kesimpulan dan Saran

 

  1. A.    Kesimpulan

 

Layanan konseling individu efektif dalam meningkatkan perilaku komunikasi antarpribadi siswa yang meliputi keterbukaan, empati, dukungan,

 

  1. B.     Saran

 

Guru pembimbing hendaknya memberikan kegiatan layanan konseling individu terhadap siswa yang masih memiliki perilaku komunikasi antarpribadi masih kurang, sehingga kegiatan konseling individu tersebut dapat dijadikan sebagai sarana pengembangan perilaku komunikasi antarpribadi siswa yang meliputi keterbukaan, empati, rasa positif, dukungan dan kesetaraan.

Guru pembimbing hendaknya mengaktifkan kegiatan layanan konseling individu dalam usaha meningkatkan dan mengembangkan perilaku komunikasi antarpribadi siswa, sehingga siswa dapat bersikap terbuka, empati dan berpikir positif serta dapat menunjukkan sikap kebersamaan yang tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                            DAFTAR PUSTAKA

 

WWW. Google. Com

http//.Konseling Indonesia. Com

Prayitno. 1995. “Layanan Bimbingan dan Konseling Individual (Dasar dan Profil)” Bandung: Ghalia Indonesia.

 

DR. Sofyan S.wilis L.N (1998). “ Konseling Individual Teori Dan Praktek

 

 

 

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s