Modul Kesehatan Mental

Standar

 

 

 

 

 

Dra. Alif Mu’arifah, S.Psi, M.Si

 

 


 

  1. PETUNJUK MEMPELAJARI MODUL

Kesehatan mental merupakan suatu disiplin ilmu yang tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan berbagai disiplin ilmu lain. Berbagai disiplin ilmu yang dapat dikaitkanh dengan kesehatan mental antara lain adalah ilmu psikologi, biologi, sosiologi, antropologi, ilmu pendidikan, ilmu filsafat, dan ilmu agama.

Modul ini berisi materi singkat perkuliahan kesehatan mental yang dapat dipakai mahasiswa sebagai bahan bacaan untuk menambah wawasan keilmuan yang terkait dengan kesehatan mental. Apa yang dipaparkan dalam modul ini tidak menjelaskan  secara detail isi materi perkuliahan, melainkan garis besar dan beberapa penjelasan singkat yang dapat dipakai sebagai gambaran sederhana yang pengembangannya dapat dilakukan dengan mencari berbagai sumber lain yang relevan. Melakukan diskusi, study kasus, membaca literatur yang terkait, menganalisis journal serta mengadakan penelitian.

Modul kesehatan mental ini merupakan salah satu buku pedoman serta dapat dipakai sebagai pegangan dalam belajar. Sehingga jika mahasiswa ingin megetahui lebih mendalam maka perlu mendengarkan perkuliahan dengan seksama, mempelajari berbagai bidang ilmu yang terkait dengan kesehatan mental, mengerjakan tugas yang dianjurkan oleh dosen serta hal lain yang mendukung kemajuan belajar.

Modul ini ditulis dengan sangat sederhana, masih banyak kekurangan disana-sini. Berbagai masukan  positif yang dapat meningkatkan kualitas sangat diharapkan.

 

  1. TUJUAN MEMPELAJARI MODUL

Setelah membaca dan memahami modul ini, diharapkan mahasiswa memiliki pengetahuan yang terkait dengan kesehatan mental, memahami berbagai permasalahan dalam kesehatan mental serta dapat menerapkan dalam kehidupannya sebagai langkah preventive  sehingga terhindar dari berbagai gangguan yang terkait dengan kesehatan mental.

  1. INDIKATOR KOMPETENSI

Setelah mempelajari modul kesehatan mental ini diharapkan mahasiswa memiliki wawasan yang luas, pengetahuan yang mendalam, memiliki ketrampilan dalam mengatur diri sehingga secara preventive mampu melakukan pencegahan agar tidak muncul gangguan atau penyakit mental

  1. ISI MATERI

Modul ini berisi tentang berbagai hal antara lain: Pengantar ksehatan mental, Sejarah Kesehatan Mental, Berbagai Pandangan Tentang Manusia, Normal dan tidak normal dari sudut kesehatan menal. Manusia modern dan kesehatan mental. Teori tentang kesehatan mental. Gangguan Kesehatan Mental dan factor penyebabnya. Penyesuaian diri. Problem solving dan Strategi coping

  1. EVALUASI

 


PENGANTAR

Manusia adalah makhluk dinamis yang telah dilengkapai dengan berbagai potensi dasar yang berbeda dengan makhluk lain. Kedinamisan manusia tentunya dapat membawa pada optimalisasi ke satu puncak karir yang tidak mungkin dicapai oleh makhluk selain manusia. Jika manusia akan mengoptimalkan semua potensi yang telah diketahuinya maka fisik tidak akan mampu untuk mewujudkan keinginan dari potensi tersebut. Dari susunan syarafnya, kemampuan berfikirnya, kepekaan emosinya, anatomis tubuhnya, serta sikap sosialnya tidak ada satupun makhluk yang bisa menandinginya.

Globalisasi serta proses modernisasi yang berkembang begitu pesat, membawa dapak besar dalam kehidupan. System pemerintahan, pendidikan sampai pada tatanan kemasyarakatan mengalami perubahan yang berdampak pada masyarakat pada umumnya. Perubahan masyarakat social menjadi masyarakat individual yang bercorak kapitalisme modern merupakan efek dari perubahan zaman yang tidak dapat terelakkan lagi. Gaya hidup konsumerisme, pemikiran praghmatis serta menonjolnya kehidupan  materialistic dapat berdampak munculnya ketidaksehatan mental, dari yang ringan sampai yang berat. Dari gangguan mental sampai pada sakit mental.

Masyarakat Indonesia dalam sejarahnya merupakan masyarakat agraris dengan pola hidup social dengan system kekerabatan dekat dalam perjalananannya telah menjadi masyarakat individu membutuhkan kesiapan mental serta proses pembelajaran yang panjang sehingga penyesuaian yang terjadi tidak menimbulkan gejolak yang mengagetkan sehingga berdampak pada terjadinya maladjustment dengan berbagai bentuk perilaku sebagai reaksi terhadap kegagalannya.

Ketidaksehatan mental dapat mengenai siapa saja, tidak pandang usia dan status social ekonomi serta tingkat pendidikan, bahkan untuk memberikan terapi pada mereka yang merasa sehat tetapi sebenarnya tidak sehat merupakan sesuatu yang amat sulit dilakukan karena banyaknya topeng yang menutupi setiap aksi yang dilakukannya. Ketidaksehatan mental ditandai dengan berbagai gejala awal yang muncul, yakni harga diri rendah, tidak dapat menerima realita hidup, tidak memiliki semangat untuk berjuang dsb, sehingga dari beberapa keadaan tersebut memunculkan rasa cemas, bingung, sedih yang tidak jelas, merasa tidak berarti, tidak bisa tidur, tidak nafsu makan, curiga, ingin marah yang telah melampaui kondisi normal, frustrasi, depressi bahkan psikosis.

Pada buku ini akan dijelaskan mengenai berbagai hal, pandangan tentang manusia, sejarah dan pengertian kesehatan mental, norma dalam kesehatan mental, dasar pengembangan kesehatan mental, ketidaksehatan dan kesehatan mental meurut beberapa teori, gangguan mental, penyakit mental serta beberapa terapi.

 

BAB I

A. PENGERTIAN DAN SEJARAH KESEHATAN MENTAL

  1. Pengertian tentang Kesehatan Mental

Ketidakmampuan seseorang dalam menyesuaikan diri (maladjustment) dapat mengakibatkan seseorang terganggu mentalnya dan sakit mentalnya. Seseorang yang tidak memiliki kesehatan mental yang baik akan sangat berbeda dengan seseorang yang memiliki kesehatan mental yang baik. Semua itu dapat dilihat dari cara berfikir, cara mengelola emosi serta mengatur perilakunya. Seseorang yang tidak memiliki kesehatan mental yang baik, pemikirannya banyak diwarnai hal-hal yang negative (negative thingking), tidak mampu berfikir jernih sehingga kemampuan analisisnya dalam memecahkan masalah terganggu, mereka cenderung kurang jauh dalam berfkir sehingga. Perasaannya banyak diliputi rasa bersalah, cemas, sedih, bingung, frustrasi, tidak bersemangat, mudah putus asa, mudah marah, depressi  dll. Keadaan tersebut dapat mempengaruhi dalam berinteraksi dengan lingkungan sehingga berdampak pada gangguan sosialisasi. Pengertian Kesehatan mental dari berbagai disiplin ilmu

  1. Tinjauan Psikiatri: Kesehatan Mental adalah terhindarnya orang dari gejala gangguan jiwa (neurosis) dan gejala penyakit jiwa (psychise). Seseorang yang mengalami gangguan neurosis dalam katagori ringan, masih mampu melakukan kontak dengan lingkungan meskipun tingkat kecemasan, kecurigaan sudah tinggi, namun mereka masih mampu untuk diajak berfikir serta melakukan kegiatan seperti manusia pada umumnya. Seseorang yang sakit jiwa, mengalami gangguan kepribadian dan telah kehilangan kontak dengan lingkungan. Munculnya obsessi kompulsi, hallusinasi, delusi, waham dsb.
  2. Tinjauan psikologis: Kesehatan mental adalah terwujutnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem yang biasa terjadi serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan bathin. Penyesuaian merupakan interaksi yang kontinyu dan harmonis antara diri sendiri, orang lain dan lingkungan atau dunia. Penyesuaian yang baik terjadi bila terdapat keseimbangan yang masuk akal, tidak terjadi konflik yang berkepanjangan sehingga mempengaruhi pola pengambilan keputusan. Penyesuaian tergantung pada bagaimana seseorang mampu menyelesaikan permasalahan   yang sedang dan akan dihadapi dengan cara yang adekuwat. Jika suatu ketika belum berhasil dalam menyelelesaikan masalah tidak mempengaruhi perkembangan psikologis pada fase berikutnya. Secara psikologis seseorang yang sehat mentalnya berusaha menjaga keseimbangan antara fikiran hati dan perilaku sehingga memiliki keberanian serta kemampuan dalam menerima dan menghadapi masalah. Mampu dan tidaknya seseorang tidak tergantung pada besar kecilnya masalah, melainkan sejauhmana individu mampu mengelola, memaneg masalah sehingga menjadi sesuatu yang lebih produktive bukan unproductive.
  3. Perspektif Psikodinamik – cara pandang menurut aliran Freudian bahwa gangguan mental berpangkal dari dorongan atau impuls-impuls yang tidak disadari. Gejala tdk ditunjukkan secara detail dalam bentuk gangguan yg spesifik, namun dipandang sbg refleksi konflik yang melatarbelakanginya atau reaksi mal-adaptif thd masalah dlm hidup, atau berdasarkan perbedaan antara  neurosis and psychosis (secdra garis besar , anxiety/depression merupakan gangguan yg masih berkaitan dengan realitas, sedangkan  halusinasi/delusi tidak berhubungan dengan realitas).
  4. Behavioral Perspective – perilku abnormal merupakan hasil belajar sebagaimana perilaku normal. Individu merupakan produk dari lingkungan. Melalui modeling dan berbagai faktor sosial budaya maka individu belajar untuk berperilaku dengan cara yang tidak adaptif
  5. Batasan Umum: Kesehatan Mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan dirinya, orang lain serta masyarakat dimana ia tinggal.
  6. Ilmu Kesehatan mental à lebih bersifat preventif & memiliki tujuan utk mencegah ketidakmampuan penyesuaian diri serta peningkatan kesehatan mental.
  7. Objek kajian utama : kondisi mental manusia
  8. Berasal dari istilah àMental hygiene Ilmu kesehatan mental : ilmu yg memperhatikan  perawatan mental/jiwa à objek kajian à kondisi mental manusia dengan memandang manusia sbg totalitas psikofisik yg kompleks.
  9. Schneiders: ilmu kesehatan mental adalahà ilmu yg mengembangkan & menerapkan seperangkat prinsip yg praktis dan bertujuan utk mencapai & memelihara kesejahteraan psikologis organisme manusia dan mencegah gangguan mental serta ketidakmampuan penyesuaian diri.
  10. Klein: ilmu yg bertujuan untuk mencegah penyakit mental dan meningkatkan kesehatan mental.
  11. Thorpe: suatu tahap psikologi yg bertujuan untuk mencapai dan memelihara kesehatan mental
  12. Konsep Sehat
    1. WHO mendefinisikan sehat sebagai sebuah kondisi yang lengkap yaitu sejahtera (well-being) dari segi fisik, mental dan sosial dan tidak hanya terbebas dari gejala atau penyakit.
    2. Dadang Hawari à 1984 à WHO menambahkan aspek spititual sbg kriteria sehat, shg Sehat berarti meliputi kondisi sejahtera pada (1) aspek Fisik/ jasmani/biologis (2) aspek kejiwaan/psikologis/ (3) aspek sosial (4) aspek spiritual (rohani/agama).
    3. Batasan tsb à meningkatkan keterikatan antara konsep ‘sehat’ dengan ‘kesehatan mental’
    4. Kesehatan mental tdk semata-mata berkaitan dng terbebasnya Individu dr gangguan mental, tp juga berkaitan kesehatan fisik dan perilaku
    5. WHO: kesehatan mental suatu kondisi ‘sejahtera’ dimana individu dapat merealisasikan kecakapannya, dapat melakukan coping thd tekanan hidup yg normal, bekerja dengan produktif dan memiliki kontribusi dalam kehidupan di komunitasnya
    6. Jahoda (Ihrom, 2008), batasan lebih luas àKesehatan mental mencakup:

1)    sikap kepribadian yang baik terhadap diri sendiri, kemampuan mengenali diri dengan baik.

2)    pertumbuhan dan perkembangan serta perwujudan diri   yang baik.

3)    keseimbangan mental, kesatuan pandangan dan             ketahanan terhadap segala tekanan.

4)    otonomi diri yang mencakup unsur-unsur pengatur          kelakuan dari dalam atau kelakuan-kelakuan bebas.

5)    persepsi mengenai realitas, terbebas dari penyimpangan kebutuhan serta memiliki empati dan kepekaan social

6)    kemampuan menguasai dan berintegrasi dengan             lingkungan.

  1. Assagioli, (Ihrom, 2008) mendifinisikan, kesehatan mental adalah terwujudnya integritas kepribadian, keselarasan dengan jati diri, pertumbuhan ke arah realisasi diri, dan ke arah hubungan yang sehat dengan orang lain. Shg Kesehatan mental merupakan kondisi:

1)    Tingkat ‘kesejahteraan mental’ à dimana individu dpt berfungsi secara adekuat à dpt menikmati hidupnya secara seimbang  dan mampu menyesuaikan diri  thd tantangan hidup dan mampu berkontribusi pada kehidupan sosial à budaya & agama memiliki peran dalam memberi batasan sehat/dtk sehat.

2)    Dalam pengertian yg lebih ‘positif ‘ tsb à kesehatan mental merupakan fondasi dari tercapainya kesejahteraan (well-being) individu dan fungsi yg efektif dalam komunitasnya.

3)    Cakupan yg luas dr kesehatan mental, saling ketergantungan dlm fungsi  mental, fisik & social. Sehat mental mengandung pengertian adanya  keseimbangan yg menyangkut diri sendiri, hubungan dengan orang lain dan komunitas serta individu memahami bagaimana  cara untuk mencapai peningkatan ke arah kondisi tsb.

4)     WHO dan organisasi lain menjadikan peningkatan kesehatan mental sbg prioritas di negara maju & berkembang

  1. Perilaku sehat –  Kesehatan mental
    1. Peran perilaku sehat à thd status kesehatan secara umum. Gejala yg tdk terlihat jelas spt : gangguan pembuluh darah (cardiovascular) dan kanker à berkaitan dng konsumsi alkohol, rokok, diet yg buruk, gaya hidup kurang aktif.
    2. Perilaku sehat juga menentukan meluasnya gejala yg dapat dikenali seprti AIDS, melalui seks tak aman dan pemakaian jarum suntik bergantian.
    3. Perilaku sehat individu sangat tergantung pada kesehatan mental  misal: gangguan mental atau kondisi stres akan mempengaruhi prilaku sehatnya (WHO, 2005).
    4. Depresi dan rendahnya Self Esteem di kalangan pemuda berkaitan dng perilaku merokok, gangguan makan, mabuk-mabukan dan perilaku seks tdk aman à menempatkan pemuda pd resiko tinggi terkena berbagai penyakit à misal STD/IMS. (Patton et al.,; Ranrakha et al.,dalam WHO, 2005)
    5. Sementara depresi juga berkaitan dengan isolasi soaial, alkohol, penyalahgunaan obat bius dan merokok
    6. Kriteria Kesehatan Mental

Menurut Schneiders (dalam Semiun, 2006):

Efisiensi mental à orang yang mengalami berbagai bentuk gangguan mental tdk dapat menunjukkan efisiensi dalam hidupnya.

Pengendalian dan integrasi antara pikiran & perilaku. Tidak adanya faktor tsb à obsesi, fobia, integritas pribadi yg kurang à psikopat, mental patologis lain.

Integrasi motif-motif serta pengendalian konflik & frustrasi. Integrasi yg efektif à mengatasi konflik berat akibat motif-motif yg saling berlawanan.

Perasaan & emosi yg positif & sehat

Ketenangan & kedamaian pikiran à keharmonisan emosi, perasaan positif, pengendalian perilaku & pikiran, integrasi motif-motif à ketenangan pikiran.

Sikap yang sehat à jauh dr pesimisme, sinisme, putus asa,

Konsep diri (self concept) yang sehat à konsep diri positif à hubungan yg realistis dengan kenyataan.  Sebaliknya Rasa tdk percaya diri, tdk aman, tdk berharga à mengganggu hubungan natara  diri dng kenyataan à konsep diri yg negatif.

Identitas ego yang adekuat. Apabila identitas ego tumbuh menjadi stabil & otonom à individu mampu berperilaku konsisten dlm lingkungannya.

Hubungan yang adekuat dengan kenyataan: (a) orientasi : sikap seseorang thd kenyataan àmasa lalu? (b) kontak : cara bagaimna dan sejauhmana orang menerima/menolak/ melarikan diri dari kenyataan à bertumpu pd khayalan?

  1. Ruang Lingkup
    1. Preventive: Bersifat Pencegahan agar tdk muncul gangguan mental, dimulai dr lingkup keluarga & sekolah
    2. Teraputik: Intervensi thd      gangguan mental ringan, Mencegah terjadinya gangguan mental lebih berat, Perhatian pd kelompok rentan
    3. Currative: Intervensi thd gangguan penyesuaian diri berat, tdk dirawat di RS, Profesional kesehatan mental
    4. Sejarah Kesehatan Mental

Manusia memiliki kesamaan dan perbedaan satu sama lain. Kesamaan, khususnya sifat yang membedakan dengan makhluk lain. Persamaan manusia berasal dari keturunan (filiogenetik) yaitu factor yang menentukan sifat tertentu yang diwarisi oleh sifat manusia.

Dalam perkembangan sejarah klinis di Eropa, semua pengobatan selalu dikaitkan  dengan kepribadian (abad 18), pengobatan klinis didasari oleh pemahaman, klasifikasi dan penyembuhan ganguan mental. Berdasarkan konsep fisiologis dari aktivitas mental, Philippe Pinel menggambarkan bahwa gangguan kepribadian psikotik akibat disfungsi otak. Pada abad 20 terjadi titik temu antara psikologi dan psikiatri.   Di Perancis: Philippe Pinel (1745-1826) àbapak psikiatri à pelopor perlakuan & pemahaman manusiawi thd orang sakit mental. Inggris: William Tukeà mendirikan York retreat. Amerika: Dorothea Dix à mendisikan RS mental modern dan mendesak kongres utk perlakuan yg lebih manusiwi thd pasien gangguan jiwa. Clifford Beers: biografi ‘a mind that found itself’ (1908) à pengalaman pribadi sbg pasien à perlakuan tak manusiawi. 6 Mei 1908 à Beers dg didukung beberapa tokoh psikologi & psikiatri à Gerakan ilmu kesehatan Mental à mental Hygiene. Menolak segala aturan dan cara pengobatan konvensional à Upaya metode baru yg lebih manusiawi. Gerakan diperluas àNational Committee for Mental Hygiene—à cabang 48 neg. bagian di USA  à 4 tujuan pokok:

  1. Perbaikan dlm metode pemeliharaan & penyembuhan pasien
  2. Membantu mengurangi faktor penyebab penyakit mental
  3. Meberi perawatan ilmiah sebaik mungkin
  4. Meningkatkan daya tahan mental semua pria, wanita & anak

Dari empat hal di atas kemudian dipakai untuk menstimulir riset di bidang psikiatri, meningkatkan kualitas pendidikan psikiatri, pengembangan pengukuran utk upaya prevensi gangguan mental, mempopulerkan perspektif psikiatris dan psikologis. 1919: International Committee for Mental Hygiene. 1946 : upaya bersifat preventif diakuià Kongres USA mengesahkan UU Kesehatan Mental Nasional. 1948 : World Federation for Mental Health (WFMH) à Masalah Kesehatan Mental à perhatian luas dunia

  1. BERBAGAI PANDANGAN TENTANG MANUSIA

Manusia adalah makhluk unik dengan berbagai potensi dasar dimana pertumbuhan dan perkembangnnya dipengaruhi berbagai factor, baik internal maupun eksternal. Dengan adanya berbagai factor tersebut maka tidak ada manusia yang sama persis melainkan memiliki berbagai perbedaan. Berbagai pandangan yang mendasari terhadap manusia dapat dijelaskan di bawah ini.

  1. Pandangan Kebebasan Vs Ketidakbebasan

Dua anggapan dasar tentang manusia, yakni kebebasan dan ketidakbebasan. Anggapan kebebasan, mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas berkehendak, mengambil sikap dan menentukan arah hidup dan kehidupan. Anggapan ini berakar pada pemikiran filosofis eksistensial seperti, Soren Kierkegaard, Nietzsche, Karl Jaspers, Sartre yang menjadi corak pemikiran aliran eksistensial & aliran humanistic (Maslow). Salah satu tokoh aliran eksistensialisme Laing (1967) mengatakan bahwa fenomenologi social adalah ilmu yang mengkaji pengalamanku dan pengalaman orang lain. Manusia abad kedua puluh berada dalam pengasingan, baik pengasingan dari Tuhan, terasing dari orang lain dan terasing dari diri sendiri. Bingkai social itulah menjadi penyebab munculnya kecemasan serta kegoncangan psikologis (Coleman, 1972), bingkai social yang menentukan cita- cita dan ambisi, menentukan kebutuhan dan peranannya dalam kehidupan. Aktivitas yang dilakukan hanyalah merupakan paksaan dari lingkungan social, sehingga ia tertawan oleh kehidupan yang tidak dibentuknya sendiri. Misalnya aktivitas dengan pencarian nama, bukan lagi suatu hal yang aneh melainkan telah dikemas istilah daya tarik social (social attraction) supaya manusia dapat menipu dirinya sendiri. Untuk mengembalikan manusia dari pengasingan terletak pada kebebasannya untuk menentukan nilai yang menentukan hidupnya, memberi makna dalam hidupnya. Ketentraman manusia terletak pada kesanggupannya kepada Tuhan dan agamanya. (Langgulung, 1986).

Aliran humanistic yang diwakili oleh Rogers dan Maslow. Mazhab ini muncul sebagai reaksi terhadap mazhab psikoanalisis serta behavioristik. Manusia bukan makhluk biologis dengan kekuatan naluri, atau bukan makhluk saraf diantara stimulus dan respon. Aliran ini memandang manusia secara menyeluruh, universal dalam kehidupan masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan darang. Aliran ini tidak menyangkal adanya naluri dan pembelajaran serta adanya jaringan saraf. Tetapi tidak memandang naluri sebagai diterminan utama dan tali-tali sarat adalah paling penting. Mereka menganggap pentingnya motive lain yang mentukan akivitas manusia, serta menganggap pentingnya nilai kebenaran, kebaikan, keadilan, keindahan dan amanah lain yang mempengaruhi arti dan corak kemanusiaan. (Langgulung, 1986)  Anggapan ketidakbebasan, mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang tingkah lakunya ditentukan oleh sejumlah diterminan atau penentu baik yang berasal dari individu sendiri maupun dari luar individu. Aliran Psikoanalisa mengatakan bahwa penentu perilaku adalah naluri atau dorongan/internal, tokohnya adalah Freud. Naluri merupakan tenaga yang mendorong aktivitas manusia. Ada dua naluri yang mendorong manusia utuk berperilaku, yakni naluri eros dan naluri thanatos. Naluri eros merupakan naluri kelamin yang mendorong manusia untuk berlaku produktif, dinamis,  menjaga diri, sedangkan naluri thanatos berisi insting merusak dan mematikan, menghancurkan atau naluri maut. Freud menganggap pemuasan naluri sebagai kekuatan utama yang mendorong manusia dalam hidup. Selanutnya Skinner mengatakan bahwa diterminan bagi tingkah laku manusia berasal dari luar individu (eksternal/ketentuan lingkungan). Aliran ini sering dinamakan behavioristik. Mazhab ini berasumsi bahwa tingkah laku manusia terkait dengan proses biokimiawi berdasar pada perubahan fisiologi dan neurology yang dapat muncul dengan adanya stimulus atau sering dikatakan dengan stimulus respon, hubungan antara perangsang dan reaksi adalah hubungan fisio-kimia. Aktivitas seseorang bisa diramalkan dari rangsang yang ditimbulkan, termasuk besarnya reaksi bisa diramalkan tentang besarnya stimulus. Lingkungan merupakan factor utama untuk membentuk kepribadian seseorang. Oleh karena itu perkembangan, kegoncangan emosi dan social merupakan hasil dari factor tersebut.

2.  Rasionalitas Vs Irrasionalitas.

Manusia adalah makhluk yang rasional dan irrasional. Freud, mengatakan bahwa manusia adalah makhluk irrasional, karena tingkah lakunya didorong oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari (naluri), baik dorongan naluri eros atau thanatos, Skinner dan aliran behavioris tidak begitu terikat pada aliran tsb. Mereka beranggapan bahwa manusia adalah makhluk dimana segala aktivitas dapat dibentuk melalui rangsang (stimulus dan respon) yang dipengaruhi oleh lingkungan.

3.  Hollisme Vs Elemantalisme.

Aliran holistic dan elementalisme memiliki pandangan yang berbeda terhadap manusia. Aliran Holistik adalah semua prinsip berasal dari psikologi Gestalt, menekankan suatu fenomena harus dilihat dan hanya bisa dimengerti dalam keseluruhan atau sebagai totalitas. Kepribadian manusia tidak mungkin untuk diketahui hanya dengan menilai atau mengamati bagian yang kecil saja, sebaliknya anggapan dari aliran  elementalistik menekankan bahwa suatu hal hanya bisa dipelajari dan diterangkan dengan jalan menyelidiki aspek secara terpisah. Aliran holistic/totalitas diikuti olek Freud, Maslow, sedangkan Skinner lebih pada elementalisme (pada bagian), hal ini nampak dari upaya untuk menyelidiki tingkah laku secara bagian. Pendapatnya bahwa kepribadian adalah hasil dari tingkah laku yang dipelajari.

  1.   Konstitusionalisme Vs Environmentalisme.

Ada dua aliran yang memiliki pandangan dasar tentang manusia, yakni kelompok konstitusionalisme dan environmentalisme. Aliran konstitusionalisme  diikuti oleh Hipocrates, yang mengatakan bahwa temperamen individu merupakan hasil dari keseimbangan yang unik dari emapt cairan tubuh, yakni darah, sumsum hitam, sumsum kuning dan lendir. Kretchmer dan W. Sheldon, Freud, Maslow juga termasuk aliran tsb. Pada aliran environmental adalah faham yang menekankan pada lingkungan, antara lain John Locke–à dengan aliran empirisme, Skinner dan kaum Behavioris juga beranggapan bahwa tingkah laku merupakan hasil belajar dari lingkungan.

  1. Berubah Vs Tak berubah.

Manusia adalah makhluk yang tingkah lakunya selalu berubah sepanjang hidup (Skinner dan Maslow). Kepribadian manusia merupakan sesuatu yang dapat dirubah, dibentuk atau dikendalikan, baik melalui pembelajaran atau pengaruh factor lingkungan. Study tentang tingkah laku harus dipusatkan pada bagaimana suatu tingkah laku bisa dirubah, dibentuk atau dikendalikan. Freud Kepribadian manusia tidak berubah sepanjang hidup, yang ditentukan pengalaman kanak-kanak awal (infantile sexuality), yang dimulai dari fase oral, anal dan phalis.

6.   Subyektif Vs Obyektif.

Pada aliran yang berdasar pada subyektif dan obyektif tentang manuisa memiliki acuan serta landasan pikir yang berbeda. Apakah manusia memiliki pengalaman personal dan subyektif ataukah pengalaman tersebut ditentukan oleh factor eksternal dan obyektif. Carl Rogers dan Maslow tokoh dari humanistic menekankan pada subyektivitas manusia, yakni dunia bathin atau dunia subyektif individu adalah pemberi pengaruh yang paling besar terhadap tingkah laku manusia. Selanjutnya S. Freud, yang memiliki pandangan sama mengatakan bahwa manusia hidup dalam dunia perasaan, emosi, nilai-nilai atau makna subyektif. Skinner dan kaum behavioristik menolak gagasan tsb, mereka lebih menitik beratkan tentang gejala bersifat obyektif. Gagasn terhadap subyektif tentang manusia adalah menghambat upaya ilmiah, karena gejala tingkah laku manusia dapat diamati dan diukur secara obyektif.

7.    Proaktif Vs Reaktif.

Pandangan proaktif dan reaktif mengacu pada sumber penyebab tingkah laku manusia. Pendorong tingkah laku adalah kekuatan internal atau eksternal. Pandangan Proaktif memiliki keyakinan bahwa sumber penyebab dari seluruh tingkah laku adalah berasal dari dalam individu sendiri/factor internal, pendapat ini diikuti oleh Freud dengan teori naluri, dan A. Maslow dengan teori teori kebutuhan. Perbedaan diantara keduanya adalah terletak pada kebebasan dan kesadaran manusia dalam mengungkapkan tingkah laku. Pandangan Freud mengacu pada fakta, bahwa seluruh tingkah laku manusia didorong oleh penyebab dari dalam individu sendiri yang sebagian besar tidak disadari. Dalam konsep Maslow dan humanistic, manusia adalah makhluk yang sadar dan bebas bertingkah laku. Pandangan reaktif mengatakan bahwa tingkah laku manusia ditentukan oleh adanya stimulus dan respon, penyebab tingkah laku adalah factor dari luar atau eksternal. Pandangan ini diikuti oleh Skinner dengan berbagai teori belajarnya.

  1. Homoestatis Vs Heterostatis.

Aktivitas manusia dipengaruhi adanya dua kekuatan yakni homoestatis dan heterostatis. Aliran homoestatis  bersumber pada equibrium (keseimbangan) fisis. menerangkan bahwa tingkah laku manusia dimotivasi ke arah pengurangan ketegangan internal yang terjadi akibat ketidak seimbangan fisis (lapar, haus atau stimulasi indrawi), dengan bertingkah laku menjadi seimbang kembali. Aliran ini diikuti oleh Freud yang mengatakan bahwa tingkah laku manusia ditujukan, digerakkan untuk pengurangan ketegangan yang diakibatkan oleh memuncaknya dorongan Id yang memilki tujuan untuk mencari kepuasan serta mengejar kenikmatan. Selain itu, aliran tsb juga diikuti oleh Dollard and Miller. Dalam pandangan konsep heterostatis menerangkan, tingkah laku manusia dimotivasi kearah pertumbuhan, pencarian stimulus (stimulus seeking) dan pengungkapan diri (self actualization). Skinner mengatakan bahwa tingkah laku manusia  tidak digerakkan agen internal atau naluri / drive, seperti pandangan Freud, melainkan hasil pengaruh dari kekuatan eksternal, yakni adanya stimulus serta pengaruh lingkungan dan pembelajaran.

  1. Dapat diketahui Vs Tidak dapat diketahui.

Pada pandangan tentang manusia  adalah makhluk yang dapat diketahui atau dimengerti serta makhluk yang tidak dapat diketahui memiliki dasar pemikiran yang berbeda. Freud mengatakan bahwa manusia bisa diketahui tingkah lakunya melalui penelitian ilmiah menurut hukum alam yang sama dengan makhluk lain. Pandangan ini juga diikuti oleh  Skinner dan Behavioris, melalui observasi dan penelitian yang sistimatis, tingkah laku manusia dapat diketahui. Selanjutnya aliran yang berorintasi pada manusia merupakan makhluk yang tidak dapat diketahui.  Pandangan ini diikuti oleh James, yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang sulit diketahui. Selanjutnya Maslow, mengatakan bahwa manusia tidak dapat diketahui sepenuhnya melalui upaya ilmiah, karena merupakan makhluk  unik yang tidak dapat disamakan dengan makhluk lain, baik keberadaan maupun tingkah lakunya.

 

 

  1. NORMA DAN NORMAL DALAM KESEHATAN MENTAL
  2. Norma Dalam Kesehatan Mental

Norma adalah patokan yang menjadi dasar pemikiran dan perbuatan  untuk  memberikan penialian terhadap perilaku manusia. Kesehatan mental adalah keadaan psikologis secara umum, sedangkan tingkah laku normal atau sehat menunjukkan kesehatan mental pada seseorang. Abnormal secara psikologis adalah gagalnya dalam penyesuaian

Berbagai Metode untuk menentukan Kesehatan Mental:

  1. Metode Statistik, tingkah laku normal atau orang yang sehat  mentalnya berada pada kurva normal
  2. Norma sosial, tingkah laku normal adalah yang sesuai dengan norma sosial dalam masyarakat tertentu
  3. Tingkah laku Pengakuran, tingkah laku normal bukan terletak pada penolakan dan penerimaan masyarakat terhadap tingkah lakunya, tetapi terletak pada kesanggupan tingkah laku dalam mewujutkan potensi seseorang dalam suatu kelompok (conformity). Jika persetujuan sosial membawa kepada pertumbuhan dan keuntungan kelompok, maka tingkah laku dipandang normal dan sebaliknya (Coleman, 1972).
  4. Sifat Normal Dari Kesehatan Mental

Orang yang normal dari sudut kesehatan mental memiliki cirri sebagai berikut:

  1. Seseorang dapat menerima dirinya serta menyadari kekuatan dan kelemahan
  2. Adanya kesesuaian yang realistik antara tingkat aspirasi dan potensinya
  3. Memiliki keluwesan yang sesuai dalam hubungannya dengan orang lain
  4. Memiliki keseimbangan emosi
  5. Memiliki sifat sepontan yang sesuai
  6. Berhasil menciptakan hubungan sosial yang dinamis dengan orang lain

Dua kategori utama perilaku abnormal:

  1. Neurotik ( cemas, panik, phobia, kompulsif-obsesive)
  2. Psikotik (konflik dengan kenyataan, ada halusinasi, delusi/kepercayaan yang salah, muncul waham). Ada dua gangguan ini yakni schizophrenia (paranoid schizophrenia dan schizophrenia yang tidak teratur) dan gangguan suasana hati (depresi mania/manis depresif, depresif psikosis)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

MANUSIA MODERN DAN GANGGUAN MENTAL

Peradaban modern yang melaju cepat, menyeret manusia pada sikap   ketakberdayaan dalam percaturan, sehingga sebagian besar mereka masuk pada suatu perangkap dan terperdaya dalam penjara oleh kerangkeng (May, dalam Mubarok, 2000). Manusia modern seperti itu sebenarnya telah kehilangan makna kemanusiaannya,  sebagai manusia kosong yang berarti, the hollow men. Ia resah dalam mengambil suatu keputusan dan tidak tahu dan tidak mampu terhadap jalan hidup  yang dinginkan. Para sosiolog menyebut sebagai gejala keterasingan yang disebabkan oleh: perubahan social yang berlangsung sangat cepat, perubahan hubungan antar manusia dari kehangatan menjadi gersang, perubahan lembaga tradisonal menjadi rasional, perubahan homogenitas manusia ke arah heterogen serta perubahan stabilitas social menjadi mobilitas social (Mubarok, 1999)

Belenggu modern telah merubah system kehidupan sehingga membuat manusia terkungkung dalam penjara yang menyebabkan frustrasi serta mengalami lonlyness dan powerlessness. Sikap acuh terhadap lingkungan dalam rangka mengikuti trend social,  munculnya egoisme serta narsistik terhadap diri sendiri, mereka sibuk berpacu dalam mobilitas social sehingga lupa tersenyum, tegang dan tergesa-gesa, mereka diperbudak oleh diri sendiri dan system yang telah melegetimet dirinya sendiri dengan memakai topeng kehidupan yang tidak wajar dan bertentangan dengan nurani.

A.   Gangguan Mental Manusia Modern

Dalam kehidupan modern mobilitas kehidupan mengalami putaran yang begitu cepat sehingga peredaran waktu berjalan demikian cepatnya. Pemenuhan kebutuhan serta pemanfaatan waktu juga mengalami perubahan. Mobilitas tersebut tentunya mengakibatkan berbagai gesekan serta keinginan yang cepat untuk memenuhi harapannya tersebut. Dengan adanya belenggu dan topeng yang sering dikenakan oleh manusia modern menimbulkan konflik batin yang berakibat munculnya beberapa gangguan, antara lain: kecemasan, Stress, kesepian, kebosanan, depresi, frustrasi, perilaku menyimpang serta psikosomatis.

1.  Kecemasan

Kecemasan dapat didefinisikan sebagai kondisi emosional yang tidak menyenangkan, yang ditandai oleh perasaan-perasaan subyektif seperti ketegangan, ketakutan, kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat (Post, 1978). Bentuk gangguan  kecemasan adalah bermacam-macam. Bucklew (1980) mengatakan bahwa pada umumnya para ahli membagi kecemasan menjadi dua tingkat, yaitu tingkat psikologis dan tingkat fisiologis. Tingkat psikologis, yaitu kecemasan yang berwujud gejala kejiwaan seperti: tegang, bingung, khawatir, sukar berkonsentrasi, perasaan tidak menentu dan sebagainya. Tingkat fisiologis, yaitu kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala fisik, terutama pada fungsi sistim syaraf pusat. Misalnya tidak dapat tidur, jantung berdebar-debar, keluar keringat dingin berlebihan, sering gemetar, perut mual dan sebagainya.  Sarason & Sarason (1993) mengatakan bahwa manifestasi dan akibat yang ditimbulkan oleh kecemasan adalah bermacam-macam. Pada individu yang cemas dapat memiliki gangguan diare, kehilangan nafsu makan, lemas, pening, gemetar dan sering kencing, ada perasaan tidak pasti, tidak berdaya, gugup, sukar berkonsentrasi, mudah lelah, dan sensitif.  Mereka yang cemas menjadi kurang percaya diri, tidak suka menghadapi tantangan, meremehkan diri sendiri dan dianggap tidak menyenangkan oleh lingkungannya. Sedang faktor  yang menjadi penyebab munculnya kecemasan dapat ditinjau dari beberapa pendekatan yaitu,  pendekatan biologis, pendekatan  psikoanalisis, pendekatan kepribadian, pendekatan perilaku, pendekatan belajar, pendekatan kognitif dan pendekatan humanistik. Dalam pendekatan biologis dikatakan bahwa peristiwa  biologis mendahului konflik psikologis. Pendekatan  psikoanalisis mengatakan bahwa kecemasan adalah hasil konflik yang tidak disadari antara impuls id (terutama impuls sexual dan agresif) yang melawan ego atau super ego (Hilgard dkk, 1975). Pendekatan belajar mengatakan bahwa terjadinya kecemasan tidak terfokus pada konflik internal, melainkan cara ketika kecemasan dihubungkan dengan situasi-situasi tertentu melalui proses belajar (Hilgard dkk, 1975). Burns (1988) mengatakan bahwa kecemasan dapat timbul karena adanya distorsi kognitif (penyimpangan pola berfikir) yang terjadi pada individu. Pendekatan humanistik mengatakan bahwa kecemasan merupakan respon seseorang terhadap kehampaan eksistensi. (Kaplan dkk, 1997). Hasil temuan diperkirakan jumlah  penderita kecemasan akut maupun kronik 5 % dari populasi, dengan perbandingan antara wanita dan pria 2 : 1 (Hawari, 1999) Dari pengalaman klinik psikiatri di Amerika Serikat ditemukan angka sekitar 3 % dari pasien yang didiagnosis menderita kecemasan, mereka termasuk dalam golongan gangguan phobia., sedangkan angka untuk gangguan panik belum didapatkan angka yang pasti. Kecemasan (anxiety) dan depresii (depression) merupakan dua jenis gangguan kejiwaan yang satu dan yang lainnya saling berkaitan. Seorang yang mengalami depresi seringkali  ada komponen kecemasan, demikian sebaliknya. Kedward dkk (dalam Blackburn dan Davidson, 1990) mengatakan bahwa 27 % penderita yang menemui dokter, umumnya menunjukkan simtom gangguan kecemasan, dari tinjauan penelitiannya mereka memperkirakan bahwa hampir 3 % jumlah penduduk di AS berada dalam kondisi menderita gangguan kecemasan. Sindrom  yang ditemukan selama kecemasan berlangsung cenderung bervariasi dari orang ke orang. Data statistik yang dikemukakan WHO, menyebutkan bahwa setiap saat 1 % dari seluruh penduduk berada dalam keadaan membutuhkan pertolongan serta pengobatan,untuk suatu gangguan jiwa, 10 %  dari seluruh penduduk memerlukan pertolongan psikiatri pada suatu waktu  dalam hidupnya (Hawari, 1999).

Penelitian di Rumah Susun Klender , Jakarta Timur , menunjukkan peningkatan gangguan kecemasan pada 9, 8 % lebih tinggi dibanding prevalensi gangguan kejiwaan pada umumnya, yang berkisar 6 –  7 % dar populasi secara umum (Jakarta Kompas, 16 April 2002). Gangguan kecemasan dapat muncul sebagai akibat akumulasi dari frustrasi, konflik dan stress. Semua itu merupakan dampak dari berbagai dinamika yang ada di masyarakat pada saat ini. Menurut Ayub, orang dengan gangguan kecemasan akan susah berkonsentrasi dan bersosialisasi sehingga akan menjadi kendala dalam menjalankan fungsi sosial, pekerjaan dan peranannya, sehingga berbagai langkah pencegahan dan penanggulangan harus segera dilakukan (Jakarta, Kompas 16 April 2002).

2.  Stress

Dalam kehidupan,  tidak seorang manusia yang dapat lepas dari stress yang dialaminya. Stress dalam tahapan tertentu justru menimbulkan semangat manusia untuk maju dan berubah, namun dalam keadaan tertentu dapat menimbulkan efek yang mengkhawatirkan yakni munculnya perlaku menyimpang (alkoholic, narkoba, perkelahian, psikosis bahkan banyak yang berakhir pada bunuh diri).

  1. Pengertian stress.

Menurut Lazarus, stress merupakan tuntutan yang menekan dan melebihi kemampuan sesorang untuk mengatasinya. Penyebab munculnya stress karena faktor internal dan eksternal. Menurut Suparto (2003) stress merupakan keadaan bathin yang menekan, merupakan tuntutan dari lingkungan terhadap individu yang menimbulkan reaksi fisik dan psikis. Dalam kondisi stress ada dua hal yang dilakukan yakni fight atau flight (Cannon dalam Taylor, 1991).  Cannon berpendapat bahwa ketika organisme merasakan adanya suatu ancaman, secara cepat tubuh akan terangsang dan termotivasi melalui sistem syaraf simpatik dan endokrin. Respon fisiologis ini mendorong organisme untuk menyerang ancaman atau melarikan diri. Seyle (Taylor, 1991) tentang General Adaptation Syndrome, menurutnya ketika organisme berhadapan dengan stressor dia kan mendorong dirinya untuk melakukan tindakan yang diatur oleh kelenjar adrenal  yang menaikkan sistem syaraf simpatik tanpa memperhatikan penyebab dari ancaman. Individu akan merespon dengan pola reaksi fisiologis yang sama (non spesific response). Yang lama kelaman akan melicinkan dan mematahkan sistem (wear and tear of the system). Pendekatan-pendekatan stress:

  1. b.    Pendekatan terhadap stress

Menurut  beberapa penulis, Sarafino, 1990, Sutherland & Cooper, 1990) stress adalah sebagai berikut (sesuai dengan titik pandangnya)

1)   Stress sebagai stimulus, yakni sebagai variabel bebas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Secara histories, pendekatan yang mengungkap hubungan antara kesehatan dengan penyakit pada kondidi tertentu di lingkungan eksternal. Karaktersistik dan kesehatan dikondisikan oleh lingkungan eksternal (Sutherland dan Cooper, 1990) Menurut model ini, seorang individu secara terus menerus dengan sumber stressor potensial yang ada dalam lingkungan tetapi hanya satu yang nampak minor atau kejadian yang tidak berbahaya dapat mengubah keseimbangan yang tipis yang ada diantara batasan coping dengan keseluruhan perlawanan perilaku coping.

2)    Stress sebagai suatu respon

Pendekatan ini mengfokuskan reaksi seseorang terhadap stressor yang menggambarkan stress sebagai suatu respon, yakni stress sebagai variable tergantung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seseorang yang stress bila berada pada kondisi tertentu, respon yang dihadapi ada dua komponen yakni komponen psikologis yang meliputi perilaku, pola pikir, emosi dan perasaan stress, sedangkan komponen fisiologis berupa rangsang fisik yang meningkat seperti: jantung berdebar, mulut kering, perut mules, berkeringat. Kedua respon terhadap stressor tersebut dinamakan strain atau ketegangan. Stress sebagai suatu respon tidak selalu dapat dilihat, hanya akibatnya yang dapat dilihat. Bentuk Stressor:

Stressor fisik: polusi, crowded, suhu, suara, cahaya dsb. Stressor psikologis: reaksi seseorang terhadap pikiran dan perasaan terhadap ancaman baik nyata maupun tidak, stressor psikologis social akibat dari interaksi social, stressor individual, bersumber pada diri individu

3)   Stress sebagai interaksi antara individu dan lingkungan

Pendekatan ini memandang menggambarkan bahwa stress sebagai suatu proses yang meliputi stressor dan strain dengan menambahkan dimensi hubungan antara individu dengan lingkungannya yang saling mempengaruhi, atau sering dinamakan sebagai hubungan transaksional, termasuk didalamnya proses penyesuaian. Stress bukan hanya sebagai suatu stimulus atau sebuah respon, melainkan suatu proses di mana seseorang adalah pengantara (agent) yang aktif yang dapat mempengaruhi stressor melalui strategi perilaku kognitif dan emosional. Dari pendekatan tersebut munculah suatu definisi tentang stress, adalah suatu kondisi yang disebabkan  oleh transaksi antara individu dengan lingkungan yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan yang berasal dari situasi dengan sumber daya system biologis, psikologis dan social dari seseorang (Sarafino, 1990). Sedangkan menurut Sutherland & Cooper (1990), stress terkait dengan: penialian kognitif (cognitive appraisal):

  • Stress adalah pengalaman subyektif yang mungkin didasarkan atas persepsi terhadap situasi yang tidak semata-mata nampak di lingkungan
  • Pengalaman (experience): suatu situasi yang tergantung pada tingkat keakraban, keterbukaan semula (previous exposure). Proses belajar, kemampuan nyata dan konsep reinforcement
  • Tuntutan (demand): Tekanan tuntutan, keinginan atau rangsangan yang segera, sifatnya mempengaruhi cara tuntutan yang dapat diterimamempengaruhi pengalaman subyektif respon danperilaku coping. Hal ini dapat menimbulkan akibat positif dan negatif
  • Keadaan stress (a state of stress): ketidakseimbangan antara tuntutan dengan kemampuan yang dirasakan untuk menemukan tuntutan tersebut.
  • Pengaruh interpersonal (interpersonal influence): Tindakan seseorang, factor situasional dan latar belakan
  1. Macam-macam Stress:
  2. Eustress, stress yang sumbernya adalah hal yang positif

Ketika seseorang mendapatkan kesenangan akan memunculkan rasa bahagia, jika hal tersebut berada pada tingkat over akan menimbulkan stress sehingga akan mempengaruhi kinerja syarat serta hormon adrenalis sehingga mempengaruhi kondisi psikologis seseorang (kognisi, emosi dan perilakunya). Kinerja syarat para sympatis akan bekerja secara otomatis dan mempengaruhi hormon adrenalin yang akan  meningkat kinerja organ dalam yang lain sehingga akan terlihat pada ekspresi muka seseorang serta kestabilan emosi.

 

 

  1. Disstress: sumber negative

Ketika seseorang mengalami kondisi emosi yang tidak menyenangkan akan memunculkan rasa duka, kecewa, sedih, haru, dll. Keadaan ini akan berpengaruh terhadap syaraf sympatis serta meningkatnya hormon adrenalin dalam tubuh sehingga mempengaruhi kondisi psikologis seseorang (kognisi, emosi maupuhn perilakunya)

  1. Tahapan stress
  2. Tahap Alarm

Tahapan ini dialami seseorang ketika menghadapi stressor, yaitu jika seseorang mengalami kejadian yang membuat stress. Orang beraksi panik/bingung bagaimana cara menghadapi stressor (fight atau flight), akibat kelenjar adrenalin naik, tekanan darah meningkat, otot tegang. Fight merupakan respon pertahanan dengan melakukan perlawanan atau mempertahankan diri sedang fligh merupakan ketidaberdayaan seseorang ketika menghadapi stressor, tubuh mereaksi dengan berbagai respon, tidak berdaya, pinsan tak sadarkan diri, BAB dan BAK

  1. Tahap Resisten.

Tahapan dimana tubuh berusaha mencapai keseimbangan fisik atau psikis (equlibrium). Orang yang mengalami stress akan berusaha mencapai keseimbangan dengan melakukan adaptasi terhadap stressor yang muncul, tubuh akan mereaksi dan mengalami keseimbangan secara ototmatis ketika stress turun.

 

 

  1. 3.    Tahap Exhaustion.

Apabila tahap ke 2 gagal, individu tidak memiliki jalan keluar dan tidak mampu menghadapi stressor maka muncul gejala fisik atau psikis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

e.  Faktor yang berpengaruh terhadap stress secara Individu:

  1. Perbedaan individu
  2. Jenis kelamin
  3. Type kepribadian (Tipe A, extrovert dan type B, introvert)
  4. Kepercayaan Diri

 

f. Akibat Stress

  1. Subyektif: gelisah, agresif, lesu, muram, kecewa, terpencil
  2. Akibat perilaku: emosi meledak, makan minum berlebihan, obat, alkoholik dsb
  3. Akibat kognitif: blocking memory, gangguan konsentrasi, gangguan pikiran (mentally retarded)
  4. Fisiologis: diabetis, darah tinggi, kardiovasculer, berkeringat, mulut kering, pupil mata melebar, paru melebar, otot mengencang
  5. Akibat sosiologis: malas bergaul, interaksi terganggu, tidak PD

g. Mengelola Stress:

  1. Tidak takut berbuat salah
  2. Berani menentukan prioritas diri
  3. menganggap penting kebutuha diri
  4. Assertive
  5. Belajar menilai tingkah laku serta perasaan diri
  6. Berfikir realis
  7. Mencari bantuan
  8. Bersikap terbuka
  9. Aktivitas yang positif

Menurut Makin dan Liindley:

  1. Mengorganisasi pekerjaan, mengatur waktu dan mengendalikan hidup
  2. Berkomunikasi secara effective dan assertive
  3. Bersikap santai, sebelum, selama dan setelah mengalami stress
  4. Menjaga tubuh tetap sehat dan bugar
  5. Menilai kerja secara akurat, bersikap positif dan penuh kendali
  6. membangun, menggunakan dan memberi dukungan

h. Sumber Stress

Sumber stress dapat berubah sesuai dengan perkembangan  adalah:

1)      Dalam diri seseorang: memlalaui penilaian dari kekuatan motivasional yang melawan, misalnya seseorang mengalami konflik, maka konflik merupakan sumber stress utama (teori konflik)

2)      Sumber stress dalam keluarga

3)      Sumber stress dalam komunitas social

  1. 3.    Kesepian.

Kesepian adalah kondisi yang bisa mempengaruhi kejiwaan manusia menjadi takberarti dan takbermakna. Perubahan sistim dalam kehidupan berpengaruh terhadap corak relasi antarmanusia termasuk pergeseran dalam mengadakan relasi social, dari corak tolong menolong, saling terikat serta keakraban dalam berinteraksi berubah menjadi egois individualis. Hal ini terjadi karena adanya tuntutan serta perubahan pola pikir yang berorientasi sosialis ke arah kapitalis, dengan perhitungan ekonomis materialistis. Keinginan beralasi dan berinteraksi betendensi untung rugi serta nilai materi. Tujuan hidup manusia tidak lagi pada keinginan menjadi melainkan mengarah pada keinginan untuk memiliki. Pada keinginan menjadi, manusia memiliki sikap ingin memberi pada orang lain sebagai wujud dari eksisitensinya, sedangkan dalam keinginan memiliki adalah mengambil dan meminta, yang berefek pada kerugian. Atau jika memberi berharap akan keuntungan sehingga pemberian merupakan ketidaktulusan dan tidak keluar dari lubuk hati. Manusia yang suka memberi maka ia akan senantiasa dan dihargai diharapkan oleh orang lain sehingga ia merasa berada dalam keramaian meskipun dia sendiri. Manusia modern yang tidak lagi terikat hubungan interpersonal, tidak dapat merasakan kebermaknaan hidup, karena aktivitas hanyalah untuk dirinya serta tendensiusnya tinggi. Akibat dari kehidupan seperti ini mereka akan merasa kesepian meskipun dalam keramaian (lonlyness), mereka susah tersenyum dan sulit mempersepsikan senyuman orang lain karena orientasi senyumnya adalah topeng dirinya.

  1. Kebosanan.

Kebiasaan dalam interaksi personal manusia   modern yang individual dan tendensius serta pemakaian bermacam-macam topeng  untuk menutupi kepalsuan dirinya menjadikan kehidupan manusia terasa hampa, tak berarti. Kehidupan yang dijalani terasa sepi meski dalam keramaian, karena ia sibuk dengan dirinya menumpuk kekayaan sendiri, maka sebagai  akibatnya akan diacuhkan oleh lingkungan sosialnya. Mereka hidup namun terasa mati karena tersingkir dari pergaulan. Kondisi seperti ini menyebabkan jiwanya kosong dan bosan karena tidak dibutuhkan oleh orang lain, mereka bisa jadi merasa puas dan senyuman sendiri. Banyak dari mereka kemudian lari pada perilaku menyimpang dengan obat-obatan serta kecenderungan khayalan lain untuk memunculkan keinginan yang selama ini diinginkannya meskipun semuanya adalah semu.

  1. 5.    Frustrasi

Frustrasi adalah terhambat atau tertundanya suatu tujuan yang diinginkan. Berbagai hambatan internal maupun ekstrenal dapat menjadi penyebab munculnya frustrasi. Sumber utama frustrasi adalah adanya konflik dua motif yang saling bertentangan. Baik approach-approach conflict, avoidance-avoidance conflict  atau approach-avoidance conflict. Berbagai reaksi terhadap frustrasi adalah bermacam-macam antara lain: apati, agresi, regresi, represi dan lain sebagainya

  1. 6.    Depresi.

Perubahan masyarakat modern diera globalisasi membawa dampak dalam segala lapisan, tidak hanya terjadinya perubahan sistem dalam politik dan  pemerintahan, namun telah berpengaruh dalam semua  corak, nilai dan kehidupan. Berubahnya nilai sosial kenilai individual menjadikan manusia harus menghadapi berbagai tantangan yang terasa semakin berat. Untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang memiliki makna (meaningfull) tentunya membutuhkan kerja serta jiwa yang kokoh, karena tantangan yang dihadapi amat berat. Konflik peran yang sering dihadapi menjadikan manusia putus asa, frustrasi, merasa tak berdaya (helplessness) serta merasa tak berarti (meaninglessness). Hal lain yang sering muncul adalah tingginya emosi negatif, seperti munculnya perasaan bersalah atau depresi (Seligman, 1975). Pada perkembangan dewasa ini depresi bersifat universal, artinya dapat menimpa siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Prevalensi munculnya semakin tambah tahun semakin meningkat. Hal ini perlu mendapatkan perhatian serta kajian khusus, karena dampak dari gangguan tersebut cukup menghawatirkan, baik secara fisik maupun psikologis. Depresi biasanya muncul setelah orang mengalami permasalah yang bertubi-tubi dan menekan (stressor) pada diri seseorang dan mengubah individu tersebut. (Crider, dkk, 1983). Penderita depresi sebelumnya telah mengalami banyak peristiwa negatif dalam hidupnya (Tennant, dkk. 1983). Atau sering dikatakan sebagai stress yang bertubi-tubi atau stress yang tidak dapat dikontrol. Depresi adalah  suatu keadaan emosi yang menunjukkan perasaan susah, murung, sedih, tidak bersemangat dan tidak bahagia. Perbedaannya dengan kesedihan, terletak pada intensitasnya, apabila kesedihan mendalam dan berlangsung lama maka menjurus ke depresi. Ada yang mengartikan depresi sebagai gangguan jiwa afektif dengan gejala utama adalah kemasgulan dengan gejala psikomotor dan psikosomatis dalam ukuran waktu tertentu. Secara psikis tidak hanya mempengaruhi afek saja, melainkan terkait dengan gangguan konsentrasi dan ingatan, kelesuan badan, perasaan kosong, terhambat dalam berfikir. Menurut Beck (1985) depresi mempunyai gejala utama kesedihan dan perasaan khusus seperti, apatis, merasa sendiri, juga memiliki gejala psikis lain yakni, perubahan suasana hati, konsep diri yang negatif, keinginan regresif dan menghukum diri sendiri, perubahan vegetatif dan perubahan dalam tingkat aktivitas. Selanjutnya Beck mengatakan bahwa depresi akan muncul kedalam empat manifestasi, yakni manifestasi emosional, menifestasi kognitif, manifestasi motivasional dan vegetatif. Manifestasi emosional menggambarkan suasana hati ke arah perasaan yang tidak menyenangkan (dysphoria). Manifestasinya ditandai dengan perasaan yang menekan seperti sedih, kosong, malu, rasa bersalah, rasa tidak berharga dan perasaan tidak berguna. Manifestasi kognitif, yaitu evaluasi diri rendah, harapan-harapannya negatif, senang mengkritik dirinya sendiri secara berlebihan (autokritik), sering tidak bisa mengambil keputusan, serta memiliki gambaran diri (self emage) yang salah. Manifestasi motivasional yakni terlihat dengan menurunnya minat dan motivasi terhadap aktivitasnya. Sering muncul dorongan untuk mengundurkan diri dari kegiatan, lebih suka bersikap pasif dan ada kecenderungan untuk bergantung. Hilangnya motivasi ini juga berhubungan denan keinginan menjauhkan diri dari tangggungjawab. Manifestasi vegetatif dan fisiologis, meliputi hilangnya selera makan, tidak dapat tidur (insomnia) atau hipersomnia), tidak ada nafsu seks, kesulitan buang air besar, kehilangan berat badan dan cepat merasa lelah.

7.  Perilaku Menyimpang

Gangguan mental yang terkait dengan perilaku menyimpang pada umumnya merupakan pelarian dari ketidakberdayaan menghadapi berbagai permasalahan yang muncul. Pencarian jalan pendek merupakan keputusan yang diambil sebagai jalan untuk mengurangi ketegangan, yang seolah-olah merupakan solusi terhadap problem yang dihadapi. Jalan pintas yang sering dilakukan adalah minuman keras (alkoholic), penggunaan pil penenang sampai pada kasus bunuh diri.

  1. a.    Psikosomatis

Adalah gangguan fisik yang disebabkan ketegangan psikologis. Bila tubuh tidal lagi dapat mengimbangi ketegangan psikologis yang sering muncul, maka akan terjadi sakit fisik, antara lain: jantung kardio vascular, hipertensi atau darah tinggi, angina/arrythmia, migraine, tukak lambung, sembelit, diare dan penyakit gula.

 

B.  KONSEP DASAR KESEHATAN/KESEIMBANGAN MENTAL

Sarafino (1990) mengatakan bahwa manusia terdiri dari system biologis dan psikososial yang masing-masing mengandung komponen, saling berelasi dan saling mempengaruhi.

1.   Tiga kehidupan besar dalam kehidupan modern:

  1. Meningkatnya Pengetahuan
  2. Semakin tingginya pengharapan
  3. Bertambahnya Kebebasan

2.   Beberapa factor yang mempengaruhi kesehatan dan perilaku sehat

a. (Lalonde dalam De Leeuw 1989)

 

 

 

 

 

 

 

b. Sifat interaktif dalam model Kesehatan (Health Outcome Model), Adaptasi Sutherland dan Cooper, 1990

 

 

 

 

                         

                                     E N V I R O N M E N T

 

c. Interaksi system dalam model biopsikososial (Sarafino, 1990)

THE WORLD                                                       THE PERSON

 

 

 

 

 

 

3.   Dasar Pengembangan dan Keseimbangan Mental

Berbagai hal yang mendasari dalam pengembangan kesehatan  mental, tidak dapat lepas dari berbagai factor yang harus dipelajari, antara lain:

  1. Situasi.

Situasi dimana orang berada dapat mempengaruhi kondisi kesehatan mental seseoarang (kesibukan, kebisingan, cuaca, kepadatan pendunduk, polusi dll)

b.   Nilai.

Perubahan nilai, seiring dengan perubahan kultur dapat mempengaruhi pola pikir serta perilaku sehingga berpengaruh  terhadap kesimbangan mental. Misalnya masuknya budaya asing yang terkait dengan pergaulan bebas membawa dampak terhadap perkembang mental masyarakat, karena akan terjadi modeling peran yang sering diikuti tanpa mempertimbangkan sisi negatifnya. Beberapa film kekerasan yang muncul di media elektronik, mulai dari TV, VCD, PS tentunya membawa dampak yang besar terhadap munculnya kekerasan di masyarakat.

c.   Aspek psikologis manusia (kognisi, efeksi, konasi)

Kondisi kognisi seseorang tentunya memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan kesehatan mental, baik kondisi kognisi karena factor organis maupun fungsional, yang akhirnya mempengaruhi efeksi serta perilakunya. Misalnya: Individu yang secara organis fungsi kognisinya terganggu, yakni tingkat kecerdasannya rendah, maka dalam mersepon terhadap stimulus akan terganggu sehingga nampak dalam ekkspresi emosi serta perilakunya.

d.   Motivasi.

Motivasi adalah dorongan yang menyebabkan manusia berbuat

e.   Konflik

  1. Kecemasan
  2. Cara Pembelaan diri

4.  Kidaksehatan Mental menurut beberapa teori

  1. Menurut Psikoanalisis.

Perkembangan kepribadian didasarkan pada libido (dorongan biologis) yang dapat dipenuhi melalui tahapan tertentu. Kebutuhan biologis senantiasa dikontrol oleh ego dan super ego, sehingga tidak dapat menemukan kepuasan dalam penyalurannya. Tekanan ini akan memunculkan kecemasan dengan berbagai bentuk penyalurannya (MPE) misalnya: proyeksi, displacement, represi, rasionalisasi, sublimasi reaksi formasi dan regresi

  1. b.    Pandangan Gustav Jung.

Prinsip  teori Jung terhadap libido dinamakan energi psikis yang menyebabkan adanya proses jiwa (sadar maupun tidak sadar). Energi psikis menurut Jung yakni: Kekuatan absolut, sumber segala-galanya sehingga manusia mampu berbuat, berkreasi. Kekuatan alam semesta, yakni kekuatan yang bersumber dari alam dengan hukum-hukumnya yang berkaitan dengan ruang waktu dan keadaan. Selanjutnya Jung membagi jiwa meliputi: Sadar Pribadi, yaitu merupakan pusat ego yang menentukan tindakan manusia yang didasari perhitungan kesadarn; Sadar kolektif, yaitu kesadaran yang merupakan milik bersama dan akan dicapai setiap idnvidu; A sadar Pribadi yaitu semua pengalaman idividu yang didapatkan selama dalam perkembangan kehidupan dimana setiap individu antara satu dan yang lain berbeda. dan A sadar kolektif yaitu bagian jiwa yang isinya sama untuk setiap individu, karena berisi pengalaman dari nenek moyang yang berupa budaya dengan perubahan dan perkembangan secara evolusi suatu bangsa. Jiwa a sadar kolektif dalam kehidupan kelihatannya tidak begitu jelas, namun sangat mempengaruhi kehidupan seseorang, antara lain sebagai archetype, yaitu terdapat model umum seperti cara berfikir, interpretasi, simbul-simbul berupa bahasa, mimpi, mitos, produk kesenian, adat istiadat. Namun semua sangat bergantung dengan kehidupan seseorang. Dalam a dasar setiap orang ada gambaran anima (gambar wanita pada laki-laki) dan animus (gambar laki-laki pada wanita). Secara fisik dan psikis manusia adalah besexual, tergantung factor mana yang dominan. Jung membagi type kepribadian menjadi dua, yakni introvert dan ekstrovert. Kepribadian oleh Jung dinamakan pesona (topeng). Dalam kehidupan setiap orang mempergunakan topeng. Pesona adalah kompromi antara dirinya dengan masyarakat. Seorang yang sehat mentalnya berpesona tetap dimana ia berada pada kepribadian yang tetap yakni dapat menyesuaiakan diri dimana mereka berada. Atau apabila perilakunya mengingkari unsure a sadar dan hanya  memperhatikan kesadarannya. Antara sadar dan a sadar harus komplementer. Misalnya orang yang mengingkari sadar kolektif maka akan mengganggu perilakunya.

  1. Alfred Adler

Kehidupan jiwa manusia terdiri atas: teleologis, leitline dan nafsu bermasyarakat (nafsu berkuasa). Teleologi: sesuatu yang dinamis, menjurus kepada tujuan, memiliki idea, cita-cita yang menentukan semua tingkah lakunya. Leitline yaitu rancangan hidup yang kompleks. Untuk merealisasikan rancangan hidup yakni dengan cara menyingkirkan segala hambatan dan rintangan. Nafsu bermasyarakat, yakni nafsu untuk mengabadikan dirinya secara baik dimasyarakat diatas kepentingan pribadinya. Nafsu berkuasa merupakan kompensasi dari untuk mengimbangi kegagalan. Orang yang tidak sehat adalah apabila tujuan hidup mengalami kegagalan dan mencari kepuasan dengan nafsu kekuasaan, misalnya perilaku kriminil, kelainan seks dll.

  1. Pandangan Behavioristik.

Ketidaksehatan mental manusia disebabkan karena pembelajaran, lingkungan memegang peranan yang penting karena menentukan perilaku. Penyimpang perilaku terjadi apabila seseorang gagal menemukan cara penyesuaian diri yang cocok, akibat pembelajaran yang salah dan adanya konflik yang tidak mampu untuk diatasi.

  1. Pandangan Humanistik.

Setiap manusia mempunyai kecenderungan positif, konstruktif, rasional, realis, dan sosial. Perilaku manusia ditentukan oleh interaksi antara organisme, medan fenomenal dan self. Organisme adalah totalitas individu yang memiliki sifat untuk bereaksi secara keseluruhan sebagai kesatuan yang teratur, individu memiliki dorongan dasar yakni kekuatan untuk mengejar perkembangan yang lebih lanjut dan meningkat untuk mencapai aktualisasi diri. Medan fenomenal adalah keseluruhan pengalaman yang pernah dialami, disadai atau tidak disadari sebagai hasil interaksi terhadap lingkungan. Diri atau self adalah pengamat dan penilaian sadar terhadap diri. Individu yang salah dalam menyesuaikan diri mengakibatkan bermasalah. Penyesuaian yang salah disebabkan karena kerjasama antara self organisme dan medan fenomenal tidak berlangsung secara harmonis.

5.   Macam-macam perilaku menyimpang

  1. Neurosis: adanya perasaan tidak mampu/inferior—à mempengaruhi cara berfikir; menghindar dan tidak memiliki keberanian, subyektivitas tinggi, egocentris, merasa bersalah, cemas, fobia, nervusitas, neurasthenia, hysteria (bentuk dissosiatif, yakni adanya amnesia, fuga dan multi personality), neurotik depressif, obsesif kompulsif, gangguan emosional. Gangguan neurosis pada dasarnya lebih banyak dipengaruhi oleh factor hubungan pribadi dengan lingkungan yang tidak sesuai yang dipengaruhi oleh egoisme, kekakuan, pandangan, nilai, harga diri, toleransi, salah penilaian, kemampuan untuk kompromi dan sosialisasi)
  2. Psikosis

Adalah gangguan realita, gangguan organic proses berfikir, timbulnya delusi dan halusinasi, muncul fantasi. Sebab munculnya adalaha  (terkait dengan kehidupan pribadi:

1)  pengalaman traumatic

2)    pola kehidupan keluarga yang psikotik

3)    kehidupan perkawinan yang kacau dan kepribadian psikopat. Dengan ciri kepribadian: hati nurani mengalami ketidakcocokan dengan orang lain, impulsive, memperalat orang lain, munafik, tidak mampu menjalin hubungan sosial dengan orang lain sampai bertahan lama, tidak mampu menggunakan pengalaman dalam hidup, menolak otoritas orang lain, tidak takut melakukan pelanggaran terhadap aturan, terlibat dalam kasus kriminil meskipun tanpa perhitungan). Sebab dari kehidupan keluarga, tidak memperoleh kasih sayang dan kehangatan, rejected, pembelajaran yang salah. Sebab dari kehidupan social, lingkungan sosial yang absurt, tidak ada tokoh identifikasi yang diperlukan, hilangnya harga diri serta kepercayaan diri, tidak mampu mengatasi tantangan sosial

C. PENDEKATAN BARU TERHADAP KEPRIBADIAN YANG SEHAT

Para ahli mempunyai pandangan yang berbeda dalam nama namun nampak sama dalam esensi tentang berbagai permasalahan yang terkait dengan kepribadian sehat. Adapun beberapa pandangan terhadap kerpibadian yang sehat adalah sebagai berikut:

1. Pandangan Allport

Allport adalah seorang tokoh yang memandang optimis positif, penuh harap terhadap manusia. Orang yang sehat tidak dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan taksadar, kekuatan yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi, konflik-konflik taksadar yang terjadi pada masa kanak-kanak. Tingkah laku taksadar adalah tingkah laku orang dewasa yang neurotis, mereka terikat atau terjalin oleh konflik masa kanak-kanak. Individu yang sehat memiliki kesadaran dan tingkat rasional, bebas dari paksaan masa lampau dan diarahkan ke masa sekarang dan intensi ke arah masa depan, pandangannya kedepan, tidak mundur kembali pada masa kanak-kanak. Mereka memiliki tujuan jangka panjang sebagai pusat kehidupan pribadi, memiliki kebutuhan yang terus menerus yang variatif, menyenangi tantantangan dan hal-hal yang baru. Inilah yang membedakan manusia dewasa dan anak-anak, dari kepribadian yang sehat dan yang sakit (Allport, 1955) Motif orang dewasa bukan merupakan perpanjangan dari masa kanak-kanak. Secara fungsional otonom terhadap masa kanak-kanak. Segi sentral dari kepribadian adalah intensi yang sadar dan dewasa, yakni, harapan, aspirasi dan impian-impian. Kodrat intensional (intentional nature) dari kerpibadian sehat adalah berjuang ke arah masa depan, mempersatukan dan mengintegrasikan seluruh kepribadian (bukan mereka tidak punya masalah) melainkan mampu menjaga keutuhan serta mengintegrasikan semua seginya untuk mencapai tujuan, memiliki kebutuhan yang terus menerus, mereka tidak suka hal-hal yang rutin, mereka kreatif, berani mengambil resiko, berspekulasi dan menyelidiki hal-hal yang baru. Sedangkan orang neurotis mereka kekurangan terhadap tujuan jangka panjang dan kepribadiannya terpotong-potong. Kebahagiaan bukanlah suatu tujuan, melainkan hasil sampingan dari keberhasilan integrasi kepribadian dalam mengejar aspirasi dan tujuan. Dorongan dari kepribadian yang sehat memiliki prinsip penguasaan dan kemampuan (principle of mastery and competence), bahwa yang matang dan sehat tidak cukup puas dengan melaksanakan tingkat yang sedang atau memadai, melainkan sedapat mungkin mencapai tingkat penguasaan dan kemampuan yang tinggi, memiliki dorongan yang bersifat konstruktif, megejar aktivitas terhadap tujuan, dinamis dan tidak pernah berakhir. Bila suatu tujuan telah berakhir, atau harus dibuang, maka suatu motif baru harus cepat dibentuk. (Allport dalam Schultz, 1991)

a. Diri orang yang sehat

Bagian penting dari kepribadian adalah membicarakan tentang diri (self). Allport mengatakan dengan istilah propium, yakni sesuatu yang unik yang dimiliki oleh seseorang atau hal-hal yang penting/proses yang penting yang menentukan keunikan manusia (Allport dalam Schultz, 1991).

b. Perkembangan propium

Propium berkembangan dari masa bayi sampai pada masa adolescence serta memiliki tujuh tingkatan (penentu kepribadian sehat). Allport) dalam Schultz, 1991) mengatakan tujuh tingkatan propium tersebut adalah:

4)    Diri jasmaniah.

Perasan tentang diri, bukan merupakan pewarisan keturunan melainkan terbentuk karena pengalaman belajar.

5)    Identitas diri (perasaan identitas diri).

Anak mulai sadar akan identitas dirinya melalui namanya yang membedakan dengan orang lain. Nama menjadi lambang kehidupan untuk mengenal dirinya, untuk menghadapi serta bertahan terhadap pengalaman-pengalaman yang berubah-ubah.

6)    Harga diri.

Menyangkut perasaan bangga terhadap dirinya, masa ini terlihat ketika usia 2 tahun dengan fase menentang distruktif dan ingin berkuasa, masa ini ditentukan oleh orang tua dalam keluarga. Selanjutnya munculnya harga diri anak pada pemenuhan kebutuhan otonomi, yakni usia 6-7 tahun dimana harga diri ditentukan oleh semangat bersaing dengan kawan-kawan sebayanya.

7)    Perluasan diri self ex(tention).

Mulai usia 4 tahun anak menyadari nama dirinya, benda miliknya, lingkungannya. Mereka mulai belajar tentang arti nilai. Disinilah letak kemampuan anak untuk diperpanjang atau perluasan pandangan.

8)    Gambaran diri.

Gambaran diri berkembang dari hasil interaksi antara anak dan orang tua. Lewat pujian dan hukuman harapan-harapan oarng tua dipelajari oleh anak. Dengan harapan tersbut akan muncul rasa tangungjawab moral serta rumusan tentang tujuan hidupnya.

9)    Diri sebagai perilaku rasional.

Setelah anak mulai sekolah diri sebagai perilaku rasional mulai muncul. Aturan dan harapan baru dipelajari melalui teman bermain dan guru, disinilah muncul tantangan intelektual dala memmecahkan masalah secara logis rasional

10) Perjuangan propium (Propriate Striving).

Masa ini adalah masa yang menentukan, munculnya identitas diri, pencararian diri ubtuk berkembang ke arah masa depan dengan tujuan dan harapan jangka panjang. Pada masa ini terjadi tarik menarik antara teman dan orang tua dalam pencarian diri, terjadi pengujuan diri dengan memakai kedok-kedok untuk menemukan kepribadian orang dewasa. Suatu kegagalan atau kekecewaan pada setiap tingkat melumpuhkan penampilan pada tingkat berikutnya serta menghambat integrasi harmoni pada tingkat itu. Sehingga pengalaman masa kanak-kanak amat penting dalam membentuk dan menentukan kepribadian yang sehat.

  1. Sifat-sifat dari kepribadian yang sehat

Kepribadian yang sehat menurut Allport adalah:

1)    Perluasan perasaan diri.

Dalam perluasan ini, orang harus menjadi partisipan langsung, memperhatikan serta ambil kegiatan di luar dengan penuh semangat produktif, terlibat kedalam aktivitas dengan penuh dinamisasi.

2)    Hubungan diri yang hangat dengan orang lain.

Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman dengan (cinta)  terhadap orang tua, anak, patner  dll. Kapasitas dari keintiman ini merupakan suatu perluasan diri yang mempengaruhi kesehatan psikologisnya. Ada dua macam kehangatan dalam hubungan denga orang lain, yakni kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untik perasaan terharu. Syarat dari kapasitas keintiman adalah berkembangnya identitas diri dengan baik. Dalam kaitannya dengan perasaan haru, orang yang sehat memeilki kapasitas untuk memahami kesakitan-kesakitan, penderitaan, ketakutan dan kegagalan. Sikap empaty yang merupakan dorongan imaginative dari keinginannya untuk memahami manusia pada umumnya. Perbedaan antara orang sehat dan neurosis adalah terlihat dari hubungan cinta. Orang neurosis harus menerima cinta jauh lebih banyak daripada kemampuan mereka untuk memberinta, apabila ia memberi cinta  maka diberikannya dengan syarat dan kewajiban timbal balik. Cinta bagi orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau mengikat.

3)    Keamanan emosional,

yakni penerimaan diri terhadap kelebihan dan kelemahan dirinya dengan sedikit konflik, mengontrol emosi serta mengembangkan dorongan emosinya untuk kegiatan yang konstruktif. Termasuk dapat menerima emosi negatif dan positif orang lain atau sering dikatakan sabar terhadap kekecewaan. Mereka memiliki persepsi realitas, memandang dunia secara obyektif dan realistis, trampil dalam  tugas, memiliki pemahaman diri. Orang yang memiliki tingkat pemahaman diri (self obyectification) yang tinggi tidak mungkin memproyeksikan kulitas negatif pribadinya pada orang lain serta memiliki falsafah hidup yang mempersatukan

2. Pendekatan Rogers terhadap Kepribadian Sehat

Manusia adalah makhluk rasional dan sadar, tidak dikontol oleh peristiwa masa kanak-kanak, yang penting adalah masa sekarang, saat ini dan apa yang kita hadapi dan yang terjadi, meskipun masa lampau memberikan pengaruh, namun bukan penentu masa sekarang. Orang yang sehat adalah yang teraktualisasi, sehingga system kepribadian adalah memelihara, mengaktualisasi dan meningkatkan individu. Komponen fisiologis dan psikologis ini dibawa sejak lahir yang perkembangan awalnya lebih mengarah pada aktualisasi fisiologis tingkat rendah, aktualisasi tingkat tinggi tidak sekedar pertahanan organisme, melainkan  proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat serta potensi psikologis yang unik. Ada dua perbedaan yang dipakai dalam menentuakn diri yakni kecenderungan umum dan kecenderungan khusus. Dalam kecenderungan umum dikatakan bahwa pematangan dan perkembangan seluruh organisme tidak dipengaruhi oleh belajar dan pengalaman. Misalnya jika fungsi hormon itu tepat maka anak akan mengembangkan sifat dan jenis kelamin sekundernya, sehingga pengalaman tidak bisa berbuat apa-apa. Akan tetapi aktualisasi diri dipengaruhi oleh factor  social, jadi pembelajaran dan pengalaman adalah penting, khususnya pada masa kanak-kanak. Cara dari berkembangnya diri tergantung dari cinta yang diberikan sejak kecil atau penghargaan diri yang positif (positive regard). Sehat dan tidaknya seseorang ditentukan dari sejauhmana kebutuhan akan cintan yang positive terpenuhi. Peran ibu amatlah penting yakni dengan pemberian conditioning positive regard atau unconditioning positive regard. Kalau ia mengambil conditioning positive regard maka ia akan menghargai dirinya dengan syarat tersebut, seperti juga ia menghargai orang lain. Syarat utama dari kepribadian sehat adalah penanaman sikap unconditioning positive regard pada masa kecil. Hal ini akan dikembangkan anak menjadi penghargaan pada orang lain tanpa syarat juga. Orang yang sehat adalah orang yang berfungsi sepenuhnya (aktualisasi) buka merupakan tujuan melainkan proses, berlangsung terus menerus serta dinamis. Adapun ciri orang yang berfungsi sepenuhnya/aktualisasi atau sehat adalah sebagai berikut:

  1. Keterbukaan terhadap pengalaman

Keterbukaan terhadap pengalaman adalah dinamis, tidak statis dan defensif terhada diri, mereka terbuka terhadap pengalaman dari luar untuk menemukan pandangan gambaran baru yang lebih kreatif dan konstruktif, orang yang defensif berbuat menurut syarat yang statis dan bersembunyi dibelakang peranan, tidak dapat menerima pengalaman dan tidak mau mencari pengalaman baru.

  1. Kehidupan eksistensial.

Orang yang eksis memiliki fikiran jernih dan memakai pengalaman sebagai suatau kehidupan baru, mereka dapat menyesuaikan diri secara terus menerus, terbuka, tidak berprasangka, tegar tidak  memanipulasi pengalaman, mereka bebas berbuat untuk mengembangkan pengalaman. Tidak seperti orang yang defensif, mereka harus merubah pengalaman baru  untuk diharmoniskan dengan dirinya, mereka berprasangka dimana semua pengalaman harus cocok dengan dirinya.

  1. Kepercayaan terhadap organisme  sendiri.

Orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki kebebasan serta kepercayaan diri, spontanitas namun tidak tergesa-gesa serta tidak meninggalkan konsekuensi yang mungkin diperolehnya. Individu yang sehat memberikan kebebasan pada organisme untuk memberikan penilaian terhadap dirinya.

  1. Perasaan bebas

Secara psikologis orang sehat memiliki rasa bebas dalam memilih dan bertindak, memiliki perasaan berkuasa secara pribadi terhadap dirinya sehingga masa depan  tegantung pada dirinya, tidak diatur oleh peristiwa masa lampau. Orang yang defensif tidak memiliki rasa tersebut, mereka merasa terbelenggu oleh ketakutan pada dirinya sendiri dan masa lalunya

  1. Kreativitas

Semua orang yang  berfungsi sepenuhnya, memiliki sikap yang  kreatif, fleksibel, spontan, wajar, tidak mengharapkan tuntutan dari lingkungan, mereka mengembangkan diri dengan penuh keyakinan, memiliki ketahanan terhadap perubahan, sehingga sikap ini dapat meningkatkan dan mengembangan kemampuan yang dimiliki.

3.  Menurut Eric Fromm

Kepribadian menurut Fromm adalah produk dari kebudayaan, oleh karenanya kesehatan jiwa dapat dilihat bagaimana masyarakat menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan individu, bukan bagaimana  individu menyesuaikan diri dengan masyarakat. Kunci utama adalah cara masyarakat memuaskan kebutuhan Masyarakat yang sakit dan tidak sehat menciptakan permusuhan, kecurigaan, ketidakpercayaan terhadap anggotanya dan merintangi perkembangan kehidupan seseorang. Orang yang sehat memuaskan kebutuhan psikologis secara kreatif dan produktif, sedangkan orang yang sakit memuaskan kebutuhan tersebut dengan cara yang irasional, ciri orang yang memiliki kepribadian sehat:

  1. Hubungan

Adanya  interaksi antar  manusia dalam memuaskan kebutuhan, tingkah laku irasional disebabkan karena kegagalan dalam melakukan hubungan ini atau tidak terpuaskannya dalam interaksi ini. Ada beberapa cara untuk menemukan hubungan: distruktif (tidak sehat) dan konstruktif (sehat). Cara yang sehat untuk mengadakan hubungan adalah dengan cinta, cinta menumbuhkan keamanan dan perasaan integritas, cinta bukan erotismenya melainkan cinta penuh kasih seperti cinta terhadap anak, terhadap diri atau cinta terhadap orang lain atau solidaritas terhadap semua orang. Kegagalan dalam kebutuhan ini akan memunculkan sifat narsistik, mereka irasional dan tidak dapat berfikir obyektif.

  1. Transendensi

Cara yang ideal untuk sehat adalah dengan meningkatkan kemampuan untuk mencipta, karena kemampuan dan daya khayalnya teraktualisasi. Kebutuhan transindensi akan dilakukan dengan dua cara: sehat dan tidak sehat. (produktif/kreatif dan distruktif) yang merupakan kodrat manusia.  Kreatifitas merupakan penyebab kesehatan psikologis seseorang, distruktif berakibat pada perusakan dan penderitaan yang mengarah pada ketidaksehatan mental.

  1. Berakar

Supaya manusia merasa berdaya dan berarti maka akar ikatan dengan alam harus dibangun. Hakekat dari kondisi manusia adalah kesepian dan tidak berarti—–à menimbulkan rasa putus asa, tanpa akar manusia takberarti dan takberdaya.. Akar dapat dicapai dengan cara positif dan negatif. Cara membangun yang ideal adalah dengan membangun perasaan persaudaraan dengan sesama manusia, keterlibatan cinta, perhatian dan partisipasinya dalam masyarakat. Persaudaraan dengan orang lain menimbulkan rasa berakar dan memuaskan kebutuhan  untuk berinteraksi dengan dunia luar. Cara yang tidak sehat untuk berakar yaitu dengan memelihara ikatan sumbang masa kanak-kanak dengan ibu. Orang yang demikian tidak sanggup meninggalkan rumah dan selalu berpegang dengan ikatan keibuan. Ikatan sumbang dalam arti luas adalah sifat nasionalisme, yakni bentuk incest dan penyakit jiwa, dengan kultus patriotisme, menempatkan negara diatas kepentingan kemanusiaan, Cinta yang berfokus terhadap negaranya sendiri akan mengeluarkan cinta terhadap orang lain dan ini merupakan cirri orang yang tidak sehat secara psikologis, karena tidak sanggup mengembangkan potensi kemanusiaan  secara menyeluruh.

  1. Perasaan Identitas

Cara yang sehat untuk memuaskan kebutuhan ini ialah individualitas, yakni proses dimana seseorang mencapai suatu perasaan tertentu tentang identitas diri. Individualitas yang berkembang baik mengalami dan mengontrol kehidupan mereka sendiri dan tidak dibentuk oleh orang lain. Cara yang tidak sehat dalam membentuk perasaan identitas adalah menyesuaiakn diri dengan sifat suatu bangsa, ras dan agama atau pekerjaan. Identitas ditentukan oleh kelompok bukan oleh dirinya sendiri. Dengan mengembangkan norma dan nilai kelompok  maka nilai diri akan terkobankan sehingga nilai keunikan diri menjadi kabur takbermakna. Individu seperti ini kemungkinan akan menjadi orang tidak dapat mencapai nilai kemanusiaan secara penuh karena dibelenggu oleh kelompok, bukan ditentukan oleh dirinya sendiri.

  1. Kerangka Orientasi

Pikiran merupakan dasar ideal kerangka orientasi, yakni suatu alat untuk mengembangkan wacana tentang realitas dunia, termasuk melihat realitas diri secara obyektif. Fromm sangat mementingkan arti obyektivitas. Pandangan yang irasional dan subyektif tentang dunia dapat melepaskan orang dari kontak kenyataan. Semakin orang berfikir dengan realitas nyata maka semakin sehat atau matang dalam berinteraksi terhadap dunia luar. Pikiran harus dikembangkan dan ditempatkan dalam semua segi kehidupan. Cinta dan pikiran merupakan dua hal yang sulit untuk dipisahkan. Gambaran tentang kepribadian yang sehat adalah orang yang mencintai sepenuhnya, kreatif, memiliki kemampuan, pikiran berkembang, mengamati dunia dan diri secara obyektif, memiliki rasa identitas yang kuat, berhubungan dan berakar didunia, bebas dari ikatan sumbang. Kepribadian yang sehat memiliki orientasi produktif yang serupa dengan kepribadian yang matang (Allport dalam maddi, 1976) atau orang yang mengaktualisasikan diri (Maslow, 1971). Produktif disini bukan hanya secara material melainkan lebih dari fungsi aktualisasi, yakni membuat sesuatu yang bermakna buat orang lain melalui dirinya, bukan karena diatur oleh orang lain. Orang yang sehat melahirkan semua potensi mereka untuk kehidupan bersama dengan orientasi yang produktif (cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagiaan yang produktif dan sauara hati). Konsep tersebut memunculkan optimalisasi potensi manusia, suatu pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, respon intelektual, emosional, dan sensoris terhadap orang lain, benda dan peristiwa di dunia dan juga terhadap diri. (Allport dalam Schultz, 1991). Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut. Cinta yang produktif, yakni hubungan cinta yang sederajat, dimana patner dapat mempertahankan individualitasnya sehingga dirinya tidak hilang karena cinta terhadap orang lain. Cinta ini tidak terbatas pada cinta yang erotis melainkan bisa pada cinta dalam arti yang jauh seprti cinta saudara, sesama manusia, dari ibu ke anak. Pikiran yang produktif, meliputi kecerdasan, pertimbangan dan obyektivitas. Pikiran ini berfokus pada seluruh gejala dengan mempelajari fenomena dan melihat secara teliti, respek dan penuh perhatian sehingga mampu menilai seluruh permasalahan secara obyektif. Kebahagiaan, merupakan bagian yang menyatu dari kehidupan yang produktif, bukan hanya pada perasaan yang menyenangkan melainkan suatu kondisi yang meningkatkan seluruh organisme, meningkatkan gairah hidup, kesehatan fisik dan pemenuhan potensi seseorang. Orang yang produktif adalah orang yang berbahagia, sebagai bukti berhasilnya seseorang dalam seni kehidupan. Kebahagiaan adalah prestasi. (Fromm, dalam Schultz, 1991). Suara hati atau kata hati adalah sesuatu yang dapat mengendalikan perilaku manusia. Ada dua suara hati, yakni suara hati otoriter dan suara hati humanistic. Suara hati otoriter adalah penguasa dari luar yang diinternalisasikan dan memimpin tingkah laku orang, penguasa ini bisa orang tua, kelompok, negara melalui kekuatan hukuman untuk membentuk perilaku moral. Apabila orang berlawanan dengan kode moral otoriter tersebut maka akan merasa bersalah, Penilai adalah dari luar dirinya yang bertindak sebagai wasit dan menghalangi perkembangan dan perluasan diri sehingga menjadikan kehidupan diri tidak produktif. Suara hati humanistic adalah suara hati yang keluar dari dalam diri tanpa adanya pengaruh luar, bersifat internal dan individualistic. Tingkah lakunya disesuaikan dengan keinginan dan potensi yang dimilikinya tanpa rasa takut, tidak diatur oleh orang lain. Mereka melakukan suatu aktivitas atas dorongan dari dirinya, bukan karena budaya (ciri orang yang sehat)

5.  Pandangan Maslow Terhadap Kepribadian yang Sehat

Maslow adalah tokoh psikologi humanistic yang amat terkenal dengan bukunya mazhab ke tiga yang banyak mengupas tentang manusia. Maslow termasuk psikolog profesional yang banyak berorientasi pada aliran behavioris meskipun tidak bisa meninggalkan aliran Freud dan Gestalt. Dalam melihat tingkah laku manusia, banyak membahas tentang berbagai hal yang terkait dengan kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar tersebut tidak hanya sebagai kebutuhan material, motive) namun juga bersifat spiritual. Kebutuhan manusia dimotivasi oleh dua dorongan yakni motive kemunduran (deficiency motivation) dan motive  perkembangan (growth motivation). Orang yang tidak memiliki kesehatan mental  yang baik akan mudah terpuaskan kebutuhan dasar tersebut, dan orang yang memiliki penyakit mental akan sulit untuk puas terhadap kebutuhan dasar, bahkan akan merasa kurang terus menerus. Orang yang secara mental tingkah lakunya dimotivasi oleh motif perkembangan (growth motivation) (Malsow, 1993.

Selanjutnya ia menerangkan tentang Herachi kebutuhan manusia:

  1. Kebutuhan fisologis (faali/ physiological needs),

Adalah kebutuhan terkait dengan kelangsungan hidup manusia, kebutuhan yang pemuasannya tidak mungkin ditunda. Kebutuhan dasar biologis ini antara lain adalah makan, minum, istirahat, bernafas, keseimbangan temperatur, seks dan stimulasi sensorik. Kebutuhan ini akan mendesak dalam pemuasannya dibandingkan dengan kebutuhan yang lain. Manusia tidak beralih kepada kebuthan lain sebelum kebutuhan ini terpenuhi. Misalnya seseorang yang lapar, ia bisa melakukan kegiatan apapun untuk memenuhi dorongan perutnya bahkan mungkin perbuatan yang tidak normative. Orang yang tidak sehat mentalnya pemenuha kebutuhan ini tidak pernah merasakan kepuasan.

  1. b.    Kebutuhan akan rasa aman (need for self security)

Kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar kedua, yang muncul ketika kebutuhan fisiologis terpuaskan. Adapaun yang termasuk kebutuhan ini adalah: keamanan, perlindungan, ketergantungan, bebas dari rasa takut, cemas dan kekalutan, terganggu kebutuhan rasa amannya maka yang muncul adalah sikap ekspresive atau dengan menarik diri karena merasa takut dan terancam keselamatannya. Hal ini tidak akan terjadi pada orang dewasa, kecuali orang yang terganggu (neurosis). Kebutuhan yang harmonis adalah harapan anak untuk mendapatkan keamanan, sehingga suasana menakutkan, seperti perpisahan, perceraian, tekanan fisik, kemarahan adalah hal yang menakutkan

  1. Kebutuhan akan rasa cinta (need for love and belongingness).

Dorongan ini merupakan kebutuhan yang lebih meningkat lagi dari kebutuhan sebelumnya. Kebutuhan ini terkait dengan keinginannya untuk berelasi dengan orang lain secara efektif atau interaksi secara emosional, baik individu yang ada pada lingkungan keluarga maupun individu lain diluarnya (masyarakat). Seorang individu akan terasing dan merasa kesepian jika diasingkan oleh kelompoknya. Perasaan cinta  berorientasi pada kasih sayang bukan seksualitas seperti psikoanalisis. Cinta adalah kebutuhan pokok bagi perumbuhan dan perkembangan manusia. Jika terhambat atau tidak terpenuhi dapat menimbulkan salah penyesuaian. Perasaan saling percaya adalah hubungan sehat, penuh kasih sayang adalah bagian cinta yang sesungguhnya, yakni cinta yang memberi dan menerima.

  1. Kebutuhan akan harga diri (need for self esteem)

Kebutuhan ini berasal dari dua hal, pertama (berasal dari diri sendiri), keinginan atau kekuatan, prestasi, kecukupan, keunggulan, kemampuan dan kepercayaan diri. Kedua (berasal dari lorang lain), yakni: nama baik, gengsi, status, ketenaran, prestise dan kemuliaan, dominasi, pengakuan, perhatian, martabat atau apresiasi. Seseorang yang memiliki harga diri yang cukup akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi serta lebih produltif,  sementara orang yang tidak memiliki harga diri aka n diliputi rasa tidak berdaya yang berakibat pada keputusasaan dan perilaku neurotik. Harga diri yang stabil dan sehat tumbuh dan berkembang dalam penghargaan yang wajar dari orang lain, bukan karena nama harum, kemasyhuran serta sanjungan yang kosong. (Maslow dalam Muhammad, 2002) Kebutuhan aktualisasi diri.

Meskipun seseorang telah terpenuhi semua kebutuhan, banyak yang tidak merasa terpuaskan, sehingga  muncul kegelisahan, perasaan ini muncul karena kualitas potensi yang ada pada dirinya belum teraktualisasi. Dorongan aktualisasi diri muncul dari dalam dirinya, tidak terpengaruh oleh factor luar dirinya. Dorongan aktualisasi diri memiliki hambatan, baik internal maupun eksternal. Hambatan internal berasal dari diri sendiri, antara lain ketidaktahuan akan potensinya, keraguan, perasaan takut untuk mengungkapkan potensinya. Hambatan eksternal berasal dari budaya masyarakat yang kurang mendukung. Aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang paling tinggi tingkatannya. Aktualisasi diri didorong oleh kebutuhan yang bernilai tinggi atau metamotivation (Being Values). Kebutuhan manusia didorong oleh dua motivasi, yakni motivasi kekurangan (deficiency motivation) dan motivasi pertumbuhan (growth motivation). Dalam basic needs, kebutuhan tersebut bersifat kerarkhis, namun dalam kebutuhan pertumbuhan tidaklah demikian. Individu yang terhambat dalam metamotivation akan mengalami gangguan metapathology. Dua arah pilihan hidup manusia, yakni maju atau mundur (Progessive choice dan regressive choice). Motive pertumbuhan mengarah pada progressive choice dan sebaliknya motive kemunduran mengarah pada regressive choice. Adapun karakteristik orang yang mengaktualisasikan diri adalah: mampu melihat realita secara efisien, penerimaan terhadap diri sendiri, orang lain dan kodrat, spontanitas, kesederhanaan dan kewajaran, terpusat pada persoalan, memisahkan diri (kebutuhan akan kesendirian, otonom, kesegaran dan aspirasi yang berkelanjutan, pengalaman puncak, kesadaran social, hubungan interpersonal, struktur watak demokratis, membedakan antara cara dengan tujuan, memiliki rasa humor yang filosofis dan tidak meimbulkan permusuhan, kreatifitas, memiliki daya tahan terhadap kebudayaan

Bahan Bacaan:

Allport, G, 1955, Becoming: Basic Considerations for a Psycholpgy of Personality, New Haven: Yale University Press).

 

Coleman., and Broen, W., 1972, Abnormal Psychology and Modern Life. London: Scott Foresman and Co

 

Hawari, D. 1999. Al-Qur’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta: Dana Bhakti Yasa.

 

Kosworo (1991) Kosworo, E, 1991,  Teori-teori Kepribadian, Bandung PT Eresco.

 

Langgulung, H, 1986, Teori-Teori Kesehatan Mental, Jakarta, Penerbit Pustaka Al-Husna

 

Maslow, A, 1971, The Father Reaches of Human Nature, Canada: Penguin Books.

 

Maslow, A 1993. Motivasi dan Kepribadian, Terjemahan Nurul Iman, Bandung: Pustaka Binaman Pressindo,).

 

Mubarok, 2000. Jiwa dalam Al-Qur’an, Jakarta, Paramadina.

Muhammad, Dialog antara Tasawuf dan Psikologi, 2002, Pustaka Pelajar. Yogyakarta)

Sarafino, E.P., 1990, Health Psychology: Biopsichosocial Interaction, New York: John Wiley & Sons.

 

Schultz, 1991, Psikiologi Pertumbuhan: model-model kepribadian yang sehat, Penerbit: Kanisius

 

Seligman, M.E.P. 1975. Helplessness-On Depression, Development and Death. Sanfransisco: Freeman.

 

Semiun, 2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta, Kanisius

 

Sutherland, V.J., Cooper, C.L., 1990, Under standing Stress: A Psychological

Pesrpective for Health Prefessionals, (Series Marcer, D., (Ed), Psychology and Health Series 5, London: Chapman and Hall.

 

Taylor, S.E, 1991, Health Psychology, New York: McGraw Hill, Inc.

 

 

BAB III

A. PENYESUAIAN (ADJUSMENT)

Untuk menjaga kelangsungan hidup,  baik sebagai individu maupun makhluk social,  selalu menjaga kelangsungan interaksi, baik dengan diri, orang lain maupun lingkungan serta budaya. Kepribadian terbentuk karena adanya interaksi antara diri pribadi dan social, sehingga variasi penyesuaian diri dalam lingkungan, antara individu satu dan yang lainnya berbeda. Individu yang berhasil menyesuaiakan diri merasa  lebih tenang dan survivel. Kegagalan dalam penyesuaian diri bisa menimbulkan dampak luas dalam kehidupan. Manusia selalu aktif membangun pengetahuan tentang diri, dunia realitas maupun dunia social (Bandura, 1986). Agar perilakunya sesuai dengan harapan maka diperlukan kemampuan untuk mengarahkan fikiran, emosi  dan kemauannya untuk menyesuaikan diri. Menurut Small (1990) bahwa penyesuaian diri dilakukan seseorang agar dapat melakukan regulasi diri, menentukan tujuan perilaku, menentukan strategi yang tepat untuk meraih tujuan, dapat mengontrol perilaku serta menyelesaikan masalah dengan tepat. Definisi: Suatu proses yang melibatkan respon mental behavioral, yang dilakukan individu untuk dapat mengatasi dorongan dalam tension dan konflik dengan baik, agar diperoleh keharmonisan antara tuntutan dari dalam dan tuntutan dari luar.

Penyesuaian dikatakan baik jika responnya mature wholesome dan efficient. Mature: tidak emosional, tenang dan meyakinkan. Wholesome: responnya sesuai dengan kodratnya sebagai manusia dan dibenarkan oleh masyarakat, kultur dan agama. Effisient: tanpa banyak membuang energi, waktu, tempat dan biaya. Development maturity dan Adjusment maturity. Dipengaruhi oleh: Physical maturity, Intellectual maturity (memiliki interes yang luas terhadap ilmu pengetahuan, mampu bertanggungjawab, mampu berkomunikasi secara baik dengan orang lain, creative dalam hubungan antar jenis kelamin, hubungan atas dasar pengertian, a philosophy of live), Emotional maturity (adequacy of emotional respons, emotional range dept, emotional control

Kepribadian merupakan aspek yang penting dalam penyesuaian diri dan terus berkembang.

  1. Karakteristik dan respon kepribadian berkembang melalui proses belajar yakni training, disiplin dan kemasakan
  2. Kepribadian adalah fenomena yang terus akan berubah
  3. Lebih menekankan factor belajar dan kemasakan daripada factor bawaan. Kemasakan dapat distimulasi dari factor internal serta lingkungan yang kondusif

1.  Definisi Penyesuaian Diri

Calhoun dan Acocella (1990) mengatakan bahwa penyesuaian diri merupakan interkasi terus menerus yang diadakan antara diri, orang lain dan dunia. Kendall (1991) mengatakan bahwa kemampuan sesorang untuk memusatkan penguasaan atau manipulasi secara tepat. Bernard dan Hunkins (1978) mengatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses yang kreatif dalam merespon tekanan dan tuntutan dari lingkungan maupun orang lain. Schneiders (1964) mengatakan bahwa penyesuaian diri merupakan proses yang melibatkan mental dan perilaku agar sukses menguasai kebutuhan tuntutan yang menimbulkan ketegangan atau konflik agar memperoleh keseimbangan antara tuntutan diri maupun tuntutan lingkungan. Individu yang memiliki kemampuan dalam menyesuaikan diri mampu melakukan adaptasi, memiliki konformitas yang baik serta mampu melakukan pengontrolan diri atau regulasi diri dengan baik. Penyesuan diri bersifat individual dan relative, terkait dengan tingkat kematangan, baik fisik, psikologis maupun psikomotor, moral maupun sosial. Seseorang yang mampu melakukan penyesuaian diri jika telah memiliki berbagai ketrampilan untuk menguasai kebutuhan fisik, emosi, psikomotor, moral maupn social. Seseorang dikatakan matang secara intelektual jika mampu dan sukses mengikuti pendidikan sesuai dengan usianya, memiliki pertimabnagn obyektif serta memiliki minat yang luas. Dikatakan matang secara emosi, jika mampu mngendalikan serta mengadakan control terhadap dorongan atau kebutuhan emosi sesuai dengan kondisi dan harapan social. Kemasakan moral, mempunyai perilaku yang bertanggungjawab sesuai dengan norma yang ada dalam masyarakat. Kematangn social, ditujukkan kemampuannya dalam melakukan interksi social dengan kelompoknya. Menurut Lazarus (1976) penyesuaian diri merupakan proses yang berlangsung dengan memperoleh prestasi adekuat atau tidak adekuat.   Menurut Elliot, dkk (1999) lingkungan keluarga dan social merupakan factor eksternal yang memiliki pengaruh terhadap penyesuaian diri anak. Menurut Pervin & John, (2001), penyesuaian diri dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal. Menurut Achenbach (1991) bahwa emosi merupakan hambatan internalisasi yang diarahkan pada diri sendiri. Individu yang mengalami hambatan internalisasi memiliki hambatan dalam melakukan penyesuaian diri, baik di sekolah maupun di lingkungan sosialnya. Hambatan eksteralisasi merupakan hambatan emosi yang dimanifestasikan dalam bentuk perilaku yang diarahkan pada orang lain atau lingkungan.

  1. 2.    Aspek Penyesuaian Diri

         Seseorang yang mampu menyesuaikan diri memiliki ciri a) ketrampilan sosial (mampu membangun hubungan interpersonal dengan orangtua, guru, orang dewasa, saudara dan temannya) b) memiliki kepatuhan terhadap orangtua, guru c) memiliki kecakapan dalam melaksanakan tugas d) kemampuan dalam merawat diri dan regulasi diri e) memiliki mental yang sehat (Carey, 1998) Schneiders (1964) bahwa individu dikatakan mampu menyesuaikan diri jika memiliki ciri a) kepribadian integral b) dapat mengenali diri secara obyektif c) mampu mengontrol dan mengembangkan diri d) memiliki tujuan dalam berperilaku e) memiliki penilaian yang  adekuat f) memiliki perasaan humor yang tinggi g) bertanggungjawab h) responsif i) mampu mengembangkan kebiasaan yang baik j) memiliki kepuasan k) realis dan adekuat

  1. 3.    Hambatan Penyesuaian Diri

         Penyesuaian diri tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan, ada beberapa hambatan yang sering muncul ketika sesorang menyesuaikan diri. Hambatan yang sering muncul dalam meyesuaian diri adalah hambatan emosi dan perilaku. Hambatan emosi dan perilaku dapat disebabkan karena rendahnya koping secara  kognitif (Lazarus, 1991). Menurut Planapl, 1999) karena rendahnya regulasi emosi. Memiliki gangguan dalam berinteraksi dengan teman sebaya Ginsburg, dkk, 1998) Hambatan emosi dan perilaku  menurut Hallahan dan Kuffman (1994) memiliki cirri, ketidakmampuan dalam belajar, ketidakmampuan dalam mempertahankan hubungan interpersonal, memiliki perilaku emosi yang kurang tepat, suasana hati yang tidak bahagia. Menurut Patton, dkk (1996) dari ciri di atas ditambah dengan agresif, kasar, mencari perhatian orang lain, cemas, menarik diri, membolos, anti social, delinquent, membolos. Menurut Hallahan dan Kauffman, 1994 dan Herbert, 2006) hambatan dalam penyesuaian diri berupa hambatan internalisasi dan eksternalisasi. Hambatan internalisasi, di dalamnya ada gangguan emosi atau suasana hati (Kovacs dan Devlin, 1998), mereka memiliki simtom, inferior, tidak bahagia, tidak berguna, takut ataumalu, isolasi social dan sangat sensitive. Menurut Yusuf (1997) mereka menunjukkan sikap pendiam, mudah tersinggung, marah, ingin menang sendiri, sering membuat ulah dll. Hambatan ekternalisasi dapat dilihat dari perilaku yang agresif, empulsive, frustrasi dan bermusuhan.

  1. 4.    Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri

Penyesuaian diri merupakan proses untuk menanggapi tuntutan dari diri, lingkungan atau budaya. Penyesuaian diri dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal. Factor internal yang mempengaruhi penyesuaian diri adalah kepribadian (Pervin dan John, 2001). Kepribadian merupakan pemimpin perilaku individu yang unik, merupakan ciri sifat, karakter yang relative permanen yang mengarahkan individu dalam berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya sehingga dapat menyesuaiakan diri dengan masyarakat.  Kepribadian bersifat konsisten dan memiliki perbedaan yang khas diantara individu, di dalamnya ada fikiran, emosi dan perilaku, yang berkembang karena interaksi antara factor genetic dan lingkungan (Feist dan Feist, 2002) Merupakan factor utama dari penyesuaian diri (Schneiders, 1964) Faktor eksternal yang mempengaruhi penyesuaian diri adalah lingkungan. Lucia, dkk (2000) lingkungan mempunyai arti penting bagi penyesuaian diri dan dan sebaliknya. Interaksi antara anak dengan orangtuanya, khususnya ibu akan mempengaruhi individu dalam menyesuikan dirinya. Ibu sebagai fasilitator yang aktif bagi anaknya dan membentuk dan mengembangkan kepribadian, keterampilan social, perkembangan moral serta perkembangan fungsi kognisi. Pakaslahti, dkk (1996) dalam penelitiannya menemukan bahwa orangtua yang memiliki ketrampilan yang rendah pemecahan masalah social berkorelasi dengan tingginya agresivitas anak, orangtua yang memiliki ketrampilan dalam memecahkan masalah social, agresivitas anak menjadi rendah. Penelitian Bronstein, dkk (1998) menemukan bahwa hubungan ibu dengan penuh kasih saying meningkatkan harga diri, kemampuan adaptasi, ketrampilan social dan prestasi.

  1. Kepribadian-Lingkungan dan Kebudayaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pentingnya Kepribadian dalam Penyesuaian Diri:

Dalam penyesuaian diri tidak dapat dipisahkan dengan kepribadian, antara lain:

1)    Personality and mind body or psychosomatic reality antara fungsi mental dan fisiologis terdapat hubungan yang komplek dan saling bergantung dan mempengaruhi. Adapun factor yang mempengaruhi fisik antara lain: keadaan emosi, sugesti, Imaginasi

2)    Pengaruh intra mental: proses psikologis dalam diri individu saling mempengaruhi, ganggua dalam satu aspek mengganggu aspek lainnya. Misal distorsi kognitif maka akan menjadi negatif emosinya

3)    Kepribadian dan perilaku. Proses penyesuaian terjadi pada: tingkat mental—–à penyesuaian mental, misalnya defence mekhanisme, untuk menghilangkan kecemasan; Tingkat perilaku, melakukan penyesuaian diri dengan kontak langsung dengan lingkungan/ reality

4)    Modifiabilitas. Kemampuan untuk belajar dan berubah, Adjusment adalah suatu proses yang kontinue, menghendaki perubahan tingkah laku, sikap pribadi (contoh individu yang neurotik dan psikotik)

5)    Resilience: Kemampuan untuk kembali ke keadaan semula setelah mendapatkan masalah yang berat sehingga tidak sering frustrasi

6)    Self Regulation: Mengatur dan menentukan apa yang terbaik menurut dirinya (person is able to do for him self) kemampuan mengatur diri, baik pikiran, sikap, imaginasi

7)    Self Realization: Kesadaran diri yang didasari oleh perkembangan kepribadian yakni self realization, self knowledge dan self awarness

8)    Intelligence: Kemampuan sesorang dalam melakukan penyesuaian diri tidak dapat lepas dari kapasitas intelligensi yang dimilikinya. Kemampuan kognisi dalam menganalisis sebuah persoalan terkait dengan kapasitas intelligensi yang dimilikinya. Cara seseorang menghadapi masalah coping behavior ; maturitas, pengaturan diri dan self realization pada taraf tertentu ditentukan oleh intelligensinya. Misalnya: hysteria banyak ditemukan pada individu dengan IQ dibawah normal

b.  Beberapa Kegagalan dalam Penyesuaian diri serta strategi coping.

Masalah yang utama dalam kesehatan mental terletak bagaimana individu mampu menyesuaikan diri dalam kondisi serta situasi yang demikian dinamis. Kegagalan dalam menyesuaian diri dapat menimbulkan berbagai macam permasalahan. Pada tingkat ringan memunculkan permasalahan antara lain konflik bathin, stress serta munculnya rasa ketidakpercayaan diri (minder) yang pada perkembangan selanjutnya dapat mempengaruhi  seseorang dalam melakukan interaksi. Efek dari keadaan tersebut dapat berakibat munculnya perilaku menyimpang, yakni alkoholic, narkoba, agresivitas dll. Pada tingkat lanjut, kegagalan dalam penyesuaian diri dapat memunculkan penyakit mental seperti depressi, psikosis dll.

Strategi Coping

E.  STRATEGI COPING

1.   Pengertian Problem Focused Coping

Strategi coping meliputi kombinasi pikiran, kepercayaan, dan tingkah-laku yang dihasilkan dari pengalaman stres dan kemungkinan dapat diekspresikan secara bebas atas stressor yang dialami. Strategi coping adalah variabel disposisional/watak. Strategi coping cenderung stabil sepanjang waktu dan dipengaruhi oleh sifat-sifat pribadi (individual differences), antara lain dalam kepribadian, umur, pengalaman, jenis kelamin, status ekonomi, dan tingkat pendidikan individu (Burke, 2000). Menurut Lazarus (1991) coping didefinisaikan sebagai usaha kognisi dan perilaku untuk mengatur tuntutan internal maupun eksternal atau konflik diantara keduanya. Menurut Fliesman (dalam Valentiner et al, 1994) strategi mengatasi masalah merupakan respon individu yang mencakup aspek kognisi maupun perilaku untuk mengurangi atau menghilangkan tekanan psikologis akibat dari kondisi yang menekan. Ada dua strategi seseorang dalam  mengatasi masalah yakni problem focoused coping, coping dengan memusatkan pada masalah dan emotional focoused coping, coping dengan memusatkan pada emosi. Seseorang yang cukup positif menghargai dirinya akan memiliki kepercayaan diri yang akan berpengaruh terhadap penampilan diri yang berdampak pada keyakinan dirinya, sehingga menimbulkan sikap yang positif, termasuk dalam problem focoused copingnya. Problem focoused coping adalah usaha untuk mengatasi, mengurangi dan tahan terhadap tuntutan lingkungan secara positif. Merupakan respon yang bertujuan (purposeful reaction),  bukan respon yang reflektif atau instingtif (Lazarus dan Folkman, 1984). Menurutnya ada tiga strategi dalam mengatasi masalah yakni, coping strategies, coping traits atau coping style dan coping resources, sumber daya strategi mengatasi masalah. Strategi mengatasi masalah mengambarkan aktivitas individu yang meliputi aspek pemikiran dan perilaku dalam menghadapi persitiwa yang menekan. Coping traits, mengatasi masalah yang sudah menjadi sifat khas individu yang menetap, konsisten dan reflektif dalam merespon kejadian yang menakan.coping resources strategi mengatasi masalah yang dipilih individu yang akan menyebabkan individu berhasil dalam penyesuaian diri. Faktor yang menjadi penentu efektivitas strategi mengatasi masalah adalah factor dari dalam diri, yakni sumber daya pribadi (personal resources) factor social (social resources) dan controllability.

Penelitian Nezu dan Peri (Atkinson, dkk tanpa tahun) menunjukkan bahwa strategi coping yang positif dapat mempersingkat munculnya depresi dan lebih efektif dalam mengatasi stress dan bereaksi secara adaptif terhadap stressor. Adapun individu yang mengambil  problem focoused coping dalam pemecahan masalah memiliki ciri sebagai berikut: kehati-hatian (cautiousness), tindakan instrumental (instrumental action) dan negosiasi (negotiation) (Mayne dan Bonanno, 2001)

Problem focused coping adalah usaha untuk melakukan sesuatu yang berguna atau konstruktif atas kondisi penuh stres yang membahayakan, mengancam, atau menantang seseorang (Taylor, 1995). Problem focused coping adalah salah satu bentuk coping yang berfokus pada masalah dan berusaha untuk memecahkan masalah yang ada sedangkan individu yang menggunakan strategi ini adalah individu yang yakin akan dapat menghadapi atau mengubah situasi atau kondisi yang penuh tekanan. Problem focused coping bertujuan untuk mengurangi tuntutan dari situasi yang penuh stres. Orang-orang akan menggunakan pendekatan problem focused coping ketika mereka percaya bahwa sumber-sumber atau tuntutan atas situasi yang penuh stres masih dapat diubah (Lazarus & Folkman, 1984b dalam Sarafino, 1997).

Problem Focused Coping (PFC) pada dasarnya bertujuan untuk menyelesaikan masalah hingga tuntas dan bagaimana mengatasi stres secara efektif dan relatif berhubungan dengan menurunnya tingkat depresi. Menurut Greenberg (2004)., Planalp (1999) dan Campos, dkk (2004) PFC menggunakan regulasi emosi dalam perilakunya. Masters (1991) membedakan regulasi emosi menjadi dua, yakni regulasi emosi pribadi dan regulasi emosi social. Regulasi emosi pribadi terjadi pada diri sendiri tanpa memperhatikan factor social meskipun bersumber pada factor social. Melakukan manipulasi terhadap perilaku orang lain dengan mencari dukungan social atau simpati. Regulasi emosi social berpusat pada pengaturan emosi orang lain, dengan mengubah kondisi perasaan orang lain atau mempengaruhi perilaku orang lain, meliputi simpati dan empaty. Individu dengan regulasi emosi memiliki kecerdasan emosi, sehingga dapat mengatur dan memilih emosi yang tepat yang akan diekspresikan serta cara mengekspresikannya. Regulasi emosi yang rendah menyebabkaan hambatan dalam penyesuaian diri, terganggunya hubungan social, munculnya perilaku agresif dan delinquent (Greenberg, 2004). Menurut Bandura (1986) individu yang memiliki regulasi emosi akan mampu mengarahkan pikiran, perasaan, emosi dan perilakunya dalam memcahkan masalah dengan memperhitungkan kosekuensi yang bakal terjadi. Sebaliknya seseorang yang kurang menghargai dirinya maka akan mengambil emotional focoused sebagi strategi pemecahannya.  Billing dan Moos (1984) mengatakan bahwa problem focused coping merupakan suatu tindakan yang mencoba mengubah atau menghapus sumber dari tekanan dalam rangka mengatasi realita (Holahan dan Moos, 1987).

Seseorang yang menggunakan problem focused coping adalah seseorang yang merasa mampu menghadapi situasi yang menimbulkan tekanan misalnya dengan bertindak lebih aktif dalam menghadapi masalah, seperti mencoba mencari jalan keluar bagi masalahnya dengan cara-cara yang baru (Folkman & Lazarus, 1985).

Uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa problem focused coping merupakan usaha yang dilakukan oleh seorang individu untuk menghadapi situasi yang penuh dengan tekanan yang berorientasi untuk mencari pokok permasalahan dan memecahkan masalah yang ada dengan bertindak lebih aktif serta mencari jalan keluar bagi masalah tersebut sampai benar-benar terselesaikan.

2.   Aspek-Aspek Problem Focused Coping

Aldwin dan Revenson (1987) mengemukakan 3 macam aspek problem focused coping, yaitu:

a.   Exercised Caution  (kehati-hatian)

Individu berfikir dan mempertimbangkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang mungkin, berhati-hati dalam memutuskan masalah dan mengevaluasi strategi-strategi yang sudah pernah dilakukan sebelumnya, serta meminta pendapat orang lain. Hal ini juga dilakukan dengan menahan tindakan-tindakan yang akan lebih membawa keburukan daripada kebaikan, berfikir dengan seksama tentang apa yang akan dilakukan, dan mencoba untuk tidak melakukan sesuatu yang akan disesali, tetapi terbuka dalam hal-hal tertentu.

b.   Instrumental Action

Individu melakukan tindakan-tindakan yang mengarah pada penyelesaian masalah secara langsung, menyusun langkah-langkah dan rencana tindakan kemudian mengikutinya, dan berusaha keras untuk membuat segala sesuatunya berhasil.

c.   Negotiation (negosiasi)

Negotiation meliputi usaha ­­mengatasi masalah yang ditujukan pada orang lain yang terlibat dalam situasi masalah yang sedang dialami, seperti usaha untuk mengubah pemikiran orang lain, menawar atau berkompromi untuk mendapat sesuatu yang positif dari situasi, dan mengekspresikan kemarahan pada orang yang tepat.

      Menurut pendapat Carver (1989), aspek problem focused coping ada lima macam yaitu:

a.   Active Coping

Active coping merupakan proses pengambilan langkah aktif untuk mencoba menghilangkan sumber-sumber stres serta mengurangi akibatnya. Usaha seseorang untuk melakukan coping adalah dengan bertindak langsung, meningkatkan usaha-usaha yang dapat dilakukan, dan mencoba untuk melakukan usaha coping dengan langkah yang bijaksana.

b.   Planning (rencana)

Individu berusaha berfikir atau membuat rencana tindakan yang harus dilakukan dalam menghadapi masalah serta bagaimana mengatasi sumber stres. Planning meliputi menyusun strategi tindakan yang akan dilakukan, memikirkan langkah-langkah yang akan dilakukan dan cara terbaik untuk mengatasi masalah.

c.   Suppression of Competing Activities (penekanan pada suatu aktivitas yang utama) Suppresion of Competing Activities merupakan usaha individu untuk membatasi aktivitas dirinya dengan berkonsentrasi pada masalah yang sedang dialaminya. Suppresion of Competing Activities berupa upaya untuk menyisihkan hal-hal lain, menghindari hal-hal lain yang dapat mengganggu dalam upaya mengatasi stressor.

d.   Restrain (penguasaan diri)

Penguasaan diri dengan mengontrol atau mengendalikan tindakan langsung sampai kesempatan yang tepat untuk bertindak. Restrain meliputi upaya dengan menunggu sampai datangnya saat yang tepat untuk bertindak, menahan diri, dan tidak bertindak tergesa-gesa.

e.   Seeking Social Support for Instrumental Reason (Mencari Dukungan Sosial Sebagai Penolong)

Individu yang menghadapi masalah berusaha mencari nasehat, saran, masukan, dukungan, atau informasi.

Berdasar pendapat di atas, peneliti menggunakan aspek-aspek problem focused coping yang dikemukakan oleh Aldwin dan Revenson (1987). Aspek-aspek problem focused coping yaitu exercised caution, yang merupakan upaya untuk berhati-hati dalam mengambil tindakan. Instrumental action yang mengarah pada penyelesaian masalah secara langsung serta menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan. Negotiation, yaitu beberapa usaha yang ditujukan pada orang lain yang terlibat masalahnya dengan berusaha mengubah pemikiran orang lain, menawar atau berkompromi untuk mendapat sesuatu yang positif dari situasi yang ada, mengubah pikiran orang lain, dan mengekspresikan kemarahan pada orang yang tepat.

3.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Strategi Coping

Wheaton (1983) dan Kobasa (1979) menyebutkan bahwa kepribadian menentukan coping yang digunakan. Wheaton lebih mempertimbangkan pada fatalism (kepercayaan) dan inflexibility (kekakuan), sedangkan Kobasa mempertimbangkan pada hardiness. Asumsi yang menggarisbawahi pendekatan tersebut adalah bahwa karakteristik pribadi menentukan individu dalam mengatasi masalah dengan cara tertentu (Folkman dan Lazarus, 1986).

Hal yang sama juga dijelaskan oleh Taylor (1998) bahwa keunggulan satu strategi coping dengan yang lain ditentukan oleh tipe individu (contoh, beberapa orang lebih aktif dalam mengatasi masalah daripada yang lain) dan juga ditentukan oleh tipe kondisi dan situasi stres; sebagai contoh, orang-orang cenderung menggunakan problem focused coping untuk menghadapi masalah-masalah yang masih dapat dikontrol, seperti masalah yang berhubungan dengan pekerjaan.

Tiap usia mempunyai tingkat kemampuan berfikir dan kemampuan untuk beradaptasi yang berbeda-beda dengan tingkat usia di atas atau di bawahnya. Lazarus (1976) juga mengatakan bahwa struktur psikologis individu akan berubah sesuai tingkat umurnya sehingga akan menghasilkan reaksi yang berbeda-beda dalam menghadapi stres. Sarafino (1997) lebih lanjut mengemukakan bahwa coping yang sering digunakan pada orang dewasa adalah coping yang berpusat pada masalah, sedangkan pada anak-anak lebih sering menggunakan coping yang berpusat pada emosi. Dengan demikian, semakin dewasa seseorang maka perilaku copingnya akan berpusat pada pokok masalah yang dihadapi.

Pengalaman merupakan suatu kejadian yang pernah dialami atau pernah terjadi dan mempengaruhi perilaku individu selanjutnya. Pengalaman merupakan perbandingan individu dalam menghadapi masalah atau kejadian yang hampir sama (Aldwin dan revenson, 1987). Dengan demikian, melalui pengalaman yang diperoleh, individu akan menggunakan cara-cara yang pernah dipakai dalam memecahkan masalah yang ada. Semakin banyak cara yang digunakan individu dalam menghadapi masalah, maka individu akan semakin terampil dalam memecahkan masalah dan cenderung menggunakan problem focused coping bila dirinya menghadapi suatu masalah.

Jenis kelamin juga mempengaruhi perilaku coping yang dilakukan, hal ini ditunjukkan oleh pendapat dari Hetherington (dalam Garmezy dan Rutter, 1983) yang mengatakan bahwa pada wanita situasi yang menekan akan dirasakan sebagai suatu hal yang besar sehingga mengakibatkan perilaku coping yang dilakukan menjadi kurang baik dan cenderung negatif dan biasanya lebih ditekankan pada usaha untuk mencari dukungan sosial, sedangkan pada pria perilaku copingnya lebih menekankan tindakan langsung pada pokok permasalahan.

Status sosial ekonomi dan tingkat pendidikan individu juga ditemukan ikut mempengaruhi penggunaan coping individu. Individu dengan status sosial ekonomi tinggi menunjukkan kecenderungan menggunakan bentuk coping adaptif yang melibatkan unsur fleksibilitas, pemikiran logis, dan realistis daripada menggunakan bentuk coping defensif yang kaku dan irasional. Demikian pula pada individu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi, semakin baik tingkat pendidikannya semakin cenderung menggunakan problem focused coping daripada menggunakan bentuk coping menghindar (Billings dan Moos dalam Holahan dan Moos, 1987). Semakin tinggi tingkat pendidikan maka perkembangan kognitif  yang dimiliki juga semakin tinggi, sehingga individu lebih mampu melakukan penilaian terhadap situasi yang dihadapi, lebih fleksibel dan terbuka terhadap pembaharuan, dengan demikian perilaku coping yang dilakukan juga akan lebih terfokus pada pemecahan masalah yang dihadapi.

Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi problem focused coping adalah kepribadian, umur, pengalaman, jenis kelamin, status ekonomi, dan tingkat pendidikan individu.

 

 

 

 

 

Achenbach,T.M. (1995). Development Issues in Assessment, Taxonomy and Diagnosis of Child and Adolescent Psychopathology. In Ciccheti and D.J. Cohen. Developmental Psychopathology. Theory and Methods New York: John Wiley & Sons, Inc

 

Aldwin, C.M & Revenson, T.A. (1987). Does Coping Help? A Reexamination of The Relation Between Coping and Mental Health. Journal of Personality and Social Psychology. 53 : 337-348.

 

Allan, J., Nairne, J., and Majeher, J. (1997). Violence and Violence Prevention: A review of the literature. APA Public Communication. Retrieved September 13, 2000, from the World Wide Web:http://www.fmhi.usf.edu/insitute/pubs/rudo-powel-violence.html

 

Allen, J. P., Hauster, S.T., Bell, K.L &O’Connor, T.G (1994) Longitudinal Assessment of autonomy and relatedness in adolescent-family interaction as predictor of adolescent ego development and self esteem. Child Development, 65, 179-195

 

Argiati, H.B. (2008). Studi Kasus Perilaku Bullying pada Remaja di Yogyakarta.

Penelitian. Tidak diterbitkan.

 

Armsden, G.C.,& Greenberg, M.T (1987). The inventory of parent and peer attachment:  Individual differences and their relationship to psychological well-being in adolescence. Journal of Youth and Adolescence, 16, 427-454.

 

Aronson, E. (1972) The Social Animal. San Fransisco, W. H. Freeman & Company.

 

APA Public Communications (1999). What makes kid care? Teaching gentleness in a violent world. Apa Home Page. Retrieved Augus 11, 2000, from the world wide web: http://www.apa.org/psyc. info)

 

Azra, A. (1999). Membangun kembali karakter bangsa: Peran dan tantangan Perguruan Tinggi. Makalah (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Panitya Seminar Humaniora Dies Natalis ke 50 Universitas Gadjag Mada

 

Bandura, B.R. (1977). Social Learning Theory. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentis Hall.Inc

 

Bandura, A. (1986). Social Foundation of Thought & Action. A Social Cognitive Theory. New Jersey: Practice-Hall

 

Berkowitz, L. (1993). Aggression: Its causes, consequences, and control. New York: McGraw-Hill.

 

Berkowitz L.M. (1995). Agresi: Sebab dan Akibatnya Penerjemah Susianti.  Jakarta: PT Pustaka Binaan.

 

Bernard, H.W and Huckins, W.C. (1978). Dynamic of Personal Adjusment. Third Edition. Boston: Holbrook Press Allyn and Bacon, Inc

 

Bjokqvist, K., Langerspets, M.J and Kaukainen. A. (1992). Do Girls Manipulate and

Boys Fight, Development Trend in Regard Direct and Indirect Aggression, Journal Aggressive Behavior, 18, 411-423

 

Bowlby, Y. (1988). A Secure Base: Parent Child and Healthy Human Development. New York: Basic Books. Inc

 

Bronstein, P., Duncan, P., Clauson, J. Abrams, C.L., Yannet, N., Ginsburg., Milnne, M. (1998). Preventing Midle Scholl Adjusment Problems for Children from Lower-Income Families: A Program for Aware Parenting. Journal of Applied Developmental Psychology, 19 (1), 129-152

 

Burke, R.J. (2000). Coping Styleshttp://www.ilo.org/encyclopedia. 25 Maret 2007.

 

Bushman, B.J., and Baumeister, RF. (1998). Threaned egoism, self esteem, and direct and displaced aggression: Does self love or self hate leat to violence? Journal of Personalility and Social Psychology, 75. 219-229

 

Buss, A and Perry, M. (1992). The Aggression Questionnaire, Journal of Personality Social Psychology, 63 No. 3. 452-459.

 

Bretherton, I. (1987). New Perplestinion Attachment Relation Securelly Lomnilation and Internal Working Models. New Yurti.

 

Bronstein, P, Duncan, P, Clauson, J: Abram, C.L, Yannet, N, Ginsburg, G. Milnne, M. (1998). Preventing Middle School Sdjusment Problems for Children from Lower-Income Families: A Program for Aware Parenting. Journal of Applied Developmental Psychology, 19 (1) 129-152.

 

Calhoun, J. F., and Acocella, J. R. (1990). Psychology of Adjusment and Human Relationship. New York: McGraw-Hill

 

Campos. J.J., Frankel, C.B., Camras, L. (2004). On the Nature of Emotion Regulation Child Development, 75 (2) 377-394 PFC

 

Carey, W.B. (1998). Temperament and Behavior Problems in The Classroom. School Psychologyst Review, 27(4) 522-533.

 

Carledge, G, & Millburn, J.f. (1995). Teaching Social Skills to Children and Youth Inovative Approaches. Boston, Allyn and Bacon

 

Carver, C. S. & Cheieier, M. F. et al. (1989). Assesing Coping Strategies : A Theoritically based Approach. Journal of Personality and Social Psychology. New York: Pergamon 56, 267-283.

 

Clarke, A., Koch, B, (1983). Children Development Through Adolescence,

Chicago: John Welley & Sons

 

Cohen, S & Wills, TA., (1985). Stress, Social Support and Buffering Hypothesis. Psychological Bulletin, 98, 310-357.

 

Cohen, D. (1998). Culture, Social Organization and Patterns of Violence. Journal of Personality and Social Psychology, 75, 408-419

 

Collins, N.L & Read, Read, S.J., (1991). Adult Attacemant, Working Models, and Relationship Quality in Dating Couples. Journal of Personality and Social psychology, 58 (674-663)

 

Compas, B.E. (1987). Coping With Stress During Childhood and Adolescence. Psychology Bulletin. Vol. 101. No.3, 393-403

 

Conger, R.D., Rueter, M.A & Elder, G.H. (1999). Coupel Resilience to Economic Pressure. Jiurnal of Personality and Social Psychology, 76 (1), 54-71

 

Coopersmith, S. (1967). The Antecendent of Self Esteem. San Fransisco. W.H. Freeman and Company

 

Craig, G.J. (1980). Human Development. Englewood Cliffs, New Jersey: Prectice-Hall, Inc

 

Crocker, J, A. (1993). Memory for Information About Others, Effect of Self Esteem and Performance Feedback, Journal of Research in Personality, 27, 35-48

 

Damanhuri, S. (2000). 1 Maret. Pelajar SMU berbekal Bom Molotov. Jakarta: Republika, 19

Darling, N. (1998). Parenting Style and its Correlates. APA Parent New for July-August 1999. Retrieved October 14, 2000, from world wide: http://www.athealth.com/practioner/ceduc/parentingstyles.html.

 

Daradjat, Z. (1996). Peranan Agama dalam Kesehatan Mental. Jakarta: Gunung Agung

 

Davis, R., Currier & Filley, A. (1977). Principles of Management. New York: Alexander Halimton Insitute Baumrind (1971) Baumrind, D. 1971. Current Pattern of Parental Authority. Developmental Psychology.4(1)2:19-103

 

Ebata, A.T., Moos, R.H, (1991). Coping and Adjusment in Distressed and Healthy Adolescents. Journal of Applied Developmental Psychology, 12, 33-54

 

Edleso, J.L. (2001). Problrms Assosciatied wth childrens witnessing of domestik violence. Paper, Menneapolis: National Resource Center on Domestic Violence.

 

Eisenberg, N and Strayer, N. (1987). The Roots of Prosocial Behavior Children, New York Cmabridge University Press.

 

Eisenberg, N and Fabes, R.A. (1992). Emotion, Regulation and Development of Social Competence. In Clark, M.S. Emotion and Social Behavior. Sage Publication, Newbury

 

Eisenberg, N., Fabes, R.A., Shepard, S.A., Guthrie, I.K., Murphy, B.C., and Reiser, M. (1999). Parental Reaction to Childrens Negative Emotions: Longitudinal Ralitions to Quality of Childrens Social Functioning. Developmental Psychology, 32 (2), 195-209

 

Elias, M. J., Tobias, S.E., Friedlander, B. S. (1999). Emotionally Intelligent Parenting: How to Raise Self-Discipline, Responsible, Socially Skilled Child. New York: Harmony Books

 

Elliot, S.N., Kratochwill, T.R., Littlefield, J., and Traves, J.F. (1999). Educational Psychology. Madison: Brown & Benchmark Publisher,

 

Erikson, E.H. (1968). Identity: Youth and Crisis: New York: W.W. Norton & Company. Inc

 

Feist, J and  Feist, G.J. (2002). Theories of Personality. Fifth Edition. McGraw-Hill, Boston.

 

Fenney, J.A   & Noller, P. (1990). Attacment Style as a Predictor of Adult Romantic Relationship. Journal of Personality and Social Psychology. 58 (281-291)

 

 

Finkenauer, C., Engels, R.C.M.E., and Baumeister, R.F. (2005). Parenting Behavior and Adolescent Behavioral and Emotional Problems: The Role of Self Control. International Journal of Behavioral Development, 29 (1) 58-69

 

Folwer.J. (1981). Satge of Fith: The Psychology of Human Developmen and teh Ques for Meaning. New York: Helper&Row Publisher.

 

Folkman, S. & Lazarus, R. (1986). Appraisal, Coping, Health Status and Psychological Symstoms. Journal of Personality and Social Psychology. Vol 50,3, 571-579.

 

Funder, D. C., Sneed, C. D. (1993).  Behavioral Manifestatation of Personality. An Ecological Approach to Judgmental Accuracy. Journal of Personalty and Social Psychology 64,(3), 479-490

 

Fuligni, A.J., Eccles., J.S., Baeber, B.L., and Clement, P. (2001). Early Adolescence Peer Orientation and Adjusment During High Schools. Development Psychology. 37 (1) 28-36

 

Garbarino, J. (1992). Children and Families in the Social Environment. New York: Aldine De Gruyter

 

Garbarino, J.,& Benn, J.L. (1992). The Ecology of Child Baring and Child Rearing In

 

Garbarino, J.(Eds). Children and Families in the Social Enveronment, 2nd Edition. Pp. 133-178. New York: Adline de Gruyter

 

Garnier, H.E., & Stein, J.A. (2002). An 18 Year Model of Family and Peer Effect on Adolescent Drug Use and Delinquency. Journal of Youth and Adolescence. 31(1): 45-56. Retrieved May, 22, 2002. From the World Web:http://proquest.umi.com/pqweb?Did=000000110369427&Fmt=4&Deli=1&Mtd=1&1dx=22&sid=1&RTO=309&L=1

 

Gerungan, W. A. (2000). Psikologi Sosial. Bandung: Eresco

Ginsburg, G.S., La Greca, A.M., Silverman, W.K. (1998). Social Anxiety in Children with Anxiety Disorders: Relation With Social and Emotional Functioning. Journal of Abnormal Child Psychology, 26 (3) 175-185

 

Greenberg, L.S. (2004). Emotional Focoused Therapy. Coaching Client to Work Thouggh Their Feelings. American Psychological Association, Wasington. D.C.

 

Gottman, J. & Declaire, (1977). Kiat-Kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional. Penterjemah Widodo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

 

Golldstein, S.E. (1995). Understanding and Managing Childrens Classroom Behavior. John Wiley & Sons, Inc, New York

 

Grolnick, W.S., Ryan, R.M. and Deci, E.L. (1991). Inner Resources for School Achievement: Motivational Mediators of Children’s Preception of Their Parent. Journal of Educational Psychology, 83(4), 508-517

 

Grusec, J.E. (1997). A history of reasearch on parenting strategies and childrens internalization of values. In J.E. Grusec and L. Kuczynski (Eds). Parenting and childrens internalization of value (pp.3-22). New York: John Wiley&Sons.

 

Hammer, T.J.,& Turner, P.H. 1996. Parenting in Contemporary Society. Third Edition. Boston: Allyn & Bacon

 

Hallahan, D.P and Kauffman, J.M. (1994). Exceptional Children. Introduction to Special Education. Allyn Bacon, Boston

 

Hall, C.S dan Lindzey, G. (1993). Teori-teori Psikodinamik, Yogyakarta: Kanisius

 

Harold Sadock. K. (1997). Sinopsis Psikiatri, Jakarta: Binarupa Aksara.

 

Hart, K.J and Morgan, J.R. (1993). Cognitive Behavior Procedures With Children.

Historical Context and Current Status. In Finch, J.R, A.J: Nelson III, W.M, Ott, E.S. Cognitive Behavioral Procedures With Children. A Practical Guide, Boston: Allyn and Bacon

 

Hartub Craig, G.J. (1980). Human Development. Englewood. Clifft, New Jersey: Prentice-Hall. Inc.

 

Hawari, D. (1999).  Al-Qur’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, Yogyakarta: Dana Bhakti Yasa.

 

Heartherton,T.F & Vohs, K.D. (2000). Interpersonal Evaluations Following Threats to Self: Role of Self Esteem. Journal of Personality and Social Psychology, 78 (4), 725-736

 

Herbert, M. (2006). Clinical and Adolescent Psychology. From Theory to Practice. Third Editio. Chichester: John Wiley & Sons Ltd

 

Hetherington, E.M and Parke,R.D. (1999). Child Psychology. A Contemporary Viewpoint. Fift Edition,. Revised by R.D. Parke&V.O. Lock. McGraw-Hill College, Boston

 

Hedwig, T. (2000). Assessment of temperament. APA ERIC Clearinghouse on Counseling andStudent Service Greesboro NC. Retrieved. September 13, 2000, from the world wide web:http//www.Siu.edu/dep/coe/comdis/txt

 

Hjelle, L.A. and Ziegler,D.J. 1992. Personality Theories. Basic Assumptions, Research andApplications. Third Edition. McGraw-Hill International Book Company. Inc., New                                  York.

 

Holahan, C.J& Moos, R.H. (1991). Life Stressor, Personal andSocial Resources and Depression: Four Years Structural Model. Journal of Abnormal Psychology. No 100, 31- 38

 

Holahan, C.J., Valentiner, D., Moos., RH., (1995). Parental Support, Coping Strategies, and Psychological Adjusment: An Integrative Model With Late Adolescents. Journal of Youth and Adolescence, Vol. 24, No. 72,918-928

 

Houser, S.T., Powers, S.I., Noam, G.G., & Jacobson, A.M. (1984). Familial Contexts of Adolescent Ego Development. Child Development, 55, 195-213

 

Huesmann, L., Rowell., Lagerspetz, K. & Eron, Leonard D. (1984). Intervening In The Violence-Aggression Relation: Evidence From Two Countries. Developmental Psychology. Vol.20, N0.5 (746-775)

 

Hurlock, E. B. (1978). Child Development. New York: McGraw-Hill Inc

Josselon, R. (1994). The theory of identity Development and Question of Intervention: An Introduction In Archer S.L (Ed). Intervention for Adolescent Identity Development. Thousand Oak, California: Sage Publiscation.

 

Kail, R.V and Wicks-Nelson, R. (1993). Developmental Psychology. Fift Edition. Prentice Hall, New Jersey

 

Kagitcibasi, C. 1996. Family and Human Development a Cross Cultures: View From the other side. New Jersey: Lawrence Erlbum Associatiet Publisher.

 

Kendall, P.C. (1991). Guiding Theory for Therapy With Children and Adolescencet. In Kendall, P.C. Child and Adolescencet Therapy. Cognitive-Behavioral Procedures, New York: The Guilford Press

 

Kerns, K.A., Klepac, L., and Cole, A. (1996). Peer Relationship and Preadolescens Perceptions of Security in the Child-Mother Relationship. Developmental Psychology. 32 (3), 457-466.

 

Kirby, P. (2006). Vulnerability and Violence, the impact of Globalization. London: Pluto Press.

 

Kobak, R.R & Hazan, C. (1991). Attachmant in Marriage: Effect of Security and Accuracy of Working Models. Journal of Personality and Social Psychology. 60 (861-869)

 

Kobasa, S.C. (1979). Stressful Life Event, Personality and Health: An Inquiry into Hardiness. Journal of Personality and Social Psychology. 37. 1, 1-11.

 

Kochanska, G. (1992). Childrens Innterpersonal Influence With Mother and Peers. Developmental Psychology. 28 (3) 491-499

 

Kovacs, M., & Devlin, B. (1998). Internalizing Disorders in Chilhood. Journal Child Psychology and Psychiatry and Allied Dicipline. 39(1), 47-63

 

Kurtines, W.M., dan Gewirtz, J.L. (1984). Morality, Moral Behavior and Moral Development. New York: A Weley-Inter Science Publication, Jhon Wiley & Sons.

 

Laakso, M.L. (1995). Mothers and Fathres Communication Clarity and Teaching Strategies With their School-Aged Children. Journal of Applied Developmenta Psychology, 16, 445-461

 

L Abate, L. (Eds). Handbook of Developmental Family Psychology and Psychopathology. New York: John Wiley & Sons. Inc

 

Larso, R.W. (2000). Toward a Psychology of Positive Youth Development. American Psychologist, 55(1) 170-183.

 

Lazarus (1976) Lazarus, R.S; Folkman, S. 1976. Patterns of Adjusment and Human Effectiveness. Tokyo: Mc Graw-Hill.

 

Lazarus, R.S & Folkman, S. (1984). Stress Appraisal, and Coping. New York: Springer

 

Leary, M.R, Tambor, E.S, Terdal, S.K andDowns.O.L. (1995). Self Esteem as An Interpersonal Monitor: The Sociometer Hypothesis. Journal of Personality and Social Psychology. 68 (3) 518-530.

 

Lin, N., Dean, A&Ensel, W. (1986). Social Support, Life Event and Depression. New York. Academic Pressi Inc

 

Lucia, R.S.C, Gesten, E, Rendina_Gobioff, G, Epstein, M, Kaufmann, D, Salcedo, O, and Gadd, R. (2000). Children School Adjusment: A Developmental Transactional Systems Perspective. Journal of Applied Developmental Psychology, 21 (4) 429-446.

 

Lindgren (1969). Psychology of Personal  Development. New York: Van Nostrand Reinholt Company

 

Lucia, R.C.S., Gesten, E., Rendina-Gabioff, G., Epstein, M., Kaufmann, D., Salcedo, O., and Gadd, R. (2000). Childrens School Adjusment: A Developmental Transactional Systems Perpsective Factors. International Journal of Behavior Development, 17(4) 753-777

 

Ma, K.H., H., Shek, D.T., Cheung, P.C., Lee, R. Y. P. (1996). The Relation of Prosocial and Antisocial Behavior to Personality and Peer Relationship of Hongkong Chinese Adolesence. The Journal of Genetic Psychology, 157(3), pp 255-266

 

Martin, R., and Watson, D. (1997). Style of anger expression and its relation to daily experience. Personality and Socila Psychology, 23, 285-294

 

Mc. Gregor & Rubio, (1994). Rejoinder to the Theory of Structural Violence, Japan. The United Nations University Press Sears (1988) Sears. D., Peplan, L. A., Freeman, J. L., Taylor & Shelley, E.1988. Social Psychology Englewood Cliffs:  Prentice Hall, Inc.

Mertodipuro, S. (1978). Keberanian Hiasan Pribadi. Jakarta: Gunung Jati

Monks, F.J., Knoers, A.M.P & Haditono, S.R. (1999). Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

 

Mouly, G.J. (1968). Psychology Effective Teaching. New York: Hall Rinehart and Winston

 

Mu’arifah, A. (2005) Perbedaan Agresivitas antara remaja di sekolah negeri dan swasta. Hasil Penelitian (tidak diterbitkan).

 

Mu’arifah, A. (2008) Hubungan antara harga diri, strategi coping dengan agresivitas pada remaja se kota Yogyakarta. Hasil Penelitian (tidak diterbitkan)

 

Mussen, P.H., Conger. J.J & Kagan, J. (1984). Child Development and Personality. New York: Helper & Row Publishers. Inc. Fuligni, dkk (2001).

 

Myne, T.J Bonanno, G.A. (2001). Emotion, New York: The Gilford Press

 

Nancy, D. (1999). Parenting Style and Its Correlates. Retrieved February, 8. 2003. From the World Wide Web:http://www.ericfacility.net/ericdigests/ed427896.html

 

Pakaslahti, L., Asplund-Peltola, Rita-Liisa., and Keltikangas, L. (1996). Parents Social Problem-Solving Strategies in families with Aggressive and Non Aggressive Boys. Aggressive Behavior, 22, 345-356

 

Papini, D.R. (1994). Family Intervention. In Archer S.L (Eds). Interventions for Adolescent Identity Development. Pp 47-61. Thousand Oaks, California: Sage Publications.

 

Patterson, G.R and Stouthamer-Loeber, M. (1984). The correlation of family management practice and delinquency. Journal of Child Development, 55, 1299-1307.

 

Patterson, G. R. (1997). Performance Models for Parenting: A social interactional perspectice. In J.E. Grusec and L. Kuczynski (Eds) Parenting and Childrens Internalization of Value (pp. 193-226) New York; John Wiley&Sons

 

Patterson, G.R. (1982). Coersive Family Process. Eugene, Oregon: castalia Publishing Company.

 

Patton, J.R., Blackbourn, J.M., fad, K.S. 1996. Exceptional Individuals in Focus. Sixth Edition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc

 

Pervin, L.A and John, O.P. (2001). Personality Theory and Research. Eight Edition. New York: John Wiley & Sons. Inc

 

Pinkunas, J. (1976). Human Development: An Emergent Science. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha.

 

Pettit, G.S., Bates, J.E., and Dodge, K.A. (1997). Supportive Parenting, Ecological Context and Childrens Adjusment: a Seven Year Longitudinal Study. Child Development, 68 (5) 908-923

 

Planlp, S. (1999). Communicating Emotion, sosial, Moral and Culture Processes. Paris: Cambridge University Press.

 

Rahayu, Y. P, (1998). Agresivitas: Kajian Genetika dan Lingkungan. Journal Anima. Th XIII- 52, 334-343

 

Rimm, S. 1998. Smart Parenting. How to Riase a Happy, Achieving Child, Alih Bahasa: mangunhardjana, A. Mendidik dengan Bijak. Jakarta: Grasindo

 

Russel, A and Russel, G. (1996). Positive Parenting and Boys and Girls Misbehavior During a Home Observation. International Journal of Behavoral Development, 19 (2) 291-307

 

Ronen, T. (1997). Cognitive Developmental Therapy With Children. New York: John Wiley & Sons.

 

Ryan, R.M & Lynch, J.H (1989) Emotional autonomy versus detachment: revisting the viciccitudes of adolescence and young adulthood. Child development, 60, 340-356

 

Santrock, J.W. (2002) Live Span Development (Alih Bahasa  Damanik, dkk): Jakarta. Erlangga

 

Sarafino, P. E. (1997). Health Psychology; 3rd Edition. New York: John Willey and Sons.

 

Sarason, I & Sarason, B.R. (1990). Social Support. The Search of Theory. Journal of Social Clinical Psychology, 9, 133-147

 

Sarwono, S. W. (2000). Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: PT Raja Garfindo Persada

Schuster, C.S., Ashburn, S.S., (1980). The Process of Human Development: A Hollistic Approach. Boston: Little, Brown and Company.

 

Schneiders, A.A. 1964. Personal Adjusment and Mental Health. New York: Holt Rinehart and Windston

 

Simpson. J.A., (1990). Influence of  Attacement Style on Romantic Relationship. Journal of Personality and Social Psychology. 59 (971-980)

 

Schuster, C.S.,  Ashburn, S.S. (1980). The pocess of Human Development: A Hollistic Approach. Boston: Little, Brown and Company.

 

Small, M.Y. (1990). Cognitive Development. San Diego: Harcout Brace Jovanovich Publishers

 

Stewart, A.C., Pelmutter, M., Friedman, S. (1988). Lifelong Human Development. New York: John Wiley&Sons.

 

Sugiarto, (1998), Solo Pos. Kultur Kekerasan dan Pluralisme Sosial

 

Sujanto, A. (1995). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Bumi Aksara

Sukanto, S. (2002). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Supratiknya., Faturrachman., Haryanto, S  (2000). Peran Psikologi di Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Pembina Fakultas Psikologi UGM

 

Stewart, A.C., Perlmutter, M., Fredman, S. (1988). Lifelong Himan Development. New York: John Wiley&Sons

 

Taylor,S. (1998) Coping Strategies.http://www.macses.ucsf.edu/Research/Psychosocial/notebook/coping.html. 25 Maret 2007. Taylor, S.E. 1995. Health Psychology ; 3rd Edition. New York: Mc. Graw- Hill Inc.

 

Taylor, S.E. (1995). Health Psychology ; 3rd Edition. New York: Mc. Graw- Hill Inc.

 

Tilaar, H.A.R. (1999). Pendidikan, kebudayaan dan masyarakat madani Indonesia. Strategi Reformasi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Timomor, A. (1998). Kecenderungan Otoriter Pola Asuh Orangtua, Konflik Keluarga dengan Agresivitas Remaja. Tesis. Yogyakarta: Pascasarjana. Universitas Gadjah Mada

 

Thoits, P. A. (1983). Dimensions of life event that influence psychologicsl dissterss: An evaluation and synthesis of the literatute. In H.B. Kaplan (Ed), Psychosocial Stress: Trends in theory and research. New York: Academic. 33-103

 

Tittley, M., 2001. Youth Culture and the Commitment Level Model. Retrieved November 10, 2001. From the World Wide Web: http://www.youth.co./za/model/ycultures/htm.

 

Trickett, P.K., & Susman, E.J. (1988). Parental Perceptions of Child Rearing Practices in Physicallly Abusive and non abusive Families. Developmental Psychology. 24 (2) 270-276

 

Truscott, D. (1992). Intergeneration transmission of violence behavior in adolescent males. Aggressive Behavior, 18, 327-335

 

Toplin, R. (1994). Violence and culture in the United States. In K. Rupeshinghe and M Rubio (Eds) The culture of violence (pp. 237-256). New York: United Nations. Triandis, H.C. (1994). Culture and Social Behavior. New York: McGraw-Hill.

 

Walgito, B. (1978). Psikologi Sosial. Jakarta: Andi  Offset

 

Walgito, B. (1992). Hubungan Antara Persepsi Mengenai Sikap Orangtua dengan Harga Diri para siswa Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas di Propinsi Jawa Tengah. Desertasi. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

 

Walgito. B. (2001). Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Yogyakarta: Andi Offset

Waterman, A.S.(1993). Development Perspective On Identity Formation: From Adolescence to Adulthood. In Marcia. J.E., Waterman, A.S., Matterson, D. R., Archer, S. L., Orlofsky, J. L. (1993). Ego Identity: A Handbook for Psychosocila Research. Pp 42-68. New York: Springer-Verlag

 

Wimbarti, S. (1997). Childrens-rearing practices and temperament of children: are they really determinants of childrens aggression? Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 2, 5-18

 

Winfree, L., and Frances, P. (1998). Social Learning, Self–control and substance abuse by eight grade students: A tale of two cities. Journal of Drug Issues, 28, 539-558,

 

Wolker, C. E & Roberts, M. C. (1992). Hand book of clinical child psychology. Singapore: John Willey & Sons.

 

Yusuf, M., Widyastono, H. dan Harianti, D. (1997). Mengidentifikasi Siwa Berkesulitan Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

Stress diartikan sebagai suatu kondisi menetap yang terjadi ketika orang dihadapkan pada permintaan dari lingkungan yang menghendaki untuk berubah dengan berbagai cara (Veitch & Arkkelin, 1995. Selanjutnya Mondy & Noe (1996) mengatakan bahwa stress sebagai reaksi non spesifik dari tubuh terhadap berbagai permintaan, mempengaruhi orang dengan berbagai cara dan sangat individual kondisinya. Sedangkan Davis (1981) mengatakan bahwa stress sebagai ketegangan mental yang mengganggu kondisi emosional, proses berfikir, dan kondisifisik seseorang. Tidak setiap stess selalu mengganggu kondisi seseorang. Dalam kondisi yang wajar setress justru dapat memunculkan produktivitas, bahkan mungkin mampu mendorong timbulnya ide-ide kreatif. Carell dkk (1997). Carell dkk (1997) menyebutkan jenis stress yang positif atau normal ini dengan eustress, sedangkan stress yang berakibat negatif yang biasanya karena problem yang berkepanjangan yang tidak dapat diatasi inividu dinamakan distress. Stress jenis ini menimbulkan dampak negatif sehingga mendatangkan penderiataan, meperburuk kinerja, atau bahkansampaimenyerang fisik, yaitu menurunnya kesehatan dan timbulnya berbagai penyakit seperti, jantung, stroke, kanker, tekanan darah tinggi dan sebagainya. distress yang berkepanjangan dapat menimbulkan kelainan yang dinamakan burnout. Burnout adalah kelelahan fisik, mental emosional yang terjadi karena stress yang dialami dalam jangka waktu yang panjang dalam situasi yang menuntut ketertiban emosional tinggi, ditambah dengan tingginya standar keberhasilan pribadi (Leatz & Stolar, dalam Fahmi dan Rosyid, 1996). Gangguan ini memiliki gejala fisik, emosional dan perilaku (Stallworth, dalam Carell dkk, 1997). Gejala fisik yang timbul misalnya sakit kepala, gangguan perut, gejala depresi dan infeksi. Gejala emosional misalnya sedih, bosan dan malas berbicara, sinis, apatis, cemas, ekspresi frustrasi dan tanpa harapan. Sedangkan gejala perlakuan meliputi menurunnya produktivitas kerja sering bosan, menarik diri dari lingkungan, sering,  bolos,  bekerja yang berlebihan (tidak sehat), merokok berlebihan dan bahkan bisa mengarah pada pemakaian obat terlarang (drug dependence). Reaksi pertama dari stress adalah kecemasan, yang kemudian diikuti oleh perlawanan, pengerahan kimia dari pertahanan badan. Jika hal ini berkepanjangan maka akan kehabisan energi meskipun tiap orang memilikin perlawanan yang berbeda terhadap stress, namun sekali mengadakan adaptasi, maka energi habis terkuras dan tidak ada jalan untuk mengembalikannya (Selye dalam Quade dan Aikman, 1987) sehingga mengakibatkan sistim pertahanan berkurang, atau sering dinamakan sindrom adaptasi (adaptation syndrome). Adapun proses terjadinya stress adalah:

 

Reaksi

Individu

Stressor

S

 

Reaksi stress yang paling umum adalah reaksi kelenjar endrokrin terutama anak ginjal yang menghasilkan hormon cortison dan cortisol yang memiliki fungsi merangsang raeksi badaniah yang protektif. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi munculnya stress, antara lain adalah Mondy & Noe (1996): Keluarga, masalah keuangan, kondisi kehidupan, budaya perusahaan, konflik peran  dan menurut  Friedman dan Rosenman (dalam Quade dan Aikman, 1987) type kepribadian seseorang juga menimbulkan perbedaan tingkat kecemasannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About solomoncell

Nama : Fajar Miftahur Rohman Tempat dan Tanggal Lahir : Ngawi, 29 Mei 1990 Riwayat Sekolah: TK: Nawa Kartika NGAWI MI: MI AL-FALAH SMP: AL-IRSYAD SMA: AL-IRSYAD PERGURUAN TINGGI: UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Alamat Email: Miftah_fajar@yahoo.com Facebook: Fajar Miftahur Rohman Twitter: @solomoncell

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s