Minuman Keras (Miras)

Standar

TUGAS MAKALAH KELOMPOK

KESEHATAN MENTAL

 

Mengenai ”MIRAS”

(Minuman keras)

 

 

Di susun oleh  :

 

1.Nova Irawan                                      (09001005)

2.Muh Rosyid Ridho A                         (09001006)

3.Andik Danu Sulistyana                      (09001011)

4.Helmi Abu Najah                               (09001017)

5.Afif Fahrurrozi                                  (09001034)

6.Wisnu Oktiadi                                   (09001043)

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA

2010

KATA PENGANTAR

 

 

Bismillahiirohmanirrohim

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT,yang telah melimpahkan berkat dan rahmat nya serta petunjuk nya sehingga dapat terselesaikanya tugas makalah kesehatan mental dengan judul “ MIRAS” ( Minuman Keras)

 

Penyusunan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas Kesehatan Mental yang di ampu oleh  Alif muarifah  selaku dosen pembimbing , jurusan bimbingan & konseling fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Ahmad Dahlan.

 

Semoga amal baik yang telah di berikan kepada kami mendapat imbalan karunia yang sepadan dari Allah SWT . segalanya yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna,begitu juga makalah ini,oleh karena itu saran dan tegur sapa dari pembaca sangat kami harapkan.

 

Akhirnya semoga karya kecil ini ada manfaat nya bagi pecinta ilmu pengetahuan. Amin.

 

Yogyakata, Maret 2010

 

 

 

Penyusun

 

Daftar isi

Pendahuluan

  1. Latar belakang masalah……………………………………………………….1
  2. Rumusan masalah……………………………………………………………….4
  3. Tujuan penulisan…………………………………………………………………4

 

Pembahasan

  1. Kajian teoritis

1.       Pengertian dari Peer Counseling ………………………………….5

  1.                                                 2.       Mengapa Harus Pembimbing Sebaya……………………………6

3.         Peran dan fungsi dari Peer Counseling……………………..…..7

4.       Kriteria untuk dapat memenuhi sebagai pembimbing sebaya ……………………………………………………………………8  

5.         Cara Menjadi Pembimbing Sebaya…………………………………...8

6.       Hasil temuan……………………………………………………………..9

`                  A.       Dasar-dasar Keterampilan Komunikasi

yang Perlu dilatihkan pada ”Peer Counselor”…………….9

B.        Hasil-hasil Riset tentang efektivitas

Peer Counseling…………………………………………………..10

 

Penutup

                   Kesimpulan…………………………………………………………………….11

                   Daftar pustaka…………………………………………………………………12

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.              Latar Belakang Masalah

Kebiasaan minum-minuman keras di kalangan remaja merupakan fenomena yang sering sekali terjadi di Indonesia. Banyak faktor-faktor yang menyebabkan mereka menghabiskan waktu luangnya untuk minum-minuman keras. Berbagai resiko dan permasalahan akan senantiasa menghadang kalangan remaja yang seharusnya mendapatkan kontrol dari orang tua maupun masyarakat. Semakin banyaknya remaja yang minum-minuman keras apabila dibiarkan tentunya akan menghambat keperibadian seseorang dan yang lebih jauh lagi perkembangann bangsa Indonesia. Karena kalangan remaja merupakan generasipenerus bangsa dan aset bangsa yang akan melanjutkan dan mengisi pembangunan bangsa Indonesia. Hasil ini menunjukan bahwa faktor-faktor yang mendorong kalangan remaja minum-minuman keras, karena rasa ingin tahu. Karena pada dasarnya masa remaja merupakan masa dimana segala sesuatunya yang muncul kepermukaan ingin dicobanya.

Dan karena lingkungan yang mendukung untuk minum-minuman keras serta tersedianya minuman keras di toko-toko di sekitar tempat ia tinggal. Biasanya kalangan remaja yang sering minum-minuman keras berasal dari keluarga ekonomi menengah, oleh karena itu dalam minum-minuman keras dengan cara patungan. Berdasarkan keterangan  di atas, dapat di simpulkan banyaknya kalangan remaja minum-minuman keras, karena lingkungan pergaulan yang sering minum-minuman keras dalam jangka waktu yang lama. Kurangnya pengendalian diri kalangan remaja itu sendiri karena tidak dilandasi dengan keimanan yang kuat. Kurangnya konrtol orang tua. Walaupun segala upaya telah di lakukan oleh berbagai pihak misalnya dengan diadakan penyuluhan, memberikan bantuan modal, agar kalangan remaja yang belum bekerja mempunyai kesibukan.

Dan aparat keamanan yang setiap saat melakukan rasia baik terhadap kalangan remaja maupun terhadap masyarakat yang masih menjual minuman keras. Akan tetapi hal tersebut belum optimal dikarenakan Peraturan Daerah (PERDA) kurang tegas. Dan dengan segera di buatnya Peraturan Daerah (PERDA) yang baru di harapkan akan lembih mendapatkan hasil yang optimal Hasil penelitian ini di harapkan bermanfaat bagi kalangan remaja pada khususnya dan orang tua, masyarakat, pendidik, aparat desa dan aparat keamanan pada umumnya. Kalangan remaja di harapkan dapat mencermati faktor-faktor yang mendorong minum-minuman keras, terutama berkaitan dengan pengendalian untuk menghindari lingkungan pergaulan yang sering minum-minuman keras. Demikian juga orang tua dalam mengontrol kalangan remajanya agar lebih intensif dan bersikap tegas. Untuk masyarakat, pendidik, aparat desa, aparat keamanan saling bekerjasama untuk menghilangkan atau meminimalkan penggunaan minum-minuman keras di kalangan remaja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perumusan Masalah :

 

Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat dirumuskan permasalahnya sebagai berikut “Bagaimana gambaran perilaku minum-minuman beralkohol dan gangguan kondisi kesehatan pada pemuda di Desa Kiringan Boyolali ? ”.

 

 

Tujuan Penelitian :

 

1. Tujuan umum

 

Mengetahui gambaran perilaku minum minuman beralkohol dan gangguan

kondisi kesehatan pada pemuda Di Desa Kiringan Boyolali.

 

2. Tujuan khusus

 

a) Mengetahui tingkat pengetahuan tentang bahaya minuman beralkohol

pada pemuda pengkonsumsi minuman beralkohol di Desa Kiringan

Boyolali.

b) Mengamati faktor yang ikut berperan dalam perilaku pemuda

pengkonsumsi minuman beralkohol di Desa Kiringan Boyolali.

c) Mengukur kondisi kesehatan pemuda pengkonsumsi minuman

beralkohol yang meliputi tekanan darah, kadar Hb, berat badan, tinggi

badan juga masalah lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

Asal Usul Bir (Minuman Beralkohol / Miras) :

`Tidak jelas benar dari mana kata bir berasal. Namun proses pembuatannya sendiri sudah ditemukan sejak lama. Sebuah prasasti yang ditemukan di delta subur antara sungai Eufrat dan sungai Trigis di kawasan Mesopotamia (sekarang kawasan irak) dan diperkirakan berasal dari masa sekitar 6.000 SM, sudah memuat gambaran tentang proses pembuatan bir. Sebuah relief yang terdapat di makam kuno di Mesir dari masa sekitar 2.400 SM juga menggambarkan proses pembuatan bir dengan bahan “barley” (barli), yaitu semacam rumput yang bijinya bisa diolah menjadi bir. Sejarah selanjutnya menapak pada tahun 2.000 SM ketika Raja Hammurabi dari Babylonia merilis resep tentang cara pembuatan dan penyajian bir.

Di Mesir sendiri, sang Fir’aun (pharaoh) juga terkenal sebagai ahli pembuat minuman hasil fermentasi ini. Menurut Ensiklopedi Britanica, seorang sejarawan asal Romawi bernama Pliny dan Tacticus mencatat bahwa bangsa dari suku Saxon, Celt, Nordic dan Germanic sudah menkonsumsi sejenis bir tak berwarna (disebut ale). Istilah ini juga berkembang diantara istilah-istilah lain di kalangan bangsa Anglo-Saxon seperti istilah Malt, Mash, dan Wort. Pada abad 15, pembuatan bir di Jerman menggunakan teknik fermetasi yang berbeda. Prosesnya dilakukan dengan proses fermentasi dasar, bukan fermentasi di atas bahan bakunya. Bir yang dihasilkan disebut dengan lager (dari bahasa Jerman: Lagern = menyimpan) karena bir pada masa itu dibuat pada musim dingin dan membutuhkan es untuk menyimpannya pada musim panas. Proses pembuatan bir kemudian berkembang dengan adanya kontrol yang baik menggunakan termometer dan sakarimeter yang bisa mengukur kadar gula. Dengan paduan teknologi pembuatan es dan sistem pedinginan, pembuatan bir bisa dilakukan pada musim panas. Tapi cita rasa bir masih juga tak bisa ditentukan, sebab sangat dipengaruhi proses berubahnya gula menjadi alkohol oleh sel ragi. Lalu muncullah Louis Pasteur yang berargumen bahwa walaupun semua jenis sel ragi bisa dimanfaatkan untuk fermentasi, namun tidak semua sel ini cocok bagi proses pembuatan bir. Sel-sel yang tertentu saja yang akan menghasilkan cita rasa bir yang tinggi.

Proses Pasteurisasi yang ditemukannya juga mampu membuat bir menjadi lebih tahan lama, setelah memanaskan bir hingga 70 derajat celcius agar mikroorganisma tidak aktif. Berbagai teknologi yang kemudian ditemukan juga membuat bir yang dihasilkan menjadi seperti yang kita kenal saat ini.

Landasan hukum pengendalian dan pengawasan minuman keras yang menjadi dasar dalam penanganannya yang ada sekarang baru pada tingkat peraturan menteri. Oleh sebab itu, mungkin sudah selayaknya landasan hukum ini ditingkatkan dari yang sekarang ada, yaitu Rancangan Undang-Undang menjadi undang-undang sebagaimana halnya dengan masalah narkotika yang sudah mempunyai undang-undang sendiri. Pembahasan tentang remaja dalam kaitannya dengan minuman keras seperti diuraikan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut  :

  1. Minuman keras (khamr) dalam ketetapan hukum Islam haram dikonsumsikarena ia dapat membuat mabuk dan mengganggu serta mengurangibahkan menghilangkan daya pikir orang yang meminumnya. Ketatapan hukum ini berlaku mutlak walaupun diminum dalam jumlah sedikit yang belum tentu membuat mabuk dan mengganggu pikiran orang-orang yang meminumnya. Ketetapan hukum ini berlaku bertahap sesuai dengan perkembangan adat kebiasaan dan kemajuan berpikir bangsa Arab ketikaIslam datang.
  2.  Perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli fikih (fuqaha) dan bukan khamr serta konsekuensi ketetapan hukum memnimumnya merupakan cerminan dari kekayaan khasanah pemikiran dan perkembangan hokum Islam. Perbedaan pandangan mengenai hal ini berawal dari penafsiran yang ketat terhadap nash syara ‘ (dalil agama yang bersumber pada Al-Quran dan hadits Nabi) dari sudut tinjauan etimologi atau bahasa, yaitu khamr dipahami sebagai minuman berakohol memabukkan yang terbuat hanya dari perasan buah anggur dan korma, sedangkan minuman beralkohol memabukkan yang terbuat dari perasan biji-bijian lain selain anggur dan korma tidak tergolong khamr melainkan muskir atau nabiz.
  3.  Minuman keras dipandang dari segi kesehatan sama sekali tidak member manfaat apapun bila diminum. Alkohol atau etil alkohol (etanol) yang terdapat dalam minuman keras, di bidang medis sekalipun dewasa ini tidak lagi digunakan sebagai obat yang diminum. Minuman keras telah terbukti secara medis merusak kesehatan karena dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit yang sangat berbahaya, dan telah terbukti pula secara empirik membuat orang yang meminumnya berperilaku menyimpang (lo-iminalitas) dalam bentuk tindak tanduk merusak yang merugikan orang lain dan dirinya sendiri.
  4. Perilaku remaja meminum minuman keras dapat digolongkan ke dalam perilaku menyimpang. Perilaku negatif ini muncul tidak dengan begitu saja, tetapi didorong oleh berbagai faktor yang bersifat internal yang bersumber pada diri remaja itu sendiri, dan faktor eksternal yang datang dari lingkungan sosial di luar dirinya.
  5. Remaja dan minuman keras adalah sebuah masalah sosial yang cenderung meningkat menjadi patologi/penyakit sosial yang merugikan banyak pihak.

Wine/Minuman keras :

Minuman keras dilihat dari berbagai sudut pandang baik segi agama, norma sosial, maupun kesehatan.:

A. Dari segi agama

Dalam agama Islam :

Aturan larangan (pengharaman) minuman keras (khamar) berlaku untuk seluruh umat Islam serta tidak ada perkecualian untuk individu tertentu. Yang dilarang dalam Islam adalah tindakan meminum khamar itu sendiri, terlepas apakah si peminum tersebut mabuk atau tidak.Hal ini cukup jelas dinyatakan dalam surat Al-Maidah ayat 90: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.  Kemudian di dalam Al-Quran surat Al Baqarah ayat 219 yang artinya:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”

 
B. Dari Penelitian Kesehatan

Data health.com mengklaim ada beberapa manfaat wine bagi kesehatan tubuh, di antaranya:

  1. Menutrisi Kepala => Minum wine bisa memelihara kenangan indah Anda. Saat dilakukan penelitian terhadap para wanita berusia 70 tahun, yang minum satu atau lebih minuman keras tiap hari memiliki skor lebih baik ketimbang yang kurang atau tidak minum sama sekali. wine menolong mencegah gumpalan dan mengurangi radang pembuluh darah, keduanya sudah dites di fakultas kedokteran University of Arizona. Alkohol juga membesarkan HDL, kolesterol baik, yang menolong menghilangkan sumbat arteri Anda.
  2. Mempertahankan Skala Jantung => Studi menunjukkan bahwa orang yang minum wine tiap hari memiliki massa tubuh lebih rendah ketimbang yang jarang minum. Peminum wine moderat memiliki pinggang lebih sempit dan kurang lemak daripada yang minum minuman keras.
  3. Membangun Kekebalan Tubuh => Di satu penelitian di Inggris, orang yang minum satu gelas wine tiap hari bisa mengurangi 11% resiko terinfeksi bakteri Pilorus Helicobacter, penyebab utama radang perut, borok, dan kanker perut. Sementara penelitian di Spanyol menyebutkan bahwa orang yang minum setengah gelas per hari bisa berjaga-jaga terhadap keracunan makanan akibat kuman Salmonella jika makan makanan yang kotor.
  4. Menjadi Penjaga Bagi Penderita Ovarian => Saat peneliti Australia membandingkan wanita dengan ovarian kanker dan wanita tanpa kanker, mereka menemukan sekitar satu gelas wine yang diminum per hari bisa mengurangi penyakit tersebut sampai 50%. Para pakar menduga diakibatkan oleh anti-oksidan atau phytoestrogen yang memiliki kontra-kanker tingkat tinggi dalam wine.
  5. Membangun Tulang Yang Lebih Baik => Rata-rata, wanita peminum secara moderat memiliki massa tulang yang lebih tinggi daripada sebaliknya. Alkohol bisa menaikkan tingkat estrogen. Hormon itu melambatkan kerusakan tulang yang sudah tua ketimbang melambatkan produksi tulang baru.
  6. Penyelamat Masalah Gula Darah => Wanita pra-menopouse yang minum satu atau dua gelas wine per hari bisa mengurangi sekitar 40% tipikal diabetes. Sementara studi itu belum mencapai final, wine sepertinya bisa membangun insulin penolong bagi pasien diabetes.

C. Fakta lain

Data resmi pemerintah Inggris (tahun 2006) menyebutkan bahwa hampir separuh kejahatan dengan kekerasan di negara tersebut diakibatkan oleh pengaruh minuman beralkohol. Lebih dari satu juta pelaku agresi kejahatan yang terdata dipercaya berada dalam pengaruh alkohol. Kerugian ekononomi akibat minuman beralkohol sangat luar biasa besarnya, sebagai contoh di Amerika Serikat biaya yang harus dikeluarkan untuk mengatasi masalah kesehatan yang berhubungan dengan dampak negatif minuman beralkohol di negara tersebut mencapai 176 milyar USD (sekitar 1600 triliun rupiah) setiap tahun

Bagaimana dengan pendapat bahwa konsumsi alkohol lebih dipengaruhi oleh iklim.
Artinya konsumsi alkohol di negara-negara iklim dingin lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara iklim tropik?

Data statistik WHO menunjukkan bahwa negara tropis seperti Brazil, Thailand, Venezuela dan Dominika justeru memiliki konsumsi alkohol sama atau lebih tinggi dibandingkan dengan Canada, Denmark dan Norwegia yang notabene adalah negara-negara beriklim dingin. Disamping itu, data dari Center for Social Research on Alcohol and Drugs – Universitas Stockholm membuktikan bahwa konsumsi alkohol di Swedia justru meningkat pada saat musim panas. Bahkan puncak konsumsi alkohol negara tersebut justeru terjadi pada pertengahan musim panas.

Jadi alasan bahwa motivasi minum minuman beralkohol didasari oleh tuntutan kondisi iklim yang dingin sesungguhnya tidak didukung oleh data statistik yang memadai. Sekalipun tidak ada satu negara pun di dunia yang bisa 100 persen bebas minuman beralkohol, namun data statistik WHO menunjukan bahwa konsumsi perkapita minuman beralkohol di negara-negara berpenduduk muslim jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara lainnya. Sebagian besar negara-negara berpenduduk muslim menkonsumsi minuman alkohol kurang dari 0.5 liter alkohol perkapita per tahun. Coba bandingkan dengan penduduk negara-negara Eropa yang mengkonsumsi lebih dari 10 liter alkohol perkapita per tahun.

Persentasi penduduk yang tidak peminum alkohol di negara-negara muslim juga jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di dunia. Sebagai contoh, jumlah penduduk yang tidak peminum alkohol di Mesir, Indonesia, Pakistan, Saudi Arabia dan Syiria mencapai lebih dari 90 persen. Sebaliknya, jumlah penduduk yang bukan peminum alkohol di Denmark, Norwegia, Jerman dan Luxemburg hanya kurang dari 6 persen.

Ini artinya ada korelasi positif antara ajaran Islam dengan rendahnya tingkat konsumsi minuman beralkohol di negara-negara berpenduduk muslim.

  • Pandangan Psikologis pada Peminum Miras :

Telah banyak berjatuhan korban akibat minum minuman keras (miras) yang dioplos dengan berbagai bahan maupun suplemen. Kadang-kadang tidak masuk akal, miras yang secara fisiologis dan psikologis memiliki efek negatif, justru dicampur dengan bahan-bahan yang membahayakan pula.

Suara Merdeka telah memberitakan korban-korban di beberapa kota di Jawa Tengah akibat miras, khususnya miras oplosan. Mulai dari Semarang, Salatiga, sampai Boyolali  Bahkan saat tulisan ini dibuat, diberitakan bahwa korban Miras di Salatiga telah mencapai 300 orang (Suara Merdeka, 23 April 2010). Pertanyaan yang kemudian timbul, mengapa miras oplosan tetap saja digunakan, meskipun sembunyi-sembunyi, meskipun korban telah berjatuhan ?

  • Sikap Pandang

Faktor-faktor risiko penyalahgunaan miras penting disikapi dalam rangka upaya pencegahan. Namun, sebelumnya perlu dikemukakan sikap pandang yang mempengaruhi cara orang memandang dan menyelesaikan masalah penyalahgunaan miras, mestinya termasuk pula masalah narkoba. Terdapat tiga sikap pandang, yaitu  model legal – moral, model medis ñ psikiatris, serta model sosiologis ñ psikologis.

Model legal – moralitas, yaitu cara memandang secara kaku, dalam hal ini mengotak-kotakkan pemakai miras dengan orang lain, seakan sebagai orang ìberdosaî yang harus dihukum. Penangananya tentu saja represif, menangkap, mengadili, bahkan menghukumnya. Diragukan efek jera dari para pengguna. Model medis – psikiatris, yaitu cara pandang yang lebih individual dan personal, melihat unsur patologis pada pengguna. Menganggap bahwa seseorang yang menyalahgunakan miras, bahkan bereksperimen dengan oplosan, tidak mungkin kalau bukan karena pengaruh atau ìtertularî orang lain.  Istilah lain, orang yang bersangkutan menderita ìpenyakitî yang harus disembuhkan. Karena itu, dalam pendekatan ini perlu dilakukan perawatan, dan harus dimasukkan ke klinik dalam rangka pengobatan.

Model sosiologis – psikologis, yaitu cara pandang yang melihat penggunaan miras dan penyalahgunannya sebagai aktivitas sosial yang timbul dari kebutuhan kelompok serta kebutuhan individu. Meskipun penyalahgunaan miras dapat mengakibatkan kondisi patologis, sehingga memerlukan penanganan medis – psikiatris, tetapi kondisi tersebut dapat dipandang sebagai respon yang normal terhadap tekanan-tekanan dari lingkungannya.

Karena itu, perlu ditelaah bagaimana karakter individu dan karakter lingkungan sosialnya, yang mendorong penggunaan miras, bahkan melakukan penyalahgunaan dengan mengoplos. Lingkungan sosial tersebut adalah keluarga, sekolah, kelompok teman sebaya (peer group) serta masyarakat yang lebih luas.

Dinamika penggunaan dan penyalahgunaan miras dapat digambarkan, mula-mula diawali dengan merokok. Tahap berikutnya, masih meneruskan kebiasaan merokok dilanjutkan dengan mencoba miras, meskipun masih termasuk golongan yang ringan atau kadar alkohol paling rendah. Kemudian meningkat pada miras dengan kadar alkohol lebih tinggi, bahkan menggunakan miras non standar, dengan mengoplos menggunakan berbagai ramuan.

  • Risiko Psikologis

Sekurangnya terdapat lima faktor risiko psikologis yang mendorong seseorang menggunakan miras, bahkan menyalahgunakannya. Faktor risiko tersebut antara lain berupa faktor-faktor individu, keluarga, sekolah, kelompok teman sebaya, serta lingkungan sosial. Karena itu, penanggulangan miras oplosan harus melibatkan lima faktor risiko tersebut antara lain:

  1. Faktor individu => Fakor individu dapat dipandang sejak awal perkembangan seorang anak, bahkan mulai masa prenatal, pengalaman lahir, serta perilaku awal masa bayi dan kanak-kanak. Misalnya ibu hamil yang suka minum alkohol, bayi dengan komplikasi lahir, nak hiperaktif, minum alkohol pada masa dewasa dan sebagainya.  Hasil penelitian menunjukkan, bahwa profil karakteristik remaja yang cenderung menggunakan miras, bahkan narkoba, antara lain perokok, kurang tertarik pada sekolah, kurang peduli prestasi akademis, memiliki sifat pemberontak,serta kurang peduli soal agama. Profil karakteristik lain, adanya jarak antara anak dengan orangtua, memiliki teman sebaya peminum miras, serta adanya tekanan kelompok sebaya
  2.  Faktor keluarga => Faktor keluarga berperan sangat penting sebagai faktor risiko. Hal yang penting adalah modelling atau mencontoh orang serumah, misalnya orangtua atau kakak yang juga menggunakan. Pengawasan yang kurang, sistem penghukuman yang kurang konsisten, otoriter, orangtua yang tidak responsif, tidak hangat, serta keluarga sarat konflik, juga merupakan faktor risiko yang penting.
  3.  Faktor sekolah => Sukses dalam prestasi sekolah dapat menjadi pencegah seseorang menjadi pengguna miras, bahkan narkoba. Hubungan yang baik dengan guru dapat menjadi pengganti kekecewaan hubungan dengan orangtua. Meskipun demikian perlu diakui, bahwa ciri-ciri sekolah biasanya tidak mampu menampung kebutuhan anak didik secara pribadi, sehingga mereka lebih bersandar pada kelompok sebayanya.
    Mestinya, sekolah bukan hanya mengejar tercapainya program, melainkan juga dapat dijadikan referensi bagi jawaban masalah realitas kehidupan.
  4.  Faktor kelompok teman sebaya => Jarang disadari, bahwa prediktor yang paling kuat bagi penggunaan miras, penyalahgunaannya, bahkan penggunaan narkoba pada remaja, adalah kelompok teman sebaya. Teman sebaya yang merokok, menggunakan miras, bahkan narkoba,  cenderung akan diikuti oleh kelompoknya. Demikian pula penyalahgunaan miras dengan mengoplos, lebih sering diperoleh dari teman sebaya.
  5. Faktor lingkungan social => Lingkungan sosial yang lebih luas yaitu masyarakat, juga berpengaruh. Pengaruh tersebut antara lain berupa pola penggunaan miras, misalnya jenis miras, kadar alkohol, bahkan pada pola-pola penyalahgunaan seperti mengoplos.

    Deprivasi ekonomi dapat meningkatkan perilaku antisosial yang menjadi prediktor penggunaan miras pada masa dewasa. Sedangkan anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan sosial yang kurang menguntungkan seperti kumuh, kepadatan penduduk tinggi, mobilitas penduduk tinggi, rasa kebersamaan yang rendah, dapat meningkatkan kecendrungan menjadi pengguna miras. Sedangkan faktor-faktor yang positif berikut dapat mencegah meskipun berada pada lngkungan yang berisiko tinggi, antara lain: memiliki karakter yang tangguh, teguh, mempunyai orientasi sosial yang positif, intelegensi tinggi, serta memiliki keterampilan tertentu.

 

  • DAMPAK MINUMAN KERAS TERHADAP KESEHATAN DAN

PENYIMPANGAN PERILAKU

 

Bahan minuman apapun jenisnya seperti alkohol memang bermanfaat untuk memenuhi berbagai kebutuhan dalam kehidupan manusia yaitu sebagai pelarut (solvent) yang biasanya digunakan pada berbagai jenis industri, umpamanya pada industri minyak atsiri, industri senyawa pewarna, dan pada industri farmasi serta kosmetika. Akan tetapi alkohol dalam minuman tidak memberi manfaat apapun bagi kesehatan pada organ-organ tubuh dan berpengaruh buruk pada kesehatan mental.

Minuman berakohol telah terbukti menjadi penyebab dari berbagai penyakit. Dari penyakit yang sederhana sampai.yang sangat berbahaya, seperti lever akan merusak jaringan hati (lever) gangguan penyerapan zat makanan dan mengakibatkan kurang gizi, meningkatkan tekanan darah, membuat denyut jantung menjadi tidak normal dan menurunkan nafsu seksual. Terhadap otak alkohol mengakibatkan hilangnya pengendalian diri, membuat sempoyongan, mengganggu kemampuan berbicara, menurunkan kemampuan intelektual, mengakibatkan hilangnya ingatan (block out), menyebabkan terjadinya amnesia, dan merusak jaringan saraf (Mohammad, 1993: 1). Kerusakan urat saraf atau yang disebut sebagai polyneuropathy lain juga berhubungan dengan sakit radang kantong perut dan pengerasan pada bagian hati (Dirdjosiswono, 1984: 110). Kecuali beberapa jenis penyakit dan gangguan di atas, alkohol dapat pula menyebabkan gangguan cardiovascular dan terjadi kematian bila satu point (0,568 liter) etanol murni masuk ke dalam tubuh (Darwis, 1993: 7).

Alkohol ternyata juga dapat menyebabkan kemandulan/gangguan ketidak suburan. Wanita yang kecanduan alkohol, tidak saja bisa mandul, melainkan juga menyebabkan anak yang dilahirkan cacat (Lihat Republika, 1 Oktober 1998). Kecuali terhadap kesehatan fisik, minuman berakohol dapat pula mendatangkan gangguang kejiwaan dalam bentuk depresi, halusinasi, paranoid (terlalu curiga pada orang lain), dan sebagainya. Pengaruhnya terhadap kejiwaan seorang yang alkoholik dapat bersifat terlalu mementingkan diri sendiri, ketergantungan pada sesuatu atau orang lain, perasaan yang berlebihan mengenai kemampuan diri (perasaan megalomania), dan ketahanan yang rendah sekali terhadap ketagihan untuk minum alkohol (Dirdjosisworo,1984: 111). Itu semua berarti kesehatan jiwa/mental orang yang mengkonsumsinya ikut terganggu. Namun demikian, bagi semua peminum alkohol, pengaruh terhadap kejiwaan, umumnya dapat dilihat dari jumlah per miligram alkohol dalam per 100 mililiter darah. Berikut disajikan tabel tentang kadar kandungan alkohol dalam darah dan pengaruhnya terhadap kejiwaan, lengkap dengan contoh jenis-jenis minuman kerasnya ( Susanto, 1993:8)

 

  • Akibat Penyalahgunaan Alkohol / Minuman Keras

* Gangguan Fisik : meminum minuman beralkohol banyak, akan menimbulkan kerusakan hati, jantung, pangkreas dan peradangan lambung, otot syaraf, mengganggu metabolisme tubuh, membuat penis menjadi cacat, impoten serta gangguan seks lainnya
* Gangguan Jiwa : dapat merusak secara permanen jaringan otak sehingga menimbulkan gangguan daya ingatan, kemampuan penilaian, kemampuan belajar dan gangguan jiwa tertentu.
* Gangguan Kamtibmas: perasaan seorang tersebut mudah tersinggung dan perhatian terhadap lingkungan juga terganggu, menekan pusat pengendalian diri sehingga yang bersangkutan menjadi berani dan agresif dan bila tidak terkontrol akan menimbulkan tindakan-tindakan yang melanggar norma-norma dan sikap moral yang lebih parah lagi akan dapat menimbulkan tindakan pidana atau kriminal.

 

 

 

 

  • UPAYA MENCEGAH REMAJA MEMINUM MINUMAN KERAS :

 

Setiap keluarga muslim mutlak menjaga keselamatan diri dan semua anggota keluarga dari segala kemungkinan yang dapat menjerumuskan ke dalam kesesatan dan kesengsaraan. Minuman keras atau minuman berakohol terbukti secara media membahayakan kesehatan dan dari segi sosial telah terbukti pula peminumnya sering menimbulkan keresahan dan malapetaka bagi masyarakat luas. Oleh sebab itu, segala upaya untuk menghindarkan individu-individu dalam masyarakat, khususnya remaja meminum-minuman  keras tersebut mutlak dilakukan. Tanggung jawab dalam melakukan kewajiban ini harus dipikul oleh semua pihak yang terkait, baik oleh keluarga suatu rumah tangga, pemerintah sebagai lembaga, maupun oleh masyarakat itu sendiri. Bentuk-bentuk upaya yang dapat dilakukan oleh masing-masing pihak terkait di atas tentu akan beragam sesuai dengan tanggung jawab dan wewenang mereka masing-masing. Barangkali dapat dikatakan, bahwa tugas utama ibu dan bapak, adalah memenuhi kebutuhan jasmaniah (biologis) dan rohaniah (psikologis) anak- anak mereka.

Kebutuhan jasmaniah seorang anak dapat berupa makanan yang baik, yang mengandung segala unsur untuk pertumbuhan dan kesehatan. Pakaian yang baik yang dapat menjaga dan melindunginya dari gangguan alam dan memenuhi ketentuan-ketentuan etik dan estetika, serta tempat tinggal yang memungkinkan dia tumbuh dan berkembang secara sehat. Kebutuhan

rohaniah seorang anak adalah kasih-sayang kedua orangtuanya dan bimbingan serta didikan yang benar yang membuat dia tumbuh sebagai seorang manusia yang baik, yang membuatnya dapat mendatangkan kebaikan dan kegunaan bagi dirinya sendiri dan bagi orang-orang dan lingkungan di luar dirinya. Dalam kaitan dengan remaja dan minuman keras. Zakiah Daradjat (Lihat Republika, 1 Oktober 1993: 8) menilai keluarga adalah elemen paling penting untuk menangkal anak melarikan diri ke alkohol. Menurutnya, bila berbagai persoalan dapat dibicarakan secara terbuka dan demokratis dalam sebuah keluarga, maka rasa tertekan seorang anak otomatis berkurang. Itu berarti sebuah faktor untuk mendekati alkohol telah pupus.

Terhadap remaja yang alkoholüT dan yang bukan alkoholik, bimbingan dan didikan yang dapat diberikan oleh kedua orangtuanya agar mereka berhenti dan atau terhindar dari meminum minuman keras adalah memberikan penerangan yang bijaksana mengenai bahaya alkohol terhadap kesehatan dan perilaku sosial peminumnya dan pendidikan agama yang disesuaikan dengan tingkatan umur dan daya serap mereka. Pendidikan umum secara jelas sangat berguna dalam membentuk kepribadian seorang anak, termasuk dalam upaya mencegah mereka meminum minuman keras. Akan tetapi pendidikan agama mungkin lebih efektif dalam mencapai sasaran tadi karena dalam pendidikan agama tidak hanya diajarkan hal-hal yang menyangkut soal etika dan estetika sebagaimana dalam pendidikan umum melainkan lebih daripada itu,’ diajarkan pula nilai-nilai spiritualitas yang dapat menggugah pikiran dan perasaan mereka, yang pada akhirnya membuat ketahanan mental mereka menjadi tangguh.

Djamaluddin Ancok, seorang psikolog, menilai positif pelaksanaan  kilat yang biasanya diadakan pada bulan Ramadhan. Menurutnya, pesantren kilat akan dapat menumbuhkan ketahanan mental pesertanya sehingga mereka dapat membendung pengaruh-pengaruh buruk yang timbul karena godaan yang begitu besar terhadap anak dari media film, televisi dan berbagai jenis permainan seperti video game yang merusak (Lihat Republika, 12 Februari1992). Zakiah Daradjat (1993:40) kembali menegaskan, bahwa bila sejak kecil anak diberikan didikan dengan nilai-nilai agama, maka kepribadian anak akan mempunyai unsur yang baik, yang menjauhkannya dari kegoncangan. Sebab, nilai-nilai positif yang tetap dan tidak berubah adalah nilai-nilai agama, sedangkan nilai-nilai sosial dan moral yang didasarkan bukan pada agama akan selalu berubah seiring dengan perkembangan masyarakatnya. (Zakiah Daradjat, 1991 : 58 – 59), menambahkan pula bahwa seharusnya agama masuk ke dalam pribadi anak bersamaan dengan pertumbuhan pribadinya, yaitu sejak lahir, bahkan lebih daripada itu sejak dalam kandungan. Sebab perkembangan agama pada seorang anak ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa-masa pertumbuhan yang pertama, yaitu dari umur 0 tahun sampai 12 tahun. Pendidikan agama penting bagi seorang anak karena pengendali utama kehidupan manusia adalah kepribadiannya yang mencakup segala unsure pengalaman, pendidikan dan keyakinan yang didapatnya sejak kecil sehingga anak yang diberikan pendidikan agama tadi akan bersikap wajar, tenang dan selalu menjaga dan memperhatikan ketentraman dan kepentingan orang lain sebagaimana diperintahkan oleh ajaran agama itu sendiri.

Dengan demikian tempat pelaksanaan pendidikan agama bukan hal yang utama. Yang penting dalam hal ini adalah pendidikan agama yang betul- betul dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap perilaku anak. Untuk tujuan ini dibutuhkan bukan saja dukungan keluarga dalam hal-hal yang bersifat finansial melainkan lebih daripada itu dorongan moril dalam bentuk suri teladan dari perilaku orangtua yang mencerminkan perilaku yang islami. Pendidikan apapun oleh keluarga terhadap anak-anak mereka intinya terletak pada suri teladan mereka karena anak umumnya belajar dari apa yang orangtua mereka alami dan hayati.

 

Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mencegah remaja meminum minuman keras adalah bimbingan dan pengawasan terus-menerus oleh sekolah terhadap perilaku keseharian siswa-siswanya, terutama terhadap mereka yang diduga pernah atau sering meminum minuman keras. Bimbingan dan pengawasan yang.berkelanjutan tersebut sekaligus merupakan aplikasi dari tugas guru, yaitu mendidik, memberi pengetahuan, membentuk kecakapan danmembentuk kesiapan anak didik dalam menghadapi persoalan (Pasaribu, et al., 1982: 18). Perilaku meminum minuman keras jelas merupakan sebuah persoalan di antara sekian banyak persoalan yang dihadapi remaja usiasekolah.

Di samping aplikasi dari tugas-tugas guru, bimbingan dan pengawasan yang diberikan sekolah kepada siswa-siswinya adalah juga aplikasi dari keharusan sekolah melakukan kewajiban bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling) kepada seluruh siswa-siswinya sebagai bagian tak terpisahkan dari kegiatan belajar mengajar di sekolah. Hal ini dapat dipahami dari pengertian mengenai bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli. Salah satu di antaranya yang lebih mengarah kepada pelaksanaannya di sekolah adalah pengertian yang dikemukakan oleh Miller sebagaimana dikutip oleh I. Djumhur dan Moh Surya (1975: 26) yaitu :proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga serta masyarakat”. Upaya bimbingan dan penyuluhan barangkali identik pula dengan upaya ‘pendampingan’, yaitu sebuah ungkapan penanaman yang menggambarkan suatu upaya membantu remaja menyongsong masa depan dengan tujuan, materi, bentuk, metode dan teknik pendapingan tertentu. Sebab, tujuan pendampingan di sini menjawab sejumlah pertanyaan yang mengarah pada bukan saja peningkatan pengetahuan orang-orang yang mengikuti kegiatan ini,

melainkan juga mengarah pada pembentukan sikap dan perilakunya yang terpuji.

Yang meliputi pertanyaan mengenai alasan pendampingan itu diusahakan, harapan yang diperoleh dari usaha pendapingan bagi kaum muda. Kaum muda macam apa yang akan dihasilkan oleh kegiatan tersebut ? Apakah kaum muda dengan ilmu, pengetahuan, kecakapan, sikap, perbuatan,

perilaku, serta hidup macam apa yang akan muncul setelah melalui proses kegiatan ini? Tegasnya, sosok, profil kaum muda macam apa yang akan tampil berkat usaha pendampingan itu (Mangunhardjana, 1986: 25). Dari semua pertanyaan tersebut di atas, khusus dalam kaitannya dengan kepribadian orang yang menjadi sasaran pendampingan, sekaligus sasaran utamanya adalah untuk memperkenalkan jawaban potensi diri remaja/siswa bersangkutan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia yang mereka miliki, sebagaimana digambarkan di bawah ini :

  1. Mampu mengenal, dan menerima diri dengan segala kekurangan serta kelebihan mereka.
  2. Mampu menemukan identitas diri, memiliki gambaran diri yang sehat dari mempunyai kepercayaan diri serta harga diri yang seimbang.
  3. Mampu mengenal, mengolah, mengarahkan segala perasaan hati yang positif dan negatif yang muncul dalam hati mereka.
  4. Mampu mengenal, menjernihkan, mengembangkan pandangan, keyakinan dan falsafah hidup.
  5. Mampu mengenal, menjernihkan, mengembangkan nilai-nilai, membentuk sistem nilai yang benar dan seimbang.
  6. Mampu mengenal, menjernihkan, mengembangkan motivasi, cita-cita dan idealisme hidup.
  7. Mampu mengenal, mengembangkan potensi siri secara maksimal dan ke arah yang tepat.
  8. Mampu mengenal, mengembangkan perilaku, cara dan gaya hidup yang produktif

 

Bimbingan dan penyuluhan atau pendampingan yang tepat, dan terarah, yang diberikan oleh sekolah kepada siswa siswinya memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat, sehingga mereka dapat terhindar dari atau menghentikan ?????? Pemerintah sebagai lembaga yang mempunyai otoritas dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara harus pula menunjukkan kemauan yang sungguh-sungguh dalam menangani masalah minuman keras melalui penerapan peraturan-peraturan yang berkenaan secara tegas dan konsekuen.

Sanksi hukum terhadap pelanggar ketentuan-ketentuan tersebut, baik oleh konsumen termasuk remaja maupun produsen dan seluruh jaringan pemasarannya seharusnya dijalankan dengan konsekuen pula. Dalam perizinan dan pengawasan peredarannya diperlukan koordinasi yang baik antardepartemen terkait, yaitu Departemen Agama, Perdagangan, Kesehatan, Penerangan, Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kantor Menteri Pemuda dan Olahraga. Adapun yang menyangkut penegakan hukum dan administrasi peradilannya diperlukan suatu rangkaian mekanisme kerja yang terpadu antara aparat kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. Dalam hal ini

mutlak adanya pembinaan hukum peradilan yang dilaksanakan secara tepat, cepat dan merata

 

  • Menghindari kecanduan  :

 

Jangan Pernah Berpikir Untuk Mencoba. Pikiran bahwa “..Aku hanya mencoba dan gampang untuk berhenti….” adalah pikiran yang berbahaya dan salah untuk persoalan Narkoba.
Menghindarkan diri  dari pemakaian Narkoba/Miras adalah dengan sikap menolak untuk memakainya, karena sadar penuh terhadap konsekwensi yang diakibatkannya. Sikap menolak yang pertama adalah menjauhkan diri dari mereka yang memakai apabila anda merasa akan sulit untuk bisa menolak tawaran.
Sikap menolak yang lain adalah tidak mau ikut-ikutan menikmati barang itu, meskipun sehari-hari tetap bergaul biasa dengan mereka, hanya saja kita tidak usah sungkan-sungkan untuk menyatakan “tidak” jika ditawari untuk ikut memakainya.
Contoh pernyataan menolak secara biasa saja adalah seperti: “nggak ah, itu berbahaya…”, “nggak ah, kalau nyobain nanti kebablasan…”, “nggak ah, saya tidak biasa pakai kog…”; “nggak ah, itu nggak boleh….”. Sikap menolak secara keras mungkin perlu dilakukan jika seseorang mendesak anda dengan keras. Cukup katakan dengan tegas dan penuh percaya diri: “tidak!!”

Jika kita merasa tidak mampu mengatasi bujukan orang yang menginginkanmu menjadi pemakai maka jangan segan-segan minta bantuan atau nasehat dari orang yang kita percayai.

 

  • Kelola diri, jauhi miras  :

Pada prinsipnya para remaja harus melaksanakan kehidupan secara seimbang, yaitu memenuhi berbagai kebutuhan baik fisik, sosial, mental, maupun spiritual. Untuk selalu diingat adalah berbagai kegiatan ini dilakukan oleh kita sehari-hari :

  • aktif memegang teguh norma-norma agama dan sosial kemasyarakatan.
  • aktif melibatkan diri dalam kegiatan keluarga, sosial kemasyarakatan dan keagamaan.
  • aktif melakukan gerak badan dan olah raga secara berkelompok, 2-3 kali seminggu .
  • aktif melakukan kegiatan hobi, rekreasi atau bermain dengan teman.
  • aktif mengembangkan kemampuan diri dengan berbagai ketrampilan.
  • istirahat yang cukup, 7-8 jam sehari.
  • makan yang cukup dengan gizi seimbang dan jam makan yang teratur, usahakan bersama keluarga.
  • hadapi persoalan hidup dengan tanpa terlalu takut, panik atau stress karena pasti akan dapat diselesaikan seiring dengan berjalannya waktu.
  • jangan menyimpan “persoalan tidak enak”, tapi ceritakan kepada orang lain.
  • percaya bahwa hidup telah ada yang mengatur.
  • kita hanya wajib menjalani dengan sebaik-baiknya sehingga tidak perlu “neko-neko”.
  • Jangan mudah menerima sesuatu seperti permen atau cemil-cemilan dari orang yang tidak kita kenal atau orang yang kita kenal namun tidak kita percayai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

 

Dari keseluruhanpenjelasan diatas kita dapat menrik beberapa kesimpulan yaitu:

  1. Yang dimaksud dengan minuman keras ialah segala jenis minuman yang memabukan, sehingga dengan meminumnya menjadi hilang kesadaran bagi yang meminumnya
  2. Hukum minum minuman keras atau khamar ialah haram, dan bagi orang yang menkonsumsinya adalah termasuk pelaku dosa besar
  3. Bagi orang yang suka meminum atau mengkonsumsi minuman keras maka akan mendapatkan had atau hukuman yaitu di jilid atau didera sebanyak 40 sampai 80 kali
  4. Adapun hikmah di haramkan minuman keras agar tubuh kita selalu sehat jasmani dan rohani.

 

Daftar Pustaka

 

Ø http://bs-ba.facebook.com/topic.php?uid=81078710679&topic=10659

 

Ø http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/04/29/107506/Pandangan-Psikologis-pada-Peminum-Miras-

 

 

 

 

 

 

 

 

TUGAS MAKALAH KELOMPOK

KESEHATAN MENTAL

 

Mengenai ”MIRAS”

(Minuman keras)

 

 

Di susun oleh  :

 

1.Nova Irawan                                      (09001005)

2.Muh Rosyid Ridho A                         (09001006)

3.Andik Danu Sulistyana                      (09001011)

4.Helmi Abu Najah                               (09001017)

5.Afif Fahrurrozi                                  (09001034)

6.Wisnu Oktiadi                                   (09001043)

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA

2010

KATA PENGANTAR

 

 

Bismillahiirohmanirrohim

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT,yang telah melimpahkan berkat dan rahmat nya serta petunjuk nya sehingga dapat terselesaikanya tugas makalah kesehatan mental dengan judul “ MIRAS” ( Minuman Keras)

 

Penyusunan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas Kesehatan Mental yang di ampu oleh  Alif muarifah  selaku dosen pembimbing , jurusan bimbingan & konseling fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Ahmad Dahlan.

 

Semoga amal baik yang telah di berikan kepada kami mendapat imbalan karunia yang sepadan dari Allah SWT . segalanya yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna,begitu juga makalah ini,oleh karena itu saran dan tegur sapa dari pembaca sangat kami harapkan.

 

Akhirnya semoga karya kecil ini ada manfaat nya bagi pecinta ilmu pengetahuan. Amin.

 

Yogyakata, Maret 2010

 

 

 

Penyusun

 

Daftar isi

Pendahuluan

  1. Latar belakang masalah……………………………………………………….1
  2. Rumusan masalah……………………………………………………………….4
  3. Tujuan penulisan…………………………………………………………………4

 

Pembahasan

  1. Kajian teoritis

1.       Pengertian dari Peer Counseling ………………………………….5

  1.                                                 2.       Mengapa Harus Pembimbing Sebaya……………………………6

3.         Peran dan fungsi dari Peer Counseling……………………..…..7

4.       Kriteria untuk dapat memenuhi sebagai pembimbing sebaya ……………………………………………………………………8  

5.         Cara Menjadi Pembimbing Sebaya…………………………………...8

6.       Hasil temuan……………………………………………………………..9

`                  A.       Dasar-dasar Keterampilan Komunikasi

yang Perlu dilatihkan pada ”Peer Counselor”…………….9

B.        Hasil-hasil Riset tentang efektivitas

Peer Counseling…………………………………………………..10

 

Penutup

                   Kesimpulan…………………………………………………………………….11

                   Daftar pustaka…………………………………………………………………12

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.              Latar Belakang Masalah

Kebiasaan minum-minuman keras di kalangan remaja merupakan fenomena yang sering sekali terjadi di Indonesia. Banyak faktor-faktor yang menyebabkan mereka menghabiskan waktu luangnya untuk minum-minuman keras. Berbagai resiko dan permasalahan akan senantiasa menghadang kalangan remaja yang seharusnya mendapatkan kontrol dari orang tua maupun masyarakat. Semakin banyaknya remaja yang minum-minuman keras apabila dibiarkan tentunya akan menghambat keperibadian seseorang dan yang lebih jauh lagi perkembangann bangsa Indonesia. Karena kalangan remaja merupakan generasipenerus bangsa dan aset bangsa yang akan melanjutkan dan mengisi pembangunan bangsa Indonesia. Hasil ini menunjukan bahwa faktor-faktor yang mendorong kalangan remaja minum-minuman keras, karena rasa ingin tahu. Karena pada dasarnya masa remaja merupakan masa dimana segala sesuatunya yang muncul kepermukaan ingin dicobanya.

Dan karena lingkungan yang mendukung untuk minum-minuman keras serta tersedianya minuman keras di toko-toko di sekitar tempat ia tinggal. Biasanya kalangan remaja yang sering minum-minuman keras berasal dari keluarga ekonomi menengah, oleh karena itu dalam minum-minuman keras dengan cara patungan. Berdasarkan keterangan  di atas, dapat di simpulkan banyaknya kalangan remaja minum-minuman keras, karena lingkungan pergaulan yang sering minum-minuman keras dalam jangka waktu yang lama. Kurangnya pengendalian diri kalangan remaja itu sendiri karena tidak dilandasi dengan keimanan yang kuat. Kurangnya konrtol orang tua. Walaupun segala upaya telah di lakukan oleh berbagai pihak misalnya dengan diadakan penyuluhan, memberikan bantuan modal, agar kalangan remaja yang belum bekerja mempunyai kesibukan.

Dan aparat keamanan yang setiap saat melakukan rasia baik terhadap kalangan remaja maupun terhadap masyarakat yang masih menjual minuman keras. Akan tetapi hal tersebut belum optimal dikarenakan Peraturan Daerah (PERDA) kurang tegas. Dan dengan segera di buatnya Peraturan Daerah (PERDA) yang baru di harapkan akan lembih mendapatkan hasil yang optimal Hasil penelitian ini di harapkan bermanfaat bagi kalangan remaja pada khususnya dan orang tua, masyarakat, pendidik, aparat desa dan aparat keamanan pada umumnya. Kalangan remaja di harapkan dapat mencermati faktor-faktor yang mendorong minum-minuman keras, terutama berkaitan dengan pengendalian untuk menghindari lingkungan pergaulan yang sering minum-minuman keras. Demikian juga orang tua dalam mengontrol kalangan remajanya agar lebih intensif dan bersikap tegas. Untuk masyarakat, pendidik, aparat desa, aparat keamanan saling bekerjasama untuk menghilangkan atau meminimalkan penggunaan minum-minuman keras di kalangan remaja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perumusan Masalah :

 

Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat dirumuskan permasalahnya sebagai berikut “Bagaimana gambaran perilaku minum-minuman beralkohol dan gangguan kondisi kesehatan pada pemuda di Desa Kiringan Boyolali ? ”.

 

 

Tujuan Penelitian :

 

1. Tujuan umum

 

Mengetahui gambaran perilaku minum minuman beralkohol dan gangguan

kondisi kesehatan pada pemuda Di Desa Kiringan Boyolali.

 

2. Tujuan khusus

 

a) Mengetahui tingkat pengetahuan tentang bahaya minuman beralkohol

pada pemuda pengkonsumsi minuman beralkohol di Desa Kiringan

Boyolali.

b) Mengamati faktor yang ikut berperan dalam perilaku pemuda

pengkonsumsi minuman beralkohol di Desa Kiringan Boyolali.

c) Mengukur kondisi kesehatan pemuda pengkonsumsi minuman

beralkohol yang meliputi tekanan darah, kadar Hb, berat badan, tinggi

badan juga masalah lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

Asal Usul Bir (Minuman Beralkohol / Miras) :

`Tidak jelas benar dari mana kata bir berasal. Namun proses pembuatannya sendiri sudah ditemukan sejak lama. Sebuah prasasti yang ditemukan di delta subur antara sungai Eufrat dan sungai Trigis di kawasan Mesopotamia (sekarang kawasan irak) dan diperkirakan berasal dari masa sekitar 6.000 SM, sudah memuat gambaran tentang proses pembuatan bir. Sebuah relief yang terdapat di makam kuno di Mesir dari masa sekitar 2.400 SM juga menggambarkan proses pembuatan bir dengan bahan “barley” (barli), yaitu semacam rumput yang bijinya bisa diolah menjadi bir. Sejarah selanjutnya menapak pada tahun 2.000 SM ketika Raja Hammurabi dari Babylonia merilis resep tentang cara pembuatan dan penyajian bir.

Di Mesir sendiri, sang Fir’aun (pharaoh) juga terkenal sebagai ahli pembuat minuman hasil fermentasi ini. Menurut Ensiklopedi Britanica, seorang sejarawan asal Romawi bernama Pliny dan Tacticus mencatat bahwa bangsa dari suku Saxon, Celt, Nordic dan Germanic sudah menkonsumsi sejenis bir tak berwarna (disebut ale). Istilah ini juga berkembang diantara istilah-istilah lain di kalangan bangsa Anglo-Saxon seperti istilah Malt, Mash, dan Wort. Pada abad 15, pembuatan bir di Jerman menggunakan teknik fermetasi yang berbeda. Prosesnya dilakukan dengan proses fermentasi dasar, bukan fermentasi di atas bahan bakunya. Bir yang dihasilkan disebut dengan lager (dari bahasa Jerman: Lagern = menyimpan) karena bir pada masa itu dibuat pada musim dingin dan membutuhkan es untuk menyimpannya pada musim panas. Proses pembuatan bir kemudian berkembang dengan adanya kontrol yang baik menggunakan termometer dan sakarimeter yang bisa mengukur kadar gula. Dengan paduan teknologi pembuatan es dan sistem pedinginan, pembuatan bir bisa dilakukan pada musim panas. Tapi cita rasa bir masih juga tak bisa ditentukan, sebab sangat dipengaruhi proses berubahnya gula menjadi alkohol oleh sel ragi. Lalu muncullah Louis Pasteur yang berargumen bahwa walaupun semua jenis sel ragi bisa dimanfaatkan untuk fermentasi, namun tidak semua sel ini cocok bagi proses pembuatan bir. Sel-sel yang tertentu saja yang akan menghasilkan cita rasa bir yang tinggi.

Proses Pasteurisasi yang ditemukannya juga mampu membuat bir menjadi lebih tahan lama, setelah memanaskan bir hingga 70 derajat celcius agar mikroorganisma tidak aktif. Berbagai teknologi yang kemudian ditemukan juga membuat bir yang dihasilkan menjadi seperti yang kita kenal saat ini.

Landasan hukum pengendalian dan pengawasan minuman keras yang menjadi dasar dalam penanganannya yang ada sekarang baru pada tingkat peraturan menteri. Oleh sebab itu, mungkin sudah selayaknya landasan hukum ini ditingkatkan dari yang sekarang ada, yaitu Rancangan Undang-Undang menjadi undang-undang sebagaimana halnya dengan masalah narkotika yang sudah mempunyai undang-undang sendiri. Pembahasan tentang remaja dalam kaitannya dengan minuman keras seperti diuraikan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut  :

  1. Minuman keras (khamr) dalam ketetapan hukum Islam haram dikonsumsikarena ia dapat membuat mabuk dan mengganggu serta mengurangibahkan menghilangkan daya pikir orang yang meminumnya. Ketatapan hukum ini berlaku mutlak walaupun diminum dalam jumlah sedikit yang belum tentu membuat mabuk dan mengganggu pikiran orang-orang yang meminumnya. Ketetapan hukum ini berlaku bertahap sesuai dengan perkembangan adat kebiasaan dan kemajuan berpikir bangsa Arab ketikaIslam datang.
  2.  Perbedaan pendapat di kalangan ulama ahli fikih (fuqaha) dan bukan khamr serta konsekuensi ketetapan hukum memnimumnya merupakan cerminan dari kekayaan khasanah pemikiran dan perkembangan hokum Islam. Perbedaan pandangan mengenai hal ini berawal dari penafsiran yang ketat terhadap nash syara ‘ (dalil agama yang bersumber pada Al-Quran dan hadits Nabi) dari sudut tinjauan etimologi atau bahasa, yaitu khamr dipahami sebagai minuman berakohol memabukkan yang terbuat hanya dari perasan buah anggur dan korma, sedangkan minuman beralkohol memabukkan yang terbuat dari perasan biji-bijian lain selain anggur dan korma tidak tergolong khamr melainkan muskir atau nabiz.
  3.  Minuman keras dipandang dari segi kesehatan sama sekali tidak member manfaat apapun bila diminum. Alkohol atau etil alkohol (etanol) yang terdapat dalam minuman keras, di bidang medis sekalipun dewasa ini tidak lagi digunakan sebagai obat yang diminum. Minuman keras telah terbukti secara medis merusak kesehatan karena dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit yang sangat berbahaya, dan telah terbukti pula secara empirik membuat orang yang meminumnya berperilaku menyimpang (lo-iminalitas) dalam bentuk tindak tanduk merusak yang merugikan orang lain dan dirinya sendiri.
  4. Perilaku remaja meminum minuman keras dapat digolongkan ke dalam perilaku menyimpang. Perilaku negatif ini muncul tidak dengan begitu saja, tetapi didorong oleh berbagai faktor yang bersifat internal yang bersumber pada diri remaja itu sendiri, dan faktor eksternal yang datang dari lingkungan sosial di luar dirinya.
  5. Remaja dan minuman keras adalah sebuah masalah sosial yang cenderung meningkat menjadi patologi/penyakit sosial yang merugikan banyak pihak.

Wine/Minuman keras :

Minuman keras dilihat dari berbagai sudut pandang baik segi agama, norma sosial, maupun kesehatan.:

A. Dari segi agama

Dalam agama Islam :

Aturan larangan (pengharaman) minuman keras (khamar) berlaku untuk seluruh umat Islam serta tidak ada perkecualian untuk individu tertentu. Yang dilarang dalam Islam adalah tindakan meminum khamar itu sendiri, terlepas apakah si peminum tersebut mabuk atau tidak.Hal ini cukup jelas dinyatakan dalam surat Al-Maidah ayat 90: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.  Kemudian di dalam Al-Quran surat Al Baqarah ayat 219 yang artinya:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”

 
B. Dari Penelitian Kesehatan

Data health.com mengklaim ada beberapa manfaat wine bagi kesehatan tubuh, di antaranya:

  1. Menutrisi Kepala => Minum wine bisa memelihara kenangan indah Anda. Saat dilakukan penelitian terhadap para wanita berusia 70 tahun, yang minum satu atau lebih minuman keras tiap hari memiliki skor lebih baik ketimbang yang kurang atau tidak minum sama sekali. wine menolong mencegah gumpalan dan mengurangi radang pembuluh darah, keduanya sudah dites di fakultas kedokteran University of Arizona. Alkohol juga membesarkan HDL, kolesterol baik, yang menolong menghilangkan sumbat arteri Anda.
  2. Mempertahankan Skala Jantung => Studi menunjukkan bahwa orang yang minum wine tiap hari memiliki massa tubuh lebih rendah ketimbang yang jarang minum. Peminum wine moderat memiliki pinggang lebih sempit dan kurang lemak daripada yang minum minuman keras.
  3. Membangun Kekebalan Tubuh => Di satu penelitian di Inggris, orang yang minum satu gelas wine tiap hari bisa mengurangi 11% resiko terinfeksi bakteri Pilorus Helicobacter, penyebab utama radang perut, borok, dan kanker perut. Sementara penelitian di Spanyol menyebutkan bahwa orang yang minum setengah gelas per hari bisa berjaga-jaga terhadap keracunan makanan akibat kuman Salmonella jika makan makanan yang kotor.
  4. Menjadi Penjaga Bagi Penderita Ovarian => Saat peneliti Australia membandingkan wanita dengan ovarian kanker dan wanita tanpa kanker, mereka menemukan sekitar satu gelas wine yang diminum per hari bisa mengurangi penyakit tersebut sampai 50%. Para pakar menduga diakibatkan oleh anti-oksidan atau phytoestrogen yang memiliki kontra-kanker tingkat tinggi dalam wine.
  5. Membangun Tulang Yang Lebih Baik => Rata-rata, wanita peminum secara moderat memiliki massa tulang yang lebih tinggi daripada sebaliknya. Alkohol bisa menaikkan tingkat estrogen. Hormon itu melambatkan kerusakan tulang yang sudah tua ketimbang melambatkan produksi tulang baru.
  6. Penyelamat Masalah Gula Darah => Wanita pra-menopouse yang minum satu atau dua gelas wine per hari bisa mengurangi sekitar 40% tipikal diabetes. Sementara studi itu belum mencapai final, wine sepertinya bisa membangun insulin penolong bagi pasien diabetes.

C. Fakta lain

Data resmi pemerintah Inggris (tahun 2006) menyebutkan bahwa hampir separuh kejahatan dengan kekerasan di negara tersebut diakibatkan oleh pengaruh minuman beralkohol. Lebih dari satu juta pelaku agresi kejahatan yang terdata dipercaya berada dalam pengaruh alkohol. Kerugian ekononomi akibat minuman beralkohol sangat luar biasa besarnya, sebagai contoh di Amerika Serikat biaya yang harus dikeluarkan untuk mengatasi masalah kesehatan yang berhubungan dengan dampak negatif minuman beralkohol di negara tersebut mencapai 176 milyar USD (sekitar 1600 triliun rupiah) setiap tahun

Bagaimana dengan pendapat bahwa konsumsi alkohol lebih dipengaruhi oleh iklim.
Artinya konsumsi alkohol di negara-negara iklim dingin lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara iklim tropik?

Data statistik WHO menunjukkan bahwa negara tropis seperti Brazil, Thailand, Venezuela dan Dominika justeru memiliki konsumsi alkohol sama atau lebih tinggi dibandingkan dengan Canada, Denmark dan Norwegia yang notabene adalah negara-negara beriklim dingin. Disamping itu, data dari Center for Social Research on Alcohol and Drugs – Universitas Stockholm membuktikan bahwa konsumsi alkohol di Swedia justru meningkat pada saat musim panas. Bahkan puncak konsumsi alkohol negara tersebut justeru terjadi pada pertengahan musim panas.

Jadi alasan bahwa motivasi minum minuman beralkohol didasari oleh tuntutan kondisi iklim yang dingin sesungguhnya tidak didukung oleh data statistik yang memadai. Sekalipun tidak ada satu negara pun di dunia yang bisa 100 persen bebas minuman beralkohol, namun data statistik WHO menunjukan bahwa konsumsi perkapita minuman beralkohol di negara-negara berpenduduk muslim jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara lainnya. Sebagian besar negara-negara berpenduduk muslim menkonsumsi minuman alkohol kurang dari 0.5 liter alkohol perkapita per tahun. Coba bandingkan dengan penduduk negara-negara Eropa yang mengkonsumsi lebih dari 10 liter alkohol perkapita per tahun.

Persentasi penduduk yang tidak peminum alkohol di negara-negara muslim juga jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di dunia. Sebagai contoh, jumlah penduduk yang tidak peminum alkohol di Mesir, Indonesia, Pakistan, Saudi Arabia dan Syiria mencapai lebih dari 90 persen. Sebaliknya, jumlah penduduk yang bukan peminum alkohol di Denmark, Norwegia, Jerman dan Luxemburg hanya kurang dari 6 persen.

Ini artinya ada korelasi positif antara ajaran Islam dengan rendahnya tingkat konsumsi minuman beralkohol di negara-negara berpenduduk muslim.

  • Pandangan Psikologis pada Peminum Miras :

Telah banyak berjatuhan korban akibat minum minuman keras (miras) yang dioplos dengan berbagai bahan maupun suplemen. Kadang-kadang tidak masuk akal, miras yang secara fisiologis dan psikologis memiliki efek negatif, justru dicampur dengan bahan-bahan yang membahayakan pula.

Suara Merdeka telah memberitakan korban-korban di beberapa kota di Jawa Tengah akibat miras, khususnya miras oplosan. Mulai dari Semarang, Salatiga, sampai Boyolali  Bahkan saat tulisan ini dibuat, diberitakan bahwa korban Miras di Salatiga telah mencapai 300 orang (Suara Merdeka, 23 April 2010). Pertanyaan yang kemudian timbul, mengapa miras oplosan tetap saja digunakan, meskipun sembunyi-sembunyi, meskipun korban telah berjatuhan ?

  • Sikap Pandang

Faktor-faktor risiko penyalahgunaan miras penting disikapi dalam rangka upaya pencegahan. Namun, sebelumnya perlu dikemukakan sikap pandang yang mempengaruhi cara orang memandang dan menyelesaikan masalah penyalahgunaan miras, mestinya termasuk pula masalah narkoba. Terdapat tiga sikap pandang, yaitu  model legal – moral, model medis ñ psikiatris, serta model sosiologis ñ psikologis.

Model legal – moralitas, yaitu cara memandang secara kaku, dalam hal ini mengotak-kotakkan pemakai miras dengan orang lain, seakan sebagai orang ìberdosaî yang harus dihukum. Penangananya tentu saja represif, menangkap, mengadili, bahkan menghukumnya. Diragukan efek jera dari para pengguna. Model medis – psikiatris, yaitu cara pandang yang lebih individual dan personal, melihat unsur patologis pada pengguna. Menganggap bahwa seseorang yang menyalahgunakan miras, bahkan bereksperimen dengan oplosan, tidak mungkin kalau bukan karena pengaruh atau ìtertularî orang lain.  Istilah lain, orang yang bersangkutan menderita ìpenyakitî yang harus disembuhkan. Karena itu, dalam pendekatan ini perlu dilakukan perawatan, dan harus dimasukkan ke klinik dalam rangka pengobatan.

Model sosiologis – psikologis, yaitu cara pandang yang melihat penggunaan miras dan penyalahgunannya sebagai aktivitas sosial yang timbul dari kebutuhan kelompok serta kebutuhan individu. Meskipun penyalahgunaan miras dapat mengakibatkan kondisi patologis, sehingga memerlukan penanganan medis – psikiatris, tetapi kondisi tersebut dapat dipandang sebagai respon yang normal terhadap tekanan-tekanan dari lingkungannya.

Karena itu, perlu ditelaah bagaimana karakter individu dan karakter lingkungan sosialnya, yang mendorong penggunaan miras, bahkan melakukan penyalahgunaan dengan mengoplos. Lingkungan sosial tersebut adalah keluarga, sekolah, kelompok teman sebaya (peer group) serta masyarakat yang lebih luas.

Dinamika penggunaan dan penyalahgunaan miras dapat digambarkan, mula-mula diawali dengan merokok. Tahap berikutnya, masih meneruskan kebiasaan merokok dilanjutkan dengan mencoba miras, meskipun masih termasuk golongan yang ringan atau kadar alkohol paling rendah. Kemudian meningkat pada miras dengan kadar alkohol lebih tinggi, bahkan menggunakan miras non standar, dengan mengoplos menggunakan berbagai ramuan.

  • Risiko Psikologis

Sekurangnya terdapat lima faktor risiko psikologis yang mendorong seseorang menggunakan miras, bahkan menyalahgunakannya. Faktor risiko tersebut antara lain berupa faktor-faktor individu, keluarga, sekolah, kelompok teman sebaya, serta lingkungan sosial. Karena itu, penanggulangan miras oplosan harus melibatkan lima faktor risiko tersebut antara lain:

  1. Faktor individu => Fakor individu dapat dipandang sejak awal perkembangan seorang anak, bahkan mulai masa prenatal, pengalaman lahir, serta perilaku awal masa bayi dan kanak-kanak. Misalnya ibu hamil yang suka minum alkohol, bayi dengan komplikasi lahir, nak hiperaktif, minum alkohol pada masa dewasa dan sebagainya.  Hasil penelitian menunjukkan, bahwa profil karakteristik remaja yang cenderung menggunakan miras, bahkan narkoba, antara lain perokok, kurang tertarik pada sekolah, kurang peduli prestasi akademis, memiliki sifat pemberontak,serta kurang peduli soal agama. Profil karakteristik lain, adanya jarak antara anak dengan orangtua, memiliki teman sebaya peminum miras, serta adanya tekanan kelompok sebaya
  2.  Faktor keluarga => Faktor keluarga berperan sangat penting sebagai faktor risiko. Hal yang penting adalah modelling atau mencontoh orang serumah, misalnya orangtua atau kakak yang juga menggunakan. Pengawasan yang kurang, sistem penghukuman yang kurang konsisten, otoriter, orangtua yang tidak responsif, tidak hangat, serta keluarga sarat konflik, juga merupakan faktor risiko yang penting.
  3.  Faktor sekolah => Sukses dalam prestasi sekolah dapat menjadi pencegah seseorang menjadi pengguna miras, bahkan narkoba. Hubungan yang baik dengan guru dapat menjadi pengganti kekecewaan hubungan dengan orangtua. Meskipun demikian perlu diakui, bahwa ciri-ciri sekolah biasanya tidak mampu menampung kebutuhan anak didik secara pribadi, sehingga mereka lebih bersandar pada kelompok sebayanya.
    Mestinya, sekolah bukan hanya mengejar tercapainya program, melainkan juga dapat dijadikan referensi bagi jawaban masalah realitas kehidupan.
  4.  Faktor kelompok teman sebaya => Jarang disadari, bahwa prediktor yang paling kuat bagi penggunaan miras, penyalahgunaannya, bahkan penggunaan narkoba pada remaja, adalah kelompok teman sebaya. Teman sebaya yang merokok, menggunakan miras, bahkan narkoba,  cenderung akan diikuti oleh kelompoknya. Demikian pula penyalahgunaan miras dengan mengoplos, lebih sering diperoleh dari teman sebaya.
  5. Faktor lingkungan social => Lingkungan sosial yang lebih luas yaitu masyarakat, juga berpengaruh. Pengaruh tersebut antara lain berupa pola penggunaan miras, misalnya jenis miras, kadar alkohol, bahkan pada pola-pola penyalahgunaan seperti mengoplos.

    Deprivasi ekonomi dapat meningkatkan perilaku antisosial yang menjadi prediktor penggunaan miras pada masa dewasa. Sedangkan anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan sosial yang kurang menguntungkan seperti kumuh, kepadatan penduduk tinggi, mobilitas penduduk tinggi, rasa kebersamaan yang rendah, dapat meningkatkan kecendrungan menjadi pengguna miras. Sedangkan faktor-faktor yang positif berikut dapat mencegah meskipun berada pada lngkungan yang berisiko tinggi, antara lain: memiliki karakter yang tangguh, teguh, mempunyai orientasi sosial yang positif, intelegensi tinggi, serta memiliki keterampilan tertentu.

 

  • DAMPAK MINUMAN KERAS TERHADAP KESEHATAN DAN

PENYIMPANGAN PERILAKU

 

Bahan minuman apapun jenisnya seperti alkohol memang bermanfaat untuk memenuhi berbagai kebutuhan dalam kehidupan manusia yaitu sebagai pelarut (solvent) yang biasanya digunakan pada berbagai jenis industri, umpamanya pada industri minyak atsiri, industri senyawa pewarna, dan pada industri farmasi serta kosmetika. Akan tetapi alkohol dalam minuman tidak memberi manfaat apapun bagi kesehatan pada organ-organ tubuh dan berpengaruh buruk pada kesehatan mental.

Minuman berakohol telah terbukti menjadi penyebab dari berbagai penyakit. Dari penyakit yang sederhana sampai.yang sangat berbahaya, seperti lever akan merusak jaringan hati (lever) gangguan penyerapan zat makanan dan mengakibatkan kurang gizi, meningkatkan tekanan darah, membuat denyut jantung menjadi tidak normal dan menurunkan nafsu seksual. Terhadap otak alkohol mengakibatkan hilangnya pengendalian diri, membuat sempoyongan, mengganggu kemampuan berbicara, menurunkan kemampuan intelektual, mengakibatkan hilangnya ingatan (block out), menyebabkan terjadinya amnesia, dan merusak jaringan saraf (Mohammad, 1993: 1). Kerusakan urat saraf atau yang disebut sebagai polyneuropathy lain juga berhubungan dengan sakit radang kantong perut dan pengerasan pada bagian hati (Dirdjosiswono, 1984: 110). Kecuali beberapa jenis penyakit dan gangguan di atas, alkohol dapat pula menyebabkan gangguan cardiovascular dan terjadi kematian bila satu point (0,568 liter) etanol murni masuk ke dalam tubuh (Darwis, 1993: 7).

Alkohol ternyata juga dapat menyebabkan kemandulan/gangguan ketidak suburan. Wanita yang kecanduan alkohol, tidak saja bisa mandul, melainkan juga menyebabkan anak yang dilahirkan cacat (Lihat Republika, 1 Oktober 1998). Kecuali terhadap kesehatan fisik, minuman berakohol dapat pula mendatangkan gangguang kejiwaan dalam bentuk depresi, halusinasi, paranoid (terlalu curiga pada orang lain), dan sebagainya. Pengaruhnya terhadap kejiwaan seorang yang alkoholik dapat bersifat terlalu mementingkan diri sendiri, ketergantungan pada sesuatu atau orang lain, perasaan yang berlebihan mengenai kemampuan diri (perasaan megalomania), dan ketahanan yang rendah sekali terhadap ketagihan untuk minum alkohol (Dirdjosisworo,1984: 111). Itu semua berarti kesehatan jiwa/mental orang yang mengkonsumsinya ikut terganggu. Namun demikian, bagi semua peminum alkohol, pengaruh terhadap kejiwaan, umumnya dapat dilihat dari jumlah per miligram alkohol dalam per 100 mililiter darah. Berikut disajikan tabel tentang kadar kandungan alkohol dalam darah dan pengaruhnya terhadap kejiwaan, lengkap dengan contoh jenis-jenis minuman kerasnya ( Susanto, 1993:8)

 

  • Akibat Penyalahgunaan Alkohol / Minuman Keras

* Gangguan Fisik : meminum minuman beralkohol banyak, akan menimbulkan kerusakan hati, jantung, pangkreas dan peradangan lambung, otot syaraf, mengganggu metabolisme tubuh, membuat penis menjadi cacat, impoten serta gangguan seks lainnya
* Gangguan Jiwa : dapat merusak secara permanen jaringan otak sehingga menimbulkan gangguan daya ingatan, kemampuan penilaian, kemampuan belajar dan gangguan jiwa tertentu.
* Gangguan Kamtibmas: perasaan seorang tersebut mudah tersinggung dan perhatian terhadap lingkungan juga terganggu, menekan pusat pengendalian diri sehingga yang bersangkutan menjadi berani dan agresif dan bila tidak terkontrol akan menimbulkan tindakan-tindakan yang melanggar norma-norma dan sikap moral yang lebih parah lagi akan dapat menimbulkan tindakan pidana atau kriminal.

 

 

 

 

  • UPAYA MENCEGAH REMAJA MEMINUM MINUMAN KERAS :

 

Setiap keluarga muslim mutlak menjaga keselamatan diri dan semua anggota keluarga dari segala kemungkinan yang dapat menjerumuskan ke dalam kesesatan dan kesengsaraan. Minuman keras atau minuman berakohol terbukti secara media membahayakan kesehatan dan dari segi sosial telah terbukti pula peminumnya sering menimbulkan keresahan dan malapetaka bagi masyarakat luas. Oleh sebab itu, segala upaya untuk menghindarkan individu-individu dalam masyarakat, khususnya remaja meminum-minuman  keras tersebut mutlak dilakukan. Tanggung jawab dalam melakukan kewajiban ini harus dipikul oleh semua pihak yang terkait, baik oleh keluarga suatu rumah tangga, pemerintah sebagai lembaga, maupun oleh masyarakat itu sendiri. Bentuk-bentuk upaya yang dapat dilakukan oleh masing-masing pihak terkait di atas tentu akan beragam sesuai dengan tanggung jawab dan wewenang mereka masing-masing. Barangkali dapat dikatakan, bahwa tugas utama ibu dan bapak, adalah memenuhi kebutuhan jasmaniah (biologis) dan rohaniah (psikologis) anak- anak mereka.

Kebutuhan jasmaniah seorang anak dapat berupa makanan yang baik, yang mengandung segala unsur untuk pertumbuhan dan kesehatan. Pakaian yang baik yang dapat menjaga dan melindunginya dari gangguan alam dan memenuhi ketentuan-ketentuan etik dan estetika, serta tempat tinggal yang memungkinkan dia tumbuh dan berkembang secara sehat. Kebutuhan

rohaniah seorang anak adalah kasih-sayang kedua orangtuanya dan bimbingan serta didikan yang benar yang membuat dia tumbuh sebagai seorang manusia yang baik, yang membuatnya dapat mendatangkan kebaikan dan kegunaan bagi dirinya sendiri dan bagi orang-orang dan lingkungan di luar dirinya. Dalam kaitan dengan remaja dan minuman keras. Zakiah Daradjat (Lihat Republika, 1 Oktober 1993: 8) menilai keluarga adalah elemen paling penting untuk menangkal anak melarikan diri ke alkohol. Menurutnya, bila berbagai persoalan dapat dibicarakan secara terbuka dan demokratis dalam sebuah keluarga, maka rasa tertekan seorang anak otomatis berkurang. Itu berarti sebuah faktor untuk mendekati alkohol telah pupus.

Terhadap remaja yang alkoholüT dan yang bukan alkoholik, bimbingan dan didikan yang dapat diberikan oleh kedua orangtuanya agar mereka berhenti dan atau terhindar dari meminum minuman keras adalah memberikan penerangan yang bijaksana mengenai bahaya alkohol terhadap kesehatan dan perilaku sosial peminumnya dan pendidikan agama yang disesuaikan dengan tingkatan umur dan daya serap mereka. Pendidikan umum secara jelas sangat berguna dalam membentuk kepribadian seorang anak, termasuk dalam upaya mencegah mereka meminum minuman keras. Akan tetapi pendidikan agama mungkin lebih efektif dalam mencapai sasaran tadi karena dalam pendidikan agama tidak hanya diajarkan hal-hal yang menyangkut soal etika dan estetika sebagaimana dalam pendidikan umum melainkan lebih daripada itu,’ diajarkan pula nilai-nilai spiritualitas yang dapat menggugah pikiran dan perasaan mereka, yang pada akhirnya membuat ketahanan mental mereka menjadi tangguh.

Djamaluddin Ancok, seorang psikolog, menilai positif pelaksanaan  kilat yang biasanya diadakan pada bulan Ramadhan. Menurutnya, pesantren kilat akan dapat menumbuhkan ketahanan mental pesertanya sehingga mereka dapat membendung pengaruh-pengaruh buruk yang timbul karena godaan yang begitu besar terhadap anak dari media film, televisi dan berbagai jenis permainan seperti video game yang merusak (Lihat Republika, 12 Februari1992). Zakiah Daradjat (1993:40) kembali menegaskan, bahwa bila sejak kecil anak diberikan didikan dengan nilai-nilai agama, maka kepribadian anak akan mempunyai unsur yang baik, yang menjauhkannya dari kegoncangan. Sebab, nilai-nilai positif yang tetap dan tidak berubah adalah nilai-nilai agama, sedangkan nilai-nilai sosial dan moral yang didasarkan bukan pada agama akan selalu berubah seiring dengan perkembangan masyarakatnya. (Zakiah Daradjat, 1991 : 58 – 59), menambahkan pula bahwa seharusnya agama masuk ke dalam pribadi anak bersamaan dengan pertumbuhan pribadinya, yaitu sejak lahir, bahkan lebih daripada itu sejak dalam kandungan. Sebab perkembangan agama pada seorang anak ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa-masa pertumbuhan yang pertama, yaitu dari umur 0 tahun sampai 12 tahun. Pendidikan agama penting bagi seorang anak karena pengendali utama kehidupan manusia adalah kepribadiannya yang mencakup segala unsure pengalaman, pendidikan dan keyakinan yang didapatnya sejak kecil sehingga anak yang diberikan pendidikan agama tadi akan bersikap wajar, tenang dan selalu menjaga dan memperhatikan ketentraman dan kepentingan orang lain sebagaimana diperintahkan oleh ajaran agama itu sendiri.

Dengan demikian tempat pelaksanaan pendidikan agama bukan hal yang utama. Yang penting dalam hal ini adalah pendidikan agama yang betul- betul dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap perilaku anak. Untuk tujuan ini dibutuhkan bukan saja dukungan keluarga dalam hal-hal yang bersifat finansial melainkan lebih daripada itu dorongan moril dalam bentuk suri teladan dari perilaku orangtua yang mencerminkan perilaku yang islami. Pendidikan apapun oleh keluarga terhadap anak-anak mereka intinya terletak pada suri teladan mereka karena anak umumnya belajar dari apa yang orangtua mereka alami dan hayati.

 

Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mencegah remaja meminum minuman keras adalah bimbingan dan pengawasan terus-menerus oleh sekolah terhadap perilaku keseharian siswa-siswanya, terutama terhadap mereka yang diduga pernah atau sering meminum minuman keras. Bimbingan dan pengawasan yang.berkelanjutan tersebut sekaligus merupakan aplikasi dari tugas guru, yaitu mendidik, memberi pengetahuan, membentuk kecakapan danmembentuk kesiapan anak didik dalam menghadapi persoalan (Pasaribu, et al., 1982: 18). Perilaku meminum minuman keras jelas merupakan sebuah persoalan di antara sekian banyak persoalan yang dihadapi remaja usiasekolah.

Di samping aplikasi dari tugas-tugas guru, bimbingan dan pengawasan yang diberikan sekolah kepada siswa-siswinya adalah juga aplikasi dari keharusan sekolah melakukan kewajiban bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling) kepada seluruh siswa-siswinya sebagai bagian tak terpisahkan dari kegiatan belajar mengajar di sekolah. Hal ini dapat dipahami dari pengertian mengenai bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli. Salah satu di antaranya yang lebih mengarah kepada pelaksanaannya di sekolah adalah pengertian yang dikemukakan oleh Miller sebagaimana dikutip oleh I. Djumhur dan Moh Surya (1975: 26) yaitu :proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga serta masyarakat”. Upaya bimbingan dan penyuluhan barangkali identik pula dengan upaya ‘pendampingan’, yaitu sebuah ungkapan penanaman yang menggambarkan suatu upaya membantu remaja menyongsong masa depan dengan tujuan, materi, bentuk, metode dan teknik pendapingan tertentu. Sebab, tujuan pendampingan di sini menjawab sejumlah pertanyaan yang mengarah pada bukan saja peningkatan pengetahuan orang-orang yang mengikuti kegiatan ini,

melainkan juga mengarah pada pembentukan sikap dan perilakunya yang terpuji.

Yang meliputi pertanyaan mengenai alasan pendampingan itu diusahakan, harapan yang diperoleh dari usaha pendapingan bagi kaum muda. Kaum muda macam apa yang akan dihasilkan oleh kegiatan tersebut ? Apakah kaum muda dengan ilmu, pengetahuan, kecakapan, sikap, perbuatan,

perilaku, serta hidup macam apa yang akan muncul setelah melalui proses kegiatan ini? Tegasnya, sosok, profil kaum muda macam apa yang akan tampil berkat usaha pendampingan itu (Mangunhardjana, 1986: 25). Dari semua pertanyaan tersebut di atas, khusus dalam kaitannya dengan kepribadian orang yang menjadi sasaran pendampingan, sekaligus sasaran utamanya adalah untuk memperkenalkan jawaban potensi diri remaja/siswa bersangkutan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia yang mereka miliki, sebagaimana digambarkan di bawah ini :

  1. Mampu mengenal, dan menerima diri dengan segala kekurangan serta kelebihan mereka.
  2. Mampu menemukan identitas diri, memiliki gambaran diri yang sehat dari mempunyai kepercayaan diri serta harga diri yang seimbang.
  3. Mampu mengenal, mengolah, mengarahkan segala perasaan hati yang positif dan negatif yang muncul dalam hati mereka.
  4. Mampu mengenal, menjernihkan, mengembangkan pandangan, keyakinan dan falsafah hidup.
  5. Mampu mengenal, menjernihkan, mengembangkan nilai-nilai, membentuk sistem nilai yang benar dan seimbang.
  6. Mampu mengenal, menjernihkan, mengembangkan motivasi, cita-cita dan idealisme hidup.
  7. Mampu mengenal, mengembangkan potensi siri secara maksimal dan ke arah yang tepat.
  8. Mampu mengenal, mengembangkan perilaku, cara dan gaya hidup yang produktif

 

Bimbingan dan penyuluhan atau pendampingan yang tepat, dan terarah, yang diberikan oleh sekolah kepada siswa siswinya memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat, sehingga mereka dapat terhindar dari atau menghentikan ?????? Pemerintah sebagai lembaga yang mempunyai otoritas dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara harus pula menunjukkan kemauan yang sungguh-sungguh dalam menangani masalah minuman keras melalui penerapan peraturan-peraturan yang berkenaan secara tegas dan konsekuen.

Sanksi hukum terhadap pelanggar ketentuan-ketentuan tersebut, baik oleh konsumen termasuk remaja maupun produsen dan seluruh jaringan pemasarannya seharusnya dijalankan dengan konsekuen pula. Dalam perizinan dan pengawasan peredarannya diperlukan koordinasi yang baik antardepartemen terkait, yaitu Departemen Agama, Perdagangan, Kesehatan, Penerangan, Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kantor Menteri Pemuda dan Olahraga. Adapun yang menyangkut penegakan hukum dan administrasi peradilannya diperlukan suatu rangkaian mekanisme kerja yang terpadu antara aparat kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. Dalam hal ini

mutlak adanya pembinaan hukum peradilan yang dilaksanakan secara tepat, cepat dan merata

 

  • Menghindari kecanduan  :

 

Jangan Pernah Berpikir Untuk Mencoba. Pikiran bahwa “..Aku hanya mencoba dan gampang untuk berhenti….” adalah pikiran yang berbahaya dan salah untuk persoalan Narkoba.
Menghindarkan diri  dari pemakaian Narkoba/Miras adalah dengan sikap menolak untuk memakainya, karena sadar penuh terhadap konsekwensi yang diakibatkannya. Sikap menolak yang pertama adalah menjauhkan diri dari mereka yang memakai apabila anda merasa akan sulit untuk bisa menolak tawaran.
Sikap menolak yang lain adalah tidak mau ikut-ikutan menikmati barang itu, meskipun sehari-hari tetap bergaul biasa dengan mereka, hanya saja kita tidak usah sungkan-sungkan untuk menyatakan “tidak” jika ditawari untuk ikut memakainya.
Contoh pernyataan menolak secara biasa saja adalah seperti: “nggak ah, itu berbahaya…”, “nggak ah, kalau nyobain nanti kebablasan…”, “nggak ah, saya tidak biasa pakai kog…”; “nggak ah, itu nggak boleh….”. Sikap menolak secara keras mungkin perlu dilakukan jika seseorang mendesak anda dengan keras. Cukup katakan dengan tegas dan penuh percaya diri: “tidak!!”

Jika kita merasa tidak mampu mengatasi bujukan orang yang menginginkanmu menjadi pemakai maka jangan segan-segan minta bantuan atau nasehat dari orang yang kita percayai.

 

  • Kelola diri, jauhi miras  :

Pada prinsipnya para remaja harus melaksanakan kehidupan secara seimbang, yaitu memenuhi berbagai kebutuhan baik fisik, sosial, mental, maupun spiritual. Untuk selalu diingat adalah berbagai kegiatan ini dilakukan oleh kita sehari-hari :

  • aktif memegang teguh norma-norma agama dan sosial kemasyarakatan.
  • aktif melibatkan diri dalam kegiatan keluarga, sosial kemasyarakatan dan keagamaan.
  • aktif melakukan gerak badan dan olah raga secara berkelompok, 2-3 kali seminggu .
  • aktif melakukan kegiatan hobi, rekreasi atau bermain dengan teman.
  • aktif mengembangkan kemampuan diri dengan berbagai ketrampilan.
  • istirahat yang cukup, 7-8 jam sehari.
  • makan yang cukup dengan gizi seimbang dan jam makan yang teratur, usahakan bersama keluarga.
  • hadapi persoalan hidup dengan tanpa terlalu takut, panik atau stress karena pasti akan dapat diselesaikan seiring dengan berjalannya waktu.
  • jangan menyimpan “persoalan tidak enak”, tapi ceritakan kepada orang lain.
  • percaya bahwa hidup telah ada yang mengatur.
  • kita hanya wajib menjalani dengan sebaik-baiknya sehingga tidak perlu “neko-neko”.
  • Jangan mudah menerima sesuatu seperti permen atau cemil-cemilan dari orang yang tidak kita kenal atau orang yang kita kenal namun tidak kita percayai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

 

Dari keseluruhanpenjelasan diatas kita dapat menrik beberapa kesimpulan yaitu:

  1. Yang dimaksud dengan minuman keras ialah segala jenis minuman yang memabukan, sehingga dengan meminumnya menjadi hilang kesadaran bagi yang meminumnya
  2. Hukum minum minuman keras atau khamar ialah haram, dan bagi orang yang menkonsumsinya adalah termasuk pelaku dosa besar
  3. Bagi orang yang suka meminum atau mengkonsumsi minuman keras maka akan mendapatkan had atau hukuman yaitu di jilid atau didera sebanyak 40 sampai 80 kali
  4. Adapun hikmah di haramkan minuman keras agar tubuh kita selalu sehat jasmani dan rohani.

 

Daftar Pustaka

 

Ø http://bs-ba.facebook.com/topic.php?uid=81078710679&topic=10659

 

Ø http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/04/29/107506/Pandangan-Psikologis-pada-Peminum-Miras-

 

 

 

 

 

 

 

 

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s