Peer Counseling

Standar

 

TUGAS MAKALAH TEKNIK BIMBINGAN

 

“ PEER COUNSELING “

 

 

 

 

Di susun oleh  :

 

1.Nova Irawan                                      (09001005)

2.Muh Rosyid Ridho A                         (09001006)

Kelas : BK (A)

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA

2010

KATA PENGANTAR

 

Bismillahiirohmanirrohim

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT,yang telah melimpahkan berkat dan rahmat nya serta petunjuk nya sehingga dapat terselesaikanya tugas makalah Teknik bimbingan dengan judul “ peer counseling “ (bimbingan antar teman sebaya/rekan)

 

Penyusunan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas kelompok teknik bimbingan yang di ampu oleh

Dody Hartanto  selaku dosen pembimbing , jurusan bimbingan & konseling fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Ahmad Dahlan

 

Semoga amal baik yang telah di berikan kepada kami mendapat imbalan karunia yang sepadan dari Allah SWT . segalanya yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna,begitu juga makalah ini,oleh karena itu saran dan tegur sapa dari pembaca sangat kami harapkan.

 

Akhirnya semoga karya kecil ini ada manfaat nya bagi pecinta ilmu pengetahuan. Amin

 

Yogyakata, Maret 2010

 

 

 

Penyusun

                   Daftar isi

Pendahuluan

  1. Latar belakang masalah……………………………………………………..1
  2. Rumusan masalah……………………………………………………………..4
  3. Tujuan penulisan………………………………………………………………4

 

Pembahasan

  1. Kajian teoritis

1.       Pengertian dari Peer Counseling ………………………………5

  1.                                                 2.       Mengapa Harus Pembimbing Sebaya………………………..6

3.         Peran dan fungsi dari Peer Counseling………………………7

4.       Kriteria untuk dapat memenuhi sebagai pembimbing sebaya ………………………………………………………8  

5.         Cara Menjadi Pembimbing Sebaya…………………………………8

6.       Hasil temuan…………………………………………………………..9

`                  A.       Dasar-dasar Keterampilan Komunikasi

yang Perlu dilatihkan pada ”Peer Counselor”…………….9

B.        Hasil-hasil Riset tentang efektivitas

Peer Counseling…………………………………………………….10

 

Penutup

                        Kesimpulan…………………………………………………………………….11

                        Daftar pustaka…………………………………………………………………12

                   “peer counseling”

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah

 

Penyelenggaraan Bimbingan Konseling di sekolah bertujuan agar siswa dapat menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan :
1. Menemukan pribadi, maksudnya adalah agar siswa mengenal kekuatan dan kelemahan diri sendiri serta menerima secara positif dan dinamis sebagai modal pengembangan lebihlanjut
2. Mengenal lingkungan, maksudnya adalah agar siswa mengenal secara obyektif lingkungan sosial dan ekonomi lingkungan budaya dengan nilai-nilai dan norma, maupun lingkungan fisik dan menerima semua kondisi lingkungan itu (lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat) secara positif dan dinamis pula.
3. Merencanakan masa depan, maksudnya adalah agar siswa mampu mempertimbangkan dan mengambil keputusan tentang masa depannya sendiri, baik yang menyangkut pendidikan, karir dan keluarga.

Read the rest of this entry

Iklan

Modul Kesehatan Mental

Standar

 

 

 

 

 

Dra. Alif Mu’arifah, S.Psi, M.Si

 

 


 

  1. PETUNJUK MEMPELAJARI MODUL

Kesehatan mental merupakan suatu disiplin ilmu yang tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan berbagai disiplin ilmu lain. Berbagai disiplin ilmu yang dapat dikaitkanh dengan kesehatan mental antara lain adalah ilmu psikologi, biologi, sosiologi, antropologi, ilmu pendidikan, ilmu filsafat, dan ilmu agama.

Modul ini berisi materi singkat perkuliahan kesehatan mental yang dapat dipakai mahasiswa sebagai bahan bacaan untuk menambah wawasan keilmuan yang terkait dengan kesehatan mental. Apa yang dipaparkan dalam modul ini tidak menjelaskan  secara detail isi materi perkuliahan, melainkan garis besar dan beberapa penjelasan singkat yang dapat dipakai sebagai gambaran sederhana yang pengembangannya dapat dilakukan dengan mencari berbagai sumber lain yang relevan. Melakukan diskusi, study kasus, membaca literatur yang terkait, menganalisis journal serta mengadakan penelitian.

Modul kesehatan mental ini merupakan salah satu buku pedoman serta dapat dipakai sebagai pegangan dalam belajar. Sehingga jika mahasiswa ingin megetahui lebih mendalam maka perlu mendengarkan perkuliahan dengan seksama, mempelajari berbagai bidang ilmu yang terkait dengan kesehatan mental, mengerjakan tugas yang dianjurkan oleh dosen serta hal lain yang mendukung kemajuan belajar.

Modul ini ditulis dengan sangat sederhana, masih banyak kekurangan disana-sini. Berbagai masukan  positif yang dapat meningkatkan kualitas sangat diharapkan.

 

  1. TUJUAN MEMPELAJARI MODUL

Setelah membaca dan memahami modul ini, diharapkan mahasiswa memiliki pengetahuan yang terkait dengan kesehatan mental, memahami berbagai permasalahan dalam kesehatan mental serta dapat menerapkan dalam kehidupannya sebagai langkah preventive  sehingga terhindar dari berbagai gangguan yang terkait dengan kesehatan mental.

  1. INDIKATOR KOMPETENSI

Setelah mempelajari modul kesehatan mental ini diharapkan mahasiswa memiliki wawasan yang luas, pengetahuan yang mendalam, memiliki ketrampilan dalam mengatur diri sehingga secara preventive mampu melakukan pencegahan agar tidak muncul gangguan atau penyakit mental

Read the rest of this entry

kesehatan Mental

Standar

KESEHATAN MENTAL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan :

n  Paham tentang sejarah dan konsep dasar tentang ilmu kesehatan mental

n  Paham tentang konsep teoritik tentang kesehatan mental dari berbagai pendekatan

n  Paham tentang konsep abnormalitas dari berbagai perspektif

n  Paham dinamika kepribadian dalam pembentukan perilaku coping.

n  Paham tentang ruang lingkup bahasan dan intervensinya.

n  Kriteria yg dipakai sbg pedoman kesehatan mental

 

Silabus:

 

n  Pengertian, konsep dan ruang lingkup KM

n  Sejarah perkembangan

n  Pandangan teoretis KM

n  Hal-hal yang mempengaruhi kesehatan mental

n  Ciri-ciri individu yang sehat mental

n  Macam-macam gangguan kesehatan mental.

n  Penyesuaian pribadi dan problem solving

n  Islam dan kesehatan mental

n  Beberapa model penanganan kesmen.

 

 
Referensi:

n  Calhoun, J.F & Acocella, J.R. (1990), Psychology of Adjustmen and Human Relationship (3rd ed), Mc-Graw-Hill Publishing Co, NY.

n  Herrman, H., et al. (2005) , Promoting Mental Health: Concepts, Emerging Evidence,  Practice,   A Report of the WHO, Geneve

n  Kartono, Kartini (2000), Hygiene Mental, Penerbit Mandar Maju, Bandung

n  Korchin, S, (1976), Modern Clinical Psychology: Principles of Intervention in The Clinic and Community, Basic Books, Inc.,  New York

n  Lazarus, R.S. (1976),  Patterns of Adjustment (3rd ed), Mc-Graw-Hill Kogakusha, LTD, Tokyo.

n  Schultz, D. (1991), Psikologi Pertumbuhan: Model-model Kepribadian Sehat, Penerbit Kanisius.

n  Semiun, Y., (2006), Kesehatan Mental jilid 1& 2, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

n  Bastaman, H.D. (2003), Buku Kenangan Kongres 1 Asosiasi Psikologi Islami. UMS, Surakarta

Kontrak belajar

n  Kuliah dimulai pukul..

n  Toleransi keterlambatan 15 menit?

n  HP off/silent

n  Komunikadsi non-violence

Penilaian:

10 % Presensi & aktivitas à home assignment

30 % ujian mid semester

35 % ujian akhir semester

25 % tugas /kuis

Bentuk tugas :

1. Tugas kelompok dipresentasikan di kelas :

a. Kelompok terdiri dari 7 orang.

b. Tiap kelompok menentukan objek  perilaku yg akan          diamati/topik   Topik à konsep teoritikà aspek à gejala          perilaku amatan (indikator)

Guide interview & observasi disusun berdasarkan indikator tsb.

c. Tiap anggota kelompok menentukan setting/ siapa yang    akan diamati/diwawancara

d. Tiap kelompok membuat ringkasan hasil situsi lapangan para anggotanya dan mempresentasikan di kelas.

2. Tugas individual: hasil studi lapangan disusun dalam bentuk laporan yg harus dikempulkan bersamaan dengan ujian akhir semester.

Syarat tugas : semua konsep, aspek & indikator perilaku yang diamati ditentukan berdasarkan buku acuan (bebas: misalnya DSM IV, PPDGJ, buku teks lain), dan didukung oleh satu jurnal dengan topik yang sama.

Pertemuan 1 : Pengantar, kontrak belajar Pengertian, konsep dan ruang lingkup KM

Tujuan

Mahasiswa paham tentang

Sejarah Gerakan Kesehatan Mental

Batasan Ilmu Kesehatan Mental

Ruang lingkup Kesehatan Mental

 

 

 

 

 

 

 

Sejarah: Pandangan tentang ‘mental illness (ikhtisar)

  1. Gangguan setan. Pada awalnya gangguan mental dianggap berasal dari kerasukan setan à pendekatan supra-natural
  2. Medical model/somatogenesis : dianggap sebagai gangguan fisik yang berasal dari faktor biologis atau medis. Pandangan ini masih banyak diyakini hingga sekarang dan dalam kasus tertentu memang valid. à mengawali perlakuan yang lebih manusiawi untuk penyandang gangguan mental.
  3. Psychogenesis: gangguan mental disebabkan faktor psikologis.

a. Perspektif Psikodinamik – cara pandang menurut aliran Freudian bahwa gangguan mental berpangkal dari dorongan atau impuls-impuls yang tidak disadari. Gejala tdk ditunjukkan secara detail dalam bentuk gangguan yg spesifik, namun dipandang sbg refleksi konflik yang melatarbelakanginya atau reaksi mal-adaptif thd masalah dlm hidup, atau berdasarkan perbedaan antara  neurosis and psychosis (secdra garis besar , anxiety/depression merupakan gangguan yg masih berkaitan dengan realitas, sedangkan  halusinasi/delusi tidak berhubungan dengan realitas).

b. Behavioral Perspective – perilku abnormal merupakan hasil belajar sebagaimana perilaku normal. Individu merupakan produk dari lingkungan. Melalui modeling dan berbagai faktor sosial budaya maka individu belajar untuk berperilaku dengan cara yang tidak adaptif

c. Mental hygiene and child guidance movement  dan interdisiplinary approach à Meyer , Healy and Fernald à mengembangkan peran Pekerja sosial psikiatrik à mendorong pemeliharan kesmen bersama-sama utk penyembuhan penyakit mental.

Misal: Depresi à konflik psikologis (Freud), diintegrasikan dengan pendekatan edukasi, medis dan religius, dsb.  à biopsikososial

Model holistik: konsep kesehatan mental dibangun berdasarkan integrasi dari berbagai aspek pengetahuan : antropologi, sosiologi, pendidikan, psikologi, agama, kedokteran,

 

 

 

 

 

 

Pengertian

n  Berasal dari istilah àMental hygiene Ilmu kesehatan mental : ilmu yg memperhatikan  perawatan mental/jiwa à objek kajian à kondisi mental manusia dengan memandang manusia sbg totalitas psikofisik yg kompleks.

n  Schneiders: ilmu kesehatan mental adalahà ilmu yg mengembangkan & menerapkan seperangkat prinsip yg praktis dan bertujuan utk mencapai & memelihara kesejahteraan psikologis organisme manusia dan mencegah gangguan mental serta ketidakmampuan penyesuaian diri.

n  Klein: ilmu yg bertujuan untuk mencegah penyakit mental dan meningkatkan kesehatan mental.

n  Thorpe: suatu tahap psikologi yg bertujuan untuk mencapai dan memelihara kesehatan mental.

n  Ilmu Kesehatan mental à lebih bersifat preventif & memiliki tujuan utk mencegah ketidakmampuan penyesuaian diri serta peningkatan kesehatan mental.

n  Objek kajian utama : kondisi mental manusia

 

 

 

 

Konsep Sehat

n  WHO mendefinisikan sehat sebagai sebuah kondisi yang lengkap yaitu sejahtera (well-being) dari segi fisik, mental dan sosial dan tidak hanya terbebas dari gejala atau penyakit.

n  Dadang Hawari à 1984 à WHO menambahkan aspek spititual sbg kriteria sehat, shg Sehat berarti meliputi kondisi sejahtera pada (1) aspek Fisik/ jasmani/biologis (2) aspek kejiwaan/psikologis/ (3) aspek sosial (4) aspek spiritual (rohani/agama).

n  Batasan tsb à meningkatkan keterikatan antara konsep ‘sehat’ dengan ‘kesehatan mental’

 

 

Kesehatan mental (Batasan)1

… a state of well-being in which the individual realizes his or her own abilities, can cope  with the normal stresses of life, can work productively and fruitfully, and is able to make a contribution to his or her community (WHO, 2001d, p.1)

WHO: kesehatan mental suatu kondisi ‘sejahtera’ dimana individu dapat merealisasikan kecakapannya, dapat melakukan coping thd tekanan hidup yg normal, bekerja dengan produktif dan memiliki kontribusi dalam kehidupan di komunitasnya.

 

Jahoda (Ihrom, 2008), batasan lebih luas àKesehatan mental mencakup :

(a) sikap kepribadian yang baik terhadap diri sendiri, kemampuan mengenali diri dengan baik.

(b) pertumbuhan dan perkembangan serta perwujudan diri   yang baik.

(c) keseimbangan mental, kesatuan pandangan dan   ketahanan terhadap segala tekanan.

(d) otonomi diri yang mencakup unsur-unsur pengatur kelakuan dari dalam atau kelakuan-kelakuan bebas.

(e) persepsi mengenai realitas, terbebas dari penyimpangan   kebutuhan serta memiliki empati dan kepekaan sosial

(f) kemampuan menguasai dan berintegrasi dengan   lingkungan.

 

Assagioli, (Ihrom, 2008) mendifinisikan, kesehatan mental adalah terwujudnya integritas kepribadian, keselarasan dengan jati diri, pertumbuhan ke arah realisasi diri, dan ke arah hubungan yang sehat dengan orang lain.

Shg Kesehatan mental merupakan kondisi:

  • Tingkat ‘kesejahteraan mental’ à dimana individu dpt berfungsi secara adekuat à dpt menikmati hidupnya secara seimbang  dan mampu menyesuaikan diri  thd tantangan hidup dan mampu berkontribusi pada kehidupan sosial à budaya & agama memiliki peran dalam memberi batasan sehat/dtk sehat.
  • Dalam pengertian yg lebih ‘positif ‘ tsb à kesehatan mental merupakan fondasi dari tercapainya kesejahteraan (well-being) individu dan fungsi yg efektif dalam komunitasnya.

 

Perilaku sehat –  Kesehatan mental

n  Peran perilaku sehat à thd status kesehatan secara umum. Gejala yg tdk terlihat jelas spt : gangguan pembuluh darah (cardiovascular) dan kanker à berkaitan dng konsumsi alkohol, rokok, diet yg buruk, gaya hidup kurang aktif.

n  Perilaku sehat juga menentukan meluasnya gejala yg dapat dikenali seprti AIDS, melalui seks tak aman dan pemakaian jarum suntik bergantian.

n  Perilaku sehat individu sangat tergantung pada kesehatan mental  misal: gangguan mental atau kondisi stres akan mempengaruhi prilaku sehatnya (WHO, 2005).

n  Depresi dan rendahnya Self Esteem di kalangan pemuda berkaitan dng perilaku merokok, gangguan makan, mabuk-mabukan dan perilaku seks tdk aman à menempatkan pemuda pd resiko tinggi terkena berbagai penyakit à misal STD/IMS. (Patton et al.,; Ranrakha et al.,dalam WHO, 2005)

n  Sementara depresi juga berkaitan dengan isolasi soaial, alkohol, penyalahgunaan obat bius dan merokok

Kriteria Kesehatan Mental

Menurut Schneiders (dalam Semiun, 2006):

Efisiensi mental à orang yang mengalami berbagai bentuk gangguan mental tdk dapat menunjukkan efisiensi dalam hidupnya.

Pengendalian dan integrasi antara pikiran & perilaku. Tidak adanya faktor tsb à obsesi, fobia, integritas pribadi yg kurang à psikopat, mental patologis lain.

Integrasi motif-motif serta pengendalian konflik & frustrasi. Integrasi yg efektif à mengatasi konflik berat akibat motif-motif yg saling berlawanan.

Perasaan & emosi yg positif & sehat

Ketenangan & kedamaian pikiran à keharmonisan emosi, perasaan positif, pengendalian perilaku & pikiran, integrasi motif-motif à ketenangan pikiran.

Sikap yang sehat à jauh dr pesimisme, sinisme, putus asa,

Konsep diri (self concept) yang sehat à konsep diri positif à hubungan yg realistis dengan kenyataan.  Sebaliknya Rasa tdk percaya diri, tdk aman, tdk berharga à mengganggu hubungan natara  diri dng kenyataan à konsep diri yg negatif.

Identitas ego yang adekuat. Apabila identitas ego tumbuh menjadi stabil & otonom à individu mampu berperilaku konsisten dlm lingkungannya.

Hubungan yang adekuat dengan kenyataan:

(a) orientasi : sikap seseorang thd kenyataan àmasa lalu?

(b) kontak : cara bagaimna dan sejauhmana orang     menerima/menolak/ melarikan diri dari kenyataan à             bertumpu pd khayalan?

Bagaimana mengenalinya?

n  Kesehatan mental merupakan kondisi yang bersifat kontinum, dimana setiap kondisi kesehatan mental individu memiliki berbagai nilai yang berbeda-beda à sulit untuk dikenali kecuali menunjukkan ‘gejala’ yang menonjol.

 

PANDANGAN TENTANG MANUSIA

n  Pandangan Kebebasan Vs Ketidakbebasan

n  Rasionalitas Vs Irrasionalitas

Hollisme Vs Elemantalisme

Konstitusionalisme Vs Environmentalisme

n  Berubah Vs Tak berubah

n  Subyektif Vs Obyektif

 

GANGGUAN MENTAL

n  KECEMASAN

n  STRESS

n  KESEPIAN

n  KEBOSANAN

n  FRUSTRASI

n  DEPRESSI

n  PERILAKU MENYIMPANG

 

KESEIMBANGAN MENTAL

Tiga kehidupan besar dalam kehidupan modern:

¨  Meningkatnya Pengetahuan Semakin tingginya pengharapan

¨  Bertambahnya Kebebasan.

Beberapa factor yang mempengaruhi kesehatan dan perilaku sehat: Human Biology, Organization of medical care, Lifestyles, Environment

 

DASAR PENGEMBANGAN KESEHATAN MENTAL

SITUASI

NILAI

ASPEK PSIKOLOGIS

MOTIVASI

KONFLIK

KECEMASAN

PEMBELAAN DIRI

TEORI TENTANG KESEHATAN MENTAL

n  FREUD

n  CG.JUNG

n  ADHLER

n  BEHAVIORISTIK

n  HUMANISTIK

KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT BEBERAPA TEORI

  • ALLPORT
  • CARL ROGERS
  • ERIC FROMM
  • MASLOW

Perbedaan Tingkat Kecemasan Antara Pria dan Wanita

Standar

 

Jurnal PSYCHE

 

Perbedaan Tingkat Kecemasan Antara Pria dan Wanita Akseptor Kontrasepsi Mantap Di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

(The Anxiety Level Differences Among Male and Female Sterilization Acceptors at RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta)

Trismiati

Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang

ABSTRAC

This research aimed to find out the anxiety level differences between male and female that caused by the usage of sterilization. The acceptors’ anxiety level was assessed by Anxiety Scale adapted from Janet Taylor’s Trait Manifest Anxiety Scale (TMAS). The subjects of this research were vasectomy acceptors (male) and tubectomy acceptors (female) at RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. The subjects were grouped according to the sex, the length of contraception usage (less than 1 year, 1 up to 2 years, and more than 2 years), as well as between the acceptors who had got and had not got the sterilization counseling. The data analysis employed ANOVA (3-Ways). The result showed that (1) there was significant different of anxiety level between female and male sterilization acceptors, in which the female felt more anxiety than the male; (2) there were no different of anxiety level between the acceptors who had got and had not got the sterilization counseling, (3) there were no different of anxiety level according to the length of contraception usage, less than 1 year, 1 up to 2 years, and more than 2 years; (4) there was no interaction between sex and counseling, nevertheless there was significant different of anxiety level between female group who had not got the counseling and the male group who had got the counseling, in which the female who had not got the counseling felt more anxiety than the male; (5) there was no interaction between sex and the length of contraception usage, however there was significant different of anxiety level between the female who had used the sterilization contraception 1 up to 2 years and the male who had used the sterilization contraception more than 2 years, nevertheless the female who had used the sterilization contraception 1 up to 2 years felt more anxiety that the male who had used the sterilization contraception more than 2 years; (6) there was no interaction between sterilization contraception counseling and the length of the sterilization contraception usage; (7) there was no interaction among sex, contraception,counseling  and the length of the sterilization contraception usage; nevertheless the female who had got counseling with 1 up to 2 years sterilization contraception usage, felt more anxiety than the male who had not got counseling with more than 2 years sterilization contraception usage; moreover, the female who had not got counseling with less than 1 year contraception usage, felt more anxiety than the male who had got counseling with more than 2 years sterilization contraception usage; in addition, the female who had not got counseling with less than 1 year contraception usage, felt more anxiety than the male who had not got counseling with more than 2 years sterilization contraception usage

Keywords: anxiety, sterilization (definitive contraception)

counseling, and the length of the sterilization contraception usage; nevertheless the female who had got counseling with 1 up to 2 years sterilization contraception usage, felt more anxiety than the male who had not got counseling with more than 2 years sterilization contraception usage; moreover, the female who had not got counseling with less than 1 year contraception usage, felt more anxiety than the male who had got counseling with more than 2 years sterilization contraception usage; in addition, the female who had not got counseling with less than 1 year contraception usage, felt more anxiety than the male who had not got counseling with more than 2 years sterilization contraception usage

Keywords: anxiety, sterilization (definitive contraception)

Pendahuluan

Program Keluarga Berencana (KB) diadakan dengan tujuan mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, telah banyak dikenal alat-alat kontrasepsi, baik alat KB yang tidak permanen maupun metode permanen yang disebut kontrasepsi mantap. Kontrasepsi mantap dengan kemungkinan kegagalan mendekati nol memang sangat efektif untuk pembatasan kelahiran.

Hasil penelitian Rachman dkk (1988) menunjukkan seringkali akseptor KB dari metode tidak permanen beralih ke metode permanen (tubektomi) karena sudah seringkali mengalami kegagalan alat kontrasepsi. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa akseptor tidak secara sukarela mengikuti kontrasepsi mantap tetapi dipaksa oleh keadaan. Apabila dikaitkan dengan kecemasan, ketika seseorang mengalami hambatan dalam keinginannya, dalam hal ini penggunaan alat kontrasepsi, maka akan timbul perasaan-perasaan tertekan yang muncul dalam kesadaran. Menurut Lefrancois (1980), hal inilah yang menyebabkan terjadinya kecemasan.

Lebih lanjut, tulisan Wirouw dalam Majalah Ilmiah Mantap (1987, hlm. 108-111) menyebutkan keluhan-keluhan setelah menjalani kontrasepsi mantap. Keluhan-keluhan ini berupa perasaan lelah, cepat capek dan mudah mengantuk, depresi dan nyeri pada waktu haid pada mereka yang ingin punya anak lagi. Penelitian Tukiran (1987) menyebutkan bahwa hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Pusat Penelitian Kependudukan UGM dan Rumah Sakit Bethesda menunjukkan bahwa sebagian dari akseptor yang diteliti (10-16 persen) tidak mau menceritakan kepada orang lain operasi yang dijalaninya karena malu dan takut dicela oleh masyarakat. Perasaan malu dan takut dicela

Read the rest of this entry

PENGARUH TEKNIK NAFAS DALAM TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT KECEMASAN PADA IBU PERSALINAN

Standar

JURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

 

PENGARUH TEKNIK NAFAS DALAM TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT

KECEMASAN PADA IBU PERSALINAN KALA I DI PONDOK BERSALIN

NGUDI SARAS TRIKILAN KALI JAMBE SRAGEN

Oleh : Abdul Ghofur dan Eko Purwoko1

ABSTRACT

Background: dread of pregnancy is possible caused by the lack of pregnancy knowledge and experience about pregnancy by responder. Dread is one of respond effect of human being to dread. Somebody worry so that cannot speak and try to adapt the dread before pregnancy and often become the resistance in pregnancy. Giving treatment of deeply respiration technique before pregnancy causes the calm patient and less the dread. This matter is pain in bone and complication of patient’s pregnancy. The purpose of this research is to know “The Influence of deeply respiration technique toward change of dread level to maternity’s mother scale I”.

Methods: this research is experimental research that assesses the influence of giving deeply respiration technique toward change of dread level to patient’s pregnancy by using type “one group pre test and post test” by taking location in delivery clinic Ngudi Saras Trikilan Kali Jambe Sragen. Method of taking sample is totally sampling, by responder is 12 people. The analysis test is pired T, Test by using SPSS 12.

Conclusion: research which can be depicted is there is difference scale in dread level to patient before given the treatment of deeply respiration technique and after of it. There is significant influence from giving deeply respiration technique toward dread level to patient’s pregnancy scale I.

Keywords: Deeply respiration technique, dread level of patient pregnancy scale I.

 

Staf pengajar STIKES Surya Global Yogyakarta

Alumnus Ilmu Keperawatan STIKES Surya Global Yogyakarta

JURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Kecemasan (ansietas) merupakan stressor yang dapat merangsang sistim saraf simpati dan modula kelenjar andrenal. Pada keadaan ini akan terjadi peningkatan sekresi hormone adrenalin sehingga dapat menimbulkan tingkat kecemasan. Terutama berkaitan dengan kemarahan, agresifitas, semangat berkompetisi, diburu waktu dan pendendam. Rasa cemas ini merupakan keadaan mental yang tidak enak berkenaan dengan sakit yang mengancam atau yang dibayangkan, ditandai oleh kekawatiran, ketidakenakan dan perasa tidak baik yang tidak dapat dihindari, disertai perasaan tidak berdaya karena merasa menemui jalan buntu dan kemampuan untuk menemukan pemecahan masalah terhadap masalah yang diahadapi (Kaplan and Saddock, 1998). Proses keperawatan di Rumah Sakit seringkali mengakibatkan aspek-aspek psikologis sehingga menimbulkan berbagai permasalahan psikologis bagi pasien yang salah satunya adalah kecemasan. Seperti yang diungkapkan sarafino dalam kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien yang dirawat di Rumah Sakit. Kecemasan yang sering terjadi adalah apabila pasien akan dilakukan pembedahan atau tindakan yang mengancam jiwanya sebagian besar berfokus pada hubungan antara kecemasan, dalam proses kelahiran atau masa perawatan penyembuhan (Stuart and Sundeen, 1998 ). Read the rest of this entry

Kecemasan

Standar

BAB I

Pendahuluan

Latar Belakang

]Kecemasan merupakan hal yang normal terjadi pada setiap individu, reaksi umum terhadap stress kadang dengan disertai kemunculan kecemasan. Namun kecemasan itu dikatakan menyimpang bila individu tidak dapat meredam (merepresikan) rasa cemas tersebut dalam situasi dimana kebanyakan orang mampu menanganinya tanpa adanya kesulitan yang berarti.

Read the rest of this entry

Minuman Keras (Miras)

Standar

TUGAS MAKALAH KELOMPOK

KESEHATAN MENTAL

 

Mengenai ”MIRAS”

(Minuman keras)

 

 

Di susun oleh  :

 

1.Nova Irawan                                      (09001005)

2.Muh Rosyid Ridho A                         (09001006)

3.Andik Danu Sulistyana                      (09001011)

4.Helmi Abu Najah                               (09001017)

5.Afif Fahrurrozi                                  (09001034)

6.Wisnu Oktiadi                                   (09001043)

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN

YOGYAKARTA

2010

KATA PENGANTAR

 

 

Bismillahiirohmanirrohim

 

Puji syukur kehadirat Allah SWT,yang telah melimpahkan berkat dan rahmat nya serta petunjuk nya sehingga dapat terselesaikanya tugas makalah kesehatan mental dengan judul “ MIRAS” ( Minuman Keras)

 

Penyusunan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas Kesehatan Mental yang di ampu oleh  Alif muarifah  selaku dosen pembimbing , jurusan bimbingan & konseling fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Ahmad Dahlan.

 

Semoga amal baik yang telah di berikan kepada kami mendapat imbalan karunia yang sepadan dari Allah SWT . segalanya yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna,begitu juga makalah ini,oleh karena itu saran dan tegur sapa dari pembaca sangat kami harapkan.

 

Akhirnya semoga karya kecil ini ada manfaat nya bagi pecinta ilmu pengetahuan. Amin.

Read the rest of this entry